“Non Vanesha dari mana saja?” Darmi—asisten rumah tangga sekaligus orang yang sudah mengasuh Vanesha dari kecil—khawatir melihat majikannya itu. “Nggak ketemu lagi, Bi,” ucap wanita itu seraya menghempaskan tasnya ke atas sofa. Ia tampak frustasi dan ada tanda-tanda kembali depresi. “Non, Non Vanesha sabar ya ... Bibi sudah siapkan makanan untuk No, bibi suapin ya.” Vanesha mengangkat wajahnya, menatap pengasuhnya itu dengan tatapan nanar dan mata merah berurai air mata. “Bi, kenapa sih nasibku seperti ini? pernikahanku kandas, mereka bahkan mengusirku dengan tidak hormat dan mengantarku kembali ke sini dengan penuh penghinaan tanpa mau mendengarkan penjelasan mama dan papa terlebih dahulu. Mama dan papa juga sibuk, tidak pernah punya waktu untukku, bahkan dari dulu. Lalu ketika aku mu

