Gallery Photo

2231 Words
Alin Pov. Aku melihat mobil itu melaju sangat kencang, kaki ku terpaku tidak bisa bergerak aku hanya bisa memejamkan mata hingga aku merasakan tubuh ku terhempas sangat kencang. Mata ku tetap terpejam aku tidak ingin melihat jazadku di kerubungi banyak orang atau dengan kata lain aku sudah menjadi arwah tapi,,aku tidak merasa sakit sama sekali atau mungkin aku benar-benar sudah mati ? kini yang ku rasa hanya ada benda berat memeluk erat tubuhku, ada sesuatu yang menyangga kepalaku dan ada detakan jantung yang menggila, tepat di depan wajahku. Ku dengar banyak sekali suara di area ku menyerukan kata syukur karena aku tidak tertabrak berarti aku selamat. Samar samar aku mendengar Dania dan Luna memekik memanggil namaku, perlahan aku membuka mata lalu mendongak pelan kak Dafi, dia menyelamatkan ku. Aku berada tepat di bawah dagu nya, dia memejamkan mata dengan nafas yang tak beraturan bibir nya pucat serta dekapan di tubuhku semakin erat, aku baru tau jika ternyata yang menyangga kepalaku adalah telapak tangan nya, ya tuhan ada apa lagi ini kenapa aku berada di situasi seperti ini "Alin !!" pekik Dania mengangetkan ku, kak Dafi membuka mata lalu membawa ku bangun masih dalam dekapan nya setelah kita duduk kak Dafi melepas dekapan itu "Alin, lo nggak papa kan !" Luna menatapku khawatir, aku menggeleng karena memang aku tidak merasa sakit sedikitpun "astaga, gue bisa di penggal sama ketiga kakak lo, kalau sampek lo terluka Lin" imbuh Luna terlihat sangat cemas "kamu nggak papa ?" suara bariton di sisi kanan ku bertanya, aku menoleh lalu menggeleng "syukurlah" gumam nya lalu tersenyum, ku lihat kak Dafi menengecek siku tangan kanan nya dan aku membelalak syok melihat darah segar mengalir dari lengan kemeja yang sobek "kak, kakak nggak papa !" pakik ku panik, aku reflek membongkar tas ku mengambil sapu tangan dan melilitkan nya di siku kak Dafi tindakan ku memelan saat aku menyadari apa yang telah aku lakukan, anggap saja ini adalah ungkapan terimakasih untuk dia karena sudah menyelamatkan ku "kamu meng khawatirkan ku ?" aku gelagapan mendengar pertanyaan itu "nggak ! anggap aja tadi itu ungkapan terimakasih ku" jawab ku ketus, dia tidak membalas hanya tersenyum tipis padaku "tuan, tuan tidak papa ?" siapa lelaki itu, oh mungkin pengawal kak Dafi "aku baik-baik saja Lex" Dania membantuku bangun dan kak Dafi di bantu seseorang yang baru saja di panggil Lex oleh nya aku melihat ke sebrang jalan, mobil tadi yang hampir menabrak ku sudah ringsek menabrak tiang listrik dan ku dengar pengemudi nya meninggal, lalu aku melirik kak Dafi mungkin kalau tidak ada dia aku akan mati bersama pengemudi itu. "Lin, lo beneran nggak papa ?" "aku nggak papa Dania, lihat tuh nggak ada yang lecet di badan aku" aku berputar di depan Dania memastikan kepada kedua teman ku jika kondisiku baik-baik saja "ya udah ayo pulang, gue takut nanti Gavin nyariin" ajak Luna, aku pun mengangguk tapi suara berat menahan ku "mau kemana nona ?" aku berbalik menatap nya, si pengawal kak Dafi. "pulang" jawab ku pelan "maaf nona, tapi anda harusnya memiliki sedikit rasa terimakasih kepada tuan saya" kening ku mengerut bingung "maksud bapak apa ya ?" tanya ku bingung, wajah nya mendadak datar menatapku, emm apa ada yang salah dengan kata kata ku ? "nama saya Alex, jangan panggil bapak" tukas nya ketus, tapi setelah itu dia meringis karena kak Dafi menginjak kaki nya, mereka sedikit lucu. "yaelah, nanti juga bakal jadi bapak-bapak" celetuk Luna dari belakangku, aku meminta Luna untuk diam apalagi melihat wajah Alex merah padam, dia sepertinya marah. "apa anda tidak melihat lengan tuan saya berdarah, apa hanya dengan sapu tangan ini lengan itu akan sembuh" ujar nya tegas, aku melihat lengan kak Dafi dan ternyata darah sudah merembes ke sapu tangan tadi "yaudah ayo kerumah sakit, urusan biaya biar aku yang bayar" ujar ku tidak ingin memperpanjang masalah "kalau hanya rumah sakit tuan saya bisa membelinya, apalagi biaya tuan Dafi bisa menyewa dokter terbaik dunia" aku menatap tidak suka orang bernama Alex itu "terus kamu sama tuan kamu mau nya gimana !" tanya ku mulai geram, sial nya kak Dafi hanya memperhatikan obrolan kami berdua tanpa berniat menegur anak buah menyebalkan nya itu "rawat tuan saya" jawab nya tersenyum miring aku menganga syok, rawat ?? "haduh ribet banget deh, tuan kamu kan kaya, katanya bisa membeli rumah sakit sama menyewa dokter terbaik dunia, terus kenapa harus Alin yang ngerawat dia !" kata Luna setengah nge gas "saya rasa itu adalah rasa terimakasih yang baik" sahut Alex semakin terlihat menyebalkan "gimana kalau aku yang beli in tuan kamu rumah sakit dan nyewa in dia dokter terbaik dunia" tawar ku sedikit menyombongkan diri, memang nya tuan kebanggaan nya itu saja yang bisa berbuat demikian, aku juga bisa. "bener tuh, nggak usah di perpanjang deh lagian Alin nggak minta di tolongin, jadi kalau tuan kamu terluka, itu udah resiko" timpal Luna menunjuk Dafi Alex terkekeh pelan lalu berkata "pikirkan dulu sebelum bicara, tuan saya menyelamatkan nyawa, catat ! nya-wa !" aku terkesiap kaget dia membentak ku "apa salah jika saya meminta anda hanya meluangkan waktu satu jam saja untuk merawat tuan saya ?? mengobati luka nya ? apa itu sangat berat dibanding kan jasa yang baru saja dia laku---" "Oke oke !!!" sela ku lantang, dia lelaki tapi mulutnya seperti bebek saja "aku akan rawat tuan mu itu !" imbuh ku menatap sinis mereka berdua, tuan dan anak buah sama-sama menyebalkan. Alin Pov End. ***** APARTEMEN Al-khadafi 19:20 Pemandangan yang sangat indah, Dafi tak mengalihkan sekejap pun mata nya dari objek di depan nya itu, Alin. Kini dunia serasa berbunga-bunga, kupu-kupu berterbangan di perut Dafi, dia benar-benar merindukan gadis ini "awwh !" pekik Dafi kesakitan, Alin rupanya sengaja menekan luka Dafi sedikit lebih kasar "maaf tuan" kata Alin tetap fokus membersihkan darah di siku Dafi, dia mati-mati an menahan diri agar tidak bertatapan dengan Dafi karena itu ber efek buruk untuk jantung nya "Lin,," ",,," Alin pura-pura tidak mendengar "Alin,," tegur Dafi lagi "lebih baik tuan diam, daripada saya jahit siku anda !" ujar Alin judes, Dafi menahan gelak tawa saat gadis itu berbicara formal seperti Alex "sudah selesai, saya harus pulang" Alin meraih tas di meja lalu beranjak pergi tapi lagi-lagi tangan Dafi menahan nya, Alin memandang malas ke arah Dafi "jangan bilang saya harus merawat anda sampai luka anda sembuh total, karena saya tidak sudi !" kata Alin menatap Dafi sengit, dia tidak ingin dijadikan b***k oleh lelaki menyebalkan ini, cukup hatinya saja yang di perbudak. Dafi terus menatap sendu Alin, dia sudah tidak bisa menyembunyikan semua nya dari gadis ini karena efek nya akan membuat Alin semakin menjauh, Dafi tidak mau itu terjadi. Dia sudah cukup tersiksa dua tahun belakangan ini, apalagi karena ulah nya gadis yang sangat ia cintai juga tersiksa, sudah cukup, Dafi tidak akan membiarkan ini semakin larut dan menghancurkan segalanya. "aku minta waktu untuk bicara" kata Dafi pelan "nggak ada yang harus dibicarakan" Alin menghempaskan tangan nya agar terlepas dari genggaman Dafi, saat itu juga ada sesuatu yang hilang dari Dafi Alin memandang ke arah lain, dia harus kuat "semua nya udah jelas, kakak nggak harus membicarakan apapun atau menjelaskan apapun, disini aku yang salah karena terlalu berharap sama kakak, seharus nya aku tau kalau dari awal kita hanya sebatas kakak dan adik seperti kak Saga dan kak Putra yang mengangguku begitu" Dafi berdiri, dia memegang kedua pundak Alin memutar tubuh gadis itu agar menatap nya "apa yang kamu bicarakan Alin" tanya Dafi tidak suka "fakta, aku membicarakan fakta" Alin mendongak, ia menatap Dafi lekat "aku bodoh kan kak, aku bodoh karena menunggu kakak selama dua tahun yang entah ada dimana, aku wanita paling bodoh" Dafi menggeleng tidak setuju "ada banyak hal yang harus kamu tau, tentang kenapa aku pergi dan ada dimana aku selama ini, tapi yang terpenting kamu lebih dulu tau yang ini" Dafi mengambil ponsel di meja lalu memberikan nya ke Alin, dengan posisi layar menampilkan suatu berita, berita viral dunia perbisnisan yang Alin tidak ketahui. Alin membaca berita di ponsel itu, di sana ada foto gadis yang bersama Dafi waktu di cafe "selama aku pergi tidak ada satu wanita pun yang menggantikan kamu" kata Dafi Alin beralih menatap Dafi, dari berita yang ia baca ternyata gadis itu bernama Diandra dan Dafi mendekati nya hanya untuk membongkar kebusukan keluarga Diandra. Entah kenapa Alin sedikit merasa lega dan senang melihat berita itu. Alin tertawa sumbang "dua tahun kakak pergi, dan mustahil kalau kakak nggak nemuin gadis lebih dari aku, buktinya sekarang. Kakak menjadi CEO terkenal di London, dan di cafe tadi hampir seluruh gadis kota ini rela desak-desak an demi kakak" Dafi meraih kedua tangan Alin, menggenggam nya erat sambil menatap lekat mata berkaca-kaca Alin "Alin, apa kamu masih nggak kenal aku, bagaimana aku di sekolah dulu, bagaimana sikap ku sama siswi di sekolah dulu dan bagaimana luluh nya aku hanya sama kamu" ujar Dafi terus menatap Alin Alin menarik kedua tanga nya, ia menjawab dengan lantang di sertai amarah "terus sekarang gimana ! kakak mau jelasin apa lagi, hati aku udah hancur kak, aku nggak menerima alasan apapun, dengan pergi nya kakak tanpa kabar saja sudah membuat aku kecewa, bahkan kakak nggak ada sewaktu aku koma" mata Alin mulai memanas, dia tidak menjamin jika ia masih bisa menahan air itu Dafi mengusap kasar wajah nya, dia terlihat sangat frustasi "heii, jangan nangis" pinta Dafi lembut hendak mengusap air mata Alin, namun Alin kembali menepisnya kasar "Kakak nggak usah peduli sama aku, mau aku nangis darah pun kakak nggak usah sok peduli !, kakak harus ingat kalau selama dua tahun kakak lah yang menjadi sumber air mata aku !!" kata Alin lantang, air mata sialan itu tidak bisa di ajak kompromi, mereka terus saja berjatuhan Dafi menangkup kedua sisi wajah Alin, menatap lekat lalu berkata lantang "nggak Alin nggak !! ini nggak seperti yang kamu fikirin, aku nggak ninggalin kamu, aku ada sewaktu kamu koma, aku ada di setiap aktifitas kamu selama dua tahun ini, aku ada disisi kamu Lin" lihatlah, Dafi sangat lemah di hadapan Alin, dia saja sudah hampir menangis. "Pembohong" desis Alin menghempaskan tangan Dafi Dafi beralih menggengam erat tangan kanan Alin "ikut aku,," Alin menahan badan nya "sebentar saja, aku ingin kamu tau semua nya, semua yang juga aku rasakan selama dua tahun ini dan aku nggak mau kamu semakin jauh Lin" imbuh Dafi sendu meski sempat ragu tapi ini lah yang Alin tunggu-tunggu, penjelasan. Dafi menarik lembut pergelangan gadis itu menaiki tangga, melewat lorong, dan melewati satu kamar, disamping kamar yang baru saja Alin lewati itulah kini Alin berdiri menatap pintu berwarna putih Dafi membuka pintu itu perlahan mempersilahkan Alin masuk terlebih dahulu, sesampai nya di dalam Alin benar-benar di kaget kan dengan kondisi ruangan itu, penuh dengan foto Alin. Mata Alin membulat tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini. Dia pelan-pelan berjalan mendekati satu persatu foto yang di tempel di dinding, dinding kamar seluas 10x10 itu hampir full dengan foto Alin, tidak ada foto lain hanya foto Alin. Alin mengambil satu foto, disana gambar nya Alin sedang di periksa oleh dokter dalam kondisi koma, di pojok an lembar foto itu ada tahun, tanggal dan jam kapan foto itu di ambil. "aku membawa semua foto ini kemanapun aku pergi, disana ada foto awal kamu koma sampai kemaren, setiap hari selama dua tahun aku membayar orang untuk menjaga kamu, memotret setiap kegiatan kamu, hanya untuk mengobati rasa rinduku" ujar Dafi sambil mengambil satu foto, menampilkan pose candid Alin saat lulusan SMA, dia tersenyum menatap foto itu gadis nya terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya hitam elegan. Alin terdiam menatap Dafi yang tersenyum memandang sebuah foto, ada ribuan foto Alin disini dalam berbagai kondisi, jika Alin perhatikan semua foto disini memang foto Alin selama dua tahun lalu, dari waktu Alin koma, sekolah lagi, lulus SMA, wisuda, jalan-jalan, makan ice cream, kuliah di London, dan masih banyak lagi. "percaya atau tidak, setiap aku mendapat foto waktu kamu murung dan menangis disitu aku tidak bisa menahan air mata ku juga" imbuh Dafi terkekeh sendiri, ia menaruh kembali foto itu lalu berjalan kearah deretan foto terbaru, dia mengambil satu foto saat Saga menyuapi Alin "aku lebih sakit melihat kondisi mu seperti ini dan parah nya aku tidak bisa berbuat apa-apa" gumam Dafi parau sambil menatap nanar foto itu, foto sewaktu Alin demam dan Saga ikut merawat nya, di foto-foto seperti ini lah Dafi seringkali cemburu sendiri. Samar-samar Alin mendengar suara nafas Dafi semakin berat, jujur saja Alin tidak bisa berkata-kata lagi saat ini. Otak nya langsung blank, ruangan ini seakan di sulap menjadi museum khusus foto Alin, tidak pernah terbayangkan bagi Alin jika Dafi akan melakukan hal ini selama dua tahun mereka berpisah, tapi masih ada hal yang mengganjal di hati Alin yaitu alasan lelaki itu pergi. Alin mengernyit melihat punggung Dafi bergetar, lelaki itu menunduk menempelkan kening nya ke tembok. Perlahan Alin mendekat, tangan nya ia beranikan untuk menyentuh pundak Dafi, hanya memastikan apa lelaki itu sedang menangis atau tidak. Saat tangan Alin menepuk pundak Dafi saat itu juga Dafi berbalik lalu menempelkan kening nya di pundak sempit Alin, menyembunyikan raut wajah nya lalu isakan kecil terdengar jelas di telinga Alin. "mami ku meninggal di bunuh Lin" gumam Dafi sambil terisak. Alin membekap mulutnya, dia kaget, jantung nya berdetak kencang. Dia benar-benar tidak tahu tentang kabar itu. "ma-maafkan aku Lin, maaf kan aku sudah meninggalkanmu" imbuh Dafi dengan posisi yang sama, menenggelamkan wajah nya di pundak Alin "a-aku terpaksa melakukan ini semua,, ma-maafkan aku,, hiks"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD