JENGGALA SENJA : Menjadi Terkenal

1039 Words
Begitu sampai di rumahnya, Karen langsung masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai lima—tempat di mana kamarnya berada. Hari ini, dirinya benar-benar sangat lelah. Padahal baru saja sampai di rumah sekitar pukul sepuluh pagi tadi dan langsung direpotkan dengan semua persiapan acara yang sangat-sangat mendadak untuknya. Mungkin dia tidak akan kaget dengan acara perkenalan dirinya di media. Tapi yang membuatnya sangat-sangat kaget adalah acara pertunangan sialan yang masuk dalam daftar acaranya. Jangan pernah berpikir bahwa Karen mencintai tunangannya, Nara. Bahkan dia tidak mengenal siapa gadis yang sejak awal sampai akhir itu selalu tersenyum di kamera. Memberikan kesan baik agar mereka berdua—Karen dan Nara—terlihat sebagai pasangan sungguhan. Karen akan lebih bersyukur lagi jika Nara ikut dalam pencarian bakat daripada bergandengan dengannya seperti orang bodoh. Bahkan mereka tidak saling bicara sama sekali. Terlihat sekali bahwa gadis itu pintar dalam membuat suasana intens sehingga terlihat nyata. Ting! Pintu lift terbuka dan sosok seorang pria dengan pakaian tidur rancangan Giocan pun berdiri di depan lift itu sambil tersenyum ke arahnya. Karen hanya menatapnya sekilas, berjalan melewati pria itu tanpa mengatakan apapun. Tetapi langkahnya terhenti dengan tarikan di lengannya. "Kau berencana untuk tinggal di sini, Tuan Muda Karen? Bukankah kau meminta Dechan membersihkan apartement-mu beberapa hari yang lalu? Kenapa datang ke rumah ini?" Tanya Pria itu dengan sinis. Karen melepas paksa lengannya dari cengkraman tangan pria itu, "apa kau takut tersaingi dengan kehadiranku di sini?" "Hm ... tidak! Pengganggu biasanya akan hilang dengan sendirinya. Ah, aku suka sekali dengan dialogmu di televisi tadi. Sangat menyentuh sekali!" Tandasnya dengan tawa kecilnya. "Kerla," ucap Karen sambil menoleh ke belakang di mana pria itu sedang berdiri sambil bersandar ke dinding disebelahnya. "Jika kau ingin tetap berada pada posisimu sekarang, ada baiknya kau tetap sadar. Jika kau terus membuat masalah, tidak menutup kemungkinan bahwa Daddy akan menghilangkan namamu dari kandidat pewaris perusahaan. Aku bicara seperti ini kepadamu untuk kebaikan dirimu. Kita bersaudara, bukan?" Sindir Karen tajam. "Kau memang ba-jin-gan, Adikku! Ucapanmu selalu membuatku muak. Tetapi asal kau tahu! Namaku selalu bersih dicatatan apapun. Tidak ada satupun tindakan kriminal yang aku lakukan. Mengapa bisa begitu? Aku selalu menyelesaikan semua masalah itu tanpa menimbulkan masalah lain. Sehingga namaku selalu bersih dan suci. Petinggi-petinggi itu sangat rakus, mereka sangat suka uang." Ucap pria yang dipanggil Kerla itu—kakak kandung Karen, anak pertama dari Javier Andersson dan Lalita Verma Andersson. "Hm ... benar juga!" Jawab Karen dengan tertawa kecil. "Tapi semua petinggi itu tahu kebusukan yang telah kau lakukan. Mereka hanya akan menutupi semuanya ketika kau menguntungkan. Jika kau tidak menguntungkan sama sekali dan selalu membuat masalah. Bukan tidak mungkin mereka akan berkhianat, bukan? Kau harus berhati-hati lagi, Brother." Tandas Karen sambil menepuk pelan pipi Kerla lalu meninggalkannya begitu saja. Kerla mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia sangat membenci adiknya. Begitupun sebaliknya, Karen juga sangat membenci Kerla. Mereka mempunyai maksud yang berbeda dalam hal membenci. Karena tidak suka dengan cara Kerla yang selalu menyelesaikan masalah dengan uang dan menjanjikan kekuasaan. Kerla juga selalu berbuat masalah yang sangat merepotkan setiap harinya. Sehingga jika dikumpulkan, Kerla akan mendapatkan masa tahanan yang lama jika andaikata dia tidak menyogok aparat. Menurut Karen pribadi, Kerla adalah bencana yang selalu dimaklumi oleh kedua orang tuanya. Berbeda dengan Kerla dan kedua orang tuanya. Karen adalah orang yang berprinsip. Dia menghilang selama sepuluh tahun dan memilih untuk tinggal di luar negeri karena tidak ingin diikuti media. Namun persembunyian itu harus dirinya akhiri karena Javier yang memaksa dirinya dengan tiba-tiba. Ditambah dengan perjodohan bodoh tanpa membicarakannya terlebih dulu padanya. Karen mengeluarkan kartu akses yang ada di dalam saku jasnya dan berhasil membuka kamarnya yang masih rapi dengan tatanan kamar yang tidak pernah berubah sejak terakhir dirinya tinggalkan. Karen merebahkan dirinya di atas kasur setelah menghidupkan pendingin ruangan. Matanya mengantuk sekali dan badannya lelah. Besok pagi, Javier akan menjelaskan semuanya, katanya. Lagipula, menjelaskan atau tidak, pertunangan itu sudah terjadi. Dia bisa apa? Cincin mahal ini pun sudah melingkar di jarinya. "Sialan! Berani-beraninya mereka merencanakan hal bodoh ini." Kesal Karen yang merasa tidak berdaya sama sekali. Bahkan dia hanya diam tanpa melakukan perlawanan sedikitpun. Karen melepaskan jasnya setelah mengambil sebuah ponsel warna hitam dari sakunya, memencet beberapa digit nomor untuk menghubungi seseorang. "Halo," ucapnya sambil menatap taman yang ada di rumahnya dari jendela kamarnya. "Selamat malam, Tuan Muda. Apa yang bisa saya bantu?" Tanya orang dari balik telepon itu. Karen menghela napasnya kasar tanpa meninggalkan pandangannya dari area taman, "kau tahu apa yang menjadi kesepakatan antara Daddy dan pengacara itu?" "Pengacara? Apa yang Tuan Muda maksud adalah Tuan Eldas, Ayah dari Nona Nara?" Tanya orang itu yang hanya ditanggapi Karen dengan deheman saja. "Antara Tuan Besar dengan Tuan Eldas memang sudah lama berkerjasama, Tuan Muda. Tuan Eldas adalah pengacara yang diminta oleh Tuan Besar untuk menutupi seluruh kesalahan yang dilakukan Tuan Muda Kerla. Tuan Besar dan Tuan Eldas menjodohkan Tuan Muda dengan Nona Nara bermaksud agar kerjasama diantara mereka tidak ada yang mengkhianati. Mereka juga berencana untuk melakukan bisnis yang lebih besar lagi." Sambung orang itu menjelaskan. "Memang berengsek mereka semua! Apa harga saham naik hari ini?" Tanyanya dengan wajah kesal. "Tentu saja, Tuan Muda. Naik dengan pesat!" Jawabnya yang semakin membuat Karen kesal. Karen memejamkan matanya untuk sesaat, "Dechan, carilah informasi yang valid tentang bisnis apa yang sedang mereka jalankan sampai membuatku terikat seperti ini." Pria yang dipanggil Dechan itu menjawab dengan tenang, "baik, Tuan Muda! Saya akan segera melaporkan semuanya setelah mendapatkan informasi yang cukup." PIP! Karen memutuskan sambungan teleponnya dengan Dechan—orang kepercayaannya. Karen membuka beberapa file yang dikirim Dechan beberapa hari yang lalu. File yang membuatnya memutuskan untuk kembali ke negara ini dan bersedia untuk memulai semuanya dengan kesialan yang diawali dengan datang kembali ke rumahnya. "Seharusnya aku tidak di sini. Tapi apa yang harus aku lakukan? Ah ... benar-benar sialan." Umpat Karen dengan wajah kesal. Mungkin setelah hari ini, hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat. Ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan, semuanya akan hilang digantikan dengan kepopuleran. Dia baru saja melihat akun sosial media miliknya yang tiba-tiba ramai oleh banyaknya pengunjung. Mengapa semua orang begitu perhatian kepadanya, membuatnya repot saja. Dalam kurun waktu beberapa jam, followers media sosialnya bertambah sebanyak 700 ribu orang. Sekarang pengikutnya ada 800 ribu orang. Benar-benar gila! "Haruskah aku membuka endors?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD