Eps 11. Kesalahpahaman

1767 Words
Suasana di rumah kami menjadi sedikit sunyi, ibuku tidak banyak berbicara kepadaku setelah Hans datang, aku tidak tau kenapa alasannya, apakah ibuku tidak menyukai Hans?, atau ada sesuatu yang terjadi kepada ibuku?. Aku hanya berada di kamar hari ini tidak keluar rumah, Sana dan Carla juga tidak ada menghubungiku akhir-akhir ini. Rachel kamu sudah berada di dunia barbie, kenapa kamu masih berada di dalam kamar pikirku, apakah aku harus keluar jalan-jalan sendiri, sepertinya aku belum pernah mengelilingi dunia barbie ini.  Aku berganti pakaian bersiap untuk pergi jalan-jalan, aku akan melihat-lihat di sekeliling rumahku terlebih dahulu. Aku berjalan turun melewati tangga, dan ingin izin untuk pergi, tapi ibuku tidak ada di bawah, aku pergi ke kamarnya dan kulihat dia sedang tertidur siang, sepertinya ibu tampak kelelahan pikirku.  Aku keluar rumah sendirian untuk pertama kalinya, aku berjalan menyusuri rumah-rumah tetanggaku, warna rumah di sini tampak bagus, ada yang warna putih, biru, dan warna lainnya, sepertinya hanya rumahku yang berwarna pink, pikirku. Tidak terasa aku sudah sampai di rumah yang paling ujung, ketika aku ingin berbalik seseorang memanggilku dari belakang. "RACHEL!!!" teriak seseorang laki-laki dari kejauhan, aku berpaling mencari sumber suara itu, terlihat seorang laki-laki dari kejauhan melambaikan tangganya kepada, nampaknya itu Hans pikirku. Dia berlari ke arahku, dengan nafas yang tidak teratur dia tersenyum kepadaku, kenapa dia terasa sangat ganteng sekali, hey Rachel kamu sudah punya Ken, aku berusaha menyadarkan diriku sendiri "Hans, kamu dari mana? "Aku... Dari... Rumah" terdiam untuk menarik nafas " Dan aku melihat kamu sendirian berjalan-jalan, jadi aku pikir kamu sedang tidak ada kegiatan lagi hehe." ucapnya dengan senyum manisnya. "Rumah kamu di mana?" tanyaku dengan rasa penasaran. "Itu disana yang berwarna putih, kamu mau ke rumahku? Aku yang tidak terbiasa untuk ke rumah orang lain terkejut dengan perkataan Hans dan segera kutolak "Tidak Hans, terimakasih, aku mau jalan-jalan mengililing kota saja.” "Kalau begitu, mau aku temani, aku juga tidak ada kegiatan yang dapat kulakukan." "Kalau kamu mau boleh saja, aku mau pergi ke taman kota, apakah di sini ada?" tanyaku dengan penuh rasa harap. "Tentu saja ada, jadi hari ini aku akan jadi guide tour kamu, percaya saja kepadaku hehehe." "Baiklah, aku akan mengikutimu." Kami berdua berjalan menyusuri kota dan menuju ke taman kota, taman yang indah, dipenuhi dengan rumput hijau, tempat duduk dan lampu lampu taman yang lucu, taman kota ini tidak terlalu jauh dari rumahku. "Kita duduk di sana yuk" ucap Hans yang memecah lamunanku. "Boleh" Kami berdua duduk di kursi taman yang lucu sambil memandangi air mancur yang ada di tengah taman, kami berdua terdiam, dan tidak ada berinteraksi apapun, aku baru pertama kali bertemu dengan Hans tapi kami sudah seperti teman dekat.  "Kamu habis dari sini mau kemana lagi Rachell" seru Hans. "Sepertinya aku akan pulang, sudah cukup aku berkeliling tempat ini, sekarang sudah jam 6 sore juga, aku takut ibuku khawatir karena aku keluar tidak bilang apapun kepada ibuku"  "Baiklah kalau itu maumu." ucap hans sambil tersenyum kepadaku. "RACHEL!" dari kejauhan ada seorang laki-laki yang berteriak dengan penuh amarah, aku langsung melihat ke arah laki-laki itu , dan itu Ken, sepertinya dia salah paham tentangku dan Hans. "KENAPA KAMU DISINI? DAN SIAPA DIA? " ucap Ken dengan nada yang tinggi dan berusaha menarik tanganku.  "Kamu siapa?" sambil memegang tanganku yang satunya "Kenapa kau berteriak kepada Rachel" ucapnya menahan emosi. Aku yang bingung dan terkejut melihat raut wajah Ken yang terlihat sangat marah, aku tidak pernah melihat wajah Ken semarah ini sebelumnya. Kedua tanganku mulai sakit, tanganku di pegang mereka dengan sangat erat. "STOP, BERHENTI!" aku berteriak dan menarik tanganku dari genggaman mereka berdua. "Ken tolong dengarkan aku, dia Hans teman baruku dan Hans dia Ken pacarku, jadi kalian jangan bertengkar!" ucapku dengan nada nyaring. "Ken kamu mempermalukan aku, kenapa kamu langsung marah tanpa mendengarkan penjelasanku" ucapku dengan penuh kekecewaan terhadap Ken, sambil meninggalkan mereka berdua, aku berlari dengan cepat untuk pulang ke rumah, Ken mencoba untuk mengejarku. "Rachel aku minta maaf!" ucap Ken berusaha menghentikanku. "Pergi Ken, aku ingin sendiri dulu, kamu jangan mengikuti aku" ucapku. Ken yang mendengar perkataanku berhenti dan melihatku berlari meninggalkannya, dia tidak mengejarku lagi, sambil mengusap air mata yang keluar, aku bergegas menuju ke rumah. "BRAAK!!" Aku menutup pintu kamarku dengan sangat nyaring dan langsung ku kunci agar tidak ada siapapun yang masuk, suara pintu itu membuat ibuku terkejut dan berlari ke arah kamarku. Dia berusaha membuka pintu tapi tidak bisa, dia perlahan bertanya dari balik pintu. "Rachel ada apa? apakah kamu baik-baik saja?" ucap ibuku dengan rasa khawatir "Iya bu, aku hanya ingin sendiri, ibu tolong jangan ganggu aku ya" ucapku sambil berusaha menahan suara tangisku agar ibuku tidak khawatir. "Baiklah kalau begitu, ibu ada di kamar kalau kamu maubicara sama ibu, kamu bisa datang kepada ibu kapanpun." ucap ibu dengan suara langkah kaki yang menjauh. ... Aku terbangun dari tidurku, dengan mata sembab dan badan yang sakit, aku terlalu lelah untuk bangun, aku menangis sampai tertidur karena rasa marah dan maluku kepada Ken yang berteriak kepadaku, membuat aku terkejut akan hal itu. Supaya ibuku tidak khawatir, aku mencuci mukaku terlebih dahulu dan berusaha terlihat baik-baik saja.  Ibu melihatku turun dengan perasaan khawatir, dia menghampiriku, "Kamu baik-baik saja kan Rachel?" sambut Ibu. "Iya bu, aku baik baik saja, hari ini aku mau jalan-jalan bersama Carla dan Sana, jadi ibu tidak perlu mengkhawatirkanku" ucapku dengan tersenyum ke arah Ibu. Aku masih merasakan kekhawatiran ibuku terhadapku, tapi aku berusaha kalau aku baik-baik saja,sepertinya aku memang sudah terbiasa untuk tidak mengungkapkan isi hatiku kepada orang lain.  "Rachel...." aku mendengar suara Carla dari depan rumah, sepertinya mereka sudah sampai pikirku. Pintu terbuka dan mereka berlari ke arahku sambil memelukku, seolah-olah mereka mengerti dengan apa yang terjadi denganku, aku merasa tidak terlalu nyaman dengan pelukan mereka, aku takut ibu akan ikut mengkhawatirkanku.  "Iyaa Carla" sambil melepaskan pelukannya "Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku, aku sudah siap untuk berangkat."  "Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat, bye mommy" ucapnya sambil memeluk ibuku "ibu, aku pergi dulu" ucapku. "Iya, hati-hati kalian" dengan tersenyum ibu melihat ke arahku. ... Aku hanya termenung sepanjang perjalanan, aku yang menyarankan untuk pergi tapi aku hanya terdiam sembari menatap ke arah kaca mobil, Sana dan Carla yang melihat raut wajahku dan merasa khawatir, mereka juga tidak terlalu ribut seperti biasanya. Pikiranku saat ini hanya memikirkan Ken, kenapa dia bisa seperti itu kepadaku? apakah aku melakukan kesalahan yang besar?, raut wajahku sangat memancarkan kesedihan yang sangat dalam, berusaha menahan air mata untuk tidak keluar, tetapi tiba-tiba aku merasakan pipiku yang basah, air mataku keluar tanpa mengeluarkan suara, kesedihan yang tertutup tidak bisa menahan dirinya, apalagi saat aku diperlakukan dengan kasar oleh orang yang aku sayang memang sangat tidak enak. Sana yang melihatku memegang bahuku dan berusaha menenangkanku, tepukkan hangat dari Sana membuatku menangis dengan sangat keras, sampai nafasku sulit untuk diatur, air mata yang keluar sudah membahasahi wajahku, Sana memeluku dan mengatakan "Semua akan baik-baik saja, ini cuma salah satu jalan agar hubungan kalian akan semakin baik." Mendengar hal itu membuat air mataku perlahan berhenti, aku mulai mengatur nafas dan mulai menceritakan semuanya kepada Carla dan Sana, Carla yang ingin mendengar ceritaku menghentikan mobilnya dan berpaling ke arahku. Aku menceritakan dengan rinci awal pertemuanku dengan Hans kepada mereka tanpa meninggalkan kejadian sedikitpun, sampai aku yang tidak sengaja bertemu Hans dan kami pergi mengelilingi kota berdua. Ternyata Ken melihat kami dan dia berteriak kepadaku sampai menimbulkan perdebatan antar kami berdua. Mendengar cerita itu membuat Sana dan Carla dengan serius memperhatikanku. Jadi aku sekarang harus bagaimana?" sambil menatap ke arah mereka seolah aku meminta pertolongan. "Don't be sad, Rachel, itu hanya kesalahpahaman kalian berdua, aku rasa kalau kalian membicarakannya semuanya akan baik-baik saja" ucap Carla sambil mengelus bahuku. "Iya aku sependapat dengan Carla" ucap Sana "Baiklah aku akan mencoba menenangkan diri terlebih dahulu, nanti apabila aku siap aku akan menemui Ken." "Bagus, everything's gonna be okay." ucap Carla sambil tersenyum ke arahku, "Bagaimana sekarang kita pergi ke taman bermain untuk menghilangkan beban pikiran kamu, kamu akan melupakan semuanya dan akan merasa lebih tenang."  "Iya, lebih baik kita bersenang-senang hari ini" ucap Sana. "Baiklah" aku mengangguk setuju. ... Kami berada di taman bermain, aku berusaha melupakan kesedihanku dan ikut bermain bersama mereka, Carla yang sangat bersemangat dan berlari untuk mememasuki taman bermain itu,  dengan riang dia berusaha membuat aku terhibur, melihat tingkah Carla aku tertawa kecil, bagaimana bisa dia mengubah mood seseorang secepat itu?, Carla memang teman yang dapat diandalkan, dan Sana dia selalu berada di sampingku, menjagaku dan berusaha menenangkanku dengan caranya, karena Sana aku merasa memiliki seorang pelindung yang dapat ku andalkan.  "Guys, kita beli permen kapas ya, dan setelah itu kita akan naik wahana komedi putar, bagaimana?" ucap Carla. "Okey" jawab kami serempak. Kami bertiga membeli permen kapas, dan memakanya sambil menaiki komedi putar, kami tertawa bersama, seolah kesedihan yang datang padaku hanya sebuah mimpi, sangat menyenangkan berada di sini memiliki teman yang dapat kuandalkan, kami naik hampir semua wahana yang ada di sini, tanpa merasa kelelahan kami hanya asik dengan apa yang kami lakukan. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh, aku merasa di perhatikan diam-diam oleh orang lain, tapi setelah aku melihat ke arah lain tidak ada seorangpun yang memperhatikanku, mungkin itu hanya perasaanku saja, tapi perasaan aneh ini tetap ada. Aku berusaha tetap tenang dan menikmati wahana bersama mereka, setelah kami mencoba semua wahana yang ada kami beristirahat di bangku taman. Dari arah belakang aku merasakan seseorang berjalan ke arahku dan dia menepuk pundakku, aku yang terkejut melihat Ken dengan wajah yang sangat kacau, seolah merasa sangat bersalah atas perilakunya datang dan meminta maaf kepadaku. "Rachel.. Aku minta maaf atas perilaku kasarku kepadamu, aku tahu tindakanku tidak dapat dimaafkan, aku terlalu gegabah tanpa mendengar penjelasanmu, aku bersikap seperti itu karena aku takut kehilangan kamu, Rachel... Maafkan aku...." dengan suara yang sangat terdengar sedih Ken menatapku, dan kulihat air mata yang berusaha dia tahan. "Rachel, aku dan Carla pergi dulu ya, kami berharap kalian menyelesaikan permasalahan kalian dengan baik." ucap Sana yang tersenyum ke arahku dan memegang bahuku seolah menyemangatiku. Aku hanya membalas dengan anggukan kecil, aku kembali melihat ke arah Ken.  "Kamu kenapa melakukan hal yang sangat kasar kepadaku, aku tidak mungkin meninggalkanmu karena aku juga sayang sama kamu." Ucapku sambil menahan tangis. "Aku minta maaf Rachel, aku takkan melakukannya lagi" "Aku dan Hans hanya berteman, dia seorang penari yang sangat bagus, hanya sebatas itu Ken" "Hanya kata maaf yang bisa aku berikan Rachel, aku sungguh minta maaf." Melihat raut wajah Ken aku memeluknya "Aku memafkanmu tapi aku tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi" ucapku sambil kupeluk dia dan menepuk punggungnya perlahan, Ken kemudian juga memelukku dan membisikan sesuatu padaku.  "Rachel aku hanya memilikimu, aku takut kehilangan kamu"   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD