Eps 17. Pertimbangan

1522 Words
Aku dan Ken hanya saling memandang satu sama lain, kami diselimuti keheningan yang cukup lama, menyadari bahwa kemungkinan bukan hanya kami manusia di sini, membuat pikiran kami bertanya-tanya apakah ini sesuatu yang baik atau tidak? apakah ada manusia sebelum kami atau akan ada manusia lainnya? ada dimana mereka sekarang? semua pertanyaan muncul didalam benakku. Seseorang datang memecah keheningan antara kami, dia menatap tajam seolah kami telah melakukan kesalahan "Mohon maaf perpustakaan sudah tutup," ucap seseorang itu dengan nada datar dan wajah yang kesal. Kami yang sadar akan perbuatan kami langsung meminta maaf kepadanya dan segera membereskan barang-barang kami kemudian pergi dari perpustakaan ini. Diperjalanan kami membicarakan mengenai keberadaan manusia lainnya. "Menurut kamu apakah ada manusia lain disini?" ucapku kepada Ken. "Sepertinya, tapi kita tidak tahu bagaimana mencari mereka kan? aku harap mereka bahagia di sini," ucap Ken sambil memandang ke arahku. "Apakah menurutmu begitu?" ucapku ragu. Ken hanya mengangkat bahunya, dia juga terlihat bingung dengan keadaan yang terjadi sekarang. "Apakah aku harus kembali ke dunia nyata, untuk mencari tahu mengenai hal ini?" sambungku. "Aku rasa lebih baik seperti itu," ucap Ken. "Apakah aku sebaiknya berada di sini saja untuk kembali ke dunia nyata," sambil memandang Ken.. "Kamu bisa memejamkan mata dan membayangkan hal yang paling membahagiakan yang terjadi di sana."  Sambil memejamkan mata "Aku rasa butuh waktu yang cukup lama untuk membayangkan hal yang membahagiakan."  "Tak apa, ada aku di sini yang membantu kamu, bayangkan saja kenangan dengan orang tuamu atau teman-temanmu," ucap Ken menenangkan. Mendengar perkataan Ken aku berusaha memikirkan kenangan-kenangan indah yang terjadi di dunia nyata, walau tidak mudah aku tetap berusaha semaksimal mungkin, tak lama kemudian aku mulai kehilangan kesadaranku sepenuhnya, kepalaku tiba-tiba menjadi pusing dan telingaku berdengung, kubuka mataku perlahan dan aku sudah ada di dalam kamarku. Aku berhasil ke dunia nyata! Aku segera bangun, mataku melihat ke arah kotak barbie di sana berhenti memperlihatkan aku dengan Ken sedang berada di dalam mobil, aku tersadar bahwa aku tidak bisa lama-lama, aku segera melihat catatanku, dan mataku terfokus ke catatan yang menunjukkan waktu yang tersisa, aku sudah kehilangan waktu selama 15 jam yang artinya hanya 9 jam waktuku tersisa, aku harus segera menemui Ales.  Aku ingin segera bergegas keluar rumah untuk mencari Ales, tapi aku harus diam-diam supaya tidak ketahuan oleh orang rumah, aku membuka pintu kamar dan mendapati kedua orang tuaku sedang berada di ruang tamu, dan kelihatannya mereka sedang bertengkar, lagi, seruku. Tanpa pikir panjang aku segera keluar rumah seolah tidak ada yang memperhatikan, aku dengan santainya pergi, dan tentu saja orang tuaku lebih memilih bertengkar daripada melihat aku pergi. Kulihat langit masih gelap, udara yang dingin dan suasana yang begitu sepi membuatku harus berhati-hati. Tapi aku rasa karena waktuku akan terasa cepat aku tidak terlalu memperhatikannya, yang kupikirkan sekarang adalah mencari di mana Ales berada?, aku tidak mengetahui di mana rumahnya? Di mana tempat yang sering dia kunjungi? dan siapa temannya?, sangat tidak memiliki arahan untuk mencari Ales. Aku rasa aku harus ke kampus, aku mengikuti kakiku melangkah pergi, tak terasa aku sudah berada di kampus dan sekarang sudah pagi, benar saja sekarang waktu terasa begitu cepat, aku baru merasakan kehilangan waktu di sini, aku segara mencari Ales dan menanyakan kepada orang-orang yang ada di kampus tapi tak satupun orang yang melihatnya, hampir ke penjuru kampus dan di lingkungan sekitar aku mencari Ales, aku tetap tidak dapat menemukannya, aku mulai kelelahan kakiku terasa lemas dan sekarang pun sudah siang, seperti ini rasanya apabila dunia hanya memiliki waktu selama 9 jam. Ditengah kepasrahanku kepada keadaan, dari kejauhan aku melihat seorang perempuan menuju ke arahku dengan santai dia menyapaku, "Hai Rachel kamu mencariku kan?" ucapnya dengan senyuman misterius. Suara yang sangat familiar di telingaku, aku segera melihat orang itu dengan memfokuskan pandanganku, ALES seruku. "Aku mencarimu kemana-mana," ucapku. "Kenapa kamu mencariku?" ucap Ales sambil tersenyum. "Aku ingin menanyakan sesuatu terkait dunia barbie, apakah benar di sana bukan hanya aku manusia di sana?" "Kan sudah kubilang itu adalah tempat di mana orang-orang mencari kebahagian dan hanya orang yang terpilih dapat pergi ke sana," ucapnya dengan nada yang terdengar sedikit menyebalkan sambil melihat kukunya. "Berarti benar bukan hanya aku?" "Tentu saja!" "Apakah mereka baik-baik saja dan kehidupan mereka di sana bagaimana?" "Aku rasa mereka baik-baik saja, aku tidak mengetahui kehidupan mereka di sana karena yang ku tahu kehidupan mereka akan menjadi sangat bahagia," ucapnya yakin. "Apalagi yang kamu ketahui tentang dunia barbie?" "Tidak banyak, hanya mengetahui apabila kalian memilih tinggal di sana, kehidupan kalian akan sangat bahagia." "Kenapa kamu tidak tinggal di sana?" ucapku curiga. "Karena aku tidak terpilih, kan aku sudah bilang hanya orang yang terpilih yang dapat pergi ke sana." Mendengar perkataannya memang ada benarnya dan sepertinya memang meyakinkan apa yang dikatakannya. "Bagaimana dengan manusia yang ada di sana, apakah mereka bisa kembali ke dunia nyata?" "Sepertinya tidak bisa, karena itu sudah pilihan mereka, tapi tidak mungkin mereka ingin kembali apabila kehidupan mereka sangat bahagia di sana," balas Ales, "Tapi apabila ada yang mengingatnya di dunia ini mungkin dia bisa kembali," sambungnya. "Apakah mungkin ada yang ingat dengan mereka?" "Hampir tidak ada, karena orang terpilih ini, hampir tidak berkesan untuk orang yang ada di dunia ini," ucapnya. "Yang artinya tidak ada pilihan lain selain berada di sana?" "Tentu saja, tapi mereka bahagia," ucap Ales dengan yakin. "Apabila aku memilih tinggal di sana apa yang perlu aku korbankan, katamu setiap pilihan pasti ada konsekuensinya kan?" "Aku rasa kamu akan sangat bahagia, kalau kamu ingin lebih yakin dimana kebahagian yang sesungguhnya aku rasa kamu harus lebih terbuka." "Lebih terbuka?" ucapku bertanya-tanya. "Jawabannya ada di diri kamu," ucapnya sambil menunjuk ke arahku. "Ada di dalam diriku?" ucapku ragu. "Waktuku sebentar lagi habis, bagaimana aku bisa melihat ke dalam diriku sendiri?" protesku. "Dalam waktu yang tersisa cukup untuk menentukan pilihanmu." "Apa yang terjadi di sisa waktu terakhirku aku datang ke dunia nyata?" "Selama waktu tersisa kamu harus menentukan pilihan, apabila kebahagiaanmu ada di sana kamu harus segera menekan tombol itu, dan apabila pilihanmu di dunia ini kamu pejamkan matamu dan pikirkan hal yang membahagiakan yang terjadi di sini, dan waktumu akan kembali seperti semua, dunia barbie akan tidak berfungsi lagi dia hanya akan menjadi mainan biasa." "Apakah aku harus mencari pilihan mana yang tepat?" "Tentu saja, kamu harus lebih terbuka." Mendengar ucapan Ales aku memikirkan untuk mencari manusia yang sudah tinggal di sana "Bagaimana mencari manusia lainnya di sana, aku hanya ingin meyakinkan apakah pilihanku benar, dan aku rasa kamu lebih banyak mengetahui dunia itu." "Yah aku rasa aku memang lebih banyak mengetahuinya, cari saja orang yang sangat bahagia dengan yang dia lakukan di sana, kamu akan mengetahuinya, manusia di sana akan merasa terhubung satu sama lain tanpa mereka sadari." "Benarkah? apakah dengan memandangnya mereka akan terlihat berbeda?" "Iya, tentu saja, sepertinya sebentar lagi akan malam, waktumu berjalan begitu cepat, aku tidak bisa terus berada di dekatmu," ucapnya. Aku memandang ke arah langit, benar saja sebentar lagi gelap "Baiklah aku akan memikirkan ucapanmu, terima kasih." "Semoga berhasil, aku harap kamu menemukan kebahagiaanmu," ucapnya sambil menjauh meninggalkanku. Aku termenung sejenak sambil memikirkan perkataan Ales, bahwa benar tidak hanya kami manusia di sana, dan aku akan mengetahuinya kalau dia adalah manusia, apakah aku pernah bertemu dengan manusia lainnya, Ken! pantas saja dia memiliki masa lalu yang menyedihkan. Aku rasa Sana dan Carla adalah barbie, Sebastian dan Jack juga barbie, orangtuaku juga barbie, siapa yang aku kenal selain mereka, “HANS!!” Tak sadar aku berteriak mengucapkan nama Hans, aku rasa Hans adalah manusia, tariannya membuatku merasakan keindahan yang nampak begitu nyata dan kulihat dia sangat menyukai tariannya, aku yakin Hans juga manusia. ... Aku berada di dalam kamarku sambil memandang ke dalam kotak itu, di dalam kotak itu kebahagiaanku tampak begitu nyata, aku memang sangat ingin tinggal di sana tapi entah kenapa hatiku masih ragu, aku takut orang tuaku khawatir. Sepertinya orang tuaku memang sumber kebahagiaan aku di sini, tapi entah kenapa sekarang mereka menjadi tidak peduli lagi kepadaku, yang kudengar setiap malam hanya pertengkaran yang terjadi. Sepertinya aku harus berbicara kepada mereka. Aku memberanikan diri keluar kamar dan mengetuk pintu kamar mereka, aku lihat hanya ibuku yang ada di dalam kamar, melihatku masuk ibuku tidak banyak bereaksi dia hanya menatapku. "Mah, ayah ke mana?" ucapku ragu. "Entahlah" cuek. "Aku ingin berbicara kepada kalian apakah ada waktu?" "Bicara saja sekarang." Aku hanya terdiam untuk beberapa saat, "Apakah kalian mencariku hari ini?" penuh harap. "Untuk apa? kamu sudah besar, kalau tidak ada yang penting sebaiknya kamu tidur, mamah sedang kesal dengan ayahmu," sambil merebahkan dirinya ke atas kasur. "Hmm baiklah selamat tidur," ucapku yang langsung pergi ke kamar dengan perasaan yang sangat sedih. Aku rasa mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri, aku rasa aku juga harus mementingkan diriku sendiri tanpa memperdulikan mereka. Aku menghadap ke arah kotak barbie itu dan bersiap untuk kembali ke dunia barbie, sekarang sudah satu hari berlalu tapi orang tuaku tidak cemas aku tidak ada di rumah seharian ini, sungguh menyedihkan.  Aku mulai memejamkan mataku dan memikirkan kenangan indah yang ada di sana dan memikirkan bagaimana menyebalkannya dunia ini, tak berselang lama aku membuka mataku dan tombol itu sudah bisa digunakan. kutekan tombol itu dengan hati-hati dan perlahan-lahan pandanganku mulai menjadi gelap.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD