Perlahan aku membuka mataku, cahaya yang sangat terang membuat mataku sedikit sakit aku melihat ke sekeliling ruangan dan mendapati diriku berada di tempat yang memiliki cermin besar, lantai yang kasar dan aroma yang pernah kucium sebelumnya, ya sepertinya aku kembali ke studio dance, tempat yang tidak asing. Aku mendengar lantunan musik klasik dari suatu ruangan, seperti tersihir dengan lantunan musik klasik itu aku perlahan mencari asal sumber suaranya.
Ruangan yang terang dan ada seorang laki-laki menari dengan indahnya, aku terpana dengan gerakan yang sangat halus, tarian yang seirama dengan ketukan musik klasik, membuatnya seolah-olah jiwanya menyatu dengan musik. Musiknya berhenti dan dia mengakhiri penampilannya dengan baik.
"Prook...prook...prook...." Tanpa sadar aku bertepuk tangan dengan penampilannya seolah aku terhipnotis. "Bagus sekali, sangat indah!" ucapku tanpa sadar. Dia menoleh ke arahku, dengan tatapan bingung dan tersipu malu.
"Hehehe terima kasih telah memuji penampilanku." ucapnya.
Aku tersadar akan perilaku anehku, aku bertepuk tangan dan memujinya seolah sangat mengenalnya, aku memang bodoh tapi aku baru tahu aku bisa mempermalukan diriku sendiri. Sadar akan kesenonohanku aku segera meminta maaf, "Hah! Maaf mengganggu kamu latihan, sepertinya aku mengganggumu, aku sebaiknya pergi." ucapku sambil berpaling dan lari keluar dengan wajah merahku.
"Berhenti! tidak apa-apa, apakah kamu ada waktu? sepertinya aku baru pertama kali melihat kamu." ucapnya berusaha menghentikan aku yang ingin kabur.
Aku segera menoleh ke arahnya dan aku memang ingin berbicara dengannya dan ingin tahu bagaimana dia bisa menari sebagus itu, seolah musik itu merasuk ke dalam jiwanya. "Iya, aku baru mendaftar di studio dance ini, apa kamu sudah lama ada di sini?"
"Iya, aku sudah cukup lama berada di sini, studio ini sudah menjadi rumahku sendiri hehe." sambil menggaruk belakang kepalanya dengan wajah merahnya.
"Benarkah? sepertinya kamu memang sangat menyukai dance."
"Hehe aku memang sangat menyukainya, dance bisa menghilangkan stress dan membuat jiwaku tenang, oh iya aku belum mengetahui namamu, aku Hans, kamu?"
"Oh iya, aku Rachel, senang berkenalan denganmu." Dengan senyuman manis aku menatap ke arahnya.
"Hai Rachel, sejak kapan kamu bergabung di studio dance ini?"
"Aku.. baru.. Sekitar.. Mungkin aku baru 1 kali latihan menari" ucapku dengan ragu.
"Masih baru ya, kamu di sini latihan menari apa?" balasnya.
"Aku ikut latihan tari modern, aku sangat suka tari modern, tapi baru kali ini aku melihat kalau tari klasik sangat indah untuk di lihat." ungkapku dengan semangat.
"Kamu terus memuji aku, aku terlalu malu untuk kamu puji terus hehe." sahutnya dengan malu. "Kamu sudah latihan menari?" sambungnya.
"Sepertinya belum, kamu mau lihat, ini pertama kalinya aku memperlihatkan tarianku kepada orang lain, selain pelatih." ucapku dengan malu-malu, tetapi aku segera berdiri dan memperlihatkan tarianku yang diiringi lagu hiphop, aku menari dengan sekuat tenagaku, karena aku merasa tersaingi dengan kehebatannya, aku tau ini konyol ingin bersaing dengan orang yang sudah sering berlatih, dibandingkan aku yang hanya beberapa hari ini bergabung. Musik berhenti dan aku mengatur nafas yang cukup kelelahan dengan tarianku sendiri tapi ini sangat menyenangkan.
"Prook...prook... Prook...." Dia berdiri dan bertepuk tangan, dari raut wajahnya dia sangat suka dengan tarianku, aku tesipu malu dan merasakan bahwa aku memang berbakat di bidang yang aku suka.
"Bagaimana penampilanku, apakah terlihat bagus?" ucapku.
"Bagus sekali Rachel, aku tidak meyangka kamu baru saja bergabung di studio ini, kenapa kamu menyimpan bakatmu Rachel?"
"Hehe jadi seperti ini rasanya dipuji, aku jadi malu, mungkin seharusnya sudah dari dulu aku berada di sini ya." dengan tersenyum manis dan berusaha menutup kegembiraanku.
"Rachel bagaimana kita makan bersama setelah ini, aku ingin banyak berbincang denganmu" ucap Hans dengan penuh harap.
"Boleh, kita akan makan di mana?”
"Ada suatu tempat yang jarang diketahui oleh orang lain, tapi makanan di sana sangat enak, mau tidak?" sahutnya dengan semangat.
"Boleh, apa kita makan sekarang?" dengan semangat dia langsung berdiri.
"Iya lebih baik kita makan sekarang saja, tunggu sebentar ya aku mau ganti baju dulu." ucap Hans sambil terburu-buru dia berlari ke arah ruang ganti.
"Oke, aku tunggu."
Setelah selesai bersiap-siap, kami berdua pergi ke tempat makan yang di rekomendasikan oleh Hans, kami berjalan dari studio Dance ke tempat makan itu, karena jaraknya yang cukup dekat. Di perjalanan menuju tempat makan Hans menceritakan banyak hal mengenai studio dance, jalanan ini dan tempat makan yang akan kami datangi.
"Rachel kamu tahu tidak, kenapa aku bergabung ke studio dance itu?" ucapnya sambil menoleh ke arahku.
"Kenapa? apa yang membuatnya spesial?"
"Studio dance itu memiliki pelatih yang luar biasa, Fia, dia adalah orang yang sangat pandai menghargai orang lain, dia mengkritik tapi tidak pernah membuat siapapun tersinggung, maka dari itu aku mendaftar di studio ini, itulah kenapa ketika aku menari seolah-olah aku benar-benar menyatu dengan musik." ucapnya dengan penuh semangat
"Aku setuju" sambil menganggukan kepala "Kalau Fia orang yang sangat baik, aku bergabung ke studio itu, mungkin semua karena Fia."
"Iyakan, Fia memang orang yang sangat baik." sambil melihat sekitar, "Coba lihat toko sepatu itu, aku selalu membeli sepatu di sana, karena penjualnya sangat ramah." dengan menunjuk tangannya ke arah suatu toko.
Aku berpaling melihat ke arah yang dia tunjuk, "Oh ya, mungkin nanti aku bisa beli sepatu di sana."
"Dan ini tempatnya kita sampai." sembari berhenti dan mengarahkan kedua tangannya ke suatu toko.
Aku melihat perlahan, toko itu terlihat sangat sudah lama, interior yang terbuat dari kayu menambah kesan klasik, dan dinding yang sudah cukup banyak tertutupi oleh tanaman merambat, Hans membukakan pintu untukku dan berbunyi suara lonceng dari atas pintu itu, pemilik toko keluar untuk menyambut tamu, dia terlihat sudah cukup berumur dengan rambut putih keriting yang ditutupi dengan scraft/saputangan dan celemek yang bergantung di badannya menambah kesan ramah yang dimilikinya.
"Selamat datang!...." dengan tersenyum ramah dia menatapku, dia menoleh ke arah Hans, seolah mereka sangat mengenal "Hai Hans, apa kamu bersama dengan perempuan ini." Ucapnya.
"Hehe iya, tapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia." sahutnya berusaha tidak menimbulkan kesalahpahaman.
"Aku tidak bicara apapun." balas perempuan tua itu sembari tersenyum.
Aku dan Hans masuk ke dalam tempat itu, mataku melihat ke sekeliling tempat dan memperhatikam interior-interior yang telihat tua tetapi menambah kesan klasik yang sangat cocok untuk tempat ini.
"Bagus kan, itulah kenapa aku suka ke sini, semuanya terlihat klasik." ucapnya yang memecah pikiranku tentang tempat ini.
"Iya" menggangguk setuju. "Sepertinya aku tahu kenapa kamu suka tempat ini, suasananya sangat tenang." sambil duduk ke kursi yang terbuat dari kayu itu.
"Hehe, sepertinya kamu sudah mengenal aku." dengan tersipu malu. "Kamu akan terkesan dengan masakan di sini, sangat enak, rasanya seperti buatan rumah." ucapnya dengan rasa percaya diri.
Selang beberapa saat makanan yang kami pesan datang, aku memesan pasta dan Hans memesan sup.
"Selamat makan" ucap Hans.
Aku tersenyum ke arah Hans dan memakan makanan yang disediakan, aku sangat terkejut dengan rasanya, rasa apa ini, sangat enak, kenapa bisa seenak ini, aku baru merasakan rasa pasta yang seenak ini, sangat jauh dari ekspektasiku, aku tidak mengira akan seenak ini.
"Enakkan? kamu pasti tertarik dan akan kembali lagi ke sini." serunya dengan penuh percaya diri.
"Iya enak sekali, baru kali ini aku merasakan pasta seenak ini."
"Nanti setelah latihan, kita makan di sini lagi ya." tanya Hans dengan wajahnya.
"Boleh."
Setelah selesai makan kami berdua pergi meninggalkan restoran itu, aku berencana pulang ke rumahku, sepertinya Ken tidak menjemputku hari ini, tak apa aku bisa mencari jalan pulang sendiri ucapku dalam hati.
"Kamu pulang ke arah mana?" ucap Hans sambil menunggu bus datang.
"Aku ke arah sana."
"Oh aku juga ke arah sana, sepertinya rumah kita se arah, berarti kita akan naik bus bersama." dengan senyum yang penuh menggoda.
"Baiklah" Padalah aku belum pernah naik bus di sini, sepertinya rumah kami memang searah, tapi tidak yakin bahwa rumahku di daerah sana, aku hanya mengingat ketika Ken menjemputku dan itu melewati arah menuju rumah ku.
Bus datang tepat waktu dan kami berdua naik ke dalam bus dan duduk paling belakang, tanpa banyak bicara kami saling memandang kearah jendela bus, aku sambil terus memperhatikan jalan, kalau saja rumahku sudah terlihat, rumah barbieku memang tidak jauh dari jalan utama, sehingga di lihat dari luar sudah keliatan, karena rumah pink yang besar itu sudah pasti menandakan rumahku. Dari kejauhan sepertinya aku mulai melihat rumahku dan tepat setelah itu bus berhenti dan akupun turun, aku berbalik badan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan Hans, ternyata dia sudah berdiri di belakangku.
"Kamu lihat rumah besar itu, rumahku ada di belakangnya." sambil menunjuk kearah rumahku.
"Oh ya, rumah itu adalah rumahku, kita bertetangga ternyata."
"Ooh kamu tetangga yang baru pindah itu, aku berapa kali ingin menyapa tetangga baru, tapi kulihat kalian jarang keluar rumah, jadi aku pikir itu hanya sebatas tempat singgah."
"Hahaha kebetulan yang sangat lucu ya, tidak mungkin rumah sebesar itu hanya sebatas tempat singgah, ibuku ada di sini, apakah kamu mau ke rumahku untuk menyapa ibuku." sahutku.
"Tentu saja mau" ucapnya dengan semangat.
Aku membuka pintu rumah dan mendapati ibuku sedang memasak sesuatu yang baunya sangat harum. "Ibu aku pulang..."
"Rachel kamu pulang?" ibuku berbalik dan sedikit terkejut dengan seseorang laki-laki yang ada di sampingku. "Siapa dia Rachel?" Sambil berjalan ke arahku.
"Dia Hans, temanku di studio dance, dan ternyata dia tetangga kita." sahutku.
"Halo tante, aku Hans!" dengan tersenyum canggung.
"Oh Hans, kamu mau masuk dan makan dulu? ibu memasakan makanan enak."
"Tidak tante terima kasih, aku langsung pulang saja, mungkin lain kali aku akan ke sini lagi."
"Baiklah kalau begitu ibu tidak akan memaksa."
"Kalau begitu aku pulang dulu ya tante, Rachel aku pulang dulu ya." sambil melambaikan tangan ke arahku.
"Iya, hati hati ya."
Aku melihat Hans berjalan dari kejauhan. Aku hari ini mendapat teman baru, seseorang yang sangat menyenangkan, apakah pertemanan kami akan bertahan lama atau dia hanya penasaran denganku.