Setelah acara launching cabang baru VAG Tour and Travel, Karen masih harus berada disebuah restaurant milik keluarga Gamamentra untuk makan malam. Di sana ada beberapa orang yang tentunya dari keluarga Gamamentra dan Andersson. Kerla yang kebetulan tidak datang ketika acara launching pun tiba-tiba muncul ketika acara makan malam bersama. Baik Karen maupun Nara tidak ada yang berbicara, padahal mereka duduk berdampingan.
Berbagai macam makanan datang dan dihidangkan di atas piring mahal dengan gelas-gelas bening yang sangat mewah. Jangan lupakan lilin-lilin yang menghiasi meja makan besar yang merupakan tempat istimewa di restoran ini. Lagipula, Eldas tidak mungkin biasa-biasa saja dalam menyambut tamu penting mereka, keluarga Andersson—yang mungkin akan menjadi besan mereka nantinya.
"Bagaimana dengan berkas kuliah Anda, Tuan Muda Karen? Apa sudah dimasukkan ke Universitas Emerald? Saya bisa membantu mengurusnya." Ucap Eldas membuka pembicaraan terlebih dahulu kepada Karen yang fokus dengan potongan daging di piringnya.
Karen melahap potongan daging itu dan kemudian mengambil tisu untuk melepehnya. Pria itu mengelap sudut bibirnya setelah memuntahkan potongan daging tadi.
"Ah, maaf, saya tidak suka dengan tingkat kematangan daging yang seperti ini. Terlalu menjijikkan untuk dimakan, bukan? Saya selalu heran dengan orang-orang yang menyukai medium, mereka bukankah orang yang tidak sabar? Bahkan mereka tinggal menunggu sebentar lagi untuk mendapatkan daging yang matang, bukan? Mengapa memilih memakan daging setengah matang begini?" Tandas Karen dengan sarkarme.
Kerla tersenyum sinis, "bukankan dulu kau menyukai daging yang seperti itu? Seleramu berubah saat berada di luar negeri? Bukankah di sana banyak yang memakan makanan mentah?"
"Hm, ... kau benar! Seleraku sudah banyak berubah!" Ucap Karen yang membuat Kerla merubah ekspresi wajahnya. Ucapan Karen tentang selera yang berubah seperti bukan mengarah kepada tingkat kematangan daging, namun pada hal lainnya.
"Sudah! Kita pesan yang baru untuk Karen. Kau ingin yang matang, 'kan? Daging yang benar-benar matang?" Ulang Javier sambil mengangkat tangannya, meminta seorang waiters untuk mendekat ke arah meja mereka.
Karen tersenyum tipis. Seperti yang ingin dia lakukan sejak dulu, yaitu mengacau acara makan malam yang dianggap penting. Bahkan Nara yang berada disampingnya pun tidak habis pikir dengan kelakuan memalukan Tuan Muda dari keluarga Andersson ini. Siapa sangka bahwa Karen yang begitu dipuja banyak orang adalah orang yang sangat menyebalkan? Pria itu bahkan seperti pria gila yang tersenyum sepanjang hari.
Keheningan semakin menjadi dan yang terdengar hanya suara Javier dan Eldas yang membahas tentang beberapa bisnis mereka. Diam-diam Karen mendengarkan, namun tidak ada satupun yang menjelaskan tentang bisnis ilegal yang sedang mereka lakukan. Tentu saja mereka sangat cerdas untuk sekedar menyembunyikan semuanya. Jika sampai Karen tahu, kehidupan mereka akan selesai, bukan?
Setelah selesai makan malam, Karen pamit untuk keluar sebentar. Pria itu berjalan ke sebuah taman yang ada di belakang restoran itu. Duduk disalah satu kursi kayu dan mengeluarkan sebungkus rokok yang masih baru. Karen membukanya dan mengambil satu batang rokok itu, dijepitnya diantara bibirnya sebelum akhirnya menghidupkan pemantiknya. Karen yang sudah lama tidak merokok pun akhirnya merokok juga. Pria itu mengusap bibirnya pelan, dan kembali memandang tembok tinggi sebagai pagar bumi yang mengelilingi restoran itu.
"Kau seorang perokok rupanya," ucap seorang gadis cantik yang tidak lain dan tidak bukan adalah Nara.
Karen menggeser duduknya, "tidak masalah untuk menjadi perokok sesekali. Kau suka minum?"
"Tidak!" Jawab Nara tanpa berpikir sama sekali. "Aku tidak pernah suka menyia-nyiakan hidupku untuk hal tidak berguna!" Sambungnya serius.
Karen mengangguk pelan, "kau tak ingin duduk?"
Nara merapikan dress-nya dan duduk disamping Karen. Asap rokok itu pun membumbung tinggi ke udara dan kadang mengenai Nara karena terkena angin. Membuat gadis itu sedikit tidak nyaman, namun tidak masalah untuknya.
"Kau sudah tidur dengan berapa gadis?" Tanya Nara kepada Karen yang menyesap rokoknya.
Karen mengerutkan keningnya bingung, "kenapa kau menanyakan hal itu? Kau takut aku tidak perjaka? Sehingga itu menjadi hal minus di hidupmu? Aku bukan pria yang sempurna?"
"Bukan itu yang ku maksud! Kau seperti pria yang bebas, lepas, dan tidak mempunyai batasan apapun. Bukankah sudah biasa melakukan semacam s*x dengan orang yang belum kau kenal?" Tandas Nara yang mirip seperti introgasi.
Karen tersenyum tipis lalu menginjak puntung rokoknya yang masih sisa setengahnya, "kau pikir karena aku berjiwa bebas, aku bisa melakukan s*x dengan sembarangan orang? Aku bukan Kerla yang suka melakukan hal tidak berguna itu kepada sembarang orang!"
"Kau pikir aku percaya?" Tanya Nara kepada Karen.
Karen mengangkat kedua bahunya dengan acuh, "aku tidak meminta kau percaya! Yang jelas, aku tidak akan sembarangan melakukan hal intim dengan siapapun. Walaupun aku sepuluh tahun tinggal di luar negeri atau sifatku yang berjiwa bebas, tetapi sikapku tidak harus menjadi seenaknya, bukan?"
"Hm, ... jadi kau penganut paham no s*x before marriage?" Tanya Nara kembali sebelum Karen akhirnya memutuskan meninggalkannya di sini.
Karen tersenyum tipis, "tidak juga! Aku bisa melakukannya dengan siapapun yang aku mau sebelum menikah. Memangnya kenapa aku harus menganut paham itu? Aku disiapkan untuk menikahi seseorang yang dipilihkan orang tuaku, bukan orang yang aku cintai. Jadi, bukan tugasku untuk memberikan hak istimewa padanya. Lagipula, aku belum tentu mau melakukannya dengan 'istri' ku."
"Kau seorang gay?"
"Anggap saja begitu!" Jawab Karen sambil tersenyum dan berdiri dari duduknya. "Selamat malam, Nona." Sambungnya sambil berpamitan.
Nara menatap kepergian Karen yang meninggalkan dirinya begitu saja. Gadis itu tersenyum sinis. Mereka bahkan tidak akan pernah mirip seperti pasangan sungguhan. Selamanya, mereka adalah pasangan yang dipaksakan untuk ada.
Sebelum sempat untuk beranjak, Kerla datang menghampiri Nara. Gadis itu menghela napas panjang karena merasa enggan bertemu dan berbicara dengan Kerla, calon kakak iparnya, mungkin. Bahkan Karen saja tidak sudi untuk mengakui Kerla sebagai Kakaknya.
"Kau tidak bisa mengharapkan sesuatu dari Karen, bukan? Karen tidak akan menggunakan perasaan dalam pertunangan kalian. Jika kau mengharapkan lebih, maka Karen tidak pernah bisa memberitakannya." Tandas Kerla dengan tersenyum ke arah Nara.
Nara melipat tangannya di da-da, "aku hanya mengharapkan kesempurnaan darinya, itu saja! Kau pikir aku juga akan menggunakan perasaan dalam pertunangan kami? Kau salah besar, Kerla. Kau tidak pernah mengerti seni berbisnis. Dua orang dipersatukan hanya untuk memperkuat ikatan bisnis mereka, bukan untuk saling jatuh cinta. Bukan pula untuk tidur bersama!"
"Jika kau ingin tahu paham apa yang Karen anut, maka aku akan dengan senang hati menjelaskannya kepada dirimu. Setidaknya kau bisa mulai bersiap!" Tandas Kerla yang membuat Nara mengerutkan keningnya tidak percaya. "Karen hanya menganut satu paham tentang s*x. Dia hanya akan melakukannya dengan orang yang dia cintai. Mungkin sekarang, dia tidak melakukannya dengan siapapun. Tapi jika suatu saat nanti dia jatuh cinta, siapa yang bisa menjamin itu semua? Benar, bukan?" Sambung Kerla yang membuat Nara terusik.
Gadis itu beranjak dari duduknya dan tersenyum, "kalau begitu, aku akan memikirkannya nanti!"
Kerla menatap kepergian Nara yang melewatinya tanpa mengatakan apapun. Rupanya, gadis itu sangat sulit untuk dipengaruhi. Pikirannya yang begitu rasional tidak sama seperti kebanyakan gadis lainnya.
"Berurusan dengan Karen adalah tahapan yang tepat untuk sekedar mematahkan hatimu, Nona Gamamentra."
***