Chapter 6

1218 Words
Lamia kini hanya bisa menerima takdirnya yang begitu mengerikan. Ia hanya bisa trdiam di dalam sebuah kamar lembab dengan ranjang kecil dan kamar mandi yang terbuka dalam kamar itu. beberapa kali ia harus menutup telinga karena mendengar teriakan dan tangisan dari beberapa orang yang tinggal di samping kamarnya. “Mommy … Daddy … aku merindukan kalian.” Kriet … Ceklek Terlihat seorang pria memasuki kamar Lamia dengan membawa makanan untuk dirinya. “Waktunya makan, Nona Lamia.” Lamia melirik pria itu dari ekor matanya, lalu ia membuang muka dan tidak peduli dengan kehadiran pria itu. “Akh!” pekik Lamia saat rambutnya ditarik. Pria itu memperlakukan Lamia dengan kejam, bahkan ia tidak segan-segan untuk memukul Lamia jika tidak menghiraukannya. “Cepat makan!” seru pria itu. “Tidak! Aku tidak mau makan, makanan itu rasanya seperti sampah, dan membuat sakit perut.” “Kau selalu membuat pekerjaanku semakin sulit saja Nona.” Pria itu menyeret Lamia untuk duduk dan memakan makanannya. Dengan memaksa Lamia memakan makanan itu, ia justru membuat Lamia memuntahkan seluruh isi perutnya. “Sial!” Pria itu kembali menarik tubuh Lamia dan direbahkannya di atas ranjang. Ia membuka bagian bawah pakaian Lamia dengan kasar, dan membuangnya ke sembarang arah. “Tidak! Jangan!” teriak Lamia. Pria itu tidak memberikan aba-aba, ia langsung menurunkan celananya dan memasukkan miliknya ke dalam pusat gairah milik Lamia. “Akh! Sakit!” pekik Lamia saat bagian intimnya terasa penuh. Pria itu terus menggerakkan pinggulnya, hingga cairan kental miliknya keluar dan memenuhi bagian dalam milik Lamia. “Ahh … seperti ini lebih baik, aku sangat beruntung karena menjadi penjagamu, Nona. Milikmu terasa lebih sempit dari milik Pasien lain.” Setelah memuaskan dirinya, pria berpakaian putih itu keluar dari kamar Lamia. Lamia hanya bisa menangis meratapi nasibnya di sana. Ia harus melayani nafsu beberapa perawat pria yang sedang mengantar makanan untuknya. Dan hal itu terus terjadi selama Lamia masih ada di rumah sakit jiwa itu. “Aku ingin mati.” Lamia meringkuk di bawah ranjangnya, dengan tubuh yang sudah berbau tidak sedap. Ya … selama beberapa hari di sana, Lamia tidak menyentuh air sedikitpun. Ia tidak membersihkan tubuhnya di sana, bahkan kamar itu mulai terlihat banyak sisa cairan dari pria yang tidak bertanggung jawab. “Mommy … berikan aku pelukan hangatmu,” gumam Lamia. Gadis itu kini semakin terlihat tidak terurus, rumah sakit itu memperlakukannya dengan kejam dan tidak berperikemanusiaan. Beberapa kali Lamia merasakan sakit pada bagian bawahnya, dan hal itu membuatnya kesulitan untuk berjalan. “Akh! Sakit sekali ….” Lamia mencoba untuk naik ke atas ranjang, dan berbaring di atas sana. Tetapi … baru saja ia akan memejamkan matanya, seorang dokter masuk ke dalam kamar itu. “Selamat sore, Nona.” Mendengar suara dokter itu membuat Lamia tersentak. Dalam hatinya sangat takut, karena perlakuan dokter itu lebih kejam dari pada perawat yang datang. “Hmm, sudah waktunya kau untuk membersihkan diri,” ujar pria berjas putih itu. Pria itu menjentikkan jarinya hingga ada tiga wanita datang untuk bertugas. Mereka memiliki tugas untuk memandikan Lamia dan juga membersihkan seluruh isi kamar. Jika hal itu terjadi, bisa dipastikan bahwa Lamia harus melayani dokter itu malam ini. “Aku tidak mau!” teriak Lamia. Lamia mencoba memberontak dan tidak ingin dimandikan. Saat sang dokter mendekatinya dan berbisik tepat di telinga Lamia, akhirnya Lamia bisa tenang dan menurut pada wanita yang kini menggosok tubuhnya hingga bersih dan wangi. *** Lamia terlihat cantik mala mini, seluruh isi kamarnya juga sudah bersih dan tidak ada bau busuk di sana. Bahkan … Lamia kini mengenakan sebuah dress putih dengan riasan wajah yang membuat dokter itu tersenyum kagum. “Kau memang cantik, Nona. Penelope tidak salah mengirim wanita kemari,” ujar pria itu. “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Lamia dengan suara bergetar. “Seperti beberapa hari lalu, apa kau sudah melupakan malam itu?” “Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi padaku,” jawab Lamia. “Tenang saja, malam ini … kau akan aku buat sadar dan menikmati setiap kegiatan yang akan kita lakukan bersama,” jelas dokter itu. Lamia terlihat menelan ludahnya dengan kasar. Ia mengambil langkah mundur dan mencoba untuk menghindari dokter itu. “Apa kau ingin melarikan diri?” tanya dokter itu. “Aku berada di dalam kandang singa, bagaimana bisa aku malarikan diri jika singa itu sedang berjaga saat ini,” jawab Lamia. “Hahaha, kau lucu sekali, Nona.” “Sepertinya kau tahu jika aku tidak gila! Tetapi kenapa kau membawaku kemari?” tanya Lamia. “Hmm, Penelope … dia ingin menguasai harta milik keluarga Gregory. Tetapi … sepertinya dia tidak bisa mendapatkannya selama kau masih berada di dalam mansion itu,” jelas dokter itu. Lamia terdiam … sakit, itulah perasaan yang tengah dirasakannya saat ini. Kecewa pada wanita yang selama ini ia anggap baik. Lamia kini tertunduk dan hampir meneteskan air matanya. Saat itu juga, dokter itu menyentuh wajah Lamia dan memeluk tubuh Lamia dengan paksa. “Lepaskan aku!” protes Lamia. “Sepertinya ada tantangan mala mini,” ujar dokter itu. Tangan sang dokter mengunci tangan Lamia, lalu ia mencumbu tubuh Lamia dengan kasar. “Akh! Tidak, jangan lakukan itu!” teriak Lamia. Kesal dengan tingkah Lamia yang terus memberontak, dokter itu mengeluarkan sebotol kecil minuman. Dengan paksa ia menyuruh Lamia meminumnya. “Uhuk … uhuk!” Setelah memberikan minuman itu, sang dokter melepaskan Lamia dari pelukannya. Ia kini duduk dengan santai di atas kursi yang tersedia di kamar itu. Menunggu … hanya itu yang dilakukan sang dokter di sana. “Apa yang kau berikan padaku?” tanya Lamia. “Hanya sedikit multivitamin agar kau bisa memuaskan aku lagi, Nona,” ujar dokter itu. “A-apa?” Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya Lamia mulai merasakan ada hal aneh yang terjadi di dalam tubuhnya. Ia merasa jika tubuhnya menjadi panas, dan b*******h. Lamia telah diberikan obat perangsang yang bisa membuatnya tidak ingat siapa dirinya saat ini. “Apa ini? Kenapa tubuhku terasa sangat panas?” tanya Lamia. “Kau bisa melepaskan pakaianmu jika terasa panas, Sayang.” Entah kenapa Lamia menuruti keinginan dokter itu. dan ia benar-benar melepaskan pakaiannya hingga tidak ada lagi kain yang menutupi tubuh polos itu. Sang dokter mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekati tubuh Lamia dan menyentuhnya dengan sangat perlahan. “Ahh … Tuan,” desah Lamia saat tangan dokter itu menyentuh bagian dadanya. Tiba-tiba saja Lamia merendahkan posisi tubuhnya, lalu ia melepaskan celana milik dokter itu. Dari balik celana itu ia dapat melihat sebuah kejantanan yang sudah berdiri dengan sempurna. “Puaskan aku, Lamia.” “Baik, Tuan.” Tanpa menunggu aba-aba, Lamia memasukkan benda panjang itu ke dalam mulutnya. Ia mengulum dan menjilatinya dengan penuh gairah. “Ahh … yeah, kau sangat mahir, Sayang.” Lamia terus memberikan kepuasan pada sang dokter. Hingga akhirnya cairan putih keluar dari ujung kejantanan itu. Lamia menelan dan membersihkan cairan itu hingga tidak tersisa. “uhm … uhm.” Setelah selesai dengan kegiatan itu, kini giliran sang dokter yang beraksi. Ia merebahkan tubuh Lamia di atas ranjang kecil itu. Lalu … tangan dokter itu membuka lebar kaki Lamia. Tanpa merasa jijik, dokter itu menjilati pintu kewanitaan Lamia. “Ahh, aahhh, uhm, sssttt.” Pria berjas putih itu kini mulai melepaskan pakaiannya, hingga mereka sama-sama tidak mengenakan pakaian. Ia terus menyerang tubuh Lamia dengan sentuhan-sentuhan lembut. “Ahh,” desah Lamia saat mendapatkan pelepasannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD