Huek ... huek ... huek. Shafa memijat tengkuk Viona sambil menutup hidungnya sendiri. Ia sebenarnya sensitif dengan muntahan orang, tapi demi temannya, ia rela untuk menahannya. Sementara itu, Sinar pergi ke dapur untuk mengambilkan air hangat. Mama Viona baru saja keluar beberapa menit yang lalu. Jadi tidak ada orang di rumah ini selain mereka saja. “Udah?” tanya Shafa. Viona mengangguk lemas. Kemudian Shafa menuntunnya untuk kembali ke kasur lagi. “Suami lo ke mana, sih? Lama banget,” kesal Shafa. Viona tak menjawabnya. Ia memilih untuk memejamkan matanya saja karena, kepalanya terasa semakin pusing. “Beli obat ke Apotik aja lamanya ngalah-ngalahin antrian bansos,” gerutu Shafa, seraya mengoleskan minyak angin ke perut Viona. “Minum airnya dulu, Vi. Habis itu baru tidur,”

