Chapter 5

1163 Words
DOR DOR DOR Mendengar suara tembakan, membuat Lamia sedikit takut. Tubuhnya yang sudah terlihat lemas hanya bisa berdiam diri di atas tumpukan benda kotak berwarna cokelat itu. Hanya beberapa saat, suara tembakan dan juga teriakan para pria itu terdengar. Dan kini seseorang mendekati Lamia, pria itu menutup tubuh Lamia dan ia membuka ikatan pada tangan dan mata Lamia. “Tuan Edward,” panggil Lamia lirih. Edward tidak menjawab, ia meraih tubuh Lamia dan membawanya keluar dari dalam gudang itu. Lamia bisa melihat ada banyak mayat manusia di sana, dan hal itu membuatnya menutup wajahnya dengan tangan. “Nona, kau baik-baik saja?” tanya Edward. “Tuan, kemana saja kau?” tanya Lamia. “Maafkan aku ,Nona. Aku meninggalkanmu tanpa pengawasan.” Wajah Edward terlihat menyesal, dan saat itu juga sebuah suara tembakan terdengar dari belakang tubuh Edward. Lamia bisa melihat ada darah keluar dari mulut pria itu. Tubuh Edward semakin melemah, dan ia menjatuhkan Lamia. “Akh!” pekik Lamia. Edward meminta maaf pada Lamia atas keterlambatannya untuk menolong dirinya. Edward membalikkan badan, lalu menembak seorang musuh yang baru saja menembaknya sekali lagi. Bruk … Tubuh Edward jatuh tersungkur di atas tanah. Lamia semakin bersedih saat melihat tubuh Edward tidak berdaya. Berkali-kali ia memanggil nama pria itu, akan tetapi … nyawa Edward tidak dapat lagi diselamatkan. Tidak lama setelah itu, seorang wanita mendekati lamia, dan ia membawa Lamia pergi dari sana. “Tante Penelope? Kemana kau akan membawaku?” tanya Lamia. “Pulang, ke Mansion Utama.” Lamia kembali tidak sadarkan diri di dalam mobil. Dan saat itu, terlihat jelas seringaian dari bibir Penelope. “Lihatlah … siapa yang kini tidak berdaya?” Sampai di Mansion Utama, Penelope membawa Lamia untuk direbahkan di atas ranjang. Saat itu, ada seorang dokter yang sedang menangani Lamia. Dokter itu memeriksa kondisi Lamia dengan melakukan beberapa pemeriksaan pada tubuhnya. “Dia sudah tidak lagi perawan, Nyonya.” Mendengar hal itu, Penelope tersenyum senang. Ia kini akan lebih mudah menyiksa Lamia, apalagi Edward sudah tiada. Tidak ada lagi yang menjaga Lamia, dan menjadi walinya selain Penelope. “Bagus, kau bisa pergi.” Dokter itu melangkah keluar dari dalam kamar Lamia. Dan kini tinggal Penelope yang berdiri di hadapan ranjang Lamia. Wanita itu mengambil sebutir obat untuk ia berikan pada Lamia. “Kau akan menjadi seseorang yang lupa akan siapa dirimu sendiri, sayang.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Penelope berjalan keluar dari kamar Lamia. *** Lamia mulai tersadar, ia memegang kepalanya yang terasa pusing. Lamia terlihat seperti orang yang kebingungan. Ia mencoba turun dari ranjangnya, dan berjalan keluar dari kamar. Lamia merasa jika bagian kewanitaannya terasa nyeri. “Apa yang terjadi? Kenapa terasa sakit?” gumam Lamia. Saat Lamia membuka pintu, seorang pelayan datang dan membawa makanan untuk Lamia. “Selamat pagi, Nona. Sebaiknya anda kembali ke atas ranjang, karena kondisi anda masih sangat lemah,” ujar pelayan itu. “Tidak. Aku ingin mencari keberadaan Tuan Edward,” ujar Lamia. Pelayan itu menunjukkan wajah sedih di hadapan Lamia. Lalu … Penelope terlihat berjalan mendekati keduanya. “Apa yang kau lakukan? Cepat kembali ke atas ranjangmu.” Lamia memilih untuk menurut kali ini. Ia kembali ke atas ranjang, dan menerima sarapannya yang dibawakan oleh pelayan itu. “Makan!” titah Penelope. Perlahan, Lamia menyendok makanannya dan memasukkannya ke dalam mulut. Disela kegiatannya, Penelope menjelaskan pada lamia tentang apa yang terjadi pada Edward. “Karena kecerobohanmu, Edward mati. Sekarang, hanya ada aku yang tinggal di mansion utama ini, apa kau juga akan membuat aku mati?” tanya Penelope. Lamia menghentikan kegiatan makan itu, ia menatap Penelope dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana tidak, Penelope mengatakan hal itu, seakan semua itu salah Lamia. “A-apa yang terjadi pada Tuan Edward?” tanya Lamia. “Kau tidak ingat? Edward mati karena menolongmu. Kau baru saja diperkosa karena melarikan diri dari mansion ini.” Mendengar penjelasan Penelope yang tidak masuk akal untuk dirinya, Lamia menepis hal itu dengan mengatakan,”aku berada di dalam mansion hingga saat ini. Bagaimana bisa kau bilang jika aku keluar dari mansion?” “Cih! Sepertinya dokter benar. Kau sudah menjadi wanita gila sekarang, ada beberapa dokter yang menyarankan padaku untuk membawamu ke rumah sakit jiwa.” “Apa? Apa sekarang kau ingin mengusirku dengan memasukkan diriku ke dalam rumah sakit itu?” tanya Lamia. “Lalu? Aku harus bagaimana? Kau bahkan tidak mengingat semua kejadian yang terjadi padamu dalam beberapa hari ini. Sekarang aku bertanya padamu! Dimana orang tuamu?” tanya Penelope. “Apa kau gila? Ya, sepertinya kau yang sekarang menjadi gila, Tante!” ujar Lamia dengan penuh penekanan. “Apa? Kau mengatakan jika aku gila? Jawab dulu pertanyaanku!” “Mommy dan Daddy sedang melakukan perjalanan bisnis! Dan mereka akan segera kembali untuk mengusir dirimu dari mansion ini.” Penelope tertawa kencang, ia tidak menyangka jika Lamia benar-benar melupakan kejadian yang terjadi dalam waktu dekat ini. Obrolan itu sudah ia rekam, dan Penelope mengirim hasil rekaman itu pada dokter yang bekerja di rumah sakit jiwa. “Kau perlu tahu, sayang. Kedua orang tuamu sudah meti, dank au kini tinggal seorang diri. Di dalam mansion ini, hanya tinggal kita berdua,” jelas Penelope. Lamia menggelengkan kepalanya dengan keras, ia sungguh menepis semua perkataan Penelope. Ia tidak bisa menerima tentang semua yang terjadi pada kehidupannya. “Kau berbohong! Aku tidak percara padamu!” teriak Lamia. Suara sirine ambulans terdengar di depan mansion utama, dan beberapa petugas rumah sakit masuk ke dalam mansion itu. seorang dokter mendekati Penelope, dengan senyum miringnya pria berjas putih itu kemudian mendekati Lamia. “Siapa kau?” tanya Lamia. “Aku seorang dokter yang akan menyembuhkan dirimu, Nona Lamia,” ujar dokter itu. “Aku bahkan tidak membutuhkan pengobatan darimu! Tubuhku benar-benar sehat untuk saat ini,” jelas Lamia. “Kau yakin?” Pria itu melirik pada dua perawat pria di sisi lain ranjang Lamia. Lalu mereka mendekat dan membawa Lamia untuk keluar dari kamar itu. teriakan yang Lamia keluarkan dari mulutnya, tidak ada yang mendengar. “Lepaskan aku! Apa yang akan kau lakukan padaku?” Mereka memasukkan Lamia ke dalam mobil ambulans. Sementara Penelope merasa menang, dan ia bisa menguasai mansion itu seorang diri. “Sebaiknya kau menahannya sedikit lama di sana, aku tidak ingin mulutnya menceritakan pada semua orang mengenai pembunuhan dan juga apa yang terjadi pada keluarga Gregory,” jelas Penelope. “Baik, Nyonya.” Penelope memberikan sejumlah uang pada dokter itu, dan akhirnya mobil ambulans itu melaju kencang, keluar dari mansion utama milik keluarga Gregory. Selama perjalanan, Lamia di bius oleh ke dua perawat itu. hingga sampai di sebuah rumah sakit jiwa yang terpencil. Letaknya tidak ada yang bisa mengetahui, karena sesungguhnya rumah sakit iru sudah lama di tutup. Bukan karena tidak ada pasien sakit jiwa, tetapi karena praktek yang mencurigakan yang mereka buat di dalam sana. Kini, tubuh Lamia berbaring di atas sebuah ranjang kecil. Dengan pakaian berwarna putih seperti pasien rumah sakit jiwa pada umumnya. Tangannya terikat, dan ia masih belum sadar. “Kalian jaga wanita itu,” ujar seorang dokter pada seorang perawat. “Baik, Tuan Kyle.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD