Lauren menatap figura pernikahan itu dengan tatapan nelangsa. Pernikahan dia impikan bukan pernikahan yang hanya diam sajah.
Andreas bersikapa angkuh sekali membuat Lauren lelah. Bahkan Sekarang dia hanya meninggalkan pesan w*. Membuat Lauren merasa berat hati.
To:lauren
Aku tidak akan pulang malam ini,ingat jangan beritahu siapapun aku pergi dari apartemen. Aku serahkan Apartemen ini selama 2 minggu kepadamu.
Pintu apartemennya dibuka, seorang wanita cantik menghampirinya. Bibi Maureen namanya bertugas membersihkan semua ruangan di Apartemen ini.
"Nona,kamu terlihat bersedih?"kata Bibi Maureen menanyakan kondisi Lauren.
"Akh, tidak apa,bi. Bibi bisa membersihkan kamar sekarang. Aku akan pergi membeli beberapa buku."kata Lauren dan meninggalkan kamarnya.
"Kasian,menikah tapi tidak dianggap. Pak Andreas sungguh aneh. Menikah punya istri yang cantik dan lemah lembut. Malah mencari Wanita gila itu."kata Bibi Maureen dalam hatinya.
Bibi Maureen sudah lama bekerja untuk keluarga Starling sejak Andreas masih kecil. Andreas tidak pernah menunjukkan rasa sayang kecuali kepada Emma, yang katanya penyelamat hidupnya. Bukan hal baru bahwa banyak pelayan yang tidak suka kepada Emma yang sombong. Suka membentak-bentak para pelayan. bahkan membuat mereka kewelahan setiap saat dengan permintaannya yang aneh.
Lauren meninggalkan apartemen Andreas berjalan menuju Supermarket dan mengambil beberapa roti dan s*s* kotak persedian serta mie dalam kemasan.
Nicole menghampirinya. Dengan nada tenang dan sedikit mengejutkan Lauren tentunya.
"Hayo,.belanja sendirian ajah,sist?"kata Nicole mulai menggoda.
"Biasa,suami sibuk dengan urusan lain."kata Lauren pasrah.
"Terdengar menyakitkan,tapi bisa dimengerti. Laki-laki memang seperti itu susah ditebak akal pikirannya."kata Nicole sedikit gemas.
"Yah,seperti itu. Bisa jadi,aku.menikah juga hanya cinta 1 pihak sajah."kata.Lauren menambahkan.
"Hah?cinta 1 pihak? sejak kapan kamu mengorbankan dirimu sendiri untuk hal.ini?"kata Nicole menelisik.
"Akh, nanti aku jelaskan. Lebih baik kita sarapan dulu."kata Lauren dengan nada gemetar karena frustasi.
Nicole kemudian diam dan mengikuti Lauren beserta belanjaannya juga. Alasan utamanya dia hanya sedikit kasian melihat temannya murung.
Nicole dan Lauren setelah melakukan pembayaran dikasir supermarket menuju Restaurant beberapa blok dari supermarket itu.
Nicole dan Lauren sarapan di santo michael Restaurant.
"Nicole,aku tidak salah. Kamu mengajak makan disini?"kata Lauren dengan tatapan menelisiknya.
"Akh, uang bukan masalah untukku. Kamu yang lucu."kata Nicole setengah menggoda.
"Owh, ayolah. Inikan Restaurant mahal. Konsepnya sajah mewah."kata Lauren terenyuh takjub.
"Aish,aku juga tidak semiskin yang kamu kira."kata Nicole dengan nada tenang.
"iya,mungkin aku bisa bilang kamu putri konglomerat."goda Lauren lagi.
"Masuk saja,pasta dan steaknya sangat enak. Kamu mau Chinese food juga ada."kata Nicole merekomendasikan menu-menu.
Nicole memilih tempat nyaman untuk mereka berdua.
"Nona,ingin pesan apa?"ujar pelayan itu.
"Pesan 1 steak dengan medium rare dan 1 pasta bolgonaise,dan 1 ice lemon tea."kata Nicole dengan tegas.
"Pesan 1Fried rice dengan potongan daging sapi dan 1 pasta bolgonise dan 1 Ice Tea."kata Lauren dan menutup buku menunya.
"Baik,saya catat semuanya. Pembayaran bisa dikasir setelah menikmati hidangannya."kata Pelayan itu dan mengundurkan diri dari hadapan keduanya.
Setelah pelayan itu pergi Nicole kemudian menanyakan mengenai hubungan Asmara Temannya itu.
"Jadi Bagaimana?"kata Nicole dengan nada prihatin.
"Aku pernah bertemu dengannya sejak kecil.Bahkan menolongnya waktu di tersesat dihutan."kata Lauren dengan mengenang.
"Hah?tapi dia tidak pernah tahu. Bahwa kamu menyelamatkannya?"kata Nicole tidak percaya.
"Ayolah,dia tidak akan ingat bahkan dia tidak mencariku."kata Lauren pasrah.
"Mengapa tidak memberitahunya kamu yang menyelamatkannya?"kata Nicole bingung.
"Untuk apa bahkan sekarang setelah menikah. Walauoun oernikahan yang tidak aku impikan sekalipun dia bersikap dingin kepadaku. Seolah-olah aku mengingangkan harta dan kekuasannya. Bahkan aku dijebak oleh temanku sendiri Nicole. Dia bahkan tidak percaya."kata Laureen dengan rasa frustasinya.
"Naas Sekali hidupmu, Tak bisa kubanyangkan."kata Nicole turut prihatin.
Belum sempat Lauren membalas perkataan Nicole pelayan Restaurant membawa pesanan mereka berdua.
Mereka berdua makan dengan lahap dan tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Nicole membayar makanan mereka berdua sebagai bentuk traktirannya.
Lauren mengajak Nicole melihat-lihat buku tidak jaih dari sana. Mata Nicole melirik sekilas dengan tatapan tajam itu Rain. Nicole menghampiri Rain dan mengajaknya bwrtemu Lauren.
"Lauren ini,Rain."kata Nicole santai.
"Owh,Rain. Pelukis. Astaga,aku benar-benar terkejut."kata Lauren tidak percaya.
"Astaga,Lauren. Sedang apa disini?"kata Rain ramah.
"Kalian sudah saling kenal?"kata Nixole tidak percaya.
"Dengan Lauren aku bertemu dengannya kemarin."kata Rain lagi dengan nada senang.
"Ehm,bisa dibilang katena kecerobohanku juga. Kita bisa bertemu lagi. Padahal kamu memberikanku tiket besok hari."kata Lauren dengan nada gugup.
"Tiket?Rain bisa jelaskan sekarang?"kata Nicole tisak percaya.
"Jadi karena aku merasa bertanggung jawab dengan kesalahanku buat. Maksudku menabrak Lauren,aku memberikannya tiket pameran lukisku. Tenang sepupu kamu juga dapat."kata Rain lagi dengan tersenyum.
"Oalah, jadi seperti itu. Jantungku bahkan ingin copot dibuat kalian berdua. Tuhan sepertinya membuat kalian berdua berjodoh."kata Nicole dengan nada senang.
"Owh,ayolah,aku suka menikah."kata Lauren dengan nada tegasnya.
"Menikah dengan manusia sedingin es batu. Tidak menggangapmu ada?"kata Nicole bingung.
"Wah,sepertinya kalian harus berdebat ditempat lain. Bagaimana kekantorku?"kata Rain menawaekan diri.
"Tentu sajah, saudaraku. Bayar dulu bukumu itu Lauren."kata Nicole mengigatkan.
"Nicole,kamu ini benar-benar yah."seloroh Lauren dan berjalan bersama Nicole.
Lauren membayar buku telah dia ambil sebuah novel karya Ilana Tan Summer in Seoul dan beberapa buku novel lainnya.
*******
Di Tempat lain
Andreas tiba di rumah Emma setelah perjalan yang sangat jauh. Rumah Emma dulunya sederhana sekarang terlihat lebih baik dengan beberapa perabotan baru.
"Bibi,sudah lama tidak bertemu,"kata Andreas sopan.
"Astaga,apa yang membawamu kesini,nak?"kata Mama Emma lagi.
"Apakah Emma ada disini,saya tidak bisa menghubunginya.?"kata Andreas Khwatir.
"Ehmm,itu sebentar yah,nak."kata Mama emma sedikit gugup.
Mama Emma kemudian menelepon anaknya sendiri. Sambil bersumpah serapah karena kebodohan dia.
"Astaga,kamu kenapa lama sekali mengangkatnya?"kata Mami Emma kesal.
"Astaga, Mami,aku sedang menuju kerumah bersama James."kata Emma dengan nada memelasnya.
"Cepatlah,masuk lewat pintu belakang.Pastikan tidak ada yang salah."kata Mami Emma sedikit kesal karena ulah anaknya sendiri.
"Iya, aku akan mencari alasan dulu dengan James."kata Emma dengan nada berusaha tenang.
"Bilang saja,kamu sibuk dan ada urusan di Butik kamu."kata Mami Emma dengan nada mengancam.
"Iya,baik."kata Emma dan mengakhiri percakapannya.
Mami Emma beeusaha mengulur waktu dengan baik. Kebetulan Papa Emma datang setelah beberapa lama karena dia baru selesai melakukan olahraganya.
"Paman,bagaimana kabarmu?"kata Andreas sopan.
"Baik, anak muda. Kamu menunggu Emma. Maaf yah,anak gadis saya itu memang suka pergi tanpa bilang-bilang. Mungkin dia sedang sibuk. Sebentar lagi pasti pulang."kata papa Emma meyakinkan.
"Akh, tidak apa-apa justru saya ingin meluruskan sesuatu dengan Emma. Lagipula ini kesalahan saya."kata Andreas menyesal.
"Apa kesalahan yang membuat kamu sampai harus kesini?"kata Papa Emma agak bingung.
"Sesuatu di luar rencana saya. Sebenarnya saya ingin menikahi Emma dalam waktu dekat. Karena sebuah tragedi saya harus menikahi wanita lain."kata Andreas dengan nada bersalah dan sedikit gemetar.
"Biduk permasalahannya seperti itu,saya hanya bisa memberikan satu nasehat. Jika kamu benar-benar mencintai putri saya. Saya harap kamu bisa segera menceraikan istrimu itu yah walaupun kalian menikah karena terpaksa."kata Papa Emma dengan tegas.
"Apa?jadi kamu sudah menikah dengannya?"kata Emma dengan nada lantang.
"Emmma sayang, aku bisa jelaskan. Kamu pergi tanpa memberikku kesempatan berbicara,sayang."kata Andreas dengan nada frustasi.
"Cukup,kamu bisa pergi sekarang. Aku bukan barang,Andreas. Dengar,kalau memang kamu tidak mencintaiku setidaknya.Kita bisa putus baik-baik dan tidak usah mencari alasan dengan menikahi orang lain."Pilu Emma.
"Emmma dengarkan penjelasanku dulu."kata Andreas seraya menahan lengan tangan Emma.
"Duduk dulu,sayang."ujar Papa Emma menegahi.
Emma kemudian duduk disamping papanya. Emma melirik ke belakang ruang tamu. James sedang berbicara dengan Mami Emma.
"Untung kalian tepat waktu. Jantungku serasa mau copot."kata Mami Emma kesal.
"Emma ketemu dengan Klara. Makanya kami sedikit terlambat dan pekerjaanku tadi agak banyak. Aku menjemputnya agak.siang."kata James lagi dengan nada tenang.
"Astaga,syukurlah. Kalian berdua sudah merencanakan akan meminta uang 2 miliar itu bukan?"kata Mama Emma dengan nada sumarigah.
"Tentu sajah, Dia membuang Emma setelah semuanya. Enak sajah."kata James terlihat sedikit kesal.
"Bagu-bagus, Nanti tante akan bantu kamu aktingnya. Supaya meyakinkan."kata Mami Emma dengan nada senang.
Setelah sepakat, mereka berdua kemudian melaksanakan aktingnya didepan Andreas.
"Kamu jahat sekali,nak."kata Mami Emma dengan nada memelas.
"Pak,saya mengantar Nona Emma karena dia menangis sendirian tadi dijalan."kata James seoalah-olah bertemu tidak sengaja.
"Emma,kenapa kamu tidak meneleponku untuk menjemputmu dibutik?"kata Andreas kesal.
"Menurutmu aku harus memberi tahu aktivitasku kepada pengkhinat?"tukas Emma kesal.
"Setidaknya kamu dengar penjelasanku dulu,bahkan sekarang kamu pergi dengan James. Dan Kamu James dia kekasih saya. Tidak baik seorang lelaki memasukkan wanita kemobilnya."kata Andreas mulai murka.
"Sekarang saya mau bertanya kepadamu,nak. Kamu merasa James tidak pantas mengantar anak saya. Sedangkan kamu sendiri sekarang sudah beristri. Jadi anak saya harus semobil dengan laki-laki beristri."tukas papa Emma setengah kesal.
"Bukan begitu maksud saya,paman. Tapi hubungan saya dan Emma masih kekasih belum diputuskan."kata Andreas berkilah.
"Nak, kamu sudah menikah kurang elok rasanya,kalau pria beristri seperti kamu bersama anak saya."tukas mami emma kembali.
"Iya,itu benar. Kamu bisa pergi darisini sekarang."kata Emma mengusir Andreas kesal.
"Kalau kamu ingin bertemu dengan Emma,setidaknya kamu hatus memberikan kami kompensasi. Kompensasi berupa uang 2 miliar."kata Mami Emma dengan nada tegasnya.
"Hanya segitu,aku bahkan bisa memberi kalian lebih."kata Andreas tersenyum senang.
"Buktikan kalu begitu dan semuanya harus atas nama Emma."kata Mami Emma kembali menantang Andreas.
"Tunggu biar,aku berikan kalian kompensasinya."kata Andreas dengan tegas.
Andreas menekan beberapa nomor di Hpnya dan kembali dalam posisi duduknya.
"Andri siapakan,4 miliar dan 1 villa untuk Emma."kata Andreas dengan nada tegas.
"Baik,pak namanya atas nama siapa?"kata Andri bingung.
"Lah,itu atas nama Emma berikan sertifikatnya dalam waktu 1 jam."kata Andreas kembali bertitah.
"Baik,ada lagi yang bisa saya bantu?"kata Andri sopan.
"Tidak dan segera kesini dengan membawa jet pribadi saya."kata Andreas tegas.
"Baik,laksanakan."kata Andri dan menutup teleponnya
kemudian setelah 1 jam Andri asisten Andreas membawa semua hal diminta Andreas.