Chapter 7

1383 Words
Beberapa bulan berlalu … Tubuh Lamia terlihat lebih berisi, ya … ia sedang mengandung anak dari salah satu pria di dalam rumah sakit jiwa itu. Entah siapa yang menjadi ayah kandung anak itu, Lamia hanya bisa meratapi nasib buruknya di dalam kamar. Satu malam, Lamia terbangun karena suara pintu yang terbuka secara kasar. Lamia tersentak saat pria yang masuk ke dalam kamarnya memaksanya membuka kakinya lebar-lebar. Ia langsung memasukkan kejantanannya ke dalam pusat gairah Lamia dengan kasar. “Akh! Apa yang kau lakukan?” tanya lamia, kesakitan. “Diam! Karena kalah minum, aku harus bisa memasukkan milikku ke dalam sana.” “Akh! Aku tengah hamil, dan kau melakukannya dengan kasar!” protes Lamia. “Aku sudah katakana untuk diam! Kenapa kau terus saja mengoceh! Aahhh … ini sangat nikmat.” “Uhm … aahh, aku mohon hentikan, itu sakit. Kau menyakiti bayi di dalam sana, aahh.” Tidak peduli, pria yang tengah mabuk itu melakukannya dengan kasar. Ia bahkan tidak peduli saat kewanitaan Lamia mengeluarkan banyak darah. “Apa ini?” tanya pria itu. “Sakit! Akh! Perutku … anakku … tolong, panggilkan dokter!” keluh Lamia. Setelah pria itu mengeluarkan carian miliknya, ia membenarkan posisi Lamia hingga berbaring dengan benar. Melihat darah yang tidak kunjung berhenti keluar, pria itu akhirnya memanggil seorang dokter untuk menangani Lamia. “Ada apa?” tanya dokter yang sedang berjaga malam itu. “Sepertinya wanita di dalam kamar VIP mengalami pendarahan,” jelasnya. “Apa?” Dokter itu dengan segera berlari ke kamar Lamia. Saat sampai di depan kamar Lamia, ia melihat darah sudah mengotori seprai putih di sana, dan sebuah gumpalan keluar dari liang kewanitaan Lamia. “Tolong … dokter, tolong aku!” “Sial! Dia mengalami keguguran, apa yang kau lakukan padanya bodoh!” omel dokter itu. Tidak ingin disalahkan, dokter itu dengan segera memanggil beberapa suster untuk membantunya menangani Lamia. Dokter itu memastikan kondisi tubuh Lamia yang mulai lemas. Ia mencoba menghentikan pendarahan yang terjadi. Gumpalan janin berwarna merah yang sudah berbentuk seperti bayi mungil itu harus segera di kuburkan, karena nyawanya tidak tertolong. Lamia hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan airmata. Dokter itu juga berhasil menghentikan pendarahan, dan kini Lamia membutuhkan donor darah untuk menggantikan darah yang terbuang sia-sia. “Nona, maaf … anakmu tidak selamat.” Mendengar penjelasan dokter itu, Lamia hanya bisa terdiam dan menatap sang dokter dengan wajah datar. Selesai menangani Lamia dan memastikan kondisi wanita itu telah stabil, dokter dan dua perawat lainnya berjalan keluar dari dalam kamar itu. “Kenapa mereka tidak membunuhku saja?” gumam Lamia. Hari berganti hari … Bulan pun telah berganti … Hingga satu tahun berlalu … Lamia masih tetap berada di dalam kamar itu. Tidak ada yang berkunjung ke sana, bahkan Penelope tidak peduli apa saja yang terjadi pada keponakannya selama di dalam rumah sakit jiwa. “Sudah berapa lama aku berada di sini?” tanya Lamia pada seorang pria berpakaian putih. “Satu tahun lebih dua bulan, Nona,” ungkapnya. “Tidak ada yang pernah berkunjung kemari selain kalian. Dan sekarang aku sudah terbiasa dengan perlakuan yang kalian berikan. Aku bahkan langsung melepaskan kain bodoh ini saat kalian masuk.” Mendengar ocehan Lamia, pria itu tersenyum dengan meremas bagian d**a Lamia. Lamia yang kini telat terbiasa dengan perlakuan para pria di dalam rumah sakit jiwa itu, merasa seperti w************n yang ada di dalam kelab malam. “Nona, kau kini telah berubah,” ujarnya. “Ya … aahh, sebaiknya kau mulai memasukkan milikmu.” Pria itu tidak membuang waktu, sebelum sang dokter datang untuk bersetubuh dengan Lamia, ia harus segera menyelesaikan kegiatannya itu. “Ahh … masih sama seperti sebelumnya,” ujar Pria itu. “Ahh … lebih dalam lagi, aahhh … yeah, seperti itu, terus … aahhh.” Mendengar desahan Lamia, pria itu semakin bersemangat dan menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Hingga akhirnya ia mengeluarkan cairannya di dalam tubuh Lamia. “Aku selesai, Nona. Terima kasih.” “Ya, kau bisa pergi sekarang. Aku akan membersihkan diri, karena beberapa menit lagi sang dokter akan datang bersama perawatnya untuk membersihkan tempat ini.” Pria itu kini melangkah keluar dari kamar Lamia, dan wanita itu mulai membersihkan dirinya pada kamar mandi yang ada di dalam sana. “Para pria itu selalu datang secara bergantian. Mereka bahkan tidak membiarkan aku beristirahat dalam sehari. Aku lelah harus mengeluarkan cairanku setiap hari,” gerutu Lamia. Selesai dengan kegiatannya, seorang perawat wanita masuk ke dalam kamarnya. Melihat Lamia yang sudah bersih dan wangi, tugas perawat itu lebih ringan saat ini. ia tersenyum menyapa Lamia, lalu mulai membersihkan seprai di atas ranjang. Ranjang Lamia kini berganti dengan ukuran queen size. Seorang dokter mengganti ranjang itu karena ia selalu menginap di dalam kamar itu setiap hari sabtu. Dan kamar Lamia kini terlihat berbeda dan jauh lebih sedap dipandang mata. Lamia tengah mengenakan sebuah lingeri hitam, sesuai dengan keinginan sang dokter. Di dalam kamar Lamia terdapat sebuah lemari pakaian, dan isinya hanyalah lingeri dan beberapa dalaman yang mampu menaikkan gairah pada pria yang ingin dipuaskan olehnya. Mereka tidak pernah membayar Lamia dengan uang, tetapi mereka memberikan beberapa barang untuk Lamia gunakan di dalam kamar itu. setelah Lamia siap dengan penampilannya, dan perawat di sana selesai melakukan tugasnya. Beberapa menit kemudian, seorang dokter yang selama satu tahun ini selalu memastikan kesehatan Lamia datang dengan senyum manisnya. Pria itu memang terlihat tampan, tetapi … dibalik ketampanan itu, ia sangat kejam jika sedang di atas ranjang. Pria yang sudah memiliki seorang istri dan dua anak itu, selalu ingin dipuaskan oleh Lamia pada hari sabtu malam hingga minggu pagi. Pria itu akan melakukannya tanpa henti, dan meski sudah selesai, ia hanya membutuhkan beberapa menit untuk kembali dalam keperkasaannya. Dia selalu mengkonsumsi obat, bahkan Lamia juga harus meminum obat itu untuk menjaga staminanya. “Minum!” titah dokter itu. Lamia tersenyum lalu meraih gelas kecil berisi cairan bening yang memiliki kandungan untuk menambah stamina. Setelah beberapa menit meminum cairan itu, tubuhnya yang sudah terasa panas kini mulai bergerak sesuai perintah dokter bernama Luke itu. Lamia mendekati Luke dan duduk di atas pria bertubuh kekar itu. satu persatu kancing pakaian Luke terlepas karena ulah Lamia. Dan dia membiarkan wanita itu beraksi seperti biasa. Setelah membuka pakaian Luke, kini Lamia berpindah pada bagian bawah pria itu. Celana hitam itu kini terlepas, dan memunculkan sesuatu yang sudah berdiri dengan sempurna. Dengan lihai Lamia memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. Lidahnya menjulur dan menjilati benda tumpul itu. “Ehm … ehm.” “Ahh … kau semakin mahir, Nona. Lihatlah … ahh, aku sangat menikmati permainanmu saat ini,” puji Luke pada Lamia. Setelah beberapa menit Lamia mengulum kejantanan milik Luke. Kini ia naik ke atas pangkuan Luke, dan memasukkan kejantanan pria itu ke dalam liang senggamanya. “Ahh … milikmu sangat panjang dan memenuhi liang milikku, Tuan.” Mendengar pujian yang dilontarkan Lamia, pria itu menyeringai. Tangan Luke menarik rambut Lamia hingga mendongak, lalu Luke mulai menjilati bagian d**a Lamia dan meninggalkan bekas kemerahan di sana. “Tubuhmu juga sangat nikmat, Nona … kau sangat menggoda akhir-akhir ini,” ujar Luke. Lamia menggerakkan tubuhnya, mencari kenikmatan dengan memejamkan matanya. Desahan Lamia menggema di dalam kamar itu, hingga membuat beberapa pasien terganggu. “Sepertinya aku harus memasang kedap suara di dalam kamar ini,” gumam Luke. “Tuan, aku akan sampai.” Mendengar ucapan Lamia, Luke ikut menggerakkan tubuhnya. Dan bibirnya mengigit puncak d**a Lamia, hingga wanita itu terpekik. “Akh … Tuan, kau mulai nakal.” Kegiatan itu berlanjut, Luke menurunkan tubuh Lamia. Lalu ia berjalan menuju lemari pakaian Lamia. Luke terlihat mengambil collar dengan rantai panjang yang terhubung pada lingkaran sabuk untuk tangan. Ya … pria itu memasangnya pada leher dan lengan Lamia. Dokter itu juga mengambil sebuah cambuk untuk mencambuk tubuh Lamia. “Ehm … kau akan melakukan gaya itu?” tanya Lamia. “Kau suka?” “Ya, maka lakukanlah dengan segera!” Mendengar perintah dari Lamia, Luke kini melakukan b**m pada Lamia. Ia melukai tubuh wanita itu sebelum memasukkan miliknya ke dalam liang itu lagi. “Akh!” Kali ini … bukan desahan yang terdengar, melainkan jeritan dan suara kesakitan dari bibir Lamia. “Ya … terus menjerit, aku sangat suka dengan suaramu, Nona.” Setelah puas menyiksa Lamia, Luke mulai memasukkan miliknya pada liang gairah milik Lamia. Pria itu bergerak dengan kasar, dan terus memompa tubuh Lamia hingga cairan putih kentalnya memenuhi rahim Lamia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD