Azan maghrib pun tiba dan Disa terjaga sesaat sebelum Ami masuk ke dalam kamarnya untuk membangunkan putri angkatnya itu. Kamar itu mulai gelap karena Disa memang belum menghidupkan lampu apa pun. Disa menatap dinding kaca kamarnya yang masih tertutupi vitrase saja. Gorden utama masih tersingkap dengan cantiknya dan langit kota Denpasar memang mulai gelap. “Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Ami sesaat setelah masuk ke dalam kamar Disa. Wanita itu segera menekan saklar lampu hingga kamar Disa menjadi terang benderang. “Baru bangun, Mi. Mungkin karena Disa sangat lelah dan kurang tidur, jadinya ketiduran sembarangan seperti ini.” Disa mengucek matanya dan mulai melepas mukena yang masih menutupi seluruh tubuhnya. “Kasihan sekali anak mami. Ya sudah, sebaiknya kamu shalat maghrib dulu, hab

