Metta jelas bingung bukan main. Ungkapan rasa yang dilakukan Aden beberapa jam lalu, masih saja membuatnya uring-uringan hingga susah tidur. Metta yang tidak tahu harus menjawab apa, malah langsung meninggalkan Ade begitu saja di depan rumah dan mentup pintu dari dalam. Metta tahu, Aden pasti kecewa padanya. Sayangnya Metta tidak punya handphone, kalau seandainya saja dia sudah memilikinya, bisa dipastikan Aden pasti akan menghubunginya berulang kali tanpa henti. Metta tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa besok di sekolah, rasanya dia tidak ingin masuk saja. Namun peringatan keras yang dialamatkan padanya oleh kepala sekolah, membuatnya tidak bisa seenaknya libur. Metta menghela napas berat, lantas memilih duduk di tepi tempat tidur sembari memikirkan jawaban apa yang harus dia ber

