Papa tak bicara lagi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Erick dan seorang pria yang kuduga sebagai sahabatnya. Satu wanita yang berdiri di sampingnya kemudian mendekat dan membantuku untuk duduk. "Marina, akhirnya kita bertemu juga. Sebagai perwakilan dari Erick anggap saja kami ini kerabatmu, karena suamiku dan Erick sudah bersahabat sejak remaja. Dan sekarang aku ingin bertanya padamu. Kamu mau 'kan menikah dengan Erick sekarang? Ya, meskipun cuma akad, tapi setelah kamu sembuh aku yakin Erick akan meresmikan pernikahan kalian." Suara wanita yang belum aku ketahui namanya itu terdengar lembut. Meski tidak berhijab, namun dari tutur kata dan aura wajahnya aku yakin dia wanita yang cukup baik. Tatapanku kemudian mengedar pada Erick, lalu menoleh pada Papa yang rahangnya mengera

