Tidak ada yang tau sejauh mana kedekatan Adam dan Dafi, kedua nya sering bertemu untuk sekedar minum wine berdua saat waktu senggang membicarakan satu hal yang sangat penting dalam hidup mereka, Queena Crystalin.
Satu nama yang sangat mereka sayangi melebihi apapun itu.
"Apa kau masih kuat ?" tanya Adam pongah, Dafi memutar malas bola mata nya, pasti selalu pertanyaan mengejek itu yang Adam lontarkan ketika mereka berdua
"berhenti mengejek ku bang" sahut Dafi kesal, gelak tawa Adam menggelegar kencang dia puas menjahili anak muda penuh ambisi di depan nya itu
"ingat ya, jika sampai waktu dua tahun yang kau janjikan itu semua perusahaan belum bisa kau rebut kembali, berarti kau tidak pantas menjadi adik ipar ku" titah Adam menatap Dafi serius
"dan aku bebas mencarikan lelaki yang--"
"stop bang !! aku akan buktikan jika aku pantas menjadi pendamping Queen !" sela Dafi menggeram marah dia tidak suka dengan ucapan yang akan Adam lanjutkan mencarikan lelaki yang lebih baik untuk Queen, tidak bisa ! Dafi tidak akan rela jika sampai itu terjadi hanya dia yang pantas bersama gadis kecilnya itu, hanya dia.
Dafi rela melakukan apapun agar bisa kembali kepada gadis nya termasuk syarat paten dari Adam, meski menurut Dafi syarat-syarat Adam sangat lah susah ia harus menahan diri untuk tidak bertatap muka dengan Alin selama dia belum bisa menyelesaikan semua urusan nya. Adam tidak ingin Alin terseret dalam masalah sisi gelap bisnis jika Dafi masih berhubungan dengan Alin dalam masa-masa itu.
Adam juga melarang Dafi untuk tidak mengirimi Alin pesan text atau telfon membiarkan gadis itu berfikir jika Dafi sudah tidak peduli lagi, ini lah ujian terberat yang Dafi jalani selain dia sendiri yang merasakan sakit karena aturan itu dia juga merasa hancur ketika membuat gadis nya bersedih dengan peraturan yang tidak di ketahui Alin itu.
i'm sorry princess
Dan jangan tanyakan seberapa frustasi nya Dafi menjalani syarat dari kakak tertua Alin itu, Adam. Dia tahu semua tentang gadis nya termasuk siapa saja lelaki yang berusaha merebut hati Alin, sering kali Dafi tidak fokus menjalankan tugas nya di sini jika sudah mendapat kabar ada lelaki yang sedang mendekati Alin dia takut jika gadis nya sudah benar-benar melupakan nya dan berpindah ke lain hati. Dan memang itu yang Adam harapkan, dia sedang menguji kekuatan cinta keduanya.
"ku tunggu janji mu satu tahun lagi anak muda dan kau baru bisa mendekati Queen ku jika syarat yang aku ajukan berhasil kau lakukan" ujar Adam mengingatkan sambil terkekeh sinis, ia menepuk pelan pundak Dafi lalu beranjak pergi.
*****
Dafi terus memandangi kiriman file foto dari Saga, disana gadis nya terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya hitam, hari ini hari kelulusan Alin dia ikut bangga mendapat kabar tentang berbagai prestasi yang di peroleh gadis itu.
"Selamat princess" ucap Dafi mengelus layar ponselnya, dia terus tersenyum saat di foto itu Alin memegang karangan bunga Daisy yang ia pesan kan, setidak nya meski ia tidak bisa menemani Alin di hari bahagia nya itu ada bunga Daisy yang mewakilinya disana, tepat di pelukan Alin.
Hampir setiap hari kiriman file berupa foto Alin selalu ia terima, berbagai ekspresi dari gadis nya itu menjadi hiburan tersendiri bagi Dafi, tak pernah bosan ia mengoleksi ribuan foto Alin sampai ia memutuskan untuk membuat ruangan sendiri sebagai penyimpanan ribuan foto itu. Di kala ia sedang lelah menghadapi pekerjaan Dafi selalu menenangkan diri di dalam ruangan itu berjam-jam memperhatikan satu persatu foto Alin disana, tanpa bosan.
Jika ada orang lain yang tau soal ini Dafi bisa di anggap terlalu obsesi kepada Alin atau bahkan hampir mendekati sifat psycopat, Dafi tak pernah pusing dengan anggapan orang lain, ini dunia nya, Alin adalah dunia nya.
"apa sudah kau kirim kan buku referensi kebutuhan gadis ku !" tanya Dafi datar kepada Alex di sebrang meja kerja nya
"sudah tuan muda" jawab Alex se sopan mungkin
"jangan sampai dia kesulitan sedikit pun"
Alex meng iya kan ucapan tuan muda nya itu yang tidak pernah absen mengirim paket berisi kebutuhan wanita di negara London sana, hanya saat membahas wanita itu tuan muda nya ini bisa sangat terperinci dan tegas tidak ingin ada satu kekurangan atau kesalahan sekecil apapun, termasuk beberapa chip cctv yang terletak di beberapa sudut apartemen wanita pujaan tuan muda nya. Alex saja hanya bisa melihat senyuman Dafi jika sedang memandangi rekaman cctv dan beberapa file foto di ponsel nya selain itu wajah Dafi tetap satu ekspresi, datar.
Selanjutnya Dafi habis kan waktu hampir sepuluh bulan di Italia untuk menjadi detektif dadakan, atas bantuan Alex dan beberapa teman nya dia bisa mengoprasikan komputer membobol kode-kode rahasia untuk mengumpulkan bukti kecurangan Mario lengkap dengan data-data siapa saja yang menikmati uang mami nya itu. Ini sulit, dia harus memutar otak dari anak jurusan IPA menjadi anak IT sangat berbeda 180° dari apa yang ia pelajari di sekolah. Hampir 6 bulan ia belajar cara menjadi hacker dan empat bulan ia mulai beroprasi.
Mario adalah orang berpengalaman dalam bidang bisnis dan kecurangan sehingga waktu hampir dua tahun itu sudah bisa dibilang lumayan cepat, Dafi sudah mengeluarkan semua kemampuan yang ia bisa untuk menggeser jabatan Mario yang tidak seharus nya lelaki itu nikmati.
Kini semua usaha yang mengorbankan banyak air mata, dua hati yang sama-sama tersakiti, serta penderitaan orang tua akhirnya bisa membuahkan hasil, Dafi sudah bisa duduk santai di ruang tamu apartemen kaki ia naik kan ke atas paha yang lain lalu menyesap kopi hitam sambil mata nya fokus menonton acara berita yang menggemparkan dunia bisnis Italia, acara yang memang ia tunggu-tunggu selama hampir dua tahun ini.
Kehancuran Mario.
Dafi menghela nafas puas perusahaan terbesar di Italia sudah pindah ke tangan yang tepat yaitu dirinya sendiri
"aku sudah menepati janji ku mam" gumam Dafi tersenyum puas ke arah foto Sandra yang berada di nakas samping nya
"kini waktu nya untuk aku menjemput menantu mami" imbuh nya tersenyum semakin lebar, dia sangat senang bukan hanya bisa menuntaskan wasiat Sandra tapi karena dia akan segera menemui gadis nya itu,
Dafi hanya ingin mengambil apa yang sudah menjadi miliknya.
FlashBack End.
.
APARTEMEN ELIT, Al-khadafi.
20:03
Semua sudah ia jelaskan sesuai fakta yang ada kepada gadis kecil nya namun hasil dari penjelasan panjang lebar itu tak sesuai yang ia harapkan, setelah mendengar semua penjelasan Dafi kecuali peraturan dari Adam karena Adam akan menganggap gugur jika Alin tau, Alin bukan nya memeluk Dafi tapi malah semakin meradang
"KAKAK FIKIR DENGAN KAKAK JELASIN SEMUA INI AKU AKAN MAAFIN KAKAK ? ENGGAK KAK !! AKU SEMAKIN KECEWA SAMA KAKAK !" tatapan mata Alin tajam, wajah nya menggambarkan bagaimana ia sangat kecewa dan kini ia sedang berusaha kuat menahan diri agar tidak terlihat lemah di depan Dafi
"dengan perginya kakak tanpa kabar sudah menandakan jika kakak memang nggak pernah menganggapku ada, kakak sama sekali nggak percaya sama aku, aku nggak akan marah kalau kakak ngomong dari awal, jelasin dari awal alasan kakak pergi pasti aku akan dukung kakak, nungguin kakak, karena aku bukan gadis egois yang akan melarang kakak pergi untuk memperjuangkan perusahaan ibu kakak tapi cara kakak salah"
"Lin-"
"stop kak ! jangan deket-deket" sentak Alin menjauhi Dafi yang hendak menenangkan nya " jika memang yang kakak harapkan aku tidak pernah tau dimana keberadaan kakak akan aku lakukan " Dafi menggeleng lemah "mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah ada hubungan apa-apa dan anggap saja kita sama sekali tidak pernah kenal !!"
BUGH !!
PRANGG !
Kaca kamar mandi Dafi pecah berserakan, buku jari lelaki itu juga mengeluarkan darah segar. Memingat semua perkataan gadis nya semakin membuat rahang serta otot-otot Dafi mengetat kencang.
****
APARTEMEN QUEENA.
20:05
"siapa yang ngijinin kamu kesana ! dia itu udah bukan siapa-siapa kamu lagi dek ngapain kamu kesana !"
"Gavin stop, lo udah keterlaluan" tegur Saga menggeram jengkel, setelah menjemput Alin di apartemen Dafi Gavin terus-terusan marah besar. Dia tidak suka adik nya berdekatan lagi dengan Dafi.
"mendingan lo diem Sag, ini bukan urusan lo" desis Gavin melirik sinis Saga, dia lalu berjalan dan duduk di sisi Alin, gadis itu sejak tadi diam menunduk di sofa
"aku udah jelasin semua nya sama kakak" cicit Alin sesaat merasakan Gavin berada di samping nya
"seharusnya kamu telfon kakak" Gavin membuang nafas berat nya secara perlahan "apa yang dia lakuin sama kamu,, hmm ?" nada Gavin berubah lembut, dia tiba-tiba menyesal sudah memarahi adik nya ini
Alin menggeleng pelan "nggak ada, aku cuman ngobatin dia aja"
"terus kenapa Dania sama Luna malah nggak boleh masuk?" tanya Saga penasaran, Alin perlahan menatap Saga
"aku nggak tau, kata anak buah nya kak Dafi yang punya urusan cuman aku jadi mereka nggak boleh masuk" Saga mengangguk samar
Gavin mengelus pelan surai hitam Alin "kakak peringatin sekali lagi, kamu nggak boleh deket-deket lagi sama dia, apapun alasan nya sudah cukup dua tahun dia buat kamu kayak gini, kakak nggak kuat dek tiap kali lihat kamu nangis karena dia"
Alin membalas tatapan lekat Gavin, di dalam mata Gavin ada beberapa pancaran ke khawatiran yang dalam. Alin tau jika dia bersedih dan menangis maka ketiga kakak nya pasti merasakan hal serupa, Alin lalu melingkarkan kedua lengan nya di perut Gavin menenggelamkan wajah di d**a kakak ketiga nya itu
akan aku usahakan kak.
*****
Lima dokter terkenal London sudah di panggil, berbagai obat terbaik sudah di berikan namun tuan muda tidak mau bangun juga dari tidur panjang nya selama dua hari ini. Badan nya sangat panas serta sering kali mengigau tidak jelas, Jems sampai membatalkan semua rapat di indonesia mendengar putra nya jatuh sakit
Dafi sakit ??
Alex dan Jems hampir tidak percaya itu, dua tahun di Italia bekerja keras otak dan fisik Dafi tidak pernah sakit sedangkan ini tidak ada angin dan hujan tiba-tiba Dafi jatuh sakit.
"sebenarnya anak saya kenapa dok ?" tanya Jems ke dokter yang ke lima datang memeriksa Dafi
"tuan Dafi kelelahan sehingga membuat daya tahan tubuh nya drop, dia juga kurang tidur serta asupan gizi nya kurang"
jawaban nya sama dengan empat dokter sebelum nya, Jems mengehela nafas panjang lalu mengantar dokter itu keluar. Sementara Alex terus melihat ke arah Dafi
terakhir kali Alex mendapati Dafi sedang marah memecahkan kaca di toilet serta melempar hampir semua barang yang ada di kamar nya, kejadia itu terjadi sesaat gadis bernama Alin pulang dari apartemen. Alex paham, penyakit apa yang di derita tuan muda nya ini
"mau kemana kamu Lex !" tegur Jems berpapasan dengan Alex
"saya mohon izin keluar sebentar tuan, ada urusan yang sangat penting" jawab Alex menunduk sopan, Jems mengangguk.
Alex pun secepat kilat pergi dari apartemen menuju kampus terbaik di London.
Tidak sulit untuk menemukan Alin, bertanya kepada satu mahasiswa saja sudah tau siapa yang di maksud, kini Alex berjalan mendekati Alin yang sedang makan siang bersama dua teman nya waktu itu
"selamat siang nona"
ketiga nya menghentikan aktifitas mereka
"eh, ngapain lo disini, lo anak buah nya Dafi kan !" sembur Luna sengit, dia sangat hafal wajah pengawal menjengkelkan yang menyuruhnya menunggu di luar apartemen Dafi dua hari lalu
Alex tidak menggubris ucapan Luna dia terus melihat ke arah Alin dan berkata "saya kesini ada keperluan dengan nona Alin"
"ada apa ?" tanya Alin dingin, jika menyangkut Dafi dia tidak akan perduli
"bisa kita bicara berdua saja"
"nggak boleh !!" sela Luna berdiri menghalangi arah pandang Alex "lo sama tuan lo mending nggak usah gangguin Alin lagi, biarin temen gue bahagia tanpa tuan lo itu" imbuh Luna menatap Alex sengit, Alex menatap Luna malas lalu mendorong Luna ke samping membuat gadis itu hampir tersungkur
"pengawal sialan !" desis Luna hanya mendapat lirikan dingin dari Alex
"bicara disini saja" kata Alin
Alex mengangguk patuh
"baiklah, ini masalah tuan muda Dafi"
Alin mendengus kasar "jika hanya masalah itu lebih baik kamu pulang, tugas kuliah ku sudah hampir membuat ku gila jadi tolong jangan tambah beban fikiran ku lagi"
mulai sekarang aku harus tegas, aku nggak boleh lemah
"tapi nona, ini sangat penting ini menyangkut nyawa tuan muda" titah Alex dengan raut khawatir
mata Alin sedikit membelalak kaget, nyawa ?? tidak mungkin Dafi akan bunuh diri hanya karena masalah kemaren, dua tahun dia menyakiti Alin masih terlihat baik-baik saja lalu kenapa baru sekarang sok tersakiti, Alin tidak ingin tertipu bualan ini.
"biarkan saja kalau memang kak Dafi mau bunuh diri" jawab Alin tenang
.
tapi tidak dengan hati nya.