Belum Kembali

2517 Words
19:03 Perum Barnet, London Dafi tersenyum tipis sebelum akhir nya dia menutup kaca mobil lalu pergi dari halaman rumah Diandra, wanita yang bersama nya di cafe hari ini. Sedetik setelah kaca itu tertutup raut wajah nya berubah 180° bukan semakin tampan namun menyeramkan, sorot mata Dafi menggelap rahang nya mengetat kuat, gigi Dafi pun bergemelatuk nyaring dia menginjak kuat pedal gas hingga mobil yang ia kendarai melesat kencang melewati beberapa mobil di depan nya. Sesampai nya di apartemen Dafi memarkirkan mobil nya asal-asalan, dia melangkah panjang masuk ke apart mewah itu lalu melempar jas kerja nya kepada maid "tuan mau di buatkan teh hangat ?" tawar maid itu menunduk dia bergidik ngeri melihat sorot mata Dafi, Dafi melayangkan tatapan tajam nya lalu berkata lantang "kau bakar jas itu !! wanita iblis itu sudah lancang memegang tangan ku !" maid itu terkesiap kaget, meski Dafi terbiasa dingin tapi lelaki itu jarang sekali terlihat sangat marah seperti sekarang "ba-baik tuan" Dafi melangkah cepat ke dalam kamar, menghempaskan tubuh nya di atas kasur king size, menatap kosong ke langit-langit hingga dua menit kemudian tanpa sadar tanpa pamit mata coklat pekat itu berlinang air mata "maaf kan aku" ujar nya lirih, sesak sekali untuk sekedar bernafas saja. Dia mengambil oksigen dalam dalam lalu menghembuskan nya pelan, tidak membantu sama sekali d**a nya masih sesak. Dafi bangkit ia mengambil laptop di atas laci sebelah ranjang lalu jemari Dafi menjelajah disana mata nya terpaku pada tayangan cctv yang terhubung ke benda lebar pipih itu, ia meraba layar laptop itu dengan sangat lembut seakan menyentuh langsung objek di dalamnya, untuk sementara hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mengobati rasa rindu nya. Dafi merogoh ponsel di saku celana kerja nya, menelfon Alex "iya tuan" jawab Alex dari sebrang sana "aku sudah mendapatkan bukti itu, kini semua ku serahkan padamu, hancurkan perusahaan Diandra dan rebut saham mami ku kembali" "baik tuan" Tiitt.. Sambungan terputus, Dafi kembali fokus memandangi layar laptop hingga hari menjelang pagi dia tetap tak kunjung tidur, hanya duduk mematung sambil memantau setiap kejadian yang di tampilkan layar itu. Jam sudah menunjukka pukul 06:30 tidak ada tanda-tanda Dafi mengantuk, suara ketukan pintu mengagetkan nya, dia beranjak membuka pintu, disana maid yang tadi malam berdiri menunduk hormat "ada apa ?" tanya nya dingin "ada tamu di luar tuan" satu alis Dafi terangkat, tidak ada yang tau apartemen ini selain Alex, lalu siapa ? Dafi keluar kamar untuk menemui tamu itu, saat ia membuka pintu utama BUGHHH !! BUGHH !! BUGHH !! ia terpental kebelakang mendapat serangan dadakan, Dafi menyeka sudut bibir nya yang sangat nyeri bahkan ada bercak darah disana, pandangan Dafi lalu tertuju kepada dua pasang sepatu vans yang berada di depan matanya ia mendongak pelan melihat siapa yang sudah lancang melayangkan tinjuan keras itu, Gavin. "bangun lo !" desis Gavin menarik kerah kemeja Dafi, Dafi memang tidak ganti pakaian sejak kemaren dia tetap memakai kemeja kerja, semalam ia terlalu fokus memantau cctv hingga lupa mengurus dirinya sendiri pukulan demi pukulan Gavin layangkan ke arah Dafi, wajah, perut, rahang, sudut bibir bahkan hampir semua inti tubuh Dafi, disetiap pukulan itu tersimpan amarah yang semalam ia pendam. Dafi terkulai lemas di lantai, nafas nya naik turun tak karuan, dia merasa tulang tubuh nya rontok akibat ulah Gavin, Dafi tidak melawan ataupun memberontak dia tau betul arti dari serangan Gavin, dia merasa pantas mendapatkan ini semua, bahkan dia rasa ini masih kurang dengan apa yang sudah ia perbuat kepada Alin, gadis nya. Dafi tersenyum getir, apakah masih pantas Dafi menyebut Alin adalah gadisnya ? setelah dia sudah melukai gadis itu. "PUAS LO !" teriak Gavin murka, ia berjongkok menyamakan posisinya dengan Dafi, dia memegang kerah kemeja Dafi yang terdapat bercak darah disana membuat sang empu mendongak sejajar dengan wajah Gavin, Gavin menatap nyalang wajah babak belur teman itu "PUAS LO UDAH BIKIN ADEK GUE MENDERITA,, HAH !!" imbuh Gavin menggebu-gebu, Dafi menatap Gavin sayu bibirnya nyeri untuk berbicara. "JAWAB ANJ*NG !" sembur Gavin marah, mata nya memerah, rahang Gavin mengetat kuat, dia tidak pernah merasa se emosi ini selama hidupnya "lepasin gue !!" Gavin seketika memberontak saat dua bodyguard Dafi datang hendak menyeretnya keluar, dia berusaha menahan badan nya agar tidak terbawa, Gavin belum puas menghajar teman nya itu. Dafi berusaha berdiri tertatih di bantu dua bawahan nya "tuan--" Dafi memberi kode agar mereka diam, kini Dafi berdiri sekuat tenaga menghadap Gavin yang tak henti-henti nya mengumpat, memberontak agar di lepaskan "lepasin gue b*****t !!" cekalan mereka berdua sangat kuat di lengan Gavin "pengecut kalian semua !" teriak Gavin semakin emosi "maafin gue" ucap Dafi penuh sesal,Gavin menatap nya tajam lalu meludah sembarangan "maaf ?? lo fikir cuman dengan kata maaf lo bisa balikin air mata adek gue, heh !" Dafi menggeleng lemah "apa lo lupa siapa gue Gav" tanya Dafi mendesis pelan, perut nya terasa nyeri sekali. "lepasin gue !" Gavin terus memberontak, Dafi memberi mode agar mereka melepaskan Gavin, setelah terlepas Gavin berjalan angkuh kearah Dafi berdiri tepat di depan nya lalu tertawa kencang beberapa detik "hahaha, gue tau kok lo itu siapa ! Dafi kan ?, Al-khadafi seorang CEO muda ternama setelah bisa merobohkan perusahaan Mr crop dan mengambil alih predikat pengusaha terkaya di dunia,, hahaha gue tau semua nya Daf, termasuk tindakan b***t lo sama adek gue ! lo ninggalin dia, lo biarin dia nangis tiap hari, lo berjanji sama kita semua kalau urusan lo udah selesai lo bakalan jelasin ke adek gue kemana lo selama ini, tapi apa !! apa yang udah lo perbuat sama adek gue sekarang !!" sembur Gavin tepat di depan wajah Dafi "gue kesini emang mau nemuin Alin, bukan cuman dia yang ngejalanin waktu sulit selama dua tahun, gue datang buat dia Gav" "bulshit !!" bantah Gavin sengit "terus cewek yang adek gue maksud itu siapa, hah ! saudara lo lagi ? atau pela*cur lo !,, haha gue tau sekarang derajat lo tinggi, lo di agung-agung kan dimana mana, semua media balapan untuk meliput lo, lo juga bisa milih cewek model kayak apapun tapi lo nggak bisa se enak nya buang adek gue gitu aja !" "GUE NGGAK BUANG ALIN !!" bantah Dafi lantang, dia sudah mulai tersulut emosi. Gigi Dafi bergemelatuk nyaring "terus apa !! dengan lo datang ke kehidupan adek gue pakek cara kayak gini, apa namanya kalau lo nggak buang adek gue, heh !!" kedua nya terdiam beberapa detik, mereka beradu tatap dalam gelam nan tajam, kedua tangan mereka terkepal sangat kuat, nafas mereka pun tak beraturan. Kedua nya sama-sama emosi sehingga suasana disana pun memanas, para body guard Dafi berjaga-jaga mereka tidak akan membiarkan Gavin menghajar Dafi lagi. "gue kecewa sama lo Daf ! kecewa banget,, gue harap adek gue nggak ketemu sama lo lagi" desis Gavin tajam, setelah mengatakan itu dia berbalik pergi dari apartemen Dafi. Dia melirik buku jari nya yang berdarah, di dalam lift dia mengibas-ngibas kan tangan yang sudah ia buat merusak wajah Dafi tadi, sedikit nyeri. "tuan apa perlu kita kejar dia" "tidak perlu" jawab Dafi, ia menghela nafas panjang sembari mendesis kesakitan. . ***** CityStay - MidSummer Mews, London, Combridge. 10:30 "satu suapan lagi ya" bujuk Saga lembut, Alin menggeleng pelan dia tidak nafsu makan sama sekali, dua suapan saja rasanya sudah kenyang "udah kak, aku kenyang" jawab Alin lemah, Saga pasrah dia tidak ingin memaksa Alin, dia meletakkan mangkok makanan Alin di nakas "kamu mau apa ?" tanya Saga lagi, dia terus memandangi Alin lekat Alin menggeleng "pizza ?" tawar Saga Alin kembali menggeleng Saga menghembuskan nafas ringan "kalau kamu nggak makan gimana nanti kamu bisa sembuh" Alin diam, mata nya menatap kosong kedepan, fikiran Alin pun kosong. Dia seperti raga tak bernyawa, bayangan kejadian itu selalu menghantui nya "kak,," "hmmm?" sahut Saga menaikkan satu alisnya "aku mau sendiri, tolong tinggalin aku sendiri" Saga mengangguk, ia sempat kan mengusak pucuk kepala Alin lalu keluar dari kamar Alin, di ambang pintu ia membuang nafas berat merasakan sesak saat melihat Alin seperti itu. "hiks,," sepeninggal Saga air mata Alin langsung mengucur deras, ia masih tidak bisa menerima keadaan ini. Alasan nya hanya satu, hati nya tidak bisa melupakan Dafi meski lelaki itu sudah menyakitinya se dalam ini tapi Alin tidak ingin menjadi wanita bodoh lagi dia harus melupakan Dafi, harus. Alin mengusap kasar air mata nya "a-aku nggak boleh kayak gini, a-aku nggak mau buat mereka khawatir" gumam nya berusaha kuat. Di luar ruangan Alin, Saga terus mondar mandir di depan pintu kamar Alin, dia tidak bisa meninggalkan gadis itu sendiri tapi dia juga tidak bisa membantah kemauan nya, cinta benar-benar mampu melemahkan seorang Saga. Dua tahun bersama Alin, ikut menjaga Alin tidak membuat dia bisa mengontrol perasaan nya sendiri, dia cinta dia sayang gadis kecil itu. "ngapain lo jadi setrika an disini !" sembur Gavin yang barusaja datang, Saga menoleh kaget "ngagetin aja lo anj*ng !" sembur Saga kesal "malah nge gas dia" sahut Gavin terheran-heran "gue tanya ngapain lo disini, bukan nya tadi gue nyuruh lo temenin adek gue" "Alin nyuruh gue keluar, dia terpukul banget bro, gue nggak tega" Gavin mendesah pelan "lo aja nggak tega apalagi gue, kakak nya sendiri, serasa di kuliti hidup-hidup kalau lihat dia nangis" mereka memilih berbicara di ruang tamu, Gavin melempar kaleng minuman soda yang langsung di tangkap sigap oleh Saga "tangan lo kenapa ?" tanya Saga melihat buku tangan Gavin yang berdarah "gue dari apartemen Dafi" "hah ?, ngapain !" sembur Saga kaget "menurut lo ngapain ? kangen-kangen an sama dia ? gue hajar lah tuh anak" jawab Gavin kesal dengan pertanyaan konyol itu, memang apa yang akan dilakukan seorang kakak jika adik nya di sakiti ?? untung masih Gavin, kalau Adam dan Dirga tau, bisa-bisa ampas mayat Dafi pun tidak ada. "wah nyari masalah lo, dia tuh CE_" "CEO termuda kan ? terkaya kan ? terus kenapa ? dia boleh nyakitin adek gue gitu aja ? kalau sampek abang tau semua ini, mau dia anak presiden pun gue nggak jamin hidup nya tenang" "terus, Dafi nggak ngelawan ?" "nggak ! sadar diri kali tuh bocah !" Saga tidak bertanya lagi, dia memilih diam dengan semua fikiran nya sendiri. ***** 20:03 CityStay - MidSummer Mews, London, Combridge Pusing karena demam di tambah pusing karena kedatangan dua manusia super posesif dari negara lain, siapa lagi kalau bukan Adam dan Dirga. Mereka memilih terbang ke London memakai jet pribadi masing-masing, Adam dari Indonesia Dirga dari Dubai, sengaja datang hanya untuk menjenguk kesayangan mereka yang sedang demam, ingat ! hanya demam. "ya ampun,, kalian nggak mesti kesini" keluh Alin menatap kedua kakak nya heran, dia sendiri kaget saat mereka berdua tiba-tiba datang dengan panik bahkan membawa dua dokter pribadi, berlebihan sekali menurut Alin tapi dia hanya bisa diam pasrah. "terus gimana ? diem di rumah dengan fikiran nggak tenang ?" sahut Adam sambil menyiapkan makan malam Alin "bang, adek tuh cuman demam ini aja udah mendingan" celetuk Gavin yang duduk di kursi single, pilihan yang salah memberitahu mereka jika Alin sedang sakit karena efek nya seperti ini. Mereka membatalkan semua rapat penting hanya untuk Alin. "mau demam atau batuk sedikit pun abang tetep bakalan kesini, abang nggak percaya sama kamu untuk jagain Queen" kata Adam melirik sinis Gavin, Gavin mendengus kasar karena itu "dia pikir gue nggak bisa ngerawat Alin apa!" gumam Gavin setengah kesal "makan dulu sayang" Alin pasrah saat Adam membantu nya bersandar di kepala ranjang "lain kali nggak usah kesini bang, perjalanan nya jauh terus abang kan sibuk kerja lagian bener kata kak Gavin kalau aku cuman demam biasa aja" Adam diam tidak membalas ucapan Alin, dia menyodorkan sesendok makanan yang langsung di terima oleh Alin, Alin terkena cipratan minyak saja dia kalang kabut apalagi lagi, Adam tetap lah Adam tidak mau dan tidak akan bisa melihat adik nya terluka atau merasakan sakit sedikit pun, jika seandainya dia punya kekuatan dia hanya ingin memiliki kekuatan pemindah rasa sakit agar ketika adik nya sakit bisa ia transfer ke dirinya sendiri. Di balkon Dirga terlihat sibuk menelfo, sesekali Dirga mondar-mandir seperti sedang dalam masalah "kak Dirga kenapa ?" tanya Alin sesaat setelah memperhatikan Dirga "abang nggak tahu sayang" jawab Adam ikut memperhatikan Dirga "mengertilah Lina, aku kesini menjenguk adikku bukan untuk bersenang-senang" kata Dirga frustasi, wanita di sebrang sana terdengar semakin marah-marah "selalu saja adik mu ! padahal jarak kita di Dubai hanya beberapa menit tapi kamu selalu tidak ada waktu untuk menemuiku, giliran adik mu sakit di London, kamu langsung terbang kesana !" "stop Lina ! jangan pernah bandingkan Queen dengan dirimu" sentak Dirga murka "posisi dia di hidupku jauh berbeda dengan mu, ingat itu !!" "persetan dengan semua itu !! hiduplah sana dengan adik mu itu sampai mati !" Tiiitt,,, Dirga menatap layar ponselnya, ia mendesah kasar melihat sambungan telefon itu mati. "ada apa ?" Dirga tersentak kaget, dia berbalik sudah ada Adam di ambang pintu balkon "oh,, nggak ada apa-apa bang, gimana Queen ? udah makan ?" Adam mengangguk samar menatap kegugupan Dirga, Dirga mencoba tersenyum kepada Adam lalu masuk ke dalam, Adam hanya memperhatikan Dirga masuk dan duduk di sisi ranjang Alin. ***** Suasana berbeda di kota yang sama, dua lelaki duduk berhadapan, sudah lama suasana seperti ini tidak terjadi setelah dua tahun berpisah baru kali ini mereka bisa duduk bersama lagi dalam satu ruangan, ruangan panas sepanas otak mereka berdua. Canggung menghampiri mereka hingga sampai setengah jam tidak ada yang membuka suara lagi "lo nggak papa kan ?" tanya nya, dia sudah bosan diam dalam hening orang yang di maksud menatap nya lalu menggeleng "gimana kondisi Alin ?" tanya nya berubah sendu "dia udah mendingan, bang Adam sama kak Dirga juga dateng kesini" terlihat orang di depan nya mengusap kasar wajah nya"gue kangen dia" ujar nya lirih terdengar sangat frustasi "gue tau" sahut nya sambil menepuk pundak teman yang sedang frustasi itu "gue udah banyak nyakitin dia" "iya, dan yang terakhir lo bikin dia nangis semaleman" jawaban itu membuat sang teman semakin sedih tidak karuan dengan mata mulai memanas, dia menjawab "bukan cuman dia, gue bahkan nggak bisa tidur, di otak gue cuman Alin dan Alin tapi gue belum bisa berbuat apa-apa sekarang, gue belum bisa nemuin dia, sebelum urusan ini selesai" ujar nya lemah, rasa rindu yang ia rasa seakan menggerogoti nya pelan-pelan. Penyesalan karena telah membuat Alin terluka mampu membuat asupam oksigen nya menipis, d**a nya nyeri seakan tertusuk ribuan jarum ketika mengingat tatapan kecewa Alin "gue nggak mau dia terancam bahaya karena deket gue, urusan kali ini lebih serius dari yang dulu" imbuh nya menunduk lemah, sekali lagi dia menggeram frustasi. Kondisi masih tidak membiarkan dia menemui gadis kecil kesayangan nya itu, dia bisa gila jika terus-terusan begini. "apa lo butuh bantuan ?" tawarnya prihatin "nggak usah, kalian jangan deket gue dulu aja, anggap aja kita nggak kenal, musuh yang sekarang bukan kacang, gue nggak mau kalian kenapa-napa, apalagi Alin" tolak nya tegas "setelah berita itu tersebar besok, gue yakin dia nggak akan tinggal diam setelah tau siapa gue dan apa yang udah gue perbuat" imbuh nya dingin "gue harap urusan lo cepet kelar, kasihan Alin" "gue juga berharap begitu" "gue percaya sama lo Daf" "makasih bro, gue cuman butuh kalian jagain Alin, dia berharga buat gue, gue berjuang selama ini juga demi dia" ungkap Dafi "pasti" ucapnya mengangguk cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD