Perlahan aku membuka mataku, seperti terbiasa dengan kepala yang sakit dan telinga yang berdengung aku menahan itu semua, berusaha mencari fokus untuk mengetahui di mana aku berada sekarang. Kudapati diriku berada di atas kasur dan di dalam ruangan berwarna pink, aku berada di dalam kamarku. Setelah aku tertidur apa yang terjadi di sini? sepertinya aku harus menemui Ken untuk mengetahui keadaan di dunia ini.
Semua pertimbangan yang harus aku pikirkan dengan hati-hati, agar dapat memilih tempat yang memang membuatku bahagia, setelah dari dunia nyata aku tidak mendapatkan banyak pertimbangan, aku hanya menemui Ales untuk mengetahui dunia barbie, orang tuaku sendiri terlalu sibuk bertengkar sampai aku tidak mereka pedulikan, semuanya hanya tertuju ke dunia barbie ini. Waktuku untuk memutuskan hanya selama 3 jam , jadi aku harus lebih memperhatikan dengan sungguh-sungguh mengenai keputusanku.
Aku berjalan menuruni tangga, dengan informasi yang kudapatkan aku akan bertemu dengan Ken, aku sudah memintanya untuk datang ke perpustakaan.
"Rachel.." suara lembut yang terdengar dari jauh memanggilku, aku segera melihat ke arah sumber suara itu. Kulihat ibuku sedang memasak sesuatu, aku merasa seperti kejadian yang terulang tapi dengan suasana yang terbiasa akan hal ini. Aku mendatangi ibuku seperti biasanya "Apakah ibu memasak makanan enak hari ini?" ucapku dengan manja.
"Tentu saja" sambil mengelus kepalaku, "Kamu kemarin bersama Ken habis dari mana saja?"
Aku terkejut, ibu memperhatikan kegiatanku "Kami dari perpustakaan." ucapku.
"Kamu terlihat buru-buru tanpa memberi tahu ibu, lain kali kamu harus bilang ya, jangan membuat ibu khawatir."
"Iya bu," dengan senyum haru, tak pernah kurasakan hal ini sebelumnya, "Hari ini aku ingin ke perpustakaan lagi dengan Ken."
"Memang apa yang kalian cari di perpustakaan?" ucapnya.
"Hanya ingin memastikan sesuatu," ucapku sambil tersenyum.
Dengan perasaan yang aneh, bercampur aduk semua perasaanku mendengar perkataan ibuku, tak pernah kurasakan sebelumnya membuatku berpikir apakah aku sanggup meninggalkan dunia barbie ini? semua kebahagiaanku berada di sini. Aku menghabiskan makanan yang dibuat oleh ibuku tanpa tersisa sedikitpun, hanya menatapnya dengan senyuman tanpa banyak berbicara, aku pergi meninggalkannya.
Ken dan aku memilih untuk bertemu di perpustakaan, aku menggunakan bus untuk pergi ke sana karena aku ingin memperhatikan orang lain, apakah ada manusia yang dapat aku kenali? mengingat ucapan Ales aku dapat mengatasinya dengan sendirinya. Dalam perjalanan banyak kutemukan barbie-barbie tapi aku masih tidak menemukan adanya manusia lainnya, sepertinya aku harus lebih membuka pikiranku. Perlahan aku menenangkan pikiran dan mulai melihat lebih dalam lagi. Aku melihat supir bus, barbie yang sedang duduk berdiam diri, barbie yang sedang menggambar sketsa, barbie yang sedang mendengarkan musik, dan barbie yang sedang mengetik sesuatu di laptop dengan tersenyum, hanya itu yang kulihat, pikiranku hanya dipenuhi dengan kata-kata barbie, manusia, kebahagiaan, dan impian hanya kata-kata itu yang terus berulang.
Aku menyadari sesuatu, aku rasa aku mengetahui sesuatu di dalam bus ini ada dua manusia, aku memperhatikan barbie yang sedang menggambar sketsa itu, dia terlihat sangat bahagia, seolah impiannya sudah menjadi kenyataan dan barbie yang sedang mengetik, dia juga seorang manusia, dia terlihat bahagia, aku rasa barbie yang memiliki impian, kebahagian dan masa lalu adalah manusia, melihat dua barbie lainnya mereka hanya bergerak seperti yang seharusnya, tidak ada jiwa kebahagiaan di dalam diri mereka. Aku tersenyum bangga dengan temuanku, aku akhirnya mengetahui bagaimana melihat manusia di sini, yang kulihat hanya kebahagiaan sepertinya itu memang keputusan yang tepat bagi mereka berada di sini.
Tanpa kusadari aku sudah berhenti di depan perpustakaan, pikiranku yang membayangkan dengan mudahnya aku menemukan manusia lainnya di sini tanpa perlu menanyakan kepada mereka membuatku sangat bahagia, kenapa aku tidak menyadari akan hal itu. Dari jauh aku mendengar seseorang memanggilku, aku berpaling ke arah sumber suara dan kulihat Ken sedang berlari ke arahku dan memelukku erat seperti sudah lama tidak bertemu.
"Aku tahu bagaimana sistem ini bergerak," ucapnya sambil melepaskan pelukan.
"Oh iya, lebih baik kita bicara di dalam," ucapku senang.
Kami berdua masuk ke dalam perpustakaan itu dan langsung menuju ke tempat paling ujung perpustakaan, tempat kami membicarakan mengenai buku kebahagiaan. Kami sudah siap mendengarkan cerita satu sama lain, aku membuka pembicaraan terlebih dahulu "Ken, aku sudah bertanya kepada temanku, bukan hanya kita manusia di sini."
"Benarkah!" dia terkejut, "Apakah kamu tahu bagaimana melihat manusia lainnya?"
"Iya, aku juga baru mengetahuinya setelah aku naik bus tadi."
"Bagaimana?"
"Barbie yang terlihat memiliki impian, kebahagiaan dan masa lalu," ucapku yakin.
"Benarkah?, kalau dipikirkan sepertinya apa yang kamu katakan ada benarnya."
"Iya kan, aku sangat yakin karena barbie sesungguhnya bergerak seperti seharusnya, Carla dan Sana, Sebastian dan Jack mereka adalah barbie yang bergerak seperti seharusnya menemani kita," ucapku.
Ken terdiam seperti memikirkan sesuatu," Sepertinya benar ucapanmu, mereka adalah barbie."
"Dan aku tahu manusia lainnya yang kukenal," ucapku.
"Siapa?"
"Hans!" sambil menatap Ken dengan yakin.
"Hans?? Kenapa??"
"Dia memiliki impian, kebahagiaan dalam menari, makanya dia seolah memiliki jiwa di dalam tariannya."
"Apakah kita harus bersama Hans memecahkan ini?" ucap Ken ragu.
"Aku rasa, aku harus bertanya kepada Hans, karena waktuku sudah tidak banyak, aku hanya ingin menanyakan bagaimana kehidupannya sekarang."
"Baiklah tapi kita harus bersama sama ya." Ken memastikan.
"Tenang saja, dan aku juga ingin mengatakan sesuatu, kata temanku hampir tidak ada yang bisa kembali ke dunia nyata ketika dia sudah mengambil keputusan, mereka diberikan kesempatan untuk memilih dunia mana yang ingin ditempati."
"Artinya kalau kamu memilih dunia nyata kamu akan meninggalkanku di sini" ucap Ken sedih.
"Tidak perlu sedih Ken, aku hanya perlu meyakinkan keputusanku, apabila keputusanku tepat maka aku akan segera memilih," ucapku dengan yakin.
"Baiklah, kalau kamu sudah memilih, kamu harus bilang kepadaku agar aku dapat bersiap-siap."
Aku tersenyum dan mengangguk ke arahnya, berharap agar Ken tidak perlu mengkhawatirkan keputusanku.
Kami berdua pergi meninggalkan perpustakaan untuk bertemu dengan Hans, kami segera menuju tempat tari, tempat di mana Hans selalu berada. Perasaanku sekarang sedang bercampur aduk, antara bahagia dan gugup, aku mendengar detak jantungku yang berdetak begitu cepat, entah apa yang aku dengar dari mulut Hans membuatku merasa sangat cemas. Apabila Hans mengatakan dia bukan manusia apa yang harus aku lakukan?, bagaimana aku harus mencari manusia lainnya di sini dan menanyakan pendapat mereka.
Aku dan Ken sudah berada di tempat tari, kami mencari keberadaan Hans di sini, kami mendatangi ruang latihan yang biasa dia pakai tapi tak menemukannya, aku dan Ken mencari hampir disemua ruangan tari tapi belum menemukan batang hidung Hans. Tiba-tiba aku melihat pintu darurat, aku memikirkan kemungkinan Hans ada di atas, bergegas aku naik ke atas dan menemukan Hans sedang menatap pemandangan dari atas gedung ini, aku yang tanpa berpikir panjang segera memanggil Hans, mendengar suaraku Hans menoleh ke arahku, dia terkejut melihat aku dan Ken yang berada di atas.
"Kenapa kalian berada di sini?" ucapnya bingung.
"Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Apa?"
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Dia terlihat bingung dengan pertanyaanku tapi tetap menjawab "Aku hanya menikmati pemandangan, melihat bagaimana bahagianya hidupku sekarang." ucapnya sambil melihat pemandangan yang ada di sana.
Mendengar ucapannya sekarang aku sangat yakin dia adalah manusia, tanpa ragu aku bertanya "Kamu manusiakan Hans?" ucapku membuat Ken terkejut dengan perkataanku
Hans tidak bereaksi dia hanya menatap ke arahku dan kemudian berpaling kembali. "Akhirnya kamu menyadarinya," ucapnya perlahan.
Mendengar ucapan Hans membuatku terkejut, seolah dia sudah lama mengetahui kalau aku juga manusia, "Sejak kapan kamu mengetahui aku manusia?" ucapku tanpa ragu.
"Sejak aku pertama kali melihat kamu, tidak ada barbie yang bereaksi seperti itu ketika melihat tarianku," ucapnya.
"Tapi kenapa kamu diam saja?"
"itu tidak terlalu penting untukku, yang penting kita berteman baik dan saling hidup dalam kebahagiaan."
Memang benar yang diucapkan Hans, yang paling penting adalah kebahagiaan, "Apakah sekarang kamu bahagia?, orang-orang di dunia nyata ada yang mencarimu?"
"Tentu saja, tidak ada yang pernah membuatku bahagia selain disini, orang-orang yang ada di sana, hmm... sepertinya tidak mungkin mereka mencariku, buktinya aku masih disini," ucapanya.
"Baiklah kalau begitu, mungkin hanya itu yang ingin kutanyakan," ucapku sambil melangkah pergi.
Dari jauh Hans berteriak "Pilihlah sesuatu yang membuatmu bahagia!" serunya.
Aku hanya tersenyum ke arahnya dan meninggalkannya pergi. Aku rasa aku telah menemukan jawaban yang aku inginkan, aku hanya harus melihat tempat yang membuatku menemukan jati diriku dan membuatku bahagia.
"Ken, aku sudah memutuskan," ucapku sambil menatap Ken dengan dalam dan Ken menatapku. "Aku akan tinggal di sini," ucapku yakin.
Ken tersenyum bahagia dan memelukku erat, dia membisikkan sesuatu ke telingaku, "Aku harap kita berdua dapat berbahagia disini," ucapnya.
Aku tersenyum mendengarkan perkataan Ken dan kutepuk punggungnya perlahan. Aku sekarang harus memikirkan bagaimana caranya kembali dan mengucapkan salam perpisahan.