Bab 13

1498 Words
Chloe membuka matanya secara perlahan. Ia mendesis pelan ketika rasa sakit tiba-tiba saja mendera bagian kepalanya. Ia lalu memijatnya dengan pelan untuk meredakan rasa sakit itu walau hanya berkurang sedikit. Tangannya menjadi sedikit basah ketika memijat keningnya karena keringat membasahi sekitar keningnya. Namun, ia merasa kalau suhu tubuhnya sudah sedikit menurun yang artinya demamnya sudah mulai membaik. Ia ingat apa yang terjadi dengannya sebelum ini. Ia menangis terlalu lama dengan pikiran yang terus berkecamuk di dalam kepalanya sampai-sampai membuat tubuhnya menjadi drop seperti ini. Dan ia juga ingat siapa orang yang menolongnya. Namun, ia tak terlalu memedulikannya karena itu bukan urusannya. Chloe bangkit dari tidurnya dan memilih untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat. Namun, ia merasa seperti ada sesuatu yang jatuh dari tubuhnya ketika ia bangkit. Sejurus kemudian, ia langsung menoleh ke sisi ranjang sebelahnya dan matanya langsung membelalak lebar begitu menemukan Cleo yang ternyata ikut tidur bersamanya. Namun, bukan itu yang membuatnya menjadi sekaget itu. Ia seperti itu karena di sebelah Cleo, ada seorang pria yang juga ikut tidur bersamanya dengan posisi memeluk putrinya. Chloe menelan ludahnya kelu. Entah kenapa, pemandangan yang sangat langka seperti itu membuat hatinya mendesir hangat. Ia tak pernah melihat Chris tidur dengan Cleo. Dan kali ini, rasanya ia ingin menjerit senang melihat Chris yang tidur dalam posisi seperti itu yang malah terlihat kalau pria itu sangat menyayangi Cleo. Sambil menahan senyum yang sudah ingin keluar dari tempatnya, Chloe beranjak dari atas ranjangnya dengan perlahan untuk menuju ke kamar mandi. Ia membiarkan kedua orang itu tetap tidur dalam posisinya masing-masing karena ia merasa kalau mereka berdua lelah karena sedari tadi terus menungguinya. Dan ia tidak mengusir Chris hanya karena kasihan dengan pria itu, tidak lebih. Setelah selesai membersihkan dirinya, Chris dan Cleo belum juga bangun. Keduanya masih betah tidur dengan posisi yang tak berubah sama sekali. Dan hal itu tanpa sengaja membuat Chloe tersenyum geli. Rasanya lucu saja melihat mereka seperti itu. Chloe langsung beranjak ke dapur setelah ia berdandan seadanya. Tetapi sebelumnya, ia menyempatkan diri untuk menutup jendela apartemennya terlebih dahulu. Dan setelahnya, ia langsung memasak untuk Chris dan Cleo yang mungkin akan merasa lapar saat bangun nanti. Dapur apartemen Chloe penuh dengan suara benda yang saling bergesekan serta siulan riang yang terdengar dari mulutnya. Entah kenapa kondisi hatinya saat ini mendadak menjadi secerah ini. Padahal, sebelumnya ia sempat menangis berlarut-larut sampai membuat tubuhnya drop. Ia tak tahu pasti apa penyebabnya. Namun, ia menduga kalau kondisi hatinya yang seperti itu dipengaruhi oleh apa yang ia lihat saat bangun tadi. Entahlah, ia tidak mau menyimpulkannya langsung. "Kenapa kau memasak?" Chris tiba-tiba saja sudah berada di dapur dan langsung bertanya dengan nada khawatir yang begitu kentara. Ia begitu panik saat tak menemukan Chloe di atas ranjang saat bangun tadi. Chloe tersentak kaget saat Chris menegurnya dengan suaranya yang cukup kuat. Chris langsung melepaskan semua benda yang saat itu sedang dipegang oleh Chloe. "Demi Tuhan, kau masih dalam kondisi sakit," katanya seraya memegang kedua tangan Chloe lantas menatapnya dengan panik dan cemas. Chloe awalnya hanya diam sambil terus menatap Chris dengan bingung. Namun, sejurus kemudian ia langsung menyentakkan tangannya saat sadar bahwa Chris sedang ikut campur dengan urusannya. Dan ia benci ketika pria itu mencampuri urusannya. Chris hanya orang asing yang tak boleh sedikit pun mencampuri segala urusannya, begitu menurutnya. "Bukan urusanmu," ucap Chloe dengan datar dan dengan wajah yang tak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia lalu kembali melakukan apa yang sebelumnya ia lakukan tanpa mengindahkan omongan Chris sebelumnya. "Chloe, aku mohon. Aku bisa memesankan makan malam untukmu." Chloe membanting pisau yang sedang dipegangnya di atas meja dapur sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Ia lalu menatap Chris dengan tatapan nyalangnya lantas berkata, "Pergilah. Kau sudah terlalu lama berada di sini. Kau bahkan sudah memasuki wilayah yang seharusnya tidak boleh kau masuki." Apa yang Chloe katakan barusan sangat berbeda dengan apa yang ia rasakan saat ia menemukan Chris dan Cleo yang tidur dengan posisi yang begitu manis. Dan sekarang, ia menyesal karena merasa senang akan hal itu. Ia merasa sangat bodoh. Seharusnya ia langsung mengusir Chris, bukan malah membiarkannya semakin dekat dengan Cleo. Chris tersenyum getir. Lagi, untuk kesekian kalinya ia kembali mendapatkan penolakan yang begitu menyakitkan dari Chloe. Dan untuk kesekian kalinya pula, ia merasa kalau ia memang pantas mendapatkannya. "Aku akan pergi. Tapi aku mohon, jangan melakukan apa pun sampai kau benar-benar sembuh. Kau masih bisa mengandalkanku." Chloe mendengus sinis seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dengan mata yang menatap Chris dengan tajam. "Dan kau pikir aku sudi untuk mengandalkanmu? Jangan harap. Kau hanya orang asing di sini." Chris kembali tersenyum. "Aku hanya minta itu. Aku pergi dulu kalau begitu," katanya seraya bergegas untuk kembali ke apartemennya. Chloe menatap punggung Chris yang menjauh dengan tangan yang terkepal erat di sisi tubuhnya dan wajah merah padamnya akibat amarah serta rasa sakit yang menggumpal dalam dadanya. "Daddy! Jangan pergi!" Setelah Chris benar-benar menghilang dari pandangannya, Chloe mendengar suara Cleo yang sepertinya sedang menahan Chris untuk tidak pergi. Ia lalu segera menghampirinya. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu agar Cleo tak terlalu bergantung kepada Chris. Kalau begini terus, ia bisa gila. "Cleo, biarkan dia pergi," ucap Chloe dengan lembut saat ia melihat Cleo yang sedang memeluk Chris dengan posesif. Cleo melepas pelukannya lantas berbalik untuk menatap Chloe. "Mommy, biarkan Daddy di sini. Daddy tahu caranya merawat Mommy." "Mommy sudah sembuh, Cleo." "Tapi, Mommy..." "Mommy bilang biarkan dia pergi, Cleo!" potong Chloe langsung dengan bentakannya yang berhasil mengagetkan Chris serta Cleo. Cleo langsung menjauhkan tubuhnya dari Chris lantas berjalan mendekat ke arah Chloe sambil menatap Chloe dengan takut. Sementara Chris, pria itu langsung bangkit berdiri lantas menatap Chloe dengan tatapan tak percayanya. Berbeda dengan Chloe yang langsung memejamkan matanya sejenak karena menyesali bentakannya kepada Cleo barusan. Wanita itu yakin kalau Cleo pasti takut dengannya. Amarahnya terhadap Chris benar-benar berdampak buruk bagi dirinya sendiri. "Tidak perlu membentak Cleo seperti itu. Aku akan tetap pergi," ucap Chris dengan nada suaranya yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap apa yang Chloe lakukan kepada Cleo. Chris berjalan mendekat ke arah Cleo lantas berjongkok di hadapan gadis kecil itu. Ia lalu menunjukkan senyum lembutnya. "Daddy pulang dulu, sayang. Kalau ada sesuatu yang terjadi, kau tahu di mana kau harus menghubungi Daddy," ucapnya kemudian seraya mengacak rambut Cleo sebelum beranjak pergi. Chloe langsung mengambil duduk di sofa yang ada di ruang tv saat Chris tak terlihat lagi di matanya. Tubuhnya benar-benar terasa lemas. Penyesalan langsung menyeruak masuk ke dalam dirinya atas apa yang telah ia lakukan kepada Cleo. Ia tak mengerti kenapa ia bisa sampai kelepasan seperti itu. "Seharusnya aku tetap tinggal bersama Jordan dan Lori," lirih Chloe lantas mengusap wajahnya dengan kasar. "Mommy, I am sorry," ucap Cleo dengan suaranya yang terdengar takut. Chloe menatap Cleo dengan tatapan bersalahnya. Ia lalu menarik Cleo ke dalam pelukannya. "Tidak. Kau tidak salah. Mommy yang salah. Maafkan Mommy, sayang. Maafkan Mommy." Chloe memeluk Cleo selama beberapa menit sebelum ia melepaskannya. Ia lalu memegang kedua pundak Cleo lantas menatap lekat putri kecilnya itu. "Cleo, dengarkan Mommy baik-baik. Kau tidak boleh terlalu dekat dengan Daddy-mu. Dia bukan Daddy kandungmu, sayang. Kau hanya punya Papa, dan itu adalah Papa Jordan. Kau tidak punya Daddy. Kau harus ingat itu." "Tapi, Mom..." "Please, Cleo." Cleo akhirnya mengangguk dengan perlahan walaupun anggukannya terlihat ragu. Namun, itu sudah cukup membuat Chloe bisa bernapas dengan lega. "Kalau begitu, bantu Mommy mengemas barang-barang kita. Kita akan kembali ke rumah Papa dan Mama-mu, sayang," ucap Chloe dengan lembut seraya menarik lengan Cleo. Dan Cleo hanya menurut saja karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Chris yang sebenarnya masih berada di apartemen Chloe, mencuri dengar percakapan antara Chloe dan Cleo. Ia memang memutuskan untuk tidak pergi terlebih dahulu karena ada sesuatu yang menahannya untuk pergi. Dan sekarang, ia tahu untuk apa sesuatu yang tak jelas itu menahannya untuk tetap tinggal. Chris menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia mengulas senyum getir di bibirnya sembari memegang dadanya yang sejak tadi tak berhenti berdenyut sakit. Chloe memutuskan untuk kembali pergi darinya. Wanita itu bahkan mengatakan kepala Cleo kalau ia bukanlah ayah kandungnya. Dan hal itu benar-benar melukai hatinya. Namun, lagi-lagi ia menganggap kalau ia memang pantas mendapatkannya karena lima tahun yang lalu, ia pernah menolak untuk mengakui Cleo sebagai darah dagingnya dengan begitu kejamnya. Tetapi, apa harus Chloe mengatakan hal seperti itu kepada anak berumur lima tahun yang sangat mengharapkan kehadiran seorang ayah di dalam hidupnya? Ia tahu kalau dirinya sudah sangat terlambat untuk menyesali semuanya. Tetapi, apa kesungguhan yang ditunjukkannya selama beberapa bulan ini belum cukup untuk membuat Chloe mau kembali menerima dirinya? Chris menghela napas panjang. Ia lalu beranjak dari posisinya untuk pergi dari apartemen Chloe. Dan mungkin ia juga akan pergi dari hidup Chloe. Ia sadar kehadirannya di hidup Chloe membuat wanita itu merasa tertekan. Apalagi sikapnya yang di luar dugaan selalu berhasil menambah luka di hati Chloe. Mungkin ia memang harus berhenti. Chloe dan Cleo akan lebih bahagia tanpanya, sama seperti lima tahun belakangan ini sebelum ia hadir di dalam hidup mereka. Lagipula, Chloe juga memutuskan untuk pergi darinya. Dengan begitu, mereka sama-sama memutuskan untuk pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD