"Minggir!" Dimas mendorong Uni dengan tega, lelaki itu berdiri, membuat Uni hampir terjatuh ke belakang. "Kamu gak malu melakukan hal-hal begitu di depan orang lain?" "Aku enggak mau bicara di sini, kalau kamu enggak mau melakukannya di depan istri dadakanmu itu, mari bicara di luar." "Bicara di sini, Uni, hargai keputusan aku dan hargai keberadaan istriku!" Uni mengepalkan kedua tangan kecil di samping tubuh sebelum kemudian, melirik wanita dengan penampilan dan wajah sangat kacau yang kini tengah menatap bingung padanya. "Enggak bisa, jangan disini." Dimas menggelengkan kepala. "Bicara saja di sini, Uni. Anggap Mawar enggak ada." Uni menyerah, kesal sekali, sudah lama ia ingin menemui Dimas, terhalang kemudian oleh ini dan itu sebelum pada akhirnya, ia harus mencari dan menemukan la

