Hospital

1993 Words
Sesekali Alex melihat jam di pergelangan tangan nya, sudah hampir dua jam dia menunggu kepulangan Alin dari kuliah senantiasa berdiri di depan pintu kelas gadis itu menghiraukan semua rasa kebas yang ia derita kini sepuluh menit berlalu akhirnya Alex bisa bernafas lega kala pintu itu terbuka, para mahasiswa berhamburan keluar satu persatu sampai paling akhir Alin bersama kedua teman nya Alin melotot kaget melihat Alex tersenyum ramah padanya astaga, dia benar-benar menungguku "bagaimana nona, apa anda berubah pikiran?" tanya Alex penuh harap, dia sangat berharap gadis ini mau ikut dengan nya menjenguk tuan muda yang sedang sakit "maaf ya Lex, aku udah bilang dari tadi kalau aku nggak mau ikut, lagi pula aku udah nggak ada hubungan apa-apa sama tuan muda kamu itu" tolak Alin setenang mungkin "tapi nona, tuan sangat membutuhkan anda" Alin tersenyum kecut mendengarnya "kalau kak Dafi memang butuh aku, dia nggak akan ninggalin aku selama dua tahun ini" ujar Alin lirih "ini tidak seperti yang anda kira nona" "lalu ?? memang ada fakta apa lagi yang tuan kamu sembunyi in dari aku ?" Alex langsung terdiam, dia ingin sekali memberi tahu soal peraturan Adam agar Alin tidak menyalahkan Dafi dengan kejadian semua ini tapi Alex tidak bisa, dia pun sudah berjanji untuk tidak mengatakan itu. "berhenti membela tuan muda mu itu Lex" tukas Alin memilih pergi melewati Alex, di susul Dania dan Luna hanya beberapa langkah dari tempat tadi Alin mendengar Alex menerima telfon lalu berteriak kaget "APA ! Tu-tuan Dafi kejang !" ***** Royal National Orthopedic Hospital Suasana dari luar rumah sakit mendadak ramai dengan orang-orang berbaju hitam, di d**a kanan atas seragam mereka terdapat logo DC yang tidak lain adalah nama perusahaan terbesar saat ini, mereka semua baru saja datang mengawal mobil Limousine berisikan tuan muda mereka yang sudah dua hari tak sadarkan diri akibat demam sangat tinggi. Kehadiran mereka mengundang perhatian orang sekitar bahkan sampai ke telinga para wartawan, mereka berlomba ingin menggali informasi tentang kondisi terbaru Dafi, para penjaga senantiasa menghalau para wartawan itu karena Jems berpesan untuk tidak menyebarkan kondisi apapun ke awak media tentang Dafi, karena jika sampai lawan bisnis tau Dafi sedang sakit maka perusahaan Dafi akan di serang oleh lawan. Alex baru saja datang dengan mobil ferrary putih yang biasa ia bawa bersama Dafi, dia kaget dan khawatir saat mendapat kabar kondisi Dafi saat ini. Dengan kecepatan tinggi Alex menyetir mobil mewah itu sambil terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan Dafi, sesekali Alex menggeleng penuh sesal saat ia datang ke rumah sakit tanpa membawa Alin, gadis itu tetap tidak mau ikut. Penantian selama dua jam lalu di depan kelas Alin tidak ada hasil sama sekali, Alex merasa sangat kecewa. "dari mana saja kau Lex !" sentak Jems marah "ma-maaf tuan saya ada urusan tadi" sesal Alex menunduk takut "urusan apa yang lebih penting dari pada kondisi tuan muda mu sekarang !!" "sa-saya berniat membawa nona Alin untuk menjenguk tuan muda, tuan" mata Jems melihat kebelakang Alex "lalu dimana dia ?" tanya nya kembali menatap Alex "tapi,,saya gagal tuan, nona Alin tetap tidak mau ikut bersama saya" sesal Alex semakin dalam Jems mendesah frustasi, dia sudah melakukan semua yang terbaik untuk Dafi tapi kondisi Dafi tidak kunjung membaik, suhu badan nya semakin panas dan beberapa menit lalu Dafi sempat kejang-kejang, itu hampir membuat Jems pingsan karena khawatir. Ini pertama kali dia melihat putra nya yang selalu terlihat kuat, tegas itu mendadak lemah tidak berdaya sama sekali. Alex menuntun Jems agar duduk, dia menatap iba melihat Jems yang sangat kacau. "saya ambilkan air tuan" ujar Alex sambil berlalu pergi otak Jems berputar ke kejadian sebelum Dafi dibawa ke rumah sakit Flashback On "Linn..." Jems berjalan mendekat ke ranjang Dafi, tadi terdengar jelas jika Dafi berbicara sesuatu tapi saat di lihat anak nya itu tetap menutup mata seperti kemaren "bangun lah nak" pinta Jems sendu sambil mengelus pelan rambut Dafi "Alin..." gumam Dafi lagi Jems terdiam kaku, gerakan di rambut Dafi pun terhenti. Alin ?? astaga anak nya mimpi gadis itu lagi sama seperti malam-malam biasanya, Jems sudah tidak kaget mendengar Dafi menyebut nama Alin setiap kali tidur itu sudah menjadi makanan sehari-hari Jems jika sedang tinggal berdua dengan Dafi. Anak nya sangat bucin kepada gadis kecil itu, tapi Jems tidak tau apa yang terjadi dengan dua remaja ini karena Dafi hanya menjawab "sedang berjuang" setiap Jems bertanya kenapa Dafi pergi tanpa memberitahu Alin dan terkesan menyembunyikan diri. "bangun Daf, kalau kau tidak bangun juga jangan salahkan Alin jika nanti dia menikah dengan lelaki lain" canda Jems berharap di dengar Dafi dan membuat anak nya itu sadar, tapi tidak ada perubahan sama sekali Dafi kembali lelap dalam tidur panjang nya. FlashBack End "om.." suara lembut itu mengejutkan Jems, dia tetap menunduk memijat pangkal hidung nya kenapa aku juga mendengar suara gadis dari anak ku,, hadehh "om Jems" panggilan itu lagi Jems perlahan mendongak, efek terlalu keras memikirkan Dafi dia sampai melihat Alin di depan nya kini. Jems mengerjap beberapa kali berharap bayangan Alin hilang, jika Dafi tau dia melihat bayangan Alin saat sedang tidak fokus begini pasti Dafi akan memarahi nya karena beranggapan lancang memikirkan gadis Dafi. "Astaga, kenapa aku juga dihantui oleh gadis itu" gumam nya lalu memukul pelan kepala nya sendiri "om ngapain !" pekik gadis itu menahan tangan Jems "om ngapain nyakitin diri sendiri" sambung nya bernada khawatir Jems belum sadar "Alin ?" ucap nya ragu "ini kamu apa hanya bayangan kamu nak ?" Jems memegang lengan Alin memastikan jika di depan nya itu adalah manusia "iya om, ini aku, Alin" jawab Alin tersenyum manis "ya ampun nak, maafin om, om kira tadi hanya bayangan saja" Jems dengan semangat menarik pelan lengan Alin agar duduk di samping nya dari kejauhan Alex tersenyum tipis melihat Alin berada di sana bersama Jems, dia bisa bernafas lega sekarang. Alex memutuskan untuk berbalik tidak ingin menganggu namun dia di kejutkan sesuatu, mata nya menyipit untuk memastikan apa yang ia lihat itu benar "nona ngapain ?" "astaga !! kau mengagetkan kuu !" sentak gadis yang sedang bersembunyi di balik pohon hias, Alex menaikkan satu alis nya sambil tersenyum tipis Lucu. "Lama sekali ya om kita nggak ketemu" kata Alin basa-basi "iya, semenjak kamu kuliah di sini" Alin mengangguk pelan "mau jenguk Dafi ?" tanya Jems to the point "nggak sih om, cuman kebetulan tadi nganterin kak Gavin periksa dan ngelihat om disini jadi aku samperin buat masti in" tatapan Jems mendadak sayu, dia sangat berantusias akan kedatangan Alin berfikir itu untuk Dafi tapi tidak "ohh, om kira kamu kesini buat putra om" Jems yakin jika Dafi tau semua ini dia akan sangat sedih, Jems saja sedih membayangkan bagaimana perasaan Dafi saat tau jika Alin sudah tidak memperdulikan nya lagi Alin menggeleng pelan, dia melihat kearah pintu rawat Dafi sejenak. Dia pun beralih melihat Jems lagi "yaudah aku permisi ya om, pasti kakak ku udah selesai periksa nya" pamit Alin sambil berdiri, Jems pun ikut berdiri "apa om boleh minta sesuatu ?" "apa om ?" "ikut om ke dalam sebentar saja" "tapi om, saya sudah bukan siapa-siapa lagi mungkin lebih baik kakak saya saja yang menjenguk kak Dafi" tolak Alin se sopan mungkin "meskipun hubungan kamu sama putra om sudah berakhir tapi kamu tetap om anggap sebagin putri sendiri nak" Alin mengangguk samar dia tidak tega menolak permintaan Jems, kini dia mengikuti langkah Jems memasuki ruang rawat Dafi yang lebih terlihat seperti kamar hotel itu disana, di ranjang besar mewah itu ada sosok lelaki sedang tidur lelap di bawah selimut tebal nan hangat. Entah kapan kedua mata indah itu terbuka kembali, Alin berjalan mendekatinya berdiri tepat di sisi ranjang Dafi "kak.." gumam Alin sangat lirih, bahkan hanya dia sendiri yang mendengar "lihatlah, dia sangat jauh berbeda dengan Dafi putraku selama ini" kata Jems menatap Dafi sendu mata Alin perlahan memanas melihat nya, mata tertutup, bibir pucat, selang infus kini menjadi teman Dafi di atas ranjang itu. Jujur, hati Alin sangat sakit melihat ini. "dia sakit apa om ?" tanya nya serak "om sendiri tidak tahu, om di telfon sama Alex jika Dafi demam tinggi dan tidak sadarkan diri sampai sekarang, kata dokter dia kelelahan, dia juga sempat kejang tadi" jawab Jems cemas Alin semakin khawatir, hati nya terasa di remas kuat. Dia tidak bisa menyembunyikan itu hingga tetesan air mata mulai bergenang, tangan kecil nya perlahan menumpuk di atas punggung tangan Dafi, meremas nya pelan dan ragu. Mulut bisa saja berbicara untuk melupakan lelaki ini, tapi hati ? dari awal bertemu sampai sekarang tidak ada yang berubah. Bangun lah kak, kakak mimpi in apa sampai nggak mau bangun kayak gini. "om rasa ini adalah kelemahan putra om, dia bisa saja kuat melawan kolega bisnis kejam selama ini, membasmi musuh-musuh mami nya selama bertahun-tahun tanpa ada kata-kata mengeluh atau jatuh sakit sedikit pun. Tapi dia menjadi sangat lemah jika menyangkut masalah hati dan langsung ambruk" ujar Jems terkekeh kecil sedikit mengejek Dafi "ma-maksud om ?" Alin menoleh ke Jems, dia tidak mengerti. "Lin, asal kamu tau" Jems melihat Alin lalu berkata "selama ini Dafi selalu memperjuangkan kamu" Alin melengos, dia segera mengangkat telapak nya dari punggung tangan Dafi lalu mundur beberapa langkah. Alin tidak mengerti apa dengan pergi nya Dafi tanpa kabar itu bisa di nama kan memperjuangkan ?? otak nya tidak bisa mencerna itu, yang dia tau Dafi selama ini memperjuangkan harta orang tua nya, bukan Alin. Lelucon apa ini ! "udah malem om, aku permisi" pamit Alin segera berbalik keluar, Jems diam tanpa berniat mencegah nya, dia terus memperhatikan punggung kecil itu berlalu hilang dibalik pintu "om harap masalah kalian cepat selesai" gumam nya pelan, lalu menghembuskan nafas berat. Dia tidak ingin putra nya merasa kehilangan sosok wanita yang sangat di cintai lagi. "Dad.." Jems mengernyit ketika mendengar suara serak samar-samar itu. Dia segera memutar kepala menghadap Dafi, mata nya pun sukses membulat ketika putra tidur nya sudah membuka mata, Dafi sudah sadar. "Astaga kau sudah sadar !" pekik Jems senang "syukurlah nak" tidak ada kata yang bisa ia gambarkan untuk menge ekspresi kan bagaimana Jems sangat bahagia kini. "Dad panggilkan dokter dulu ya, tunggu ! jangan tidur lagi ! oke !" Jems terburu-buru pergi memanggil dokter Dafi belum mampu berbicara banyak, dia merasa semua badan nya kaku saat ingin ia gerak kan, dia sebenarnya ingin memprotes kenapa dia berada disini dan sejak kapan ayah nya itu ada di London, tapi nanti saja dia masih lemah. Mata nya terus menatap ke arah tangan kanan nya, entahlah dia merasa ada bekas kehangatan yang sangat ia kenal disana. **** Luna senantiasa rela menjadi tempat tumpahan air mata Alin, kini mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen Alin setelah berhasil keluar dari rumah sakit dan kerumunan para wartawan berkat bantuan Alex. Ini sudah lewat jam pamit yang mereka janjikan kepada Gavin tadi jadi mereka harus cepat-cepat sampai ke apartemen "udah ya nangis nya, bentar lagi kita sampek di apartemen lo, jangan sampai Gavin curiga" "hiks,,hiks,,Lun kasihan kak Dafi hiks" "iya gue tau, dia pasti sembuh kok lo nggak usah kepikiran lagi, kan udah tuntas, udah berhasil jenguk dia kan, meskipun lo harus bohong sama kakak lo dan ayah nya Dafi" ya, mereka berdua bersekongkol membohongi Gavin ber alasan pergi membeli buku novel keluaran terbaru padahal ke rumah sakit untuk menjenguk Dafi, di sana pun Alin tidak langsung mengakui tujuan utama nya ke Jems. Dia sebenarnya malu, karena mengingat kata terakhir pertengkaran nya dengan Dafi yang mengeklaim jika mereka tidak usah saling tau dan kenal satu sama lain. Kini Alin menjilat kata-kata nya sendiri, dia tidak bisa di terus-terusan diperdaya dengan otak yang selau memikirkan kondisi Dafi, khawatir dan cemas menghantui nya seharian penuh membuat kaki nya mengikuti Alex sampai tiba di rumah sakit. Setelah tau kondisi Dafi bukan nya lega Alin malah menangis histeris di pelukan Luna, dia benar-benar sakit melihat kondisi Dafi. Benar kata Jems jika Dafi sangat jauh berbeda dengan Dafi yang biasanya, baru kali ini Alin melihat lelaki itu jatuh sakit dan sampai tak sadarkan diri. Aku harap kakak baik-baik saja dan cepat sadar, kakak harus tetap menjadi Dafi yang kuat meski tanpa aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD