"Jadi, apa yang dia lakukan hari ini?" tanya Chris kepada Mark yang baru saja tiba di ruangannya tanpa menoleh ke arah pria itu sedikit pun karena fokusnya terarah lurus pada laptop yang ada di atas meja kerjanya.
Mark mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku jasnya. Ia lalu membuka lipatannya dan mulai membacakan semua kegiatan yang dilakukan oleh Chloe dan Cleo yang sudah ia tulis di dalam kertas tersebut selama satu harian ini.
"Terakhir, Nyonya Chloe terlihat semakin cantik hari ini," ujar Mark mengakhiri laporannya seraya melipat kembali kertas catatan miliknya dan kembali memasukkannya ke dalam saku jasnya.
Chris langsung mengangkat kepalanya setelah ia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Mark. Ia lalu menatap pria itu dengan mata yang menyipit tajam, menampakkan ketidaksukaannya atas perkataannya barusan. "Coba ulangi," pintanya masih dengan pandangan yang terarah lurus ke arah Mark.
Mark berdehem pelan sebelum membuka suaranya. Ia benar-benar merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Chris. "Nyonya Chloe terlihat semakin cantik hari ini," ucapnya mengulang perkataan sebelumnya seperti yang Chris inginkan.
Chris membanting pelan pulpen yang ada di tangannya ke atas meja kerjanya lantas mendecak tak senang. Ia lalu menatap Mark dan berkata, "Aku tidak memintamu untuk memerhatikan wajahnya. Aku hanya memintamu untuk mencatat setiap kegiatan yang dilakukannya. Apa kau tidak paham?"
"Saya paham, Tuan."
Chris mendesah pelan. "Sudahlah, kau boleh keluar sekarang. Ingat, jangan pernah memerhatikan wajah Chloe lagi," perintah Chris sembari menggoyangkan tangannya untuk menyuruh Mark keluar.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu," ucap Mark dengan sopan sebelum ia keluar dari ruangan Chris.
Chris menghela napas panjang lantas mengacak rambutnya frustasi setelah Mark pergi dari ruangannya. Seminggu tak bertemu dengan Chloe dan Cleo benar-benar membuatnya nyaris berubah menjadi orang gila. Bagaimana tidak, ia harus menahan dirinya sekuat mungkin untuk tidak bertemu dengan dua perempuan yang sangat dicintainya itu di saat dirinya sangat merindukan mereka.
Setelah kejadian di mana Chloe memutuskan untuk pergi darinya dan begitu pula dengan dirinya yang juga memutuskan untuk pergi dari Chloe, sejak saat itupula ia tak pernah lagi menampakkan dirinya di hadapan Chloe maupun Cleo. Ia telah memutuskan untuk pergi dari Chloe dan ia juga harus mempertanggung jawabkan keputusan yang telah ia buat.
Ia memilih untuk pergi seperti ini bukan karena ia sudah menyerah. Ia hanya tidak ingin menambah luka di hati Chloe. Kehadirannya di hidup Chloe beberapa bulan ini sedikit banyak membuat wanita itu harus kembali merasakan luka lama yang telah dikuburnya dalam-dalam. Ia sadar akan hal itu karena itulah yang selalu ditunjukkan Chloe kepadanya. Wanita itu selalu saja menganggapnya sebagai orang asing.
Dan sekarang, ia bingung harus melakukan apa. Ia belum menemukan jalan keluar yang tepat untuk masalah yang satu ini. Di satu sisi ia ingin kembali memperjuangkan Chloe dan Cleo. Namun, di sisi lainnya ia tidak ingin lagi menambah luka di hati Chloe karena kehadirannya. Ia tidak mungkin menunggu lima tahun lagi untuk mengejar Chloe.
Sejujurnya, saat ia benar-benar yakin dengan perasaannya terhadap Chloe, tepatnya dua bulan setelah wanita itu pergi dari hidupnya, ia ingin langsung mengejar wanita itu. Tetapi, sialnya ada urusan lain yang membuatnya harus menahan dirinya untuk tak mengejar Chloe saat itu juga.
Perselingkuhan ibunya membuat keluarganya menjadi kacau. Keluarga dari ayahnya yang masih keturunan kerajaan Inggris membuat keluarganya merasa malu. Saat itu, neneknya meminta dirinya dan ayahnya untuk pergi dari Inggris sementara waktu agar aib yang telah dibuat oleh ibunya tidak diketahui oleh keluarga inti yang nantinya ditakutkan akan membuat negara ini menjadi heboh karena ada bagian dari keluarga kerajaan yang melakukan hal memalukan seperti itu.
Ia menghabiskan waktu kurang lebih tiga tahun di negara lain bersama ayahnya. Dan tiga tahun itu ia habiskan dengan sebongkah penderitaan yang hampir membuatnya bunuh diri kalau saja ayahnya tidak menahannya. Bagaimana ia tidak ingin bunuh diri, ibunya yang selama ini sangat dicintainya ternyata berkhianat. Bukan hanya itu saja, kepergiannya yang mendadak itu membuatnya tidak bisa mengejar Chloe dan berujung pada dirinya yang mulai depresi.
Tiga tahun itu merupakan tahun terburuknya. Dan setelah ia kembali ke Inggris, ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Rasanya ia sudah tidak punya semangat untuk hidup lagi. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna.
Dan saat ia kembali ke Inggris, ia diberitahu oleh neneknya bahwa ibunya sudah meninggal. Bukan meninggal dalam artian yang sesungguhnya, neneknya hanya ingin menutupi aib yang telah dibuat ibunya dengan menyebar kabar tersebut. Dan hal itu sudah mendapat izin dari keluarga inti yang memang sudah mengetahui tentang perselingkuhan ibunya.
Mengingat hal itu, ia tidak tahu bagaimana reaksi keluarganya saat mengetahui bahwa dirinya telah menghamili seorang wanita dan sekarang ia sudah mempunyai anak yang berumur lima tahun. Entahlah, mungkin ia akan langsung di deportasi dari Inggris dan setelahnya ia akan dibuat seolah-olah dirinya sudah meninggal untuk menutupi aib keluarga.
Semua lamunan Chris tentang masa lalunya yang begitu kelam langsung buyar ketika sekretarisnya meminta izin untuk masuk. Ia lalu mempersilakan sekretarisnya untuk masuk.
"Maaf, Tuan. Ada yang ingin bertemu dengan Anda."
"Siapa?"
"Chloe. Dia bernama Chloe."
Chris langsung bangkit dari duduknya karena begitu terkejut mendengar kabar bahwa Chloe datang ke kantornya untuk bertemu dengannya. "Bawa dia ke sini sekarang juga," perintahnya langsung.
"Baik, Tuan. Saya akan menyuruh bagian resepsionis untuk mengantarnya ke ruangan Anda," ucap sekretaris Chris sebelum keluar dari ruangan bos-nya itu.
Chris kembali duduk di kursinya dengan jantungnya yang sudah berdetak tak karuan. Satu minggu lamanya ia menahan dirinya untuk tidak menemui Chloe, dan sekarang, wanita itu sendiri yang ingin bertemu dengannya. Hal itu langsung menimbulkan percikan kebahagiaan di dalam hatinya.
Chris kembali mendengar pintunya yang diketuk sebanyak dua kali sebelum sekretarisnya kembali muncul di hadapannya. Namun, kali ini wanita itu tidak sendirian, ada Chloe di sampingnya. Setelahnya, sekretarisnya pamit sehingga hanya menyisakan Chris dan Chloe saja.
Chris menahan napasnya selama beberapa detik begitu ia melihat Chloe yang sudah seminggu ini tidak dilihatnya. Ternyata benar apa yang dikatakan Mark, wanitanya itu semakin cantik saja. Dan kini, rasa rindunya terhadap Chloe langsung memenuhi dadanya. Ia lalu berdehem pelan lantas bangkit dari duduknya dan memilih untuk berdiri di hadapan Chloe.
"Ada apa?" tanya Chris sambil berusaha menahan dirinya untuk tak melakukan hal bodoh yang mungkin akan membuat Chloe semakin membencinya, memeluk atau mencium wanita itu misalnya.
"Kembalilah," jawab Chloe dengan wajah datarnya.
Satu kata itu berhasil membuat Chris terkejut bukan main. Walaupun Chloe mengatakannya tanpa ekspresi apa pun di wajahnya, tetapi ia tahu jelas apa maksud dari kata tersebut.