Bab 6

2131 Words
Salah satu ballroom hotel mewah yang sengaja di sewa Rosita untuk pernikahan putranya, tampak begitu ramai. Semua rekan kerja Jordan dan Rosita, menjadi tamu undangan yang paling banyak hadir malam itu. Semuanya datang dengan penuh suka cita. Mereka rela mengantri panjang hanya untuk mengucapkan selamat kepada sang pengantin. Tamu yang malam itu hadir untuk memeriahkan pesta, sangat antusias dengan pernikahan tersebut. Pasalnya, di mata mereka, baik Jordan maupun Rosita, kedua ibu dan anak itu sangat terkenal dengan sifat ramah dan dermawannya. Berbeda dengan Chloe, gadis itu cenderung pemalu sehingga banyak yang tak mengetahui tentangnya. Tetapi sayang, mereka semua sudah di butakan oleh sikap baik yang selama ini selalu di umbar oleh ibu dan anak itu. Mereka tidak pernah tahu jika kedua orang itu memiliki aib yang kapan saja bisa membunuh diri mereka sendiri jika seseorang mengetahuinya bahkan membeberkannya di hadapan publik. Untungnya, baik Jordan maupun Rosita, keduanya sangat pandai menutupi semuanya sampai-sampai tak ada satu orang pun yang bisa mencium bau dari aib yang mereka sembunyikan. Suka cita yang malam itu memenuhi seisi ruangan, tidak menular kepada Lori. Sejak ia berangkat ke gereja pagi tadi sampai ia melaksanakan resepsi pernikahannya malam ini, ia tampak murung dan tak semangat menjalani pernikahannya dengan Jordan. Untung saja dia mampu menyembunyikannya dengan baik sehingga Jordan tak bertanya apa-apa mengenai dirinya. Sejak adiknya mengabari bahwa ia tidak bisa hadir ke acara pernikahannya dikarenakan ibunya yang kembali mengamuk, hati Lori mendadak di penuhi dengan rasa cemas yang teramat sangat. Hal itulah yang membuat ia tidak semangat menjalani pernikahan yang sudah ia tunggu-tunggu. "Ada apa denganmu?" tanya Jordan yang pada akhirnya menyadari adanya raut sedih yang muncul pada wajah wanita yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya. Lori menatap Jordan dengan senyuman tipisnya yang tampak sangat di paksakan. "Aku baik-baik saja." Jordan melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Lori, memutus jarak di antara mereka. Tamu yang sejak tadi mengantri untuk mengucapkan selamat kepada mereka, belum juga habis. Maka dari itu, ia ingin membalas uluran tangan mereka terlebih dahulu baru menanyakan tentang wajah Lori yang tak tampak bahagia di hari pernikahannya sendiri. "Ayo, berdansa denganku," ucap Jordan dengan senyuman manisnya seraya mengulurkan tangannya ke arah Lori setelah tak ada lagi tamu yang memberikan ucapan selamat kepada mereka. Lori tersenyum kecil dan tanpa ragu langsung menerima uluran tangan Jordan. Keduanya berjalan beriringan menuju ke tengah ruangan yang saat itu sudah penuh dengan beberapa pasangan yang sedang berdansa mengikuti alunan musik yang mengalun indah. Semuanya bersorak gembira ke arah Jordan dan Lori ketika mereka ikut berbaur di dalam kerumunan tersebut. Dan setelah itu, mereka kembali melanjutkan dansanya bersama sang pengantin. Jordan memeluk pinggang Lori. Sementara Lori sendiri memilih untuk melingkarkan kedua lengannya di leher Jordan. Kaki mereka melangkah ke kanan dan ke kiri sesuai dengan irama. "Jadi, apa yang membuat istriku ini murung?" tanya Jordan dengan lembut yang entah kenapa langsung membuat wajah Lori bersemu merah ketika kata istri keluar dari mulut pria itu. "Aku baik-baik saja, Jordan," Lori tersenyum, mencoba meyakinkan Jordan bahwa ia memang baik-baik saja. "Ceritalah. Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja." Lori menghela napas panjang dan memutuskan untuk menceritakannya kepada Jordan. "Ibuku, dia kembali mengamuk tadi pagi." Benar dugaan Jordan jika Lori sedang tidak baik-baik saja saat ini. Sejujurnya, ia belum pernah bertemu sekali pun dengan orangtua ataupun keluarga Lori. Yang ia tahu, Rosita telah melamar Lori untuknya sehingga ia tak perlu lagi mendatangi keluarganya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menemui keluarga Lori di hari ini, saat ia melaksanakan resepsi pernikahannya. Namun, sejak tadi ia tak melihat satu pun keluarga Lori. Hal itu tentu saja langsung membuatnya penasaran. "Ada apa dengan Ibumu?" tanya Jordan yang mulai penasaran dengan keluarga Lori. Apalagi ketika ia mengatakan kalau tadi pagi ibunya kembali mengamuk. Lori menatap Jordan dengan lekat seiring dengan langkah kakinya yang terus berjalan mengikuti musik. Ia meneguhkan hatinya dan memilih untuk menceritakan tentang keluarganya kepada Jordan. Bagaimana pun juga, saat ini Jordan sudah resmi menjadi suaminya dan ia harus tahu tentang keluarganya. "Jordan, kau harus tahu jika keluargaku tidak sesempurna keluargamu. Aku tidak punya apa pun yang bisa aku banggakan. Delapan bulan yang lalu, rumahku mengalami kebakaran. Ayahku dan adik pertamaku tewas saat itu juga. Sementara aku dan adik keduaku sempat terjebak di sana sebelum pemadam kebakaran membawa kami keluar dan langsung melarikan kami ke rumah sakit," Lori memberi jeda sejenak untuk menenangkan dadanya yang terasa sesak. "Sebelum kebakaran itu terjadi, Ibuku bertengkar dengan Ayahku karena dia sudah tidak betah tinggal bersama Ayah yang hanya bekerja sebagai seorang buruh. Ibuku memilih untuk pergi bersama kekasih barunya yang kaya raya dan meninggalkan kami," Lori memejamkan matanya dan saat itu pula setetes air mata jatuh membasahi wajahnya. Jordan menghentikan gerakan dansa mereka dan tetap berdiri di antara kerumunan orang yang sedang berdansa di pestanya. Satu tanganya beranjak naik untuk menghapus air mata Lori, sementara satu tangannya lagi tetap memeluk pinggang wanita itu. "Tidak usah di lanjutkan." Lori menggeleng pelan. Ia tetap ingin melanjutkan ceritanya karena Jordan memang harus tahu mengenai keluarganya. "Saat itu aku tidak tahu bagaimana Ibuku kembali ke rumah karena aku sedang berada di rumah sakit. Dan ketika aku pulang setelah menginap selama dua hari di rumah sakit, aku di kejutkan dengan kondisi Ibuku yang sudah kehilangan akalnya. Saat itu juga aku membawanya ke rumah sakit jiwa dengan bantuan tetanggaku. Dan dokter mengatakan kejiwaannya terganggu karena dia merasa menyesal telah meninggalkan kami. Dia seperti itu juga karena menyangka jika kami semua telah meninggal," Lori kembali mengambil jeda seiring dengan air matanya yang semakin banyak membasahi wajahnya. "Sejak saat itulah aku hidup dengan bantuan tetanggaku. Namun, biaya pengobatan ibuku dan uang sekolah adikku sangatlah mahal. Maka dari itu, aku memutuskan untuk pergi ke kota ini dan mencari saudaraku yang mungkin saja bisa membantuku. Tetapi, ketika aku menemuinya, dia malah langsung mengusirku," Lori tersenyum miris di akhir kalimatnya. Kejadian itu berhasil membuatnya membenci saudaranya sendiri. "Dan beginilah nasibku sekarang. Bekerja keras demi keluargaku," tambah Lori seraya menghapus air matanya sendiri dan mengulas senyum tipis di bibirnya. "Kau masih merawat Ibumu dan bekerja keras untuknya setelah kau tahu jika ia mengkhianati kalian?" tanya Jordan yang tak bisa mempercayai sikap Lori. Dia sendiri saja masih sangat membenci ibunya sendiri karena wanita itu mengkhianatinya dan ayahnya. Bahkan sampai meninggalkan trauma yang mendalam baginya sampai-sampai ia mengubah kodratnya sendiri karena rasa takutnya yang berlebihan. Lori mengangguk tersenyum seraya mengetatkan pelukannya di leher Jordan. "Orangtuaku saat ini hanya tinggal Ibuku. Dan untuk pengkhianatan itu, dia juga sudah menyesalinya. Jadi, aku tidak mempunyai alasan yang bisa aku gunakan untuk tidak memedulikannya." Jawaban Lori barusan membuat bibir Jordan mengembang membentuk sebuah senyuman lebar. Ia menarik wanita itu agar semakin mendekat ke arahnya lantas ia sedikit menundukkan kepalanya untuk menyatukan dahi mereka. "Setelah pesta ini usai, aku akan menjelaskan tentang jawaban atas pertanyaan yang minggu lalu sempat kau tanyakan padaku," ucap Jordan dengan senyuman yang masih terus menghiasi bibirnya. Ibunya memang tak salah memberikan Lori untuknya. Dan Jordan yakin jika setelah ia menceritakan tentang jati dirinya yang sebenarnya dan meminta kepada Lori untuk membantunya berubah, ia yakin wanita itu pasti akan membantunya. "Ah iya, aku masih penasaran dengan itu," rajuk Lori seraya menjauhkan dahinya dari dahi Jordan lantas memindahkan tangannya untuk memegang jas bagian atas yang di kenakan pria itu. Jordan terkekeh pelan. "Kau manis sekali," ia mencium dahi Lori dengan penuh kelembutan sampai-sampai membuat Lori menahan napas karena rasa terkejutnya. Ini pertama kalinya Jordan menciumnya walau hanya di dahinya. Dan sensasi yang di timbulkan dari ciuman itu sungguh membuat jantung Lori berdetak tak karuan. Jordan mengajak Lori untuk kembali ke singgasana mereka dan membiarkan tamu mereka terus menikmati acara demi acara yang telah di susun rapi oleh wedding organizer yang telah di sewa oleh Rosita. Setelah jam menunjukkan pukul 12 malam, akhirnya pesta mewah nan elegan itu pun berakhir. Para tamu undangan sudah mulai meninggalkan ballroom hotel tersebut. Tak terkecuali Jordan yang sudah berada di dalam mobilnya bersama Lori untuk menuju ke rumahnya. Mereka memang memutuskan untuk menginap di rumah Jordan malam ini. Lori semakin tak sabar untuk sampai di rumah Jordan dan mendengarkan penjelasan atas jawaban yang minggu lalu di berikan oleh pria itu. Namun, setelah ia sampai di rumah, bukan jawaban Jordan yang pertama kali ia dapatkan. Ia malah mendapat mimpi buruk ketika mereka sudah berada di dalam rumah itu. Sungguh, Lori tak menyangka jika ia akan bertemu dengan Chris malam ini. Dan sialnya, pria itu sepertinya memang sengaja mendatangi rumah Jordan untuk menemuinya. Jordan sendiri pun hanya mengernyitkan keningnya bingung ketika ia melihat pria asing yang sedang duduk santai di sofa ruang tamunya. "Ah! Kau sudah datang rupanya, Chris," seru Rosita ketika wanita itu baru sampai di rumah bersama Chloe yang sepertinya sama bingungnya dengan Jordan ketika melihat Chris di sana. Chris berdiri dari duduknya. Ia memberikan senyumnya kepada Rosita lantas mengalihkan pandangannya ke arah Lori yang sedari tadi sudah ketar-ketir sendiri menunggu maksud kedatangan Chris ke rumah ini. "Aku ke sini hanya ingin menjemput pelacurku seperti yang kau perintahkan, Rosita," ucap Chris tanpa mengalihkan pandangannya dari Lori. Dan perkataan Chris barusan membuat Lori menatap pria itu dengan tatapan terkejutnya. "Apa maksudmu?" tanya Jordan yang semakin bingung dengan kedatangan Chris. Ia juga semakin mengetatkan genggaman tangannya di tangan Lori. "Kau Jordan, kan? Suami dari p*****r ku ini," Chris memberikan senyum remehnya ke arah Jordan. "Malam ini aku butuh Lori untuk memuaskan nafsuku," ia mendekat ke arah Lori lantas menarik wanita itu dari Jordan. Namun, genggaman tangan Jordan membuat Lori bertahan di sisinya. "Apa maksudmu? Aku masih tidak mengerti," ucap Jordan dengan wajah datarnya. Terdengar nada memaksa dalam suaranya. Chris mendengus malas lantas menatap Rosita yang tampak sangat senang melihat drama yang sedang terjadi di depan matanya. "Rosita, bisakah kau jelaskan semuanya kepada anakmu ini? Aku tidak punya waktu untuk itu. Aku hanya ingin Lori ku." Rosita memberikan senyum lebarnya ke arah Chris. "Tentu," sahutnya seraya mendekat ke arah Lori dan Jordan. "Jadi begini, Jordan. Lori ini sebenarnya salah satu p*****r di kelab ku. Aku sengaja memberikannya kepadamu karena pribadinya yang sangat berbeda ketika ia sedang tidak bekerja. Aku juga salut dengan wanita ini karena dia benar-benar penipu yang handal," tawanya terdengar di akhir kalimatnya. Jordan melepaskan genggaman tangannya di tangan Lori lantas memegang kedua pundak wanita itu dan menatapnya lekat. "Katakan jika yang mereka bilang itu semuanya tidak benar," tuntutnya tajam. Lori menggelengkan kepalanya. Tak siap dengan semua mimpi buruk ini. Air matanya tak kuasa ia tahan. Semuanya tumpah bersama rasa kecewa dan marahnya terhadap Rosita. Wanita itu menjebaknya. "Katakan Lori!" teriak Jordan seraya mengguncang-guncang pundak Lori. Lori melepaskan tangan Jordan yang berada di pundaknya. Ia langsung menatap Rosita dengan wajah merah padam karena amarahnya. "Kenapa Rosita?! Kenapa?! Kenapa kau melakukannya?" ia terisak pelan setelah berhasil menyelesaikan kalimatnya. "Jadi benar..." lirih Jordan. "Kenapa kau memberikanku seorang p*****r, Rosita?! Sudah ku bilang aku tidak sudi menikah dengan p*****r!" teriaknya penuh amarah. Rosita yang melihat Jordan dan Lori yang sibuk menguarkan amarahnya kepadanya hanya tersenyum sinis, tak merasa bersalah sama sekali. "Kau kembali mengulangi kesalahanmu dengan kembali mempercayaiku, Jordan. Aku sudah pernah mengatakan kepadamu untuk tidak mempercayai siapa pun, bukan? Tetapi, kau malah melakukannya." Perkataan Rosita semakin menyulut amarahnya. Rahangnya tampak mengetat dan kedua tangannya mengepal begitu kuat. Napasnya terdengar tak beraturan. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung mendekati Rosita lantas mencekik wanita itu dengan sekuat tenaga. Lori yang melihat kejadian itu tidak sanggup lagi untuk melakukan apa pun. Ia bahkan sudah terduduk lemas di lantai. Dan Chris, pria itu sama sekali tak peduli. Hanya Chloe lah yang masih memiliki akal sehat. Gadis itu segera berlari ke arah Jordan dan menahan agar kakaknya itu tak membunuh Rosita. Rosita langsung memegang lehernya lantas membungkuk dan terbatuk-batuk setelah Jordan melepaskan cekikannya. "Kau! Bawalah segera p*****r ini pergi dari hadapanku!" teriak Jordan ke arah Rosita seraya menunjuk Lori yang masih mengeluarkan isak tangisnya. Jordan benar-benar muak dengan kelakuan Rosita dan Lori yang telah menipunya habis-habisan. Ia memang terlalu bodoh mempercayai Rosita begitu saja. Lori, wanita itu sama saja dengan ibunya. Dan wanita seperti itu harus di musnahkan dari muka bumi ini. Dia benar-benar jijik karena telah menikahi Lori. "Jordan, jangan seperti ini, kumohon," ucap Lori di sela-sela isak tangisnya. Ia bahkan sampai memegang kedua kaki Jordan untuk menahan langkah pria itu yang sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan ini. "Aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu," tambahnya lagi. Jordan menatap jijik ke arah Lori. Sekali p*****r tetaplah p*****r. Dan ia merasa bodoh karena telah mengulangi kesalahan ayahnya dengan menikahi seorang p*****r. Jordan yang sudah di selimuti amarah langsung menendang kakinya sendiri sampai-sampai membuat Lori sedikit terhempas ke belakang. Dan sungguh, Jordan tak peduli, ia tetap melangkah meninggalkan mereka semua. Rasa sayang yang sempat hinggap di hatinya untuk Lori, semuanya telah berubah menjadi kebencian yang teramat besar. Dan malam itu, Lori tidak melakukan malam pertamanya bersama Jordan melainkan bersama Chris. Pria itu memaksanya dengan kasar, tidak lembut seperti biasanya. Dan malam itu pula, rasa benci dan dendam langsung memenuhi hati dan jiwanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD