03. Permintaan Dari Ayahnya

2029 Words
Gasdan belum menatap balik lelaki di hadapannya yang saat dirinya masuk ke dalam ruangan ini masih tampak duduk tenang di singgasananya. Seakan kedatangan Gasdan memang telah direncanakan oleh lelaki di hadapannya, padahal Gasdan yakin bahwa sang ayah pun terkejut dengan keberadaan anak sulungnya yang tanpa diduga pulang bersama kedua adik kembarnya. Meski begitu, ayahnya juga mungkin tidak terlalu menerka dan berpikir rumit kala alasan di balik kepulangannya sudah bisa ditebak dengan jelas. Tak lain dan tak bukan karena ulah dari adik kembarnya yang di kala sang ayah berada jauh dari rumah malah membuat panik sistem dari perusahaan pusat yang ada di sini. Hampir saja Gildan menduga bila memang ada orang yang berniat untuk menyusup sistem keamanan perusahaannya, entah dikarenakan faktor ingin menekan sehingga dirinya harus mengeluarkan sejumlah uang, atau karena ancaman dari luar yang ingin menjatuhkan perusahaannya. Tapi ternyata setelah ditelusuri lebih jauh, pengguna yang sempat menggemparkan bagian keamanan perusahaannya terlacak di dalam rumahnya sendiri. Masih dia ingat bagaimana ekspresi wajahnya yang merasa kecolongan saat dia mendapati kedua anak kembarnya tengah mengerjap kala potret wajah mereka berhasil diambil oleh tim keamanan perusahaannya. “Tumben Abang mau pulang ke rumah tanpa ada agenda tertentu?” Baru setelah mendengar pertanyaan dari sang ayah, Gasdan mengangkat pandangan ke arah lelaki di hadapannya yang tengah menunjukkan raut wajah penasaran. Padahal Gasdan masih sangat yakin bahwa ayahnya sudah bisa menebak mengapa dirinya berada di sini. Tapi tetap saja sang ayah belum merasa cukup jika dia tidak menjelaskan secara langsung. “Ayah pasti udah tau perihal Mas dan Kakak yang masuk tanpa izin ke sistem keamanan perusahaan Ayah?” “Jadi?” “Maaf Ayah. Abang yang mengajarkan Mas dan Kakak tentang pemrograman. Niatnya Abang cuma mau kasih tau sebagai bahan dasar pengetahuan mereka aja. Nggak ada niat selain itu, apalagi sampai buat menyusup ke tim keamanan perusahaan Ayah.” “Ayah tidak akan menyalahkan Abang yang begitu bermurah hati untuk mengajarkan adik-adik Abang dalam hal ilmu pengetahuan. Meski Ayah rasa belajar tentang kode-kode perangkat lunak tetap terlalu dini untuk adik kembar Abang. Tapi Ayah akan mencoba mengerti apalagi Abang pasti sebelumnya sudah memikirkan terlebih dahulu secara matang sebelum mengajarkan mereka.” Gasdan tidak akan membela diri dengan mengatakan kala itu dirinya hanya mengajarkan sambil lalu saja. Pun hanya mengisi waktu luang karena kedua adik kembarnya sudah bosan untuk bermain tebak angka dengannya. Namun karena hasilnya sangat luar biasa, dan memang bila dipikirkan lagi tidak aneh bagi keduanya untuk cepat tanggap. Mau tak mau Gasdan harus menerima bila dirinya pun nanti akan diberi hukuman. “Ayah malah jadi penasaran, Abang tau pemrograman karena autodidak atau ada yang kasih tau juga?” Gildan jelas merasa bangga karena anak sulungnya bersikap menjadi seorang kakak yang sangat baik kepada adik-adiknya. Bahkan Gasdan yang mengajari adik-adiknya berhitung dan menulis di usia dini. Tentu dengan tidak memaksa dan awalnya pun hanya ingin melatih gerak motorik para adiknya, tapi yang terjadi malah Gasdan benar-benar menjadi pengajar yang baik untuk mereka. Hanya saja Gildan tetap bingung menilik anak sulung yang bahkan tingginya sudah sepantar dengan dia, pun tak kalah rupawan dengan dirinya ini bisa mengerti kode-kode pemrograman yang pelik, terlebih sampai mengajari adik kembarnya. Bukan hal yang mustahil bila fokus dan tujuan Gasdan di jenjang yang lebih tinggi nanti untuk menjadi seorang pemrogram, tapi dirasa membingungkan kala anaknya bahkan sudah setuju untuk mengikuti jejak kariernya. “Abang pernah dikasih tau sama Om Anjar sebagai hadiah kelulusan Abang waktu sekolah dasar beberapa tahun yang lalu” Gasdan menjawab tanpa beban. Merasa tidak ada yang salah dengan apa yang pernah adik dari ayahnya beri tahu kepadanya. Menurut dia, itu adalah sebuah ilmu yang harus diterima kala yang memberi bahkan berniat baik. “Om Anjar kasih tau biar Abang bisa tetap mengawasi adik-adik Abang dari jauh” lanjut Gasdan semakin percaya diri dengan jawabannya. Dia amat sangat berterima kasih pada adik ayahnya yang selepas dia duduk di bangku sekolah menengah pertama dia ubah panggilannya karena dirasa lebih enak didengar dan lebih selaras karena penyebutan kedua orangtuanya pun menggunakan bahasa indonesia. “Abang menyusup kamera keamanan yang ada di rumah?” belum selesai Gildan berencana untuk memperingati Ginanjar kala keduanya bertemu nanti, Gildan sudah dikejutkan lagi oleh kenyataan yang baru dia ketahui mengenai anak sulungnya yang memata-matai keluarganya sendiri. “Iya, Ayah. Tapi lebih ke adik kembar Abang aja. Karena Abang tau kalau Biba pasti udah dikasih keamanan ekstra sama Ayah. Lagi pula Abang nggak mau berurusan sama Ayah kalau sampai ketahuan memata-matai putri cantik kesayangan Ayah itu.” Dia berdeham mendapati anaknya menyindir di akhir kalimat. Bukan hal yang aneh lagi memang, dan mungkin juga semua orang di sekitarnya sudah tahu betapa dia protektif kepada anak bungsunya yang sudah bisa dia prediksi kelak akan memikat hati banyak kaum adam. Bahkan sebelum dewasa pun, anak perempuannya sudah banyak membuat relasi bisnis yang tidak sengaja bertemu kala berkunjung ke kantornya berkata tanpa tedeng aling-aling ingin menjadikan anak bungsunya sebagai menantu mereka. “Rencananya Abang mau menetap lama atau main doang?” Gasdan yang mendapat pertanyaan tersebut dari sang ayah pun kembali ke mode serius. Menghentikan sikapnya untuk menggoda ayahnya lebih jauh tentang adik perempuannya yang amat sangat cantik bahkan semenjak baru lahir ke dunia ini. “Mungkin sementara sampai memastikan sistem keamanan di perusahaan Ayah kembali seperti semula.” “Oh, berarti Abang bisa pulang besok pagi karena kepala tim keamanan Ayah telah memastikan kalau sistem keamanan perusahaan kita sudah ditingkatkan lagi. Atau Abang mau pulang nanti malam biar Abang tidak perlu membolos sekolah esok hari?” Awalnya Gasdan sudah akan menarik senyum lebar. Tapi mendapati senyum ayahnya yang juga tertarik simpul membuat dia seketika mengurungkan niatnya. Mengingat sang ayah yang tidak biasanya mudah luluh dan tidak mendebat di suatu masalah, terlebih situasi yang seperti ini membuat Gasdan meringis saat menyadari rasa senangnya hadir terlalu awal. “Abang nggak dapat hukuman karena udah kasih tau Mas dan Kakak tentang pemrograman?” “Tidak.” “Ayah serius?” “Iya, serius.” “Terus Bunda gimana? Maksud Abang, Bunda pasti nggak bakal kasih izin begitu aja kalau sampai Abang kembali ke Semarang nanti malam.” Gasdan tidak akan menanyakan sebab alasan ayahnya mempermudah niatnya untuk kembali pergi, toh kalau memang ayahnya dapat meyakinkan bunda agar dirinya diberi izin untuk kembali tanpa ada adegan bunda yang memasang wajah sedih karena merasa ditinggal oleh anak sulungnya secepat itu, maka dirasa tidak ada masalah. Dia bahkan sangat bersyukur. “Biar Ayah yang kasih tau ke Bunda. Lagi pula Abang kan sudah kelas dua belas, harus fokus untuk kelulusan tahun depan.” Dia sudah tidak bisa menahan senyum di bibir mana kala sang ayah tetap menunjukkan dukungan kepadanya. Bahkan kalau bisa, saat ini Gasdan akan berlari dan memeluk ayahnya untuk mengucapkan rasa terima kasih di hati. Tapi setidaknya sebelum itu dilakukan, dia harus memastikan satu hal lagi terkait adik kembarnya yang dia yakin tengah menunggu dengan harap-harap cemas di balik pintu ruang kerja ayahnya ini. “Tapi Ayah tetap memaafkan sikap adik kembar Abang, kan?” “Iya, Ayah juga akan memaafkan mereka. Bisa Abang panggil adik kembar Abang sekarang?” Masih dengan senyum yang merekah. Gasdan berbalik dan melangkah mendekati pintu, tanpa kata dia segera membukakan penghalang ruangan itu dan menyuruh kedua adik kembarnya masuk. Yang mana sikap sang kakak tersebut membuat adik kembarnya menghembuskan napas lega, berpikir mereka pun telah terbebas dari segala macam hukuman yang sedari tadi muncul silih berganti di dalam benak tanpa bisa diabaikan. “Ayah nggak hukum kita, kan?!” Gasdan hanya mengacak gemas puncak kepala salah satu adiknya yang memang lebih ekspresif dibanding kakak kembarnya. Seperti sudah menjadi bawaan dari dulu, sekarang pun dia berada di antara kedua adik kembarnya. Berdiri menghadap sang ayah yang sudah beranjak dari tempat duduknya, berjalan dengan langkah tegas untuk mendekati ketiganya. “Bukannya ada kalimat yang harus diucapkan lebih dulu, Kak?” “Oh?” anak bermata cokelat tersebut mengernyitkan kening seraya melempar tatapan ke arah kakak kembarnya yang hanya menatap acuh tak acuh kepadanya. Tapi tetap saja sang kakak memberi arahan dengan gerak di bibirnya. “Maksud Kakak, Kakak minta maaf udah buat para karyawan Ayah repot karena ulah Kakak dan Mas kemarin.” “Iya Ayah. Mas juga mau minta maaf. Padahal kemarin Mas cuma berniat buat semua karyawan Ayah di kantor sehat. Tapi nggak terpikir kalau kelakuan Mas malah buat mereka kesulitan. Maaf juga karena Mas ajak Kakak untuk bantu Mas.” Gasdan menahan tawa mana kala adiknya yang memiliki wajah acuh tak acuh mulai berbicara. Dia mengingat alasan adiknya tersebut menyusup sistem keamanan perusahaan sang ayah karena ingin para karyawan di sana teratur dalam berolahraga dengan cara mematikan semua jalur lift yang ada di sana. Tak lain dan tak bukan bertujuan agar semua yang ada di perusahaan menggunakan tangga untuk segala aktivitas mereka. Hal yang amat sangat di luar ekspektasi Gasdan mana kala saat di jalan pulang dari menjemput kedua adiknya tadi, dia sempat bertanya alasan sang adik melakukan hal yang demikian. Yang mana itu juga yang dirasakan oleh Gildan yang sebenarnya saat mendengar alasan tersebut dari sang istri langsung memijat kedua sisi keningnya. Terlebih istrinya menambahkan bahwa pemicu dari rasa perhatian anak kembar mereka yang di luar pikiran orang dewasa itu karena mengingat pesan dari guru olahraga di sekolah keduanya yang mengatakan, sering menggunakan lift jika tidak terlalu diperlukan maka akan menyebabkan ketergantungan dan menimbulkan rasa malas di hati, lebih baik menggunakan tangga kalau memang ada alternatif tersebut. “Iya, Ayah beri maaf. Tapi lain kali jangan diulang lagi, ya?” tak pelak kedua anak kembar di hadapannya pun menganggukkan kepala seraya berseru bahwa keduanya akan mengusahakan agar ke depannya tidak berbuat ulah lagi. Senyum ayahnya membuat keduanya pun menarik napas lega. Tak pelak setelahnya mendekat untuk memeluk sang ayah yang kini pun telah menyejajarkan diri agar kedua anaknya bisa memeluk dirinya dengan leluasa. Hal yang membuat Gasdan ikut menghembuskan napas lega. Tinggal memikirkan cara agar dia bisa berbicara dengan sang bunda tanpa ada perdebatan meski hanya seputar tidak boleh pulang malam ini. Dan memang seharusnya akan tetap seperti itu. Andai ketika dirinya yang ingin menyusul kedua adiknya tidak ditahan secara tiba-tiba oleh ayahnya yang kini tengah menyadarkan bagian belakang tubuhnya ke meja kerja. Tangannya yang berpangku tangan dengan ekspresi yang sulit ditebak membuat Gasdan menerka apa yang sebenarnya ayahnya pikirkan saat ini. “Sebelum Abang pergi, Ayah minta tolong lihat data beberapa sekolah khusus untuk adik kembar Abang setelah lulus sekolah dasar, bisa?” “Maksud, Ayah?” “Ayah akan menyekolahkan adik kembar Abang di sekolah khusus biar mereka lebih disiplin.” “Kok Ayah tega? Bunda pasti nggak akan kasih izin.” “Ayah akan kasih pengertian ke Bunda.” “Abang nggak setuju sama rencana Ayah.” “Ayah akan tetap dengan rencana sebelumnya. Apalagi Ayah tidak bisa selalu mengawasi kegiatan adik kembar Abang. Mereka pasti punya alasan untuk buat ulah lagi. Jadi sebelum itu terjadi, Ayah harus bersikap tegas. Kecuali..” “Kecuali apa, Ayah?” “Ada yang bisa menjaga dan meyakinkan Ayah kalau adik kembar Abang tidak akan bersikap demikian lagi.” “Harusnya Abang sudah bisa duga kalau Ayah nggak akan bersikap lunak begitu aja. Mas sama Kakak sebelumnya mengira Ayah cuma mau mengurangi jadwal main mereka di akhir pekan. Tapi ternyata Ayah malah mau kirim mereka jauh dari rumah.” “Mereka mau mengikuti jejak Abang. Jadi kenapa tidak?” “Kalau begitu, kenapa nggak sekalian ke Semarang aja biar sama Abang?” “Terlalu jauh. Yang ada Bunda ikut pindah juga sama kalian.” “Ayah menyebalkan.” “Abang udah tau dari dulu, kan?” “Iya, saking udah tau makanya tadi Abang sempat lihat-lihat sekolah yang ada di sini. Abang bahkan udah ambil formulir pindah sekolah.” “Keputusan yang tepat. Sisanya tinggal Ayah yang urus. Abang tinggal menyiapkan diri untuk sekolah dua hari lagi dari sekarang. Sekolah yang sama kayak Rio dan Artar, kan?” “Ayah benar-benar menyebalkan.” “Udah cukup pergi jauhnya ya, Abang? Lagi pula Abang kan masih bisa jenguk Papah Antar sama Bunda Ratih meski menetap di sini. Keduanya juga pasti akan memaklumi dan tidak akan marah sama Abang. Jadi sekarang pulang ke rumah, ya?” “Ayah.” “Bunda, Ayah, Mas, Kakak, sama Biba ingin Abang di dekat kita. Mau ya, Abang?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD