02. Figur Kakak Terbaik

1325 Words
Suasana di antara kedua anak yang baru saja keluar dari dalam kelas tersebut kontras sekali dengan para temannya yang tampak semangat menyambut kepulangan mereka. Biasanya hal itu pun berlaku bagi keduanya, tapi tidak untuk hari ini. Di mana kepulangan sekolah malah membuat mereka khawatir bukan main. Tak lain dan tak bukan karena siang menjelang sore ini pun kepulangan ayah mereka dari negeri kanguru. Yang mana biasanya akan selalu membuat keduanya menyambut heboh karena bisa bertemu kembali dengan sang ayah yang sebenarnya jarang sekali mau turun langsung ke luar negeri jika memang pekerjaannya masih bisa diambil alih oleh karyawannya yang lain. “Gimana ya, Mas?” Sebagai anak yang lebih tua meski jaraknya pun hanya tujuh belas menit dari adiknya. Anak yang memiliki warna mata hitam kelam menarik napas panjang. Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya kemudian menengadah ke atas, melihat langit yang sangat cerah. Jauh berbeda dengan suasana hati keduanya yang mendung saat ini. “Tenang, Kak. Bunda pasti udah cari cara biar kita berdua nggak kena marah sama Ayah.” Anak yang memiliki warna mata cokelat di sampingnya yang sebelumnya turut menghentikan langkah kakinya, meniru sikap sang kakak. Memandang langit yang meski terlihat cerah tapi saat dia mengamati lebih jauh, tetap saja tidak ada sebuah jawaban di atas sana. Akhirnya dia pun hanya membuang napas lesu. “Kamu yakin banget sih, Mas? Padahal tadi pagi Bunda aja masih tarik napas, menghembuskan napas, terus aja begitu waktu kita mau berangkat ke sekolah.” “Ya kalau Bunda nggak bernapas, kita udah menangis dari tadi pagi bukannya masih bisa sekolah kayak biasa, Kak!” “Oke. Maksud aku, Bunda nggak ada kelihatan tuh udah menemukan cara biar kita terbebas dari Ayah.” “Udah, kita berdoa aja. Lagi pula Ayah kan nggak pernah marah sama kita.” “Tapi kita sama-sama tau. Ayah bisa menghukum kita dengan mengurangi jatah bermain kita di setiap akhir pekan. Dan entah sampai berapa lama, Mas.” “Aku nggak sanggup, Kak!” “Mas, sih. Aku bilang jangan main-main, cukup ingat kata Abang supaya memanfaatkan kepintaran kita untuk hal yang berguna bagi banyak orang.” “Itu kan bermanfaat bagi banyak orang.” “Tapi nggak sekarang juga, Mas. Abang kan bilangnya kalau kita udah besar dan tinggi badan kita juga kayak Abang, baru kita boleh menerapkan kepintaran kita.” “Intinya semua itu udah terlanjur kita lakukan. Mau nggak mau kita harus terima konsekuensi yang nanti Ayah berikan.” Keduanya kompak menghela napas pasrah. Tak menyadari bila pembicaraan dengan topik berat tersebut telah diamati dengan saksama oleh seseorang yang berjarak beberapa langkah di depan mereka. Masih dengan pikiran yang sibuk satu sama lain dengan kepala yang menunduk lesu, keduanya hampir saja melewati laki-laki di hadapan mereka andai orang tersebut tidak bergerak menghalangi langkah keduanya. “Permisi. Kami anak sekolah dasar mau lewat. Kalau sekiranya nggak kenal kami, harap pergi baik-baik. Jangan berpikir untuk menculik kami karena kami punya Ayah dan Abang yang nggak akan mempermudah niat itu.” Perkataan anak laki-laki bermata hitam kelam yang terlampau fasih dan pastinya terlalu berani andai orang di hadapan mereka benar-benar seseorang yang ingin berniat demikian pun hanya mendapat respons berupa tawa geli dari orang di hadapannya. Yang mana hampir saja dia mendongakkan kepala dengan tampang menindas yang dia miliki andai tawa tersebut tidak dia hafal di luar kepala. Belum dia bersikap demikian, adiknya sudah terlebih dahulu memekik dan merentangkan tangan kepada seseorang di hadapan mereka. “Abang! Ini Abang, kan?” “Iya, ini Abang” balasan tersebut diucapkan seraya dirinya yang memeluk anak laki-laki di hadapannya tak kalah erat. Dia hanya tersenyum geli mendengar adiknya merengek karena tidak menyangka kakaknya akan berada di kota ini padahal bukan di hari tertentu yang mana biasanya sang kakak akan menetap selama beberapa hari di rumah. “Mas, nggak mau peluk Abang kayak Kakak?” anak laki-laki yang semula hanya menatap acuh tak acuh pada keduanya, yang mana bukan berarti dia tak suka akan kehadiran dari kakak tertua di keluarganya pun mulai mengambil langkah. Mendekat sebelum setelahnya ditarik pelan untuk bergabung bersama saudaranya yang lain, saling berpelukan untuk mengobati rasa rindu. “Abang udah libur sekolah lagi? Tapi bukannya libur sekolah Abang baru kemarin? Kan kita juga baru jenguk Abang dua minggu yang lalu?” “Oh, Kakak nggak suka Abang pulang ke rumah?” dia bertanya seraya melepas pelukan mereka bertiga. Membuat yang ditatap seketika salah tingkah namun segera membantah asumsi di dalam pertanyaan tersebut. “Siapa bilang? Aku malah senang banget Abang di sini. Kalau bisa jangan pergi-pergi lagi, ya?” dengan gemas dia mencubit pipi adiknya yang tembam. Lalu beralih ke adiknya yang satu lagi, yang mana saat ini terlihat tengah gusar di tempat. “Harusnya Abang yang tanya ke kalian berdua, ada apa sampai Bunda minta Abang untuk pulang ke rumah?” Meski di hati lega karena mendapati kakak tertua mereka yang sampai pulang dengan kemungkinan besar untuk mengatasi kenakalan yang dua hari lalu mereka lakukan, tapi tetap saja pertanyaan tersebut membuat keduanya merasa bersalah, kemudian saling menatap satu sama lain sebelum setelahnya menatap cemas ke arah sang kakak. Selain Ayah, mereka memang amat sangat mengidolakan sang kakak. Tak lain dan tak bukan karena segala figur kakak terbaik ada di dalam diri laki-laki di hadapan mereka. Tak jarang sikap sang kakak akan mereka tiru meski ada jarak secara harfiah yang menghalangi hubungan kakak-beradik tersebut. Yang mana berupa tempat tinggal yang tidak dekat, dan hal tersebut acap kali membuat mereka merengek ingin ikut tinggal saja bersama sang kakak. Jadi jika kali ini mereka berdua tampak merasa bersalah, sudah pasti wajar. Sebab tidak ada niat sedikit pun di benak mereka untuk membuat sang kakak khawatir, apa lagi sampai harus menanggung kenakalan yang mereka lakukan. “Maaf, Abang. Aku sama Kakak iseng buat masuk ke jaringan pusat perusahaan Ayah.” Dia jelas sudah mendengar penjelasan lebih lengkap dari sang bunda. Tapi tetap saja ekspresi terkejut bercampur geli masih terlihat saat salah satu adiknya berkata jujur. Yang mana hal tersebut adalah sebuah sikap yang memang pernah dia ucapkan agar kedua adiknya harus selalu bersikap jujur di setiap situasi. Karena entah diri sendiri sadar atau tidak, bersikap demikian malah akan mempermudah jalan mereka ke depannya. “Terus sekarang apa yang kalian pikirkan?” “Merasa bersalah. Harusnya aku nggak ajak Kakak buat mengikuti rasa penasaran aku. Padahal dulu Abang pernah bilang kalau kita nggak boleh asal mempraktikkan apa yang pernah Abang kasih tau ke kita.” Tersenyum geli. Dia sama sekali tidak marah kepada kedua adiknya. Toh dulu dia pun pernah menjadi anak yang aktif untuk memuaskan rasa penasaran di hatinya. Terlebih ada andil dirinya juga di dalam kenakalan yang beberapa hari lalu adiknya perbuat. “Udah tau untuk ke depannya harus bersikap seperti apa?” “Tau. Aku harus selalu teguh pendirian kalau nanti Mas sampai ajak yang aneh-aneh lagi!” tak pelak tawa terdengar darinya. Jauh berbeda dengan salah satu adiknya yang kini hanya berdecak pelan mendapati dirinya dipermalukan di depan sang kakak. “Mas?” “Iya, Abang. Aku juga akan belajar menahan rasa ingin tau yang nggak sesuai umur.” “Bagus. Abang suka jawaban Mas sama Kakak. Sekarang ayo kita pulang, biar nanti Abang yang bicara sama Ayah jadi jatah bermain kalian di akhir pekan nggak berkurang.” “Abang Gasdan memang terbaik! Makasih Abang! Aku sayang banget sama Abang” ucap pemilik warna mata yang tidak jauh berbeda dengan milik mata Gasdan. Tak pelak dia segera mengusap puncak kepala adiknya yang kali ini tengah tersenyum lepas. Tak jauh berbeda dengan adiknya yang satu lagi meski hanya berupa binar mata yang memancarkan kelegaan. Setelah dirasa semuanya sudah siap untuk pulang ke rumah. Mereka pun mulai berjalan ke tempat parkir dengan Gasdan yang berada di antara kedua adiknya. Menggenggam kedua tangan yang lebih kecil dari tangannya dengan hangat selayaknya seorang kakak yang memang bisa diandalkan oleh para adiknya. “Kita jemput Biba dulu di sekolahnya nggak, Abang?” “Biba udah dijemput sama Bunda. Jadi sekarang kita bisa langsung pulang ke rumah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD