Auf mondar mandir di kamarnya. Perjalanan Yogya – Jakarta yang ditempuhnya dengan naik kereta tidak menyisakan rasa lelah sedikitpun. Pikirannya berkecamuk dengan kabar yang diterimanya dari sang ayah.
Auf, ayah mau mengabarkan kalau ayah mau menikah lagi. Usahakan pulang kalau senggang.
Pesan singkat dari ayahnya yang dia terima di akhir senja kemarin sontak membuat Auf langsung bergegas menuju Stasiun Tugu. Untunglah dia masih bisa mendapatkan tiket kereta untuk ke Jakarta malam itu juga.
Di perjalanan, Auf sempat menghubungi Janu. Menanyakan kebenaran kabar dari ayah mereka. Jawaban Janu semakin membuat Auf terperangah. Benarkah ayahnya akan menikah dengan gadis belia yang baru saja lulus SMA? orang yang lebih pantas menjadi adiknya? Auf benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya. Seputus asa itukah ayahnya hingga menikahi belia yang masih bau kencur?
Beberapa kali ayahnya dijodohkan oleh saudara-saudara dan rekan-rekan bisnisnya, tapi ayahnya tetap bergeming. Tidak pernah melirik perempuan yang dikenalkan kepadanya. Padahal di antara perempuan-perempuan itu tidak sedikit merupakan perempuan karir yang sukses dengan usaha mereka. Ada juga dokter spesialis yang sudah menjanda beberapa tahun. Mengaapa kali ini ayahnya memutuskan menikah dengan perempuan yang mungkin saja belum tahu apa arti cinta yang sesungguhnya.
Uang. Ya, ini pasti karena uang. Perempuan mana yang tidak tergiur dengan kekayaan Willy Subrata. Auf sampai pada kesimpulannya sendiri karena tidak menemukan alasan lain yang lebih masuk akal selain harta ayahnya.
Di sinilah sekarang Auf berada. Di dalam kamar yang sudah ditempatinya sejak usia 6 tahun. Tadi pagi, saat tiba di rumah, Auf mendapati ayah dan abangnya sudah pergi ke kantor. Padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Bagi Auf, tidak aneh jika ayah dan abangnya sepagi itu sudah berada di kantor. Selain memang gila kerja, mereka berdua pastinya tidak mau terjebak dalam kemacetan lalu lintas Jakarta.
Karena bingung tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya Auf memilih untuk menyusul ayahnya ke kantor. Pikiran Auf begitu gelisah tiap kali membayangkan ayahnya akan menikah dengan gadis yang lebih pantas jadi putri bungsu sang ayah.
***
Gedung perkantoran itu terlihat sangat arogan. Auf melangkahkan kaki menuju tempat ayahnya selama ini membangun raksasa bisnis Subrata. Melihat betapa angkuh dan sibuknya para pekerja di sana, Auf sangat berterima kasih kepada kedua kakaknya. Berkat jasa kedua kakaknya yang bersedia meneruskan tahta Willy Subrata, Auf memiliki kesempatan untuk lepas dari dunia bisnis dan menekuni bidang Geografi yang sangat disukainya. Andai Janu dan Naren tidak pasang badan mendampingi Willy, mungkin saat ini Auf sedang berkutat dengan dunia bisnis yang tak pernah menarik minatnya sedikitpun.
“Kamu harus membuktikan kalau kamu tidak akan menyesali pilihan kamu ini.” Begitulah nasehat singkat Janu ketika mendukung adik bungsunya mengambil jalur yang cukup berbahaya bagi hubungannya dengan ayah mereka.
Berbekal restu dan dukungan penuh dari kedua kakaknya, Auf membuktikan bahwa dia memang serius menekuni dunia Geografi. Nilai-nilai kuliahnya tidak pernah mengecewakan kedua kakaknya. Bahkan Auf terlibat aktif dalam berbagai project yang dapat membantu lembaga-lembaga nirlaba yang membutuhkan datanya.
Bagi Auf, Geografi adalah seni. Sesuatu yang tidak akan pernah habis untuk digali. Ada begitu banyak misteri bumi yang belum diteliti.
Auf berjalan cepat menuju ruangan Willy Subrata. Di depan ruangan, Auf tersenyum kepada sekretaris Willy. Auf tahu kalau Sawitri sempat memberikan sinyal ketertarikannya kepada Willy. Tak dapat dibayangkan Auf bagaimana kecewanya Sawitri jika tahu kalau dia kalah saingan dengan bocah ingusan yang akan menjadi ibu tiri Auf. Membayangkan dia harus memanggil mama kepada orang yang lebih muda membuat Auf bergidik ngeri.
“Ayah ada?” Tanya Auf basa-basi kepada Sawitri.
“Auf kapan datang?” Sawitri malah balik bertanya.
“Tadi jam 7 pagi.”
“Loh, langsung ke sini toh? Kenapa nggak nunggu ayahmu pulang?”
“Ada masalah penting yang nggak bisa nunggu. Ayah ada kan?” Auf kembali memastikan keberadaan ayahnya.
“Ada kok. Masuk aja.”
Auf mendorong pintu megah yang terbuat dari kayu jati. Selera Willy Subrata memang tidka pernah main-main. Justru karena Auf tahu bagaimana tingginya standar Willy terhadap sesuatu, makanya Auf masih merasa ada yang aneh dengan perempuan pilihan Willy yang akan dinikahinya.
“Assaalamualaikum, Yah.” Auf menyapa ayahnya perlahan. Menjaga suaranya agar tetap tenang.
“Waalaikumsalam. Loh, Auf kok bisa di sini? Kamu nggak ngabarin Ayah kalau mau pulang. Kapan sampai?” Willy bangkit dan memeluk hangat anak bungsunya.
“Tadi jam 7 Yah. Aku pikir kalau nunggu Ayah di rumah kelamaan. Jadi mendingan aku nyusulin ke sini.”
“Memangnya ada apa sampai kamu nggak bisa nunggu di rumah?”
“Loh, Ayah sendiri yang bikin heboh. Gara-gara WA Ayah kemarin jadinya aku langsung nyari tiket kereta buat pulang. Ayah serius mau nikah lagi?”
“Kapan Ayah pernah bercanda sama anak-anak Ayah?” Willy menghembuskan nafas pelan. Dari raut mukanya, Willy tahu pasti kalau Auf menentangnya.
“Terus apa benar calon istri Ayah itu baru lulus SMA?” Selidik Auf gusar.
“Dari mana kamu tahu?”
“Itu tidak penting Ayah. Sekarang yang lebih penting itu bener apa nggak kalau calon istri Ayah baru lulus SMA?”
“Iya.”
Jawaban singkat Willy menjelma jadi percikan api, langsung menyambar amarah Auf yang sejak kemarin ditahannya. Seketika muka Auf berubah menjadi semerah kepiting.
“Kenapa Ayah?” Kali ini suara Auf terdengar mulai meninggi.
“Tidak ada yang bisa Ayah jelaskan. Apapun yang Ayah katakan pasti tidak bisa kamu terima. Ayah sudah memikirkan semuanya. Jadi Ayah sudah tahu resiko yang akan Ayah hadapi ke depannya.”
“Kenapa harus dia Ayah? Kenapa bukan perempuan lain yang jauh lebih pantas untuk Ayah?” Auf meremas rambutnya kasar.
“Kamu tidak akan mengerti. Ayah juga tidak meminta kamu untuk mengerti. Ayah hanya minta kamu hadir di pernikahan Ayah nanti.”
“Nggak. Auf nggak akan datang. Sampai kapanpun Auf nggak akan pernah setuju sama keputusan Ayah ini. Ayah benar-benar egois. Asal Ayah tahu, Auf sangat kecewa sama Ayah. Sekarang juga Auf pamit Yah. Mau ke Yogya lagi. Ayah nggak perlu nunggu Auf datang di acara nikahan Ayah.” Setelah mengeluarkan kekecewaannya, Auf keluar dan membanting pintu dengan sangat keras hingga membuat Sawitri terperanjat.
Willy terduduk lemas di kursinya. Perlahan tangan kanannya memijit pelipis yang tiba-tiba saja terasa nyeri. Meski sudah menduga Auf akan menolak, namun sikap Auf barusan tetap saja membuat hatinya terkoyak. Willy tidak mungkin menceritakan kondisi yang sebenarnya pada ketiga anaknya. Bagaimanapun, dia harus menjaga harga diri Herman dan Radha. Willy tidak mau anak-anaknya berpikir Herman telah menjual putrinya demi melunasi hutang.
***