Crying

2155 Words
Tangan kecil itu bergetar hebat, dia menatap telapak tangan yang sudah menyalurkan rasa kecewa nya lewat tamparan tadi, sedikit memerah mungkin karena terlalu kencang melayangkan nya. Alin tidak pernah berfikir akan melakukan hal seperti itu, dia terlalu kecewa melihat nya kembali bukan untuk memperbaiki atau menjelaskan sesuatu tapi merusak segalanya, merusak dinding kokoh yang ia bangun agar tetap percaya kepadanya. Kini semua sudah berubah total dia menyesal pernah menjadi gadis bodoh yang rela menunggu selama bertahun-tahun hanya untuk lelaki b******k sepertinya. Alin membekap mulut agar isakan tidak terdengar jelas oleh supir di depan, bukan pertemuan seperti ini yang ia harapkan, jujur waktu pertama melihat nya ada di depan mata rasa rindu langsung meluap-luap ingin sekali berlari lalu menanyakan kemana dia selama ini, lalu memeluk nya erat tapi itu hanya rencana karena fakta yang ada saat dia berjalan bersama perempuan lain rasa rindu itu berubah menjadi benci dan kecewa. Alin tidak pernah merasa se sakit ini, meski dulu Dafi tidak pernah datang saat dia koma bahkan tidak memberi kabar sedikitpun Alin tetap percaya jika ada alasan dibalik itu, dia tetap menunggu dalam sedih sampai waktu terus berlalu, Alin melewati hari-hari suram tanpa lelaki yang ia cintai, fikiran nya di penuhi seribu pertanyaan untuk lelaki itu. Kenapa tega, kenapa dia seperti ini, bukankah tidak pernah ada masalah sebelum nya, hubungan nya baik-baik saja bahkan dia berjanji akan membuktikan kepada ketiga kakak nya supaya mendapat restu menjalin hubungan lebih serius tapi kenapa malah pergi, dia menyerah di tengah-tengah perjuangan itu meninggalkan Alin sendiri disini meratapi kisah cinta nya yang miris. Dia memang cantik, kaya, mempunya keluarga lengkap, mempunyai ketiga kakak yang sangat menyayangi tapi dia buruk di urusan hati kisah nya bahkan sangat menyedihkan, dia ditinggal begitu saja tanpa penjelasan. Sesampainya di apartemen Alin langsung berlari masuk ke kamar, belanjaan nya tadi di bawakan pak sopir hingga ke dapur. Alin sampai tidak sadar saat Gavin memanggilnya "Pak adek saya kenapa ?" tanya Gavin kepada sang supir tadi pak supir menunduk hormat lalu berkata "Saya kurang tau tuan, tadi nona meminta saya mengantarnya ke caffe biasa, namun belum ada setengah jam nona sudah kembali ke mobil menyuruh saya segera melanjukan mobil seperti di kejar sesuatu, dan tadi saya lihat nona menangis tuan" penjelasan sang supir lancar sesuai apa yang ia ketahui. Tanpa mengatakan apapun lagi Gavin langsung menuju kamar Alin, dia mengetuk beberapa kali pintu Alin namun tidak ada sahutan dari dalam bahkan Gavin meski Gavin lantang memanggil nama adiknya itu "Queen, kakak dobrak nih pintu nya !" ancam Gavin mulai di serang rasa panik "Ada apa ?" Gavin menoleh, Saga sudah berdiri di belakang nya membawa dua kantung kresek, dia sendiri tidak tahu kapan makhluk itu masuk ke apartemen, Gavin tidak peduli kini Alin lah yang terpenting "Adek gue ngunciin diri di kamar" sahut Gavin parau sambil mencoba untuk mendobrak pintu itu, kening Saga mengerut bingung "Lo berantem sama Alin ?" "Nggak ! dia baru aja balik dari supermarket langsung masuk kamar dan nggak jawab meski gue panggil !" Gavin menggeram kasar, pintu di hadapan nya ini sangat sulit di dobrak Saga ikutan panik mendengarnya, dia meletak kan barang bawa an nya ke lantai dan membantu Gavin memanggil Alin "Lin, ini gue Saga, lo nggak papa kan ?" ",,," tidak ada jawaban, mereka berdua kelewat panik sekuat tenaga mendobrak pintu itu hingga percobaan kelima baru lah pintu itu terbuka paksa sampai lepas dari sanggahan nya. Alin meringkuk di atas kasur terus menangis hingga badan mungil nya gemetar hebat, dia mendengar suara gaduh dari luar sana tapi dia enggan merespon, badan serta hati nya sangat lelah saat ini dia butuh sendiri, butuh ketenangan "Kenap-pa,, kenapa kakak lakuin ini sama aku,, " Alin meremas bantal di sisi kepalanya, bayangan Dafi terus teriang membuat kepala nya berdenyut nyeri "A-apa salah ku,," gumam nya lirih terdengar sangat pedih. Tiba-tiba suara pintu terdobrak membuat Alin tersentak kaget, pasti Gavin sudah merusak pintu kamarnya. "Queen ! ada apa !" pekik Gavin kelewat panik, dia memutari ranjang Alin lalu berjongkok tepat di samping ranjang Alin. Wajah Alin memerah, bibir nya menahan isakan sampai bergetar pucat "Heii,, kenapa ?" tanya Saga lembut, dia mengusap pelan lengan gadis itu Alin tak mengatakan apa-apa dia sibuk menangisi kejadian tadi, saat ia melihat Gavin di depan wajah nya dia langsung menarik leher Gavin dan menenggelamkan wajah nya di pundak kakak ketiga nya itu. Alin menangis tersedu-sedu di leher Gavin, Gavin menghela nafas berat ia membenarkan posisi Alin, dia naik ke atas ranjang sambil memeluk erat adik kecil nya yang entah kenapa terlihat sangat rapuh saat ini, Saga hanya berdiri di samping ranjang melihat mereka yang kini sedang berpelukan hangat. Gavin mengelus surai hitam Alim lalu memejamkan mata beberapa detik merasa nyeri di ulu hati ketika isakan demi isakan ia dengar sangat memilukan. Ada apa ini, kenapa adik nya sampai se kacau ini, bukan kah tadi dia hanya pamit ke supermarket terdekat lalu kenapa saat pulang keadaan nya malah seperti ini. Gavin terus mengelus teratur punggung Alin memberikan sedikit ketenangan disana, air mata nya membasahi kaos bagian d**a Gavin sehingga sang empu merasa sesuatu membasahi kulit dadanya. "Ada apa sayang siapa yang buat kamu kayak gini, ngomong sama kakak" tanya Gavin lembut, perasaan nya sudah bercabang kemana mana dia lemah jika Alin sudah menangis seperti ini bahkan otot badan nya terasa lemas sekarang. "Di-dia jahat kak,, " kening Saga dan Gavin mengerut bingung, dia siapa ?? "siapa ? Raxel ganggu kamu lagi?" kini Saga yang bertanya sangat hati-hati, dia tidak bisa melihat gadis itu seperti ini. Kalau sampai Raxel berbuat ulah hingga membuat Alin seperti ini Saga jamin dia sendiri yang akan memberinya pelajaran, tak terasa kedua tangan Saga mengepal kuat. "Bu-bukan" Gavin merenggangkan dekapan nya, menangkup wajah memerah Alin lalu menghapus air mata dan ingus Alin dengan ibu jarinya, tanpa merasa jijik sama sekali. "Siapa ? bilang sama kakak siapa yang udah bikin kamu kayak gini" rahang Gavin mengetat serta tatapannya Gavin menggelap, Alin tau jika saat ini Gavin mati-mati an menahan amarah "ka-kaak~~,," Alin tidak kuasa menceritakan semuanya dia menangis lagi dan kembali menenggelamkan wajah di d**a Gavin "kakak disini sayang, tenang ya,," kini dia harus menahan rasa penasaran soal sebab dari menangis nya Alin karena mood Alin sedang kacau balau satu menit kemudian "Kak Dafi" bisik Alin serak di d**a Gavin, tapi suara lirih itu masih terdengar jelas di telinga dua lelaki disana, kening Gavin mengerut bingung, Dafi ?? "Dafi ? Al-khadafi ?" tanya Gavin memastikan, Alin mendongak menatap Gavin sendu lalu mengangguk samar mendadak suasana menjadi hening mereka kaget mendengar Alin menyebut nama Dafi, mereka tau betul jika Dafi berada di Italia bukan di London "i-iya kak,,,," Alin lalu menunduk sesegukan "Kamu pasti salah lihat sayang" lengan Gavin berada di bawah leher Alin, telapak tangan nya mengelus lembut kepala Alin mencoba menyangkal apa yang Alin katakan. Tidak mungkin Dafi berada di London. "Nggak !" bantah Alin menatap Gavin tajam "aku nggak salah lihat, ta-tadi itu beneran ka-kak Dafi,, hikss hikss" Gavin menangkup sisi wajah Alin menciumi seluruh wajah Alin dengan sayang "terus kenapa kamu nangis sayang, bukan nya kamu nungguin dia, apa kamu udah tanya kemana dia selama ini ?" tanya Gavin lembut sembari menatap lekat wajah memerah Alin sambil sesegukan Alin menjawab "a-aku,, a-aku nggak perlu tanya kemana dia selama ini, hiks,, di-dia,," lagi lagi bayangan Dafi bersama seorang gadis melintas di kepala Alin membuat nya tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya "di-dia pergi karena wanita lain" imbuh Alin memaksakan tenggorokan kering nya untuk bercerita apa yang ia lihat tadi, lalu dia kembali tumbang berderai air mata di pelukan Gavin "nggak mungkin sayang" sangkal Gavin tidak percaya, Alin kembali menatap Gavin "aku nggak mungkin salah lihat kak,, coba lihat !" Alin menunjukkan telapak tangan yang masih agak kemerahan "tangan ku merah,, hiks,, a-aku,, aku tadi menamparnya" Gavin melihat itu, memang benar telapak Alin memerah dan gemetar, apa benar itu Dafi ? tapi kenapa jadi seperti ini. Gavin meraih telapak Alin tadi lalu menautkan jemari mereka dan kembali menarik Alin dalam dekapan hangat seorang kakak "sssttt,,udah udah jangan nangis" Gavin tidak bisa menahan lebih lama lagi amarahnya, sudah cukup dua tahun adik kecil nya itu menderita karena Dafi kini Gavin tidak akan membiarkan Alin terus seperti ini. Lo udah bohongin gue Daf ! "hiks,,ka-kak,,a-apa salahku" Alin meremas kuat kaos bagian punggung Gavin "kenapa dia jahat,, hiks hikss,, kena-paa,," helaan nafas semakin berat di d**a Gavin tak terasa telapak tangan yang memeluk Alin mengepal kuat. "Kakak pastikan dia akan menerima balasan atas apa yang udah dia perbuat sama kamu" gumam Gavin menahan kuat emosi yang sudah menguasai dirinya. Semua sudah jelas kenapa dia pergi, lelaki pecundang itu meninggalkan nya demi wanita lain, meninggalkan nya dalam rasa sakit serta penantian tidak jelas selama dua tahun. Kini dia benci, sangat benci kepada nya, kenapa cinta pertama nya harus lelaki itu, kenapa meski sudah tersakiti begini rasa cinta tidak bisa langsung pergi, kenapa !! kenapa tuhan ! tolong,, ini sangat sakit. "Dafi,," desis Saga menggeram marah, sorot mata nya sangat tajam otot pelipis Saga pun menonjol jelas. ***** Alin tertidur setelah hampir dua jam gadis itu menangis dalam pelukan Gavin, kini diruang tamu Saga dan Gavin diam dalam hening, mereka sibuk dengan fikiran masing-masing. Gavin bergerak mendekati boneka pajangan di samping televisi, Saga hanya memperhatikan Gavin yang kini berjalan ke arah balkon dan melempar boneka itu "lo kalau marah jangan sama boneka" cibir Saga tak habis fikir Gavin tak menjawab dia kembali duduk memijit pangkal hidung nya sebentar lalu menatap Saga "sekarang gimana ? udah cukup Dafi buat adek gue menderita" "gue denger dia beli dua perusahaan terbesar disini dan jadi CEO termuda di London" Gavin berdecih pelan "cih ! apa karena sekarang dia udah sukses terus dia buang adek gue gitu aja !" Gavin tekekeh sinis setelahnya "kita nggak boleh nuduh dia dulu Gav, kali aja tuh cewek anggota keluarga Dafi sama kayak kejadian Ichell waktu itu" meski kini Saga juga tersulut emosi dia tidak ingin gegabah, dia tau betul bagaimana Dafi teman es nya itu tidak pernah dekat dengan wanita lain selain Alin selama ini. Bahkan di masa sekolah nama Dafi terkenal dingin kepada perempuan "mau dia keluarga nya si batu itu atau bukan gue nggak peduli Sag !, udah cukup dia bikin adek gue kayak gini, kalau memang tuh cewek anggota keluarga nya kenapa dia datang ke London nggak langsung nyamperin adek gue ! apa dia buta kalau adek gue nungguin dia selama ini" sungut Gavin menggebu-gebu, Gavin tertawa sumbang "gue nyesel pernah ngerestuin dia sama adek gue" desis Gavin menyeramkan Saga mendesah pelan, benar kata Gavin selama ini Dafi tau jika Alin kuliah di London tapi kenapa saat datang teman batu nya itu tidak menemui Alin dan malah jalan bersama gadis lain. Saga kembali emosi, dia memejamkan mata sejenak guna meredam otak nya yang mendidih panas saat ini PRANGG ! suara benda jatuh menghantam lantai mengagetkan mereka berdua, serempak mereka menoleh ke arah kamar Alin jelas sudah jika suara itu dari dalam sana. Kedua nya lari tergopoh-gopoh ke kamar Alin, di ambang pintu mereka tecengang beberapa detik mata mereka membelalak kaget melihat Alin sudah pingsan di lantai "QUEENN !" "ALIN !!" Gavin meraih tubuh Alin menggendong bridal style adik kecilnya itu lalu menaruh pelan Alin di atas ranjang kingsize "Queenn,, sayang" Gavin panik melihat wajah pucat Alin "Queen sadar Queen, ini kakak ! Queen !" "Lin,, astaga,," Saga tak kalah panik dia mengusap usap telapak kaki Alin berniat menghangatkan tubuh dingin gadis itu "badan nya dingin" gumam Gavin parau hampir menangis. Bagaimana tidak, ini pertama kali melihat Alin pingsan seperti ini. Dia menyeka keringat dingin di kening serta pipi adiknya itu, ada yang berbeda dari Alin, Alin demam Gavin merasakan kulit wajah gadis itu panas namun bagian tubuh lain dingin, dia pun mengecek suhu lewat kening dan betapa terkejutnya nya Gavin saat merasakan panas lewat punggung tangan nya"ya tuhan,," Gavin berlari panik keluar kamar untuk mencari obat Saga mengambil alih tempat duduk Gavin di bibi ranjang Alin, menggengam erat tangan kecil gadis itu sambil terus menatap wajah pucat Alin, terbesit rasa nyeri yang amat dalam melihat nya dalam keadaan seperti ini. "wake up," pinta nya lirih, mata nya meredup sedih tak kuasa melihat objek di depan nya itu "please,, wake up" imbuh nya dengan bibir gemetar Gavin kembali membawa kotak obat, dia membuka nya dengan buru-buru mengambil plaster penurun demam lalu menempalkan pelan di kening Alin, setelah itu Gavin menelfon dokter kepercyaan keluarga nya untuk segera datang ke apartemen "jika dalam lima menit kau tak datang ! akan ku pastikan kau akan kehilangan pekerjaan mu !" ancam Gavin dingin, Saga menatap nya prihatin Gavin terlihat sangat kacau dan panik, dia terus mondar mandir di sisi ranjang Alin entah menelfon siapa sambil marah-marah tidak jelas. Setelah selesai acara menelfon, Gavin memilih tidur di sebelah Alin menarik tubuh dingin itu kedalam dekapan nya, dia tak peduli jika sekaeang kaos yang baru saja ia ganti harus basah lagi oleh keringat Alin. "sadar lah sayang,,,maafin kakak nggak bisa jagain kamu" Cup cup cup Gavin mendaratkan ciuman lembut di pucuk kepala Alin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD