Sulaiman, atau sering disapa Sule yang merupakan salah satu polisi lalu lintas yang merasa menyesal menerima tugas di lampu merah simpang kampus ternama ini, kalau dirinya tahu ia akan berurusan dengan seorang mahasiswi bar-bar yang sudah dua kali menganiaya nya.
Di tengah kemacetan jalanan, Sule mengusap kepalanya yang terasa sangat sakit sekali setelah mendapatkan serangan dadakan dan tidak terduga dari Nadia. "Ancur rambut ku ya Allah..."
"Le, aman gak itu otak kamu? Dipontang-panting kanan kiri begitu. Gak puyeng?"
Sule menatap temannya dengan jengah, ya kali dirinya merasa tidak pusing sedangkan kepalanya ditarik sana-sini sampai mau lepas rasanya.
"Gak puyeng lagi, rasanya otakku udah jadi bubur di dalam, karena diaduk-aduk." Balas Sule yang membuat semua rekannya tertawa ngakak. Mereka sebenarnya kurang tau asal muasal permusuhan antara Sule dengan gadis yang mereka ketahui merupakan gadis yang kemarin ditilang, atau bisa jadi lantaran itu sih makanya Sule diserang dadakan.
"Awut-awutan kek pengantin baru belah duren."
"Anjir, emang lu tahu gimana belah duren? Nikah aja belum lu." Sahut rekannya satu lagi. Sule memilih tidak menanggapinya dan berlalu masuk ke dalam pos yang baru saja diresmikan beberapa hari yang lalu tapi entah kenapa sudah seperti bangunan lama yang di mana ada beberapa barang nya maupun rekannya di sini.
Sayup-sayup dirinya masih bisa mendengar percakapan antara temannya. Dirinya masih membayangkan keganasan dari seorang Nadia Salsabila, nama yang tertera di kartu tanda penduduk yang sedang ia pegang. Yah, KTP itu sebenarnya ada pada dirinya, tapi ia sengaja tidak memberitahukan hal itu kepada Nadia, biar ja saja yang mendatangi kediaman gadis bar-bar yang berpenampilan nyentrik.
Dengan tersenyum geli ia kembali mengingat kejadian beberapa menit lalu yang sebenarnya cukup memalukan sih, ia seperti seorang suami yang sedang dilabrak istrinya di tempat kerja. Duh, kenapa pikirannya malah mengarah ke arah sana coba?
Lagian Nadia begitu membencinya padahal terhitung baru dua kali mereka bertemu, dan selama dua kali pertemuan itu, dua-duanya ia diserang habis oleh Nadia. Sepertinya ia sedikit trauma dengan kedatangan gadis itu yang selalu berujung dengan penganiayaan.
"Nadia Salsabila? Namanya cantik, orangnya juga. Tapi tingkahnya menyeramkan." Batin Sule bergidik ngeri. Well siapa yang tidak takut, gadis itu layaknya hewan buas yang sudah ia ganggu daerah teritorial nya, menyerang tanpa basa-basi bahkan tidak peduli dengan resiko yang akan dihadapi.
Sangking fokusnya foto Nadia yang ada di kota gadis itu, Sule sampai tidak sadar jika sedari tadi sudah menjadi objek pemandangan rekan nya yang lain Yeng terheran-heran melihat tingkah absurdnya, bahkan ada dari mereka yang merinding ketakutan, takut jika ternyata pemuda itu sedang kerasukan atau paling tidak mendadak gila setelah aksi jambakan maut tadi.
"Le,.masih aman kan? Atau mentalnya udah mengkhawatirkan? "
Sule langsung melihat ke arah pintu dan menemukan beberapa temannya yang menatap nya dengan penuh keprihatinan.
"Aman lah, saya masih waras "
***
Berbanding terbalik dengan Sule, Nadia sendiri malah merasa sangat bahagia setelah berhasil menganiaya polisi sok kegantengan itu lagi, meskipun KTP nya sama sekali tidak ia dapatkan, tapi setidaknya rasa amarah dan kekesalan nya sudah tersalurkan di orang yang tepat.
Ia sampai di rumah telat saat adzan ashar berkumandang. Gila, selama itu ternyata dirinya berurusan dengan Sule, padahal ia merasa itu masih terlalu singkat untuk membalaskan semua kekesalannya.
Berdoa saja lelaki itu tidak bertemu lagi dengannya, ia tidak bisa menjamin bisa menahan diri dan tidak akan lepas kendali seperti di pertemuan nya dengan polisi bernama Sule.
"Kak, lu nulis apa di surat gue?" Ujar sang adik si Paramex secara tiba-tiba yang bahkan Nadia tidak menyadari jika adiknya sedari tadi duduk di teras rumah.
"Anjing! Lu ngapain di situ ngab? Untung gak jantungan kakak lu."
Patwa tidak menghiraukan keluhan kakaknya, ia masih menunggu jawaban dari kakaknya masalah surat yang tadi pagi wanita itu tulis dan kirim ke sekolahnya. Karena ia mendapatkan laporan jika surat yang dikirimnya lewat sang kakak membuat semua guru yang masuk kesal dan esok ia akan diproses di kantor guru.
"Lu nulis apa?"
"Hah?" Tanya Nadia yang sama sekali tidak konek dengan apa yang ditanyakan adiknya.
Patwa berdecak kesal. Ia menatap sang kakak dengan malas, memiliki seorang kakak seperti Nadia sebenarnya ada enaknya tapi kebanyakan gak enaknya sih. Enaknya terkadang sang kakak bisa menjadi babunya untuk mengerjakan tugas sekolah, dan gak enaknya sang kakak bar-bar, fashionnya terlalu nyentrik, pemalas, dan suka memancing keributan. Ia bahkan sering harus berhadapan dengan para anak-anak kecil yang berada di komplek rumahnya yang mengaku sering dijahili Nadia dan anehnya semua orang tua dari anak-anak yang diganggu Nadia itu malah mengadu kepadanya seolah patwa adalah orang tua dari Nadia. Padahal emak bapaknya maish ada kan?
"Surat."
Nadi sempat loading sedikit lama sebelum akhirnya mengangguk lalu tertawa terbahak-bahak menatap wajah adiknya yang sudah terlihat sangat kesal.
"Gue kan lu suruh nulis surat yaudah gue tulis," sahut Nadia dengan wajah tanka rasa bersalah sedikit pun.
"Apa yang ditulis?" Tanya patwa dengan cepat.
"Yah lu izin gak bisa ikut belajar karena mager lah."
Patwa melotot kaget, heh! Ia awalnya tidak yakin jika di depannya saat ini merupakan sang kakak yang selalu ia puji dalam hati bahwa gadis itu sangatlah jenius, akan tetapi telat hari ini ia akan melabeli Nadia dengan gadis paling bodoh sedunia.
Sejak kapan mager menjadi alasan yang tertera di dalam surat, pantas saja ia akan diproses besok oleh guru-guru ternyata penyebabnya adalah kakak bangsatnya.
"Taik emang lu yah kak, besok gue disidang guru." Kesal patwa yang langsung berjalan masuk tanpa memperdulikan tawa sang kakak yang meledak-ledak di depan pintu rumah.
"Nadia!!! Ketawa nya dijaga."
Nadia langsung menutup mulutnya begitu Suara bas milik sang ayah terdengar dari dalam rumah. Percaya lah, se bar-bar nya Nadia, ayah merupakan sosok yang paling Nadia takuti, akh lebih tepatnya segani.
Wajah ayahnya gak sangar, tapi sekali nya marah, singa aja kalah dibuatnya. Makanya Nadia selama ini selalu usil juga sama emak bukan sama bapak. Pembawa ayahnya yang tenang tidak akan membuat kawan bjcaranga tenang juga. Dan itu berlaku untuk semua orang, tidak terkecuali teman-teman nya juga.
"Nadia, masuk!"
Anjir! ada apa ini? kenapa ia mencium hawa-hawa yang tidak mengenakan. seperti aroma negatif yang baru saja tersebar dan memaksa dirinya untuk masuk ke dalam.
"Kenapa, Pak?" tanya Nadia dengan tangan yang saling bertaut, matanya melirik patwa yang berada tepat di samping ayahnya, dari sini ia bisa menilai jika remaja itu sudah mengadukan masalah dirinya kemarin.
"Kamu ditilang?"
Nah kan bener, duh Gusti siap-siap dah dirinya naik angkot ke kampus.
"Iya, Pak. hehehe..."
"Kunci, mana kunci?" tangan ayahnya begadang meminta kunci motor nya, dengan berat hati ia memberikan kunci itu dengan mata yang terus menatap patwa penuh dendam, lihat saja apa yang akan ia lakukan untuk bocah kurang ajar itu. tunggu pembalasan yang lebih menyakitkan dari ini, cari perkara kok dengan Nadia, Polisi saja kewalahan menghadapi nya tadi.