JENGGALA SENJA : Cafe "Sebatas Rasa"

1048 Words
Ting! Lonceng terdengar manakala Karen masuk ke dalam sebuah cafe, namanya Sebatas Rasa—mempunyai filosofi tentang rasa yang disampaikan lewat secangkir kopi. Karen datang ke tempat ini bukan tanpa alasan. Ada pesan dari sebuah grup chat yang baru-baru ini dibuat oleh Gigan, katanya sebagai penghubung satu dengan yang lainnya. Jadi, mereka akan selalu menentukan kemana tempat berkumpulnya mereka. Jika kemarin mereka berkumpul di mansion keluarga Gigan, maka hari ini mereka ingin nongkrong bebas. Dengan menyetir sendirian, Karen datang lebih awal. Teman-temannya walaupun sudah membuat janji, akan selalu datang belakangan. Sedangkan Karen yang sangat mencintai waktu, selalu datang jauh-jauh waktu dari waktu yang ditetapkan. Lagipula, dia tidak punya kegiatan selama tinggal di Candala. Kota ini tidak membuat dirinya nyaman untuk sekedar tinggal. Terlalu banyak pusat perbelanjaan, club' malam, tempat berjudi, dan tempat-tempat tidak berguna lain yang tidak ingin Karen kunjungi. Katanya, kota Candala dikatakan sebagai kota tercantik di negara ini. Bahkan mendapatkan julukan 'The Beautiful Candala'. Sayangnya, kota ini hanya menyimpan kegelapan di dalamnya, yang tentunya tidak diketahui oleh warga sipilnya. Bisnis-bisnis gelap seperti tumbuh subur di tempat ini, dengan banyak menggunakan orang dalam tentunya. Karen pun tidak mempunyai tempat yang nyaman untuk sekedar duduk sambil membaca buku selain di apartement-nya. Kalaupun sempat datang ke cafe, Karen lebih banyak duduk sambil melamun. Dan ini adalah kali kedua dia datang ke cafe yang ada di kota Candala. Kemarin, dia datang ke cafe yang dekat dengan apartement-nya, namun terlalu berisik dan banyak sekali orang yang sok kenal padanya. Maklum, cafe elite seperti itu biasanya digunakan para anak-anak kelas atas untuk nongkrong bersama. Dan pilihan terbaik Gigan adalah tempat ini untuk sekedar nongkrong tanpa adanya gangguan dari orang tidak dikenal meminta perkenalan guna membantu bisnis mereka. Ah, kehidupan Karen sudah layaknya selebriti yang mendapatkan sorotan dari mana-mana, menyebalkan! "Satu hot black coffee," ucap Barista yang menyajikan kopi pesanan Karen di atas counter. Ketika mereka bertatapan, Barista itu langsung mengenali wajah Karen—terbukti dengan wajah kagetnya. "Tuan Muda Kar~" "Sstt, ... jangan kencang-kencang. Bolehkah aku meminta privasi di cafe-mu?" Tanya Karen yang harus memotong ucapan sang Barista. Barista itu menutup mulutnya rapat-rapat dan mengangguk. Dia sangat takjub dengan apa yang baru saja dilihatnya, seorang putra kedua dari Andersson Company berada di cafe-nya. Bukankah itu adalah suatu kehormatan untuknya? "Bolehkah nanti aku meminta foto bersama Anda, Tuan Muda?" Tanya Barista itu dengan suara yang sangat pelan. "Sudah lama cafe saya sepi dan mungkin dengan adanya Tuan Muda yang pernah datang kesini, tempat ini akan menjadi sedikit dikenal orang di luaran sana." Sambung Barista itu yang meminta ijin kepada Karen. Karen mengangguk pelan, "baiklah, tapi untuk hari ini biarkan aku dan teman-temanku menikmati waktu tanpa diketahui oleh orang lain. Kau mengerti?" Barista itu mengangguk dengan cepat, kebahagiaannya semakin meningkat ketika karena mengatakan kalimat 'teman-temanku'. Itu artinya, cafe itu seperti mendapatkan keberuntungan yang berkali-kali lipat hari ini. Karen duduk di kursi paling pojok, menghindari pandangan orang lain. Walaupun pengunjung cafe pun tidak bisa dibilang banyak. Hanya ada tiga meja yang terisi, dengan mejanya. Maka tidak sulit bersembunyi dari banyaknya pasang mata yang kemungkinan mengenalnya. Karen mengeluarkan buku dari dalam tasnya, sebuah buku manajemen bisnis baru yang dibeli oleh Dechan kemarin. Sekarang rak bukunya semakin berantakan karena belum sempat dibereskan. Baru membaca beberapa baris kalimat yang ada di bukunya. Karen mendengar suara piano yang sedang dimainkan oleh seseorang. Nada dan alunannya sama sekali tidak asing di telinganya. Karen menoleh ke arah sumber suara, menatap seorang wanita yang menggunakan dress warna putih duduk di atas kursi, tangannya pun menari di atas not-not piano dengan lihainya. Untuk beberapa detik, Karen terpaku dengan wanita yang berada di atas panggung. Dia terpesona dengan permainan piano yang katanya disebut sebagai denting duka lara. Nada-nada yang sama seperti ketika dirinya berada di pantai waktu itu. Karen diam-diam tersenyum dan tanpa sengaja mereka bertatapan, membuat Karen salah tingkah sendiri. Karen beranjak dari duduknya dan mendekati wanita itu, "kau mengenal aku?" "Tidak," jawab wanita itu dengan buru-buru beranjak dari duduknya setelah selesai memainkan pianonya. "Siapa namamu?" Tanya Karen dengan mengeluarkan seluruh keberaniannya. Wanita itu menatapnya dengan sangat dingin, "kau masih sangat muda, mengapa bertanya seperti itu padaku? Apakah itu sopan?" "Tunggu! Berapa usiamu?" Tanya Karen penasaran. "Aku sama sekali tidak bermaksud kurang ajar, tetapi kau masih cukup muda untukku. Kita mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja." Sambung Karen yang berusaha berkenalan dengan wanita itu. Wanita dengan dress putih itu, mengabaikan Karen. Wanita itu meninggalkan Karen tanpa bicara sepatah katapun. Karen merasa bingung sendiri, apakah dirinya memang kurang ajar? Dengan penasaran, Karen pun mendekat ke arah Barista yang sedang sibuk memainkan ponselnya. "Permisi," ucap Karen yang langsung membuat Barista itu fokus kepada dirinya. "Kau tahu nama wanita yang tadi bermain piano?" Sambung Karen bertanya walaupun sedikit canggung.  Barista itu menatap ke arah panggung yang sudah kosong, hanya ada sebuah piano yang masih terbuka di sana. "Bagaimana? Kau mengenalnya, bukan? Aku ingin tahu siapa nama wanita itu." Tandas Karen yang berusaha menanyakan tentang wanita yang ditemuinya dua kali ini. Barista itu tersenyum kikuk, "hm, maafkan saya, sepertinya saya tidak bisa memberitahu namanya kepada Anda, Tuan." "Hm, begitu rupanya!" Ucap Karen yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Barista itu. "Kalau aku membayarmu dengan satu post foto cafe-mu di sosial mediaku, apa kau masih tidak ingin memberitahukan namanya?" Sambung Karen yang memberikan penawaran menarik kepada Barista itu. "Apa Anda serius, Tuan?" Tanya Barista itu meminta penjelasan. Karen mengangguk cepat, "itu hanya berlaku hari ini. Kau beritahu aku namanya dan aku akan langsung menge-post satu foto tentang cafe milikmu ke akun pribadiku. Jadi, keputusanmu?" "Baik Tuan, saya akan memberitahu Tuan Muda siapa nama wanita yang bermain piano tadi." Girang Barista itu karena mendapatkan kesempatan emas. Jika tidak memanfaatkan itu, kapan lagi dia akan mendapatkan promosi gratisan dari seorang Karen? Karen tersenyum tipis, rupanya tak sesulit itu untuk membujuk pemilik cafe itu untuk memberitahukan nama dari wanita itu. "Namanya Nirmala, dia baru dua hari ini bekerja sebagai pengisi acara pada setiap malam Sabtu. Dia memainkan pianonya dan kadangkala menyanyi sambil memetik gitar." Ucap Barista itu menjelaskan. Karen mengangguk pelan, "baiklah, sudah cukup informasi yang sudah kau berikan padaku. Tenang saja, aku akan menepati janjiku." Karen meninggalkan Barista itu ketika melihat teman-temannya yang lain sudah datang. Karen tidak mau mereka tahu apa yang sedang mengganggu pikirannya sekarang. Apalagi itu seorang wanita. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD