Menatap ke arah bangunan di depannya dengan senyum merekah, Sakila sudah siap memulai hari barunya sebagai seorang murid sekolah menengah atas. Dia merasa lebih baik saat beberapa kali mendapati beberapa teman dari sekolah sebelumnya yang pun ikut memilih sekolah menengah atas yang sama.
Sebenarnya dia bukanlah murid yang anti sosial, hanya karena kejadian sebelumnya yang membuat dia merasa lebih nyaman sendiri akhirnya sampai sekarang pun Sakila lebih menyukai lingkup pertemanan yang kecil.
Dia memiliki prinsip boleh banyak mengenal orang, namun hanya segelintir yang akan dia jadikan sebagai teman. Bukan sahabat. Karena dia masih cukup trauma untuk memercayai seseorang yang ternyata tidak satu pemikiran dengannya.
Jadi dirasa wajar bila dirinya hanya balas tersenyum pada beberapa kenalannya yang sudah tidak asing baginya, namun tetap tidak menjadikan mereka semua temannya. Sakila lebih nyaman menyebut mereka sebagai rekan seperjuangan untuk lulus tepat waktu di masa putih abu-abu ini.
Tapi itu semua tidak menjadikan Sakila sebagai orang yang pantas dijauhi. Buktinya dia termasuk ke dalam golongan orang yang baik diajak berbicara, baik sebagai pendengar, baik sebagai pemberi usul, baik sebagai pemberi nasihat, dan masih cukup baik untuk menghibur seseorang yang sedang sedih.
“Hai, happy virus!”
Baru kakinya masuk ke area kelas, salah satu perempuan yang dia maksud adalah teman menyapa. Hal tersebut bukanlah sapaan tak ada arti, melainkan dengan kemampuan Sakila yang bisa menempatkan diri di setiap kondisi membuatnya di sebut sebagai orang yang selalu menebar kebahagiaan.
Cukup berlebihan memang. Namun bila dengan alasan dirinya yang bisa menyesuaikan perasaan hati seseorang maka dirasa tidak ada yang salah dengan sebutan itu. Toh menebar kebahagiaan bukan berarti harus diperlihatkan dengan selalu membuat orang lain tertawa dan tersenyum.
Seperti yang dia singgung sebelumnya, cukup dengan mengetahui perasaan di sekitar dan merespons sesuai dengan situasi yang sedang berjalan saja sudah termasuk ke dalam kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang yang menyebutnya demikian.
“Aku senang sekali bisa satu kelas bareng kamu lagi.”
Tanpa diperintah perempuan yang masih sama seperti yang menyapanya tadi menggandeng tangan kanan Sakila dan tanpa bertanya segera mengajak dirinya untuk duduk bersama. Tepat di baris kedua dari depan dengan posisi tepat di tengah kelas. Dirasa wajar bila mengingat perempuan yang kini duduk dengan posisi menghadap sepenuhnya ke arah Sakila merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya dulu, alias hobi sekali belajar.
“Kamu tau kan kalau nilai ujian sekolah aku kemarin kurang dari standar? Jelas kamu tau karena aku menangis di depan kamu waktu pembagian hasil ujian.”
Mengikuti postur tubuh temannya, Sakila menambahkan dengan dagu yang ditopang oleh tangan kanannya. Memperlihatkan bila dia sekarang tengah fokus pada apa yang dibicarakan oleh perempuan yang kini telah memasang ekspresi sedih miliknya.
Padahal jauh di dalam hati, Sakila masih tidak bisa menerima bila nilai sembilan puluh tiga adalah nilai yang kurang dari standar. Dia bahkan harus belajar ekstra untuk masuk ke sekolah ini, dan temannya seakan mengejek secara tidak langsung nilai delapan puluh tujuh yang dia peroleh dari hasil belajar tanpa henti selama satu semester terakhir di penghujung sekolah menengah pertamanya.
“Awalnya suasana hati aku masih keruh karena target aku kan bukan cuma masuk di sini, tapi juga jadi siswa baru dengan nilai yang paling tinggi.”
Sakila menganggukkan kepala pertanda memahami perasaan temannya tersebut. Secara tidak langsung dia pun mengarahkan agar perempuan di hadapannya untuk kembali melanjutkan keluh kesah di pagi mereka menjadi seorang murid sekolah menengah atas.
“Tapi melihat papan nama di depan pintu kelas sebelum aku masuk tadi udah buat perasaan aku jauh lebih baik karena menemukan nama kamu di barisan paling akhir.”
Sakila tidak merasa kena sindir karena barisan akhir biasanya diperuntukan bagi siswa yang nilainya cukup. Bukan kurang, karena kalau kurang sudah jelas tidak akan diterima menjadi siswa di sini. Pun sebab telah mengenal temannya ini lebih dari tiga tahun ke belakang membuat Sakila sudah hafal dengan cara bicaranya yang apa adanya.
“Kita satu kelas, dan yang terpenting sekarang jadi teman satu bangku lagi.”
Melihat senyum di wajah temannya, tak pelak Sakila pun ikut tersenyum. Bukan sekadar senyum formalitas, namun dirinya memang tersenyum tulus. Memilih untuk menjadi pribadi yang lebih kritis dengan menganggap seseorang sebagai teman tidak membuat sikap yang dia tunjukkan adalah kepura-puraan.
“Oh iya, Mamah aku kemarin ajak aku ke salah satu tempat les terbaik untuk persiapan masuk ke universitas. Kalau kamu berminat, kita bisa daftar sama-sama.”
Tersenyum kikuk. Sakila rasa posisinya sebagai pendengar yang baik sudah lebih dari cukup sehingga menerima tawaran dari temannya yang terlampau ambisius ini tidak masuk ke dalam kategorinya. Setidaknya bukan sekarang, di mana dirinya bahkan baru lolos dari ujian putih biru yang sangat menguras baik batin maupun jam tidurnya.
“Memang kamu ingin pergi ke universitas yang ada di mana?”
Lebih baik dia melempar pertanyaan daripada harus terjebak untuk menjawab. Toh tanggapannya tadi memang tepat, terbukti kini temannya dengan lancar menceritakan segala hal yang perempuan tersebut tahu tentang universitas impiannya.
Kembali lagi Sakila menjadi pendengar yang baik. Tentunya dia melakukan hal ini bukan karena terpaksa, namun Sakila memang menyukai di mana ada seseorang yang menaruh rasa percaya kepadanya dengan cara tidak sungkan untuk berbagi hal yang menjadi tujuan hidup mereka.
|||
Sekolah elit memang memiliki segala aspek yang lebih baik dari sekolah pada umumnya. Tidak terkecuali kantin yang bersih dan menyajikan santapan sehat dan menggugah selera. Tidak berbeda jauh dengan restoran bintang lima. Hal yang sebenarnya tidak asing lagi bagi Sakila karena semenjak dia duduk di bangku sekolah dasar pun dirinya sudah biasa dengan keadaan yang demikian.
Bila di zaman orangtuanya dulu ada masa orientasi siswa yang mana tidak sedikit siswa yang harus mengeluarkan tangis karena merasa tertekan dengan kakak kelas yang bisa jadi memanfaatkan situasi yang ada untuk membalas sikap para pendahulunya pada mereka. Maka di sekolah ini tidak ada sama sekali sistem yang seperti itu, mereka bisa langsung masuk setelah masa pengenalan sekolah yang dilakukan sebagai sarana agar para calon siswa tidak tersesat di hari pertama mereka masuk sekolah.
“Wah, kita akhirnya ketemu lagi sama kakak kelas ganteng kayak mereka.”
Sakila tidak mengindahkan ucapan temannya. Masih menikmati soto ayam sebagai menu makan siang yang dia pilih. Toh tanpa ikut melihat pun dia sudah mengetahui siapa gerangan yang dimaksud oleh temannya. Tak lain dan tak bukan adalah mantan ketua organisasi siswa intra sekolah dan kapten basket di sekolah ini.
Dia bukan tahu karena sengaja ingin mencari tahu. Namun kedua gelar itu memang tidak berubah saat keduanya pun berada di sekolah menengah pertama. Sama seperti saat menjadi kakak kelas Sakila dan temannya di sekolah sebelumnya. Seakan kedua posisi tersebut memang diperuntukan bagi keduanya di mana pun tempat mereka berada.
“Eh, tapi itu yang di tengah siapa ya? Murid baru juga, kah? Secara dia nggak pakai baju seragam kayak kita. Kalau benar murid baru, hebat banget sih ada anak baru yang udah duduk bareng aja sama kakak kelas macam mereka berdua.”
“Pokoknya aku harus cari tau dia anak kelas mana biar bisa tanya kenapa bisa begitu aja duduk sama pentolan sekolah ini.”
Tersenyum simpul. Sakila tentu tidak lupa selain temannya ini ambisius untuk menjadi yang terdepan dalam hal pelajaran, dia pun termasuk ke dalam penggemar garis keras kedua murid yang keberadaannya pun tidak menarik minat Sakila untuk menengok. Dia tiba-tiba bergidik kala menyadari mungkin saja alasan temannya sangat teguh untuk masuk ke sekolah ini karena salah satu dari keduanya.
“Ya Allah. Itu kenapa Kak Rio ganteng banget sih?”
“Jangan harap. Kak Rio udah ada yang punya. Kamu nggak lupa, kan?”
“Nggak tau situasi aja deh, Kil. Lagi pula aku kan suka sebatas memang patut dikagumi.”
“Bagus deh kalau kamu ingat.”
“Eh, tapi itu murid baru yang duduk di antara mereka nggak kalah ganteng dong, Kil!”
“Oh, iya?”
“Itu kamu jangan iya-iya aja, coba lihat dulu deh!”
“Aku lebih tertarik buat menghabiskan soto ayam ini daripada jadi penggemar fanatik kayak kamu. Jujur deh, kamu masuk ke sini karena Kak Rio, kan?”
“Bahas Kak Rio nanti lagi aja deh. Itu lihat dulu laki-laki di sana, senyumnya Kil! Ya Allah, itu senyum nggak ada obat. Ganteng banget, Killa!”
Mengingat mereka tengah berada di kantin yang memuat banyak orang. Meski tidak penuh sampai berdesakan, tapi Sakila masih harus menjaga agar intonasi bicara temannya tidak membuat mereka berakhir malu. Sehingga mau tak mau dirinya pun menoleh tepat ke arah di mana pandangan temannya ditunjukkan sampai mengabaikan makan siangnya sendiri.
“Cuma senyum simpul doang tapi udah membahana banget itu, Kill!”
“Serius deh. Kita harus cari tau siapa anak baru itu. Pantas aja langsung direkrut sama Kak Rio dan Kak Artar, wajahnya aja nggak jauh beda sama mereka. Malah lebih ganteng.”
Berbeda dengan temannya yang masih saja heboh. Sakila bahkan tanpa sadar sudah mencampakkan sendok di tangannya setelah sebelumnya terpaku beberapa detik ke arah laki-laki yang dimaksud oleh temannya. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. Membuat dia tidak mengindahkan lagi jika memang ada yang akan mendengar atau sampai terganggu dengan keributan yang temannya buat.
“Bukannya dia di luar kota? Kenapa tiba-tiba ada di sini!”