Eps 12. Takut Kehilangan Seseorang

1560 Words
PoV Ken Semuanya terasa berantakan, apa yang telah kulakukan kepada Rachel, berani-beraninya aku berteriak kepadanya. Ken kamu memang orang bodoh, kenapa kamu memperlakukan orang yang kamu sayangi seperti itu, pikiranku berkecamuk dengan kejadian sore tadi. Semua ini gara-gara laki-laki itu, kenapa dia harus berjalan berdua dengan Rachel, apa dia sedang mengincar Rachel, sepertinya aku harus mencari tahu dia orang yang seperti apa. Malam yang dingin serta udara yang berhembus membuat pikiranku terasa tenang, berjalan di tengah angin malam untuk mencari udara segar, menjernihkan pikiranku agar aku dapat bertindak, aku harus membujuk rachel dan minta maaf padanya. Aku sangat takut untuk kehilangan Rachel karena hal ini, aku melepaskan semuanya untuk Rachel, aku tidak mau Rachel meninggalkan aku seperti orang tuaku yang pergi meninggalkanku. Waktu berlalu sangat cepat walaupun aku hanya mengikuti kaki melangkah, aku sudah berada di depan rumah dan berdiri tepat di depan pintu, aku memandangi pintu itu cukup lama, tiba-tiba aku memikirkan sebuah ide untuk bisa berbaikan dengan Rachel, aku harus minta tolong dengan Sana dan Carla hanya mereka yang dapat membuat Rachel kembali kepadaku. Aku segera masuk ke dalam rumah, berlari ke dalam kamar untuk menelpon Sana dan Carla. Tapi... Tunggu pikiranku menghentikanku, siapa yang harus aku telpon? Sana atau Carla, siapa yang bisa mengerti keadaanku sekarang? apakah Carla dengan ceplas-ceplosnya atau Sana yang hanya sedikit bicara, mana yang lebih baik antara keduanya?. Baiklah, aku sudah memutuskan aku harus menelpon Sana mungkin dia lebih baik mendengarkanku dari pada Carla yang kemungkinan akan menyanggah setiap ucapanku. "Tuuut...tuuut..." bunyi telpon berdering. "Halo" sahut Sana. "Halo Sana" ucapku. "Iya, Kenapa Ken?" "Aku... Mau minta tolong sama kalian, tapi...." "Minta tolong?" "Iya aku mau minta tolong sama kalian untuk dapat membujuk Rachel untuk memaafkanku" "Kalian bertengkar?" "Iya, itu semua salahku, tapi aku tidak bisa menahan rasa cemburuku melihat Rachel tertawa dengan laki-laki lain." "Apa yang harus kulakukan?" "Kau mau membantuku?" ucapku dengan nada yang penuh harap. "Aku tidak membantumu hanya ingin membantu Rachel, kalo dia bersikeras tidak mau memaafkanmu apa boleh buat." "Terimakasih banyak Sana, kalian hanya perlu membawa Rachel ke taman bermain buat dia melupakan kejadian yang terjadi denganku dan dia, aku akan mengikuti kalian, apabila ada waktu yang tepat aku akan mendatangi Rachel, bagaimana bisakan?" "Itu hal yang mudah untuk dilakukan, baiklah semoga berhasil!" "te........tittt" aku yang ingin mengucapkan terimakasih bingung melihat telpon kami yang sudah terputus. Sana memang pilihan yang tepat, tidak ribet dan langsung mengerti dengan apa yang ingin aku sampaikan. Urusan dengan Sana dan Carla sudah selesai sekarang aku harus berpikir bagiamana aku mencari tahu laki laki itu?, aku teringat ucapan Rachel, dia temannya di tempat studio dance sekaligus tetangganya.  "Heuh kebetulan yang menarik" ucapku dengan sinis. Sepertinya aku harus pergi ke rumah Rachel tanpa sepengetahuannya. ... "Aku siap untuk melakukan penyamaran hari ini." sambil memandang cermin aku percaya diri dengan diriku sendiri. Aku pergi untuk mencari rumah laki-laki itu, agar aku tahu alasan dia mendekati Rachel. Sesampainya aku di depan jalan rumah Rachel aku melihat sesosok laki-laki yang sedari tadi aku tunggu, perlahan aku mengikuti kemana dia pergi, sampai aku menemukan hal yang mencurigakan darinya, aku akan terus mengikutinya, kulihat dia masuk kedalam bis, dengan rasa perasaan dan cemburu aku mengikuti dia. Bus itu berhenti di depan studio dance yang Rachel datangi, melihatnya turun dari bus dan masuk kedalam studio itu, aku mengkutinya dari belakang, berusaha tidak ketahuan olehnya aku berada cukup jauh darinya, melihatnya masuk ke dalam studio itu aku juga ingin mengikutinya ke dalam untuk melihat aktivitas yang dilakukannya, aku berjalan perlahan dan aku hanya fokus melihat ke arahnya tanpa melihat ke sekelilingku, tiba-tiba ada tangan yang menyentuhku, membuatku sangat terkejut, aku mengira aku bakal ketahuan ternyata ada seorang penjaga yang menegurku untuk memperlihatkan kartu keanggotaanku, karena aku bukan anggota studio ini aksi membututiku berhenti di sini. Perasaanku yang sangat gelisah tidak dapat dihindari, aku merasa hubungan mereka akan terus berlanjut apabila Rachel masih datang kesini.  Kemudian aku memutuskan untuk pergi, aku akan mengikuti Rachel dan melihat keadaannya, mungkin aku harus menunggu di taman bermain itu. ... Aku menunggu di bawah pohon sambil memikirkan rencana agar Rachel dapat memaafkanku, apakah aku harus pura-pura tidak cemburu lagi dan mengerti perasaanya?, atau aku akan mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya, tapi apabila aku mengungkapkan yang sebenarnya apakah dia akan menerimaku?, seperinya berpura-pura lebih baik dari pada harus kehilangan Rachel dan ditinggalkannya seperti orang tuaku di dunia itu. Lamunanku terpecah mendengar tawa seseorang yang sangat kukenal dari kejauhan, aku mencari sumber suara itu, ku lihat Rachel dari kejauhan tertawa bahagia bersama Sana dan Carla, kakiku perlahan mengikutinya, melihat ekspresi wajahnya yang sangat ceria membuat hatiku bahagia. Hanya memandang wajahnya saja, aku sudah tidak sabar ingin bersamanya, tapi aku harus menunggu waktu yang tepat agar Rachel benar-benar memaafkanku. Tak lama kemudian aku dan Sana saling memandang dan mulai memberi kode kepada Sana agar dia mengajak Rachel ke tempat yang sepi. Sana membawa Rachel untuk bisa berbicara denganku di tempat yang lumayan sepi, aku yang sudah menantikan ini perlahan mendekati Rachel dan ku pegang bahunya, ku lihat Rachel cukup terkejut dengan kedatanganku dan aku mulai menatap Rachel dengan rasa bersalah, aku duduk di hadapannya dan minta maaf kepadanya, aku berusaha meyakinkannya agar memaafkanku, karena aku tidak ingin kehilanganya. Aku memeluknya dengan erat dan pikiranku terhenti membayangkan kehidupanku di dunia itu. ...   Masa lalu Ken Aku seorang anak yang tidak memiliki orang tua, sedari kecil aku tidak pernah melihat orang tuaku, yang kutahu aku dibuang oleh mereka di panti ini. Kehidupanku sangat dipenuhi kesialan, aku selalu di ejek oleh teman-teman di sekolahku, mereka selalu berkata kalau aku pembawa sial, orang tuaku saja membuangku karena kesialanku, hal itu yang selalu mereka ucapkan. Selama 20 tahun aku hidup, aku selalu menjadi bahan hinaan oleh orang lain, aku sudah tidak tahan untuk tinggal di dunia ini, aku merasa aku sudah tidak pantas untuk hidup lagi. Tetapi ketika aku ingin mengakhiri hidupku aku menemukan sebuah kotak yang berisi mainan barbie, tetapi di samping kotak itu bertuliskan ‘Tekan tombol merah di samping kotak, kamu akan merasakan kebahagiaan’. Melihat tombol bertuliskan kebahagiaan membuatku tanpa pikir panjang langsung kutekan tombol itu. Karena itu aku mendapatkan kebahagiaanku di dunia ini, aku bertemu orang-orang yang menyayangiku dan sangat perhatian padaku, memiliki teman bernama Jack dan Sebastian dan mereka yang mengenalkanku dengan sesosok barbie bernama Rachel dia menatapku seolah menantikan ke datanganku. Aku berbincang dengannya, dia mendengarkan semua kesedihanku selama ini, aku sudah sangat bahagia dan aku rasa aku harus berada di sini selamanya bersama Rachel, aku harus menghabiskan waktu ku di dunia itu, aku akan mencari orang tuaku dan melihat apakah mereka sengaja meninggalkanku, sepertinya aku harus memastikan itu terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Aku pergi ke dunia yang menyebalkan ini untuk dapat ke dunia barbie selamanya, sebelum itu aku harus memastikan apakah keputusanku tepat. Aku mendatangi kepala panti dan menanyakan tentang keberadaan orang tuaku, dia menyerahkan rekaman cctv kepadaku dan ku lihat di sana kedua orang yang sangat tidak memiliki perasaan membuangku, mereka meninggalkanku tanpa perasaan bersalah sedikitpun melihat itu aku sudah sangat yakin bahwa keputusan untuk meninggalkan kehidupanku di sini adalah pilihan yang tepat. Aku bergegas untuk menekan tombol power itu, sebelum bisa kutekan aku harus memiliki perasaan untuk kembali ke sana dan harapanku untuk berada di sana lebih besar supaya tombol power itu bisa di hidupkan, perlahan kututup mataku berusaha untuk memikirkan hal-hal yang indah di sana. Kubuka mataku dan melihat tombol itu sudah bisa kugunakan kutekan dan tiba-tiba kepalaku sangat sakit dan aku terjatuh pandanganku mulai kabur dan perlahan aku menutup mataku dan kehilangan kesadaranku. Aku terkejut dan terbangun di sebuah mobil kulihat aku sudah berada di depan rumah yang sangat besar kulihat dari luar ada sesosok barbie yang sangat cantik dia bernama Rachel, barbie yang membuatku ingin bertahan di dunia ini, kutatap matanya dari jauh, kulihat senyumnya yang sangat manis. Tapi aku merasa dia bukan seperti barbie yang aku lihat walaupun sudah tiga hari aku meninggalkannya di sini tapi dia sangat berbeda dari terakhir kali aku bertemu dengannya, dia lebih terasa hidup, seperti sudah menemukan kebahagiannya, apa yang terjadi selama aku tidak ada di sini, aku menghabiskan waktu dengan Rachel dan hanya memikirkan Rachel, aku tidak bisa kembali lagi ke dunia nyata, aku harus bersama Rachel tidak perduli apa yang aku yang harus kulakukan untuk selalu bersamanya.  Akhir-akhir ini kehidupan di sini terasa seolah nyata, Rachel tidak bertindak seperti barbie pada umumnya sekarang, dia seperti seorang yang sangat ingin mencari jati dirinya, dia seperti manusia, tapi apakah dia manusia sepertiku aku rasa itu tidak mungkin. Kalau benar aku rasa aku harus mempertahankannya apapun yang terjadi dan membuatnya selalu berada disisiku. ... Pikiran masa lalu ku terlintas dipikiranku sambil memeluk erat Rachel, aku sangat tidak ingin kehilangannya aku membisikan kata-kata yang dapat membuatnya terus bersamaku. Mendengarku berkata seperti itu Rachel melepaskan pelukannya dan menatapku, dia mengangkat alisnya seolah terkejut dan kemudian tersenyum kepadaku, ekspresinya menunjukkan kalau dia tidak akan meninggalkanku, aku rasa dia akan memaafkanku. "Aku memaafkanmu, aku tidak ingin kehilanganmu juga, dan aku sangat merindukanmu, aku rasa tidak akan ada lagi kesalapahaman diantara kita" ucapnya dengan penuh keyakinan mendengar itu aku sangat bahagia dan kembali memeluknya lagi. "Terimakasih rachel." ... Aku terbangun dari tidurku dan segera membuka mataku, hari ini aku harus mengikuti Rachel, aku masih belum tahu seperti apa keadaannya, Walaupun kemarin dia sudah memaafkanku dan tidak ingin kehilanganku, tapi aku harus memastikan itu. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia, aku takut....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD