Tatapan Verma mengarah kepada kedua putranya yang sedang duduk bersebelahan di depannya, "wah ... apa kalian berdua tidak punya mulut untuk saling bicara? Kenapa kalian hanya diam, padahal sudah sepuluh tahun tidak bertemu? Bicaralah dan jangan mempermalukan orang tua kalian ini di acara kunjungan perusahaan hari ini."
Baik Karen ataupun Kerla memilih untuk bungkam, tidak ada yang ingin menjawab ucapan Ibu mereka yang memasang wajah kesal. Keduanya memilih fokus dengan makanan masing-masing. Karen memilih menikmati roti panggangnya dan Kerla memilih mengaduk-aduk sup jagung yang ada di mangkuknya. Padahal mereka sudah lama tidak bertemu, antara Karen dan Kerla sama sekali tidak berkomunikasi. Perubahan wajah dan tubuh pun seakan menjadi hal yang biasa dan tidak penting untuk diketahui satu sama lain.
Sepuluh tahun berlalu, banyak sekali perubahan diantara mereka. Terlebih Karen yang tumbuh menjadi dewasa, berbeda dengan bocah 10 tahun yang dulu. Tinggi badan Karen pun lebih lima centimeter daripada Kerla dan kharisma pria 20 tahun itu lebih bersinar daripada sang Kakak yang menginjak umur 30 tahun. Mereka memang tidak pernah akur sejak kecil. Bahkan semenjak Karen lahir ke dunia ini, Kerla sudah menjadikan adiknya sebagai saingannya. Kerla sudah percaya diri bahwa dirinya akan mendapatkan semua aset perusahaan dan kekayaan kedua orang tuanya. Sayangnya setelah Karen lahir, harapan itu belum tentu akan menjadi kenyataan.
Kerla yang berusaha mati-matian untuk terlihat unggul daripada sang adik, tidak ubahnya hal tak berguna. Bahkan kemarahan dan ketamakan Kerla membuatnya menjadi pribadi yang amburadul. Pria itu membuat semuanya berantakan karena ego tingginya tentang menjadi pemilik perusahaan Andersson Company, menggantikan sang Ayah. Namun sebelum semua itu terjadi, Karen tampil sebagai bintang bersinar untuk semua orang dan dianggap sebagai penerus yang pas dan lebih baik dari Kerla sebagai anak pertama—yang biasanya memang mendapat tempat paling istimewa.
Kerla sempat senang karena Karen meminta untuk pindah ke luar negeri ketika umurnya 10 tahun. Bahkan Karen pernah membuat statement bahwa tidak akan kembali lagi ke negara kelahirannya. Namun satu Minggu yang lalu, Javier meminta Karen untuk kembali dan ditolak mentah-mentah oleh Karen. Dan entah ada angin apa, Karen akhirnya kembali tanpa mengatakan alasan yang jelas. Hari kemarin, adalah hari yang sangat Kerla benci. Ketika adik satu-satunya kembali dengan membuat kehebohan khalayak ramai. Mereka begitu memuja kehadiran Karen bak dewa kedamaian yang diutus oleh Tuhan.
"Kalian—" ucapan Verma terputus karena tatapan tajam Javier yang mengarah kepadanya.
Dengan membuang muka, Verma hanya diam dan kembali fokus pada sarapannya. Sudah lama tidak duduk berempat seperti ini di meja makan walaupun harus dengan perdebatan panjang. Pertemuan mereka ini bisa dibilang sebagai pertemuan pertama setelah bertahun-tahun. Kemarin mereka disibukkan dengan acara di gedung utama milik keluarga mereka untuk penyambutan Karen dan acara puncaknya, pertunangan. Sehingga mereka belum sempat berbincang sama sekali.
Hal-hal kecil seperti pertanyaan tentang kabar pun belum atau tidak ditanyakan sama sekali. Hubungan Karen dengan keluarganya memang sangat buruk. Tidak ada keterikatan satu sama lain. Bahkan hubungan antara Ibu dan anak yang seharusnya bisa dekat pun, nyatanya tidak ada. Verma tidak pernah menanyakan tentang apapun kepada Karen, perkara hal kecil seperti 'sudahkan Karen makan' tidak pernah terucap dari bibirnya. Apalagi bertanya tentang kabar dan memeluk anak keduanya itu. Padahal, sepuluh tahun bukan waktu yang singkat.
"Karen," panggil Javier sambil menatap Karen yang meneguk secangkir kopi dari cangkirnya buru-buru.
Karen meletakkan cangkirnya kembali setelah menghabiskan isinya dalam sekali minum, "aku tidak mau tahu tentang pertunangan sialan itu. Aku tidak menerima penjelasan apapun!"
"Hahaha ... karena kau sudah tahu semuanya dari Dechan, bukan? Dia informan yang setia." Sahut Kerla dengan tertawa keras.
Karen melipat tangannya di d**a, "semua itu bukan urusanmu, Tuan! Urus saja urusanmu sendiri!"
"Kau memang ba-jin-gan, Karen!" Bentak Kerla kepada Karen setelah menggebrak meja.
Verma melempar gelasnya ke arah tembok yang kosong, membuat Karen dan Kerla diam sesaat. Javier yang berada disamping Verma hanya bisa tersenyum sinis. Keluarga ini adalah keluarga yang parah! Bahkan tidak ada yang mau mengalah, padahal ini di meja makan. Semua orang yang berada di rumah itu pun memilih menulikan telinga, mereka tidak mau dipecat jika ikut campur dalam urusan rumah keluarga Andersson.
"Kalian berdua!" Sentak Verma yang tidak tahan dengan pertengkaran kedua putranya. "Bisakah kalian hentikan umpatan-umpatan tidak berdasar kepada satu sama lain? Kalian ini saudara! Harus berapa kali Mommy katakan kepada kalian? HAH?" Sambung Verma marah.
Javier menatap Kerla dengan tajam dan meminta anak pertamanya itu untuk diam dengan kode tatapan mata saja. Mau tidak mau, Kerla mengatur napasnya agar tidak meledak-ledak lagi. Dia tidak mau benar-benar disingkirkan dari calon penerus perusahaan. Dia masih ingin duduk di Andersson Company.
"Kar—" ucapan Javier terpotong begitu saja dengan ucapan Karen tiba-tiba.
"Aku sudah memutuskan untuk tinggal di apartement saja. Mungkin Daddy dan Mommy sudah mendengar semuanya dari Dechan bahwa dia sudah membereskan apartement lamaku. Aku memang kembali, tetapi tidak untuk tinggal serumah dengan kalian." Tandas Karen yang beranjak dari duduknya.
"Kau bisa membeli apartement yang baru. Mommy akan mengurusnya sesegera mungkin. Kau bisa langsung menempati tempat yang bar—" lagi-lagi Karen memotong ucapan orang tuanya, kali ini ucapan Verma.
"Mommy tidak perlu repot-repot untuk mencarikan aku tempat tinggal! Kita tidak terlalu dekat," sambung Karen yang berjalan meninggalkan ruang makan begitu saja.
"Dia memang pria kurang ajar yang tidak pernah belajar tata krama di dalam hidupnya!" Umpat Kerla karena kesal melihat tingkah laku Karen yang seenaknya.
Sedangkan Karen sendiri memilih untuk langsung keluar dari rumah mewah milik keluarga Andersson itu. Memasuki sebuah mobil yang sudah disiapkan oleh seorang pria yang sejak tadi sudah menunggunya. Pria berjas hitam itu membukakannya pintu bagian belakang. Setelah dirinya masuk, pria itu menutup pintu itu dengan pelan.
"Bagaimana dengan kunjungan perusahaan, Tuan Muda?" Tanya pria itu setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Karen hanya tersenyum tipis, "aku tidak ingin datang! Istirahatku lebih penting daripada menghadiri acara membosankan seperti itu."
"Baiklah, Tuan Muda! Kemana saya harus mengantarkan Tuan Muda hari ini?" Tanya pria itu seraya melirik ke arah kaca yang ada di depan.
"Antarkan aku ke apartement dan minta seseorang untuk menyediakan makanan di sana." Perintah Karen kemudian.
"Baik, Tuan Muda!"
Mobil yang ditumpangi Karen meninggalkan rumah keluarga Andersson. Pria itu memang tidak berniat untuk tinggal di rumah itu, bersama dengan keluarganya. Akan lebih menyenangkan hidup sendiri bersama dengan kesunyian malam. Ketimbang harus menghabiskan waktunya dengan kemewahan bak neraka dunia yang Karen sebut dengan rumah.
***