Bab 7

1453 Words
Setelah menerima fakta baru yang menghantam kuat dirinya, Jordan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa peduli lagi dengan keadaan luar yang masih ricuh. Sakit sekali rasanya ketika mengetahui sebuah fakta mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Selama ini ia berusaha untuk tak mengulangi kesalahan yang telah di perbuat ayahnya dengan menjadikan wanita yang sifatnya tak jauh berbeda dengan seorang p*****r sebagai istrinya. Dan kini, ia sendiri malah menikahi seorang wanita yang berprofesi sebagai p*****r. Sungguh, rasanya saat ini ia ingin mati saja daripada harus terikat dengan wanita itu. Perceraian sempat terlintas di benaknya. Namun, ia sadar jika perceraian setelah beberapa jam mereka resmi menjadi pasangan suami istri akan memancing kecurigaan orang-orang di sekitarnya. Dan sungguh, ia tak ingin di tertawakan oleh orang-orang itu karena kebodohannya yang telah mengulangi kembali kesalahan ayahnya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk membiarkan pernikahan ini sampai setidaknya pernikahan tersebut mencapai usia satu tahun. Jordan melangkah dengan lunglai saat memasuki kamarnya. Ia mengambil duduk di pinggir ranjang dengan tubuh yang rasanya lemas luar biasa. Lelah rasanya jika harus terus hidup bersama Rosita yang mempunyai seribu satu akal licik di dalam kepalanya. Jordan tak pernah menyangka jika Rosita akan kembali membodohinya. Setelah ia kehilangan kelab malamnya beberapa tahun silam karena ia dengan bodohnya memercayai Rosita begitu saja, kini ia harus kembali kehilangan barnya bahkan kehilangan kehidupan yang sudah ia damba-dambakan belakangan ini. Dan perbuatan Rosita kali ini sukses membuat hatinya hancur berkeping-keping. Rosita sengaja memberikan Lori kepadanya agar ia bisa mendapatkan bar miliknya sesegera mungkin. Lalu setelah itu, saat ia telah menikahi Lori dan bar tersebut sudah menjadi milik Rosita, wanita itu sengaja mengundang Chris yang merupakan pelanggan tetap Lori dan membuka semua kebohongan yang telah ia buat. Alhasil, Jordan akan menjauhi Lori dan Lori akan kembali menjalankan pekerjaannya. Dengan begitu, Rosita akan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda. Licik sekali, bukan? "Jangan seperti ini. Kau masih memiliki aku, Jo," ujar Chloe yang kehadirannya tak di sadari oleh Jordan. Jordan menoleh ke sampingnya dan langsung bertemu pandang dengan Chloe yang sudah duduk di sebelahnya. Ia segera menarik adik perempuannya itu ke dalam pelukannya lantas langsung menumpahkan semua perasaannya lewat air matanya. Saat ini ia tak peduli jika ia terlihat lemah di depan adiknya sendiri. Rasanya lelah sekali harus menjalani kehidupan yang tak sehat seperti ini. Chloe menghela napas pelan seraya membalas pelukan Jordan. Ia mengelus pundak pria itu untuk menenangkannya walau pun saat ini ia juga merasakan kehancuran yang sama dengan kakaknya. Ia tak pernah melihat Jordan menjadi selemah ini. Kejadian tadi membuat pertahanan yang selama ini pria itu bangun, hancur seketika. "Apa salahku, Chloe? Kenapa aku selalu mendapatkan ketidakadilan?" tanya Jordan di sela-sela tangisnya. Chloe memejamkan matanya erat. Mendengar pertanyaan dengan nada memilukan tersebut membuat hatinya berdenyut sakit. Ia tahu kalau saat ini Jordan sudah mencapai titik lemahnya. Dan ia tak akan pernah membiarkan kakaknya seperti ini. Jordan harus kembali bangkit agar ia bisa membalas perbuatan Rosita. Chloe membuka matanya dan saat itu pula setetes air mata jatuh membasahi wajahnya. "Aku mohon, jangan seperti ini. Kau harus kuat," ucapnya parau. Tangis Jordan semakin kuat dan ia sudah tak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai seorang pria. Ia memeluk Chloe semakin erat dan menumpahkan semua rasa sakitnya di sana. Chloe juga sudah tak bisa lagi menahan emosinya. Air matanya akhirnya tumpah bersama isak tangisnya yang menambah ramai kamar Jordan. Ia merasa hidupnya benar-benar tidak adil. Sejak dulu ia tak pernah merasakan yang namanya kasih sayang orangtua. Ibunya selalu sibuk dengan pria-pria tidak jelasnya sementara ayahnya sibuk dengan pekerjaannya. Hidupnya pun terasa hancur ketika ayahnya beberapa kali melakukan kesalahan yang membuat hidupnya semakin berantakan. Dan di saat ia ingin meniti hidup baru dan mencoba untuk berubah, ia malah kembali mendapatkan ketidakadilan seperti sekarang ini. Ia hanya ingin berubah. Ia hanya ingin mencoba untuk mencintai seorang perempuan dan ingin sembuh dari kelainan seksual yang ia derita. Bahkan, selama seminggu lebih ini, ia berusaha untuk menumbuhkan perasaannya terhadap Lori walau pun ia harus mati-matian menahan sesuatu di dalam dirinya yang selalu melawan kehendaknya. Ia hanya ingin menjalani hidup normal seperti orang kebanyakan. Ia ingin seperti Deo yang dengan mudah jatuh cinta kepada seorang wanita. Sialnya, ia tak seberuntung Deo yang mendapatkan perempuan baik-baik. Setelah kejadian ini, ingin rasanya ia menyerah saja. Ia akan menjalani hidupnya seperti dulu dan tak lagi peduli dengan orientasi seksualnya yang menyimpang. Toh, ia masih bisa terangsang dengan seorang wanita walau pun perasaannya lebih dominan terhadap seorang pria. Mungkin memang kehidupan seperti ini lah yang harus ia jalani. Sementara di tempat lain, Lori juga mengeluarkan air mata yang sama dengan Jordan. Ia juga merasakan sakit yang sama. Ia juga merasakan kehancuran yang membuat dirinya merasa tak berdaya. "Jangan seperti ini, Lori," ucap Chris dengan sedih seraya mengelus lembut rambut Lori. Lori segera menepis tangan Chris yang ingin menyentuh tubuhnya. Ia menarik selimut yang sedari tadi menutupi tubuh telanjangnya sampai dagunya dan menahannya agar tetap di sana. Ia merasa jijik dengan perlakuan Chris yang seperti binatang. Bahkan ia juga merasa jijik dengan dirinya sendiri yang mau-mau saja di sentuh oleh pria itu. Padahal seharusnya malam ini Jordan lah yang menyentuhnya. Lori melayangkan tatapan tajamnya ke arah Chris yang saat ini tampak begitu sedih. Dan Lori tak peduli dengan ekspresi yang di tunjukkan pria itu. "Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya tajam. "Aku hanya ingin kau terus bersamaku. Aku tak ingin ada pria lain yang memilikimu, Lori." "Sudah ku katakan berapa kali kalau cepat atau lambat aku pasti akan pergi darimu, Chris!" teriak Lori dengan segenap emosi yang sejak tadi di pendamnya. "Kau tega sekali melakukan ini kepadaku," lirihnya dengan air mata yang kembali menyeruak keluar. Chris menggeleng pelan. Ia bermaksud untuk mendekati Lori, namun, baru saja ia berniat untuk beranjak dari tempatnya, Lori sudah lebih dulu menjauh darinya dan mengambil posisi siap untuk pergi jika ia berani mendekatinya. Alhasil, Chris hanya bisa menghela napas pasrah dan memilih untuk pergi ke kamar lainnya dan memberikan waktu untuk wanita itu. Lori kembali menangisi nasibnya yang tak pernah bagus setelah Chris meninggalkannya sendirian. Tangis yang tiada hentinya membuat ia merasa lelah dan akhirnya membuatnya tertidur. Sampai ia kembali membuka matanya di pagi hari pun, rasa lelah itu tak kunjung hilang. Sekuat tenaga ia mencoba untuk melawan rasa lelah yang membuat tubuhnya lemas bukan main. Pagi ini juga, ia harus segera pergi dari apartemen Chris dan kembali ke rumah Jordan untuk menjelaskan semuanya kepada suaminya itu. Lori berharap jika Jordan masih berada di rumahnya agar ia bisa segera menjelaskan semuanya kepada pria itu. Dan harapannya pun terkabul ketika ia sudah memasuki rumah Jordan dan matanya langsung menangkap pergerakan pria itu yang tengah berjalan ke arahnya. Lori menghentikan langkahnya dan mengulas senyum lebar di bibirnya begitu ia melihat jika Jordan tengah berjalan menghampirinya. Namun, senyuman itu hilang ketika Jordan melewatinya begitu saja. Pria itu seolah-olah tak melewati siapa pun dan menganggap Lori tak pernah ada. "Jordan!" panggil Lori seraya berlari kecil untuk menghampiri Jordan yang sudah hampir mencapai pintu utama rumah tersebut. Ia menarik lengan Jordan untuk menahannya. Dan usahanya itu berhasil karena pria itu langsung berbalik untuk menatapnya. "Apa yang kau inginkan?" tanya Jordan datar seraya melepaskan tangan Lori yang masih berada di lengannya. Lori menatap Jordan dengan raut sedih yang tergambar jelas di wajahnya. Rasanya sakit sekali menerima penolakan dari orang yang kita cintai. Pria itu telah berubah. Dia bukan lagi Jordan yang beberapa jam lalu masih bersikap lembut kepadanya. Jordan yang saat ini adalah Jordan yang tak tersentuh. "Aku ingin menjelaskan semuanya kepadamu. Aku mohon, dengarkan aku untuk kali ini," ucap Lori memohon. Jordan tertawa sinis seraya bersedekap d**a. "Kau ingin menjelaskan semuanya setelah tadi malam kau tidur dengan pria lain? Hebat sekali." "Sungguh, aku tidak ingin melakukannya, Jo. Chris dan Rosita memaksaku dan aku tidak bisa melawannya. Aku bahkan memohon-mohon kepadamu supaya kau mau membantuku, tetapi kau malah pergi begitu saja." "Begitu, ya? Ceritamu kurang menarik. Aku pergi dulu kalau begitu," ucap Jordan tanpa belas kasihan lantas meninggalkan Lori begitu saja. Lori melepas kepergian Jordan dengan air mata yang lagi-lagi tumpah begitu saja. Ia menangis tanpa suara, dan rasanya semakin menyakitkan. Tubuhnya juga terasa lemas luar biasa sehingga membuat ia meluruh dan berlutut dengan mata yang terus menatap lurus ke arah depannya. Jika ia boleh memilih, ia lebih memilih untuk tak mencintai Jordan. Namun, hatinya berkata lain. Kehadiran Jordan di dalam hidupnya mampu memberikannya sebuah harapan baru. Harapan yang sekiranya bisa membebaskannya dari pahitnya dunia. Ia juga tak menyangka jika ia akan jatuh cinta secepat ini kepadanya. Senyuman Jordan yang pertama kali ia lihat, seolah menunjukkan bahwa ia akan bahagia bila bersamanya. Dan saat itupula hatinya langsung memantapkan pilihannya. Namun, ia tak lagi melihat senyuman itu sekarang. Semuanya telah berubah. Kebahagiaan yang sudah ia nantikan kedatangannya pun telah musnah. Sekarang yang harus di lakukannya hanyalah menguatkan hatinya agar ia bisa terus bertahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD