BAB 5. REAKSI NARENDRA

1112 Words
REAKSI NARENDRA Setelah melihat kemarahan Auf yang di luar dugaannya, Willy memutuskan untuk menyusul Narendra ke Australia. Alih-alih memberikan kabar lewat telepon atau menyuruh Naren segera pulang, Willy merasa kalau kedatangannya ke sana akan sedikit meredam emosi anak itu. Naren memang tidak seperti Janu yang sangate pendiam atau Auf yang begitu ekspresif mengungkapkan perasaannya, namun emosi Naren lebih sulit ditebak jika dibandingkan Janu. Willy ingat kejadian beberapa tahun lalu saat istrinya meninggal. Naren hanya terisak perlahan. Tidak ada tangis yang berlebihan seperti Auf yang menjerit histeris atau Janu yang terus saja memeluk jasad ibunya. Tapi justru Naren yang membutuhkan bantuan psikolog. Berhari-hari dia tidak bisa tidur nyenyak. Tubuhnya pun tumbang karena kurang asupan gizi. Tiap kali makan, Naren selalu memuntahkan lagi apa yang masuk ke mulutnya. Hampir setahun Naren melakukan konseling untuk bisa menetralisir semua emosinya. Maka, setelah Auf kembali ke Yogya, esoknya Willy meminta sekretarisnya untuk mengosongkan seluruh jadwalnya seminggu ke depan dan memutuskan bicara langsung dengan Naren. Tentu saja hal ini membuat Janu kebingungan. Apalagi Janu memang tidak tahu kalau sebelumnya Auf datang dan marah kepada ayah mereka. “Ayah serius mau ke Australia?” Janu memandang ayahnya seolah tak percaya. Selama ini, seluruh perusahaan tahu kalau Willy adalah bos yang sangat gila kerja. Willy hampir tidak pernah mengambil cuti. Bahkan disela liburan keluarga pun Willy masih menyempatkan diri untuk memantau pekerjaan. Apalagi sejak istrinya meninggal, hari-hari Willy selalu dihabiskannya di kantor. “Iya. Ayah tidak mau adikmu itu marah seperti Auf kemarin.” “Memangnya kemarin Auf ke sini?” “Kamu itu gimana sih. Adik sendiri pulang kamu nggak tahu. Jangan terlalu sibuk kerja lah Bang. Coba santai sedikit.” Willy menepuk pundak Janu. “Iya Yah. Kemarin banyak banger kerjaan yang harus aku selesaikan. Jadi sekarang Auf ada di mana? Anak itu kebiasaan deh. Pulang nggak ngabarin Abangnya.” Janu menggerutu. “Auf sudah balik ke Yogya. Kemarin dia datang ke sini. Dia marah karena Ayah mau menikah dengan anak bau kencur. Jadi Auf nggak akan datang ke pernikahan Ayah.” “Ayah, kalau boleh jujur sih sebetulnya aku juga keberatan Ayah menikah dengan anak Pak Herman. Apa tidak ada perempuan lain lagi, Yah? Minimal yang usianya nggak terlalu jauh dengan Ayah.” Janu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. “Ayah tidak bisa menjelaskan semuanya. Tapi yang harus Abang tahu, Ayah sudah memikirkan masalah ini dengan matang. Ayah yakin, keputusan Ayah ini adalah keputusan terbaik untuk semuanya. Radha juga nantinya tetap akan meneruskan kuliah dia. Ayah nggak mungkin menghentikan mimpinya.” “Baiklah kalau itu keputusan Ayah. Aku ikut aja Yah. Aku cuma berharap Ayah nggak akan menyesal dengan semuanya.” “Lalu, kamu sendiri kapan mau bawa calon istrimu ke depan Ayah?” “Masih lama Yah. Pacar aja aku nggak punya. Gimana mau ngenalin calon istri ke Ayah.” Janu mengusap tengkuknya gusar. Dia sendiri tidak tahu kenapa sampai saat ini dia belum berpikir untuk menjalin hubungan serius dengan perempuan. “Makanya denger omongan Ayah. Kamu jangan mikirin kerjaan terus. Waktu Ayah seumur kamu, Ayah udah anak 2 Bang.” Tak mau ayahnya terus membahas masalah perempuan, Janu pun pamit meninggalkan ruangan Willy. *** Willy tiba di Australia dan memilih tinggal di hotel. Dia tidak mau ambil resiko datang ke apartemen Narendra dan menemukan apartemen itu kosong. Hari masih siang. Willy tahu Narendra tidak akan ada di apartemen. Anak tengahnya itu memiliki hobi yang sama dengan dirinya dan Janu, yaitu kerja. Tidak aneh jika Naren lebih memilih kerja paruh waktu kalau sedang tidak ada jadwal kuliah. Willly bersyukur, ketiga anaknya tidak ada yang manja dan hanya mengandalkan fasilitas orang tua. Mereka semua pekerja keras yang gigih mencapai tujuannya. Setelah cukup beristirahat, Willy pun mengirimkan pesan ke Naren dan meminta anaknya itu datang ke hotel. Tak lebih dari tiga menit, Naren langsung menelpon Willy. Sepertinya Naren sangat terkejut karena ayahnya itu datang tiba-tiba tanpa memberi kabar. Sejak kepergian istrinya, Willy memang tidak pernah lagi bepergian ke luar negeri. Urusan bisnis pun lebih banyak diwakilkan kepada Janu. Tidak sampai dua jam, Narendra sudah ada di hadapan Willy. Narendra mewarisi seluruh ketampanan Willy. Mereka bagai pinang dibelah dua. Istrinya sering mengatakan kalau Willy dan Naren itu kembar yang beda seperempat abad. “Kamu sepertinya kurusan?” Willy memperhatikan Naren dengan seksama. “Namanya juga anak rantau, Yah. Gak ada yang ngurusin. Kalau di Jakarta kan semua jadi urusan Bi Narti. Aku mau makan tinggal teriak.” Naren terkekeh. “Jaga kesehatan Kak. Umur masih muda harus selalu fit. Jangan suka menunda makan. Kalau sakit, ya repot juga.” “Siap, komandan. Tapi ngomong-ngomong, kenapa Ayah datang mendadak ke sini? Memangnya nggak bisa dibicarakan lewat telepon?” “Hmmm, gini.” Willy membenarkan posisi duduknya. “Ayah punya rencana mau menikah lagi. Kalau tidak halangan, Ayah menikah bulan depan.” “Wah. Ini berita luar biasa. Perempuan mana yang berhasil menaklukan Ayah?” Naren memandang ayahnya takjub. “Ayah mau menikah dengan anaknya Herman.” “Hah? Maksud Ayah, Pak Herman yang jadi sopir Ayah?” “Iya. Herman sopir Ayah.” “Bukannya anak Pak Herman itu masih sekolah?” “Baru saja lulus SMA.” “Yah? Ayah sadar kan siapa yang akan Ayah nikahi?” “Ayah sadar. Bahkan sangat sadar. Ayah juga tidak main-main mengambil keputusan ini. Ayah sudah memikirkan semuanya.” “Yah, aku seneng kalau Ayah mau nikah lagi. Tapi bukan sama anak Pak Herman juga. Ayah kan bisa cari perempuan lain yang pantas untuk jadi ibu tiriku. Anak Pak Herman itu malah lebih muda dari Auf. Apa yang Ayah harapkan dari dia? Aku nggak setuju.” Naren benar-benar merasa bingung dengan pilihan Willy. “Ayah ke ini cuma mau kasih kabar. Bukan minta persetujuan kamu, Kak. Ada hal yang tidak bisa Ayah jelaskan kepada kalian bertiga. Kelak, kalian juga akan mengerti.” “Oke kalau begitu, Yah. Tapi Ayah juga harus tahu, aku nggak akan datang ke pernikahan Ayah. Coba Ayah bayangkan, mana mungkin aku memanggil ibu ke perempuan yang lebih pantas jadi adikku?” “Kamu tidak punya kewajiban untuk memanggilnya ibu. Karena dia memang bukan ibu kalian.” “Tetap saja Yah, dia bakalan jadi ibu tiri kami. Nggak mungkin aku terus menghindarinya. Apa tidak bisa Ayah batalkan saja pernikahannya?” “Keputusan Ayah sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat lagi. Kalau kamu tidak bisa datang ya nggak apa-apa. Ayah nggak bisa maksa. Tapi Ayah tetap berharap kamu bisa datang, Kak. Bagaimanapun juga kamu anak Ayah.” Narendra hanya diam tidak menganggapi perkataan Willy. Mata Narendra menerawang jauh melampaui waktu. Ada bayangan ibunya yang sedang tersenyum. Narendra tidak bisa membayangkan bagaimana anak yang baru saja lulus sekolah bisa menerima lamaran laki-laki yang usianya lebih tua dari usia bapaknya sendiri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD