JENGGALA SENJA : Pertemuan Teman Lama

1137 Words
Dechan membuka pintu belakang mobil, punggungnya membungkuk sebentar sebelum memberikan akses untuk orang yang ada di dalam mobil itu untuk keluar. Karen menatap ke arah hamparan pasir putih yang berada di depannya; sebuah pantai yang selalu ramai setiap harinya. Banyak sekali wisatawan yang datang kesana untuk sekedar menikmati pantai atau menginap disalah satu penginapan yang berada dekat di sana. Tatapan beberapa orang mengarah tepat ke arah Karen yang berjalan dengan santainya dipinggir pantai. Mereka merasa bahwa Karen salah kostum. Mana ada orang yang datang ke pantai seterik ini dengan memakai setelan jas yang terlihat tidak nyaman seperti itu. Mereka menertawakan Karen diam-diam, tidak tahu bahwa pria berkacamata itu adalah anak kedua dari keluarga Andersson yang kemarin membuat geger ranah jagat maya dengan ketampanannya. Pria itu mengabaikan semua orang yang menatapnya, berjalan dengan percaya diri tanpa ada beban sama sekali. Tatapan matanya mengarah lurus ke sebuah undakan batu yang akan membawanya ke sebuah tebing batu di atas pantai. Di sekitarnya pun ada penginapan yang mengelilingi tebing itu, penginapan mahal yang terkadang sudah membuat orang merasa kaya karena menyewanya. Baru selangkah naik ke undakan itu, seorang pegawai dengan seragam khas milik penginapan itu berteriak ke arahnya. "Tuan!" Karen melepaskan kacamatanya, menatap pegawai itu dari atas sampai bawah. Bahkan pegawai itu kaget bukan main ketika melihat Karen; orang yang dikatakan sebagai sang pewaris Andersson Company dalam banyak berita akhir-akhir ini. Meski Karen sendiri sudah mengonfirmasi ulang pada konferensi pers pada malam itu. Namun tetap saja, media merumorkan hal itu sampai membuat orang-orang di luaran sana pun tahu tentang siapa Karen sebenarnya. "Maafkan saya, Tuan Muda." Ucap pegawai itu sambil menundukkan kepalanya berulangkali. Dechan yang hendak berjalan mendekat untuk menjauhkan si pegawai dari Tuannya pun hanya ditahan oleh Karen dengan isyarat tangannya. Karen menatap ke arah undakan batu itu, dia harus melihat sesuatu dari atas sana, bukan? "Aku akan pergi ke atas," ucap Karen yang melangkahkan kakinya untuk kembali naik ke puncak. "Tolong jangan halangi aku," tandas Karen sambil tersenyum tipis ke arah si pegawai yang mematung di tempat. "Tap—" ucapan pegawai itu terpotong begitu saja dengan dorongan pelan dari Dechan yang berada di belakang Karen. Dechan menatap pegawai itu dengan tatapan tegasnya, "kau bisa katakan kepada pemilik penginapan ini jika Tuan Muda Karen datang berkunjung kesini. Dan satu lagi ... rahasiakan tentang apa yang kau lihat hari ini. Kunjungan ini rahasia!" Pegawai itu mengangguk dengan cepat. Sedangkan Dechan kembali mengikuti Karen dari belakang. Mereka menaiki satu-persatu undakan batu untuk sampai ke atas sana. Karen benar-benar merindukan suasana pantai dengan anginnya yang besar seperti ini. Walaupun matahari sangat terik, dia tidak terlalu merasa kepanasan. Kepanasan pun mungkin karena pakaian yang dikenakannya. Setelah sampai di atas tebing batu, yang pertama Karen lihat adalah rumah kayu dengan gaya unik. Rumah kayu itu adalah rumah dengan desain yang dibuat oleh seorang arsitektur andalan yang ada di luar negeri dengan sentuhan seni yang khas dari negara ini. Mungkin inilah alasan mengapa pengunjung pantai yang lain tidak diperbolehkan untuk naik ke atas. Mereka hanya tahu bahwasanya ada rumah kayu klasik di atas tebing batu ini, namun mereka tidak diijinkan untuk datang melihat. Terdengar suara petikan gitar dan juga suara orang bernyanyi dari dalam rumah itu. Karen tersenyum tipis karena mengetahui siapa yang ada di dalam sana. Mungkin saja kedatangannya sangat tepat; semua orang yang ingin ditemuinya, ada di dalam sana. Karen membalikkan badannya ke arah Dechan, "kau bisa menunggu di undakan batu itu. Aku ingin bicara dengan mereka secara privat. Jadi, jika ada pegawai atau siapapun yang datang, minta mereka menunggu sebentar." "Baik, Tuan Muda." Jawab Dechan yang berdiri tepat di undakan paling atas untuk mengawasi siapapun yang akan naik ke atas sini. Karen melanjutkan jalannya untuk menuju ke rumah kayu itu. Suasana di tempat ini masih sama seperti saat terakhir dirinya pergi. Bangunan ini benar-benar tidak termakan usia. Berdiri semakin kokoh dan juga semakin bersejarah karena dibuat sekitar dua belas tahun yang lalu. "Apa kalian selalu membuat pesta tanpa mengajakku?" Tanya Karen yang membuat ketiga pria di depan rumah kayu itu terkejut bukan main. Mereka bertiga saling pandang, lalu menggeleng secara bersamaan. Itu tandanya, mereka tidak mengenal Karen yang tiba-tiba muncul di depan mereka. "Hai, Bung, seharusnya kau tidak asal datang dan mengganggu privasi orang lain!" Ucap pria berkaos pantai yang tengah memangku gitarnya, Gestar. "Di mana pegawai penginapan? Mengapa mereka tidak melarang orang asing untuk datang ke tempat kita?" Kesal pria yang bertelanjang d**a yang tadi sempat menghisap rokoknya, Gigan. Berbeda dengan kedua temannya, seorang pria satunya yang tadinya sedang membaca buku disamping Gestar pun menatap Karen dengan tatapan tidak biasa. "Hm ... rupanya aku mengingat sesuatu di dalam memoriku tentang pria b******k di depanku ini." Ucap pria itu dengan wajah kesal, Rheas. Karen tersenyum tipis, "kalian ternyata sudah dewasa juga." "Siapa dia sebenarnya?" Tanya Gigan penasaran sambil menyenggol lutut Gestar yang duduk di kursi kayu. Rheas beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Karen, "kau masih ingat dengan negaramu, b******k?" "Apa itu sambutanmu untuk teman lamamu?" Tanya Karen dengan senyuman bahagianya. Rheas mengangguk, "kapan kau pulang? Kenapa tidak memberitahu kami? Kupikir, kau sudah melupakan kami karena punya teman bule-bule di sana." "Tentu saja tidak!" Jawab Karen dengan cepat. Tanpa aba-aba, Rheas langsung memeluk Karen—karena dialah yang paling pertama menyadari tentang siapa Karen. Sedangkan kedua temannya yang lain hanya diam sambil saling pandang. "Kalian tidak ingin mengumpatinya?" Tanya Rheas menatap kedua temannya. Karen tersenyum puas, "kalian ini memang bukan sahabat yang baik. Setidaknya ingatlah aku walaupun sudah lama tidak bertemu. Kenapa kalian tidak ingat bahwa yang tahu tempat ini dan bisa datang kesini hanya empat orang saja; Gigan, Rheas, Gestar, dan ..." "Wah ... tiba-tiba aku ingin sekali mengumpati orang di depanku ini." Tandas Gigan dengan wajah kesal. "Kau benar! Kita harus memberikan umpatan kasar kepadanya selama sepuluh tahun, waktu yang cukup untuk membayar kemarahan kita." Sambung Gestar. Karen berjalan mendekat ke arah kedua teman lamanya dan memeluk mereka dengan hangat. Mereka pun membalas pelukan Karen. Mungkin kerinduan diantara mereka akan segera hilang karena pertemuan manis ini. "Kau kapan pulang ke negara ini?" Tanya Rheas ketika mereka duduk bersama setelah saling melepas rindu. Karen meletakkan gelas jusnya setelah meminumnya, "kalian tidak melihat berita? Bahkan semua media menayangkannya." "Kami di sini sudah seminggu. Dan asal kau tahu, jika kami pergi kesini maka tidak ada yang boleh memakai ponsel. Kami benar-benar menikmati waktu untuk istirahat. Jadi, kami tak akan tahu berita apapun sebelum pulang." Jawab Gigan serius. "Pasti menyenangkan sekali..." Ucap Karen seraya tersenyum. "Kau sudah di sini, kita bisa liburan bersama-sama lagi." Tandas Gestar menepuk bahu Karen beberapa kali. Rheas meletakkan bukunya, "ah iya, aku baru ingat. Bukankah kau tidak berencana untuk pulang ke negara ini. Lalu, kenapa sekarang kau datang? Bukankah itu aneh?" "Ya ... aku datang kesini juga untuk bicara hal serius dengan kalian. Aku ingin kalian merahasiakannya." "Apa?" Tanya mereka bertiga secara bersamaan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD