Rumah

1287 Words
Al menatap wajah cantik Ayu yang tengah tertidur sangat pulas tanpa Al sadari, dia menyentuh hidung mancung Ayu dengan lembut. "Kenapa??" lirih Al ambigu Al merasa dia seorang pedofile, entah apa yang membuat Al menyukai bocah ingusan yang ada didepannya. "Hah! aku rasa sudah tidak waras! menyukai bocah ingusan" lirih Al dengan menarik tangannya, setelah dia membuang napas kasar Belum juga Al sepenuhnya menarik tangannya, Ayu menahan tangan Al! Al menatap tangan Ayu dengan tatapan terkejut, Ayu membuka mata indahnya dia menatap Al dengan senyum. "Kenapa??" tanya Ayu dengan sangat ambigu. Al menautkan kedua alisnya mendengar apa yang Ayu tanyakan. "kenapa??" Al tidak paham dengan pertanyaan Ayu. "Maksud nya??" tanya Al balik. "Apa Uncle malu menyukai ku??" tanya Ayu dengan menarik pelan tangan Al. Lebih tepatnya Ayu mengarahkan tangan Al ke dadanya dengan perlahan tapi pasti, Al belum menyadari dia terlalu terpesona dengan mata indah yang terus menatapnya dengan tatapan hangat. Ayu menekan tangan Al dengan pelan membuat Al bisa merasakan sesuatu kenyal di telapak tangannya, Al menunduk melihat apa yang baru saja dia pegang. "Astaga!" lirih Al dengan menarik tangannya, namun sayang Ayu menahan dengan kuat. "Kenapa, Hem??" tanya Ayu dengan menaikan dagunya. "Ayu! apa yang kamu lakukan??" tanya Al dengan membuang muka. Kedua pipi sampai ke telinga Al terasa sangat panas, berulang kali Ayu membuatnya malu, berulang kali Al tidak bisa menahan dirinya. "Yu! ini salah" ucap Al dengan bibir bergetar. "Salah!??" ulang Ayu dengan menekan kepala belakang Al dengan tangannya yang lain. "Menurut uncle!! kesalahan apa??" goda Ayu dengan membelai pipi Al lama kelamaan tangan Ayu membelai leher Al. Al menelan susah paya silva nya, Al mulai berkeringat dingin merasakan sentuhan yang Ayu berikan, Al yang sudah tidak tahan dia menghentikan tangan Ayu yang tengah asik bermain didada bidangnya. Ayu menatap genit Al, sedangkan Al dia menatap dalam Ayu, napas memburu, detak jantung yang terpacu dengan sangat cepat, kening berkeringat, di suhu Ac yang sangat dingin, berulang kali Al menelan silvanya dengan susah paya. "Kenapa??" tanya Ayu dengan menarik tangannya dari genggaman Al. Ayu kembali kini semakin nekat dengan membuka kancing kemeja putih yang Al kenakan, Ayu bisa melihat d**a bidang yang harusnya tidak pertama kalinya Ayu lihat. Ayu sering melihat d**a bidang sang uncle Rocky, belum lagi perut kotak-kota sang uncle yang sangat mempesona, enam roti sobek milik Rocky sangat menggoda, namun sayang Ayu lebih tergoda dengan roti sobek milik Al. "d**a yang sangat menggoda" puji Ayu dengan meraba d**a Al dengan jeri-jemarinya, Ayu memainkan jarinya didada bidang Al dengan lihainya seolah Ayu sering kali melakukannya. Al memejamkan mata tajam miliknya, dia merasakan sentuhan Ayu didada miliknya glayer, aneh mulai muncul, seiring Ayu terus menggoda nya. "Girl, aku pria normal" ucap Al masih dengan bibir bergetar. "Aku, tau! kalau uncle, pria normal, matang dan menggoda" ucap Ayu mendorong Al kesamping. Ayu bangun dari rebahannya, dia menaiki tubuh Al tanpa rasa malu, entah kemana perginya urat malu Ayu, saat bersama dengan Al, sedangkan Al dia sangat terkejut dengan apa yang Ayu lakukan. Ayu duduk tepat dibawa pusar Al, salah satu tangan Ayu membelai d**a bidang Al. "Bukan kah malam itu Uncle, sangat bringas" Ayu mengingatkan Al dimalam dimana Ayu memohon bantuan Al. Al mengingat dengan sangat jelas, dimana saat Ayu dan diri nya bersama, Ayu yang terkena obat tapi Al yang lebih ganas, bringas dari Ayu. "Maafkan aku" lirih Al. "Maaf!! bukan kah sudah terlambat uncle??" tanya Ayu dengan menggesek-gesek sesuatu dibawa pusar. Emmm.. "A-a-Ayu, jangan bergerak terus" ucap Al dengan nada suara terbata-bata. "Kenapa memangnya??" Ayu semakin menggoda Al dengan terus bergerak diatas pusaka milik Al. "Ayu! aku ingatkan lagi! aku pria normal Yu" ucap Ak dengan memegang pinggang Ayu. "Aku tau! bahkan aku sudah melihat dan menikmatinya" goda Ayusemakin menjadi. Ahhh.. Ayu terus-menerus bergerak sesuka hatinya diatas pedang pusaka yang terbungkus celana bahan dan boxer didalamnya. Pedang pusaka milik Al terus diuji semakin diuji semakin keras, semakin meronta ingin keluar kandang! Ayu sendiri dengan sengaja membangunkan pusaka milik Al. Ayu bukan hanya bergerak seenaknya saja, dia bahkan dengan sengaja membuka kancing kemeja yang dia kenakan, Al bisa melihat, kacamata hitam yang Ayu kenakan. Paduan warna hitam dengan kulit putih Ayu sangat cocok, belum lagi ada kupu kecil ditengah-tengah kacamata, membuat pemandangan didepan Al sangat indah. Ayu membuka kemeja yang dia kenakan dengan perlahan, Al hanya menatap dengan tatapan sulit dijelaskan, Al bahkan tidak berkedip saat melihat Ayu membuka bajunya. Ayu membuang sembarangan pakaian miliknya, kini Ayu hanya menggenakan kacamata hitam dengan rambut terurai dengan indahnya pesona Ayu sangat luar biasa. "Gril!" lirih Al "Bukan kah! Uncle, semalam mengatakan ingin melihat Rumah Burung milik ku" ucap Ayu dengan mengarahkan dadanya ke wajah Al. "Aku! aku tidak akan memaksa! aku akan menunggu kamu yang menginginkannya" ucap Al dengan bodohnya padahal sudah sangat jelas kalau Ayu menginginkan sentuhannya. "Benar kah??" goda Ayu dengan menarik tangan Al dengan pelan Ayu mengarahkan tangan Al ke tali kacamata! Ayu membantu Al melepas tali kacamata yang dia kenakan. "Bagaimana dengan seperti ini??" tanya Ayu saat kedua tali sudah tidak ada dibahu mulusnya. Ayu melepas tangan Al, dia membungkukkan tubuhnya sampai d**a yang sudah terekspos dekat ke wajah Al! Al menatap belahan yang sangat indah di depan matanya. Al tanpa sadar mengangkat kepalanya sedikit, Al langsung saja menciumi, menggigit, memberi stempel merah, kehitaman didada Ayu, sedangkan Ayu, meremas rambut Al dengan mengeluarkan suara merdu nya. Ahh.. Al menegakan tubuhnya kini Al duduk diatas ranjang dengan Ayu duduk diatas pangkuan Al, Al membuka kancing kacamata milik Ayu dengan bibir yang terus menciumi d**a Ayu. Al membuang kacamata milik Ayu sembarangan, dia menatap belahan yang sangat berisi diusianya yang masih remaja. dengan ujung gunung berwarna pink. "Sangat indah" puji Al dengan menyerang sesuatu yang indah didepan matanya yang sudah disuguhkan Ayu pada tamu yang memang sengaja dia undang. Ahhh.. "Ayu semakin meremas dan semakin memajukan dadanya ke wajah Al, Al sendiri semakin tak kuasa menahan dirinya. "Emmm" desah Ayu Al mengangkat tubuh Ayu, dia melepas rok mini yang Ayu kenakan dengan pelan, dia melihat segitiga yang senada dengan kacamata. "Apa didalamnya boleh aku nikmati??" tanya Al dengan mengusap lembut Rumah yang masih tertutup kain hitam. "Boleh! semua milik uncle" ucap Ayu dengan pelan. Al menciumi Rumah Ayu yang masih tertutup kain hitam, Al terus mendesah, merasakan kenikmatan yang sangat candu untuknya. "Ah, uncle" lirih Ayu Al melepas kain hitam yang menutupi Rumah milik Ayu Al bisa melihat dengan sangat jelas indahnya goda tanpa rumput tetangga. Al kembali menyerang bagian lain Rumah yang tidak tertutup kain. Ayu yang masih berdiri didepan Al, hanya bisa mendesah, tanpa bisa melakukan apapun! Al mengarahkan Rumah Ayu ke atas wajahnya, dia menikmati Rumah dengan Ayu berdiri diatas Al. "Ah, uncle!!" ucap Ayu. Puas memainkan Rumah milik Ayu Al menarik pinggang ramping Ayu! Ayu berjongkok didepan Al. "Sayang, kali ini kamu yang menggoyang ku" ucap Al dengan merebahkan dirinya diatas ranjang. Ayu yang sangat paham dia langsung naik ke atas tubuh Al! Ayu memasukan sendiri Pedang Al ke dalam Rumahnya. "Ahhh" desah keduanya. Ayu mulai menggoyang Al dengan pelan, sedang, lalu cepat, sedangkan Al, dia mencoba menyerang Ayu dengan menikmati servis yang Ayu berikan tanpa henti diatasnya. Ayu bergoyang sampai keduanya menyemburkan saos mayo secara bersamaan Ayu, turun dari tubuh Al dengan pelan. "Uncle! ingin mencoba gaya lain??" tawar Ayu "Tentu saja" Al langsung membalik tubuh Ayu kini Ayu memunggungi Al dengan bertopang dengan kedua tangan dan dua lututnya. Al memasukkan pedangnya dari pintu belakang, dia ingin mecoba sesuatu yang belum dia rasakan! selagi Ayu dan Al sama-sama mau kenapa tidak dicoba. Al dan Ayu melakukan hubungan terlarang dari gaya menungging, gaya berdiri, terlentang, digendong, bahkan sampai miring, di pangku, duduk, semua meraka coba sampai Al dan Ayu sama-sama merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa. bahkan Pedang dan Rumah sama-sama merasakan panas, baru mereka berdua menghentikan olahraga mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD