Chapter 4

1168 Words
Beberapa hari ini ,Lamia menjadi sedikit tertekan. Banyak surat masuk dan mengancam akan membunuhnya. Tidak hanya itu, terror yang diberikan juga semakin membuat Lamia depresi. Tinggal di dalam mansion besar, dan seorang diri. Lamia makin terpuruk dan ingin mengakhiri hidupnya. “Mom, Dad … aku akan ikut bersama kalian,” gumam Lamia sembari memegang sebuah pisau di tangannya. Saat itu, Edward akan mengantarkan makanan ke kamar Lamia. Ketika sudah masuk ke dalam kamar Lamia, Edward menjatuhkan makanannya dan berlari meraih pisau yang ada di tangan wanita itu. “Nona! Apa yang kau lakukan?” tanya Edward. “Aku ingin bertemu dengan Mommy dan Daddy, Tuan Edward. Biarkan aku menemui mereka,” ujar Lamia terisak. Edward memeluk Lamia dengan erat, pria itu tidak ingin jika pewaris tunggal keluarga Gregory berakhir naas. Edward merebahkan tubuh Lamia di atas ranjang, dan ia menyuruh beberapa pelayan untuk membersihkan kamar Lamia. “Nona, jangan melakukannya lagi. Aku di sini untuk selalu menjagamu,” ujar Edward. “Tuan Edward, terima kasih,” ujar Lamia. “Nona, aku harus pergi ke kota. Ada urusan yang membuat bisnis keluarga sedikit terganggu, dan Tuan Ronald menyuruh aku untuk melihatnya,” ujar Edward. “Baiklah, cepatlah kembali. Aku tidak ingin terlalu lama sendiri,” jawab Lamia dengan perasaan takut. Edward mengangguk mengerti, lalu berjalan keluar dari kamar Lamia. Lamia kini kembali terbawa suasana hening di dalam kamar itu. Beberapa kali ia mendengar suara yang membuatnya sedikit takut. Tetapi beberapa detik kemudian, suara itu menghilang. Bahkan, suara-suara yang tidak pernah muncul sebelumnya, kini menggema di telinga Lamia. Seperti sedang mempengaruhi wanita itu, Lamia menutup telinganya dengan erat. Percuma, suara itu menembus ke dalam telinga Lamia. Dan kini ia tidak tahan, Lamia berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan suara itu. Mengusir pikirannya yang sedang kacau. “TIDAK! PERGI KALIAN! PERGI!” teriak Lamia. Suara Lamia terdengar oleh beberapa pelayan di sana, hingga membuat mereka berlari menghampirinya. Ceklek “Nona, apa terjadi sesuatu?” tanya seorang pelayan. “Siapa kau? Di mana Tuan Edward?” tanya Lamia. “Nona, Tuan Edward sedang berada di luar Mansion. Bersabarlah untuk beberapa saat, ia akan segera kembali,” jelas pelayan itu. “Tidak, aku tidak bisa bersabar lagi! Aku … aku ingin Tuan Edward kembali sekarang juga!” bantah Lamia. Pelayan itu merasa bingung dengan sikap Lamia yang berubah. Mentalnya seperti terganggu karena beberapa kejadian dalam waktu dekat ini. Hingga akhirnya ia berlari keluar dari mansion. “Nona!” panggil pelayan itu. Lamia terus berlari dengan hanya mengenakan pakaian tidurnya. Sampai di gerbang mansion, wanita itu mendorong gerbang hingga terbuka, dan kembali berlari hingga tidak tahu sampai di mana. Beberapa kali Lamia hampir saja tertabrak kendaraan yang melaju di sana. Mereka berteriak menyuruh Lamia menyingkir dari jalanan kota. Setelah lelah dengan pelariannya, napas Lamia tersengal, keringat membasahi tubuhnya, dan kakinya terluka karena tidak mengenakan alas kaki. “Tuan Edward, kau di mana?” gumam Lamia sembari berjalan menyusuri kota itu. Ada banyak pasang mata yang melihat Lamia berjalan. Tidak sedikit dari mereka berbisik membicarakan mengenai kondisi wanita itu. Tetapi … Lamia tidak peduli dengan semua itu. Ia terus berjalan hingga akhrinya seorang pria mendekatinya. “Nona, apa kau baik-baik saja?” tanya pria itu. “Siapa kau?” tanya Lamia. “Ake kebetulan saja melihatmu, apa kau seorang diri? Apa kau mau aku temani?” tawar pria itu. Lamia mengangguk, setidaknya masih ada yang peduli dengan kondisinya saat ini. Ia berjalan bersama pria itu ke sebuah café kecil. Pria itu mempersilakan Lamia untuk duduk, sedangkan dirinya mengambil segelas minuman dan juga makanan untuk Lamia. “Ini, makanlah.” Lamia tidak berselera melihat makanan di atas meja, ia menyingkirkan makanan itu dan mengambil segelas minuman. “Kenapa? Apa kau tidak suka?” tanya pria itu. “Aku tidak lapar,” jawab Lamia. “Siapa namamu, Nona?” tanya pria itu. “Siapa aku? Aku siapa? Astaga … aku melupakan namaku,” ujar Lamia panic. “Hei, tenanglah. Jika kau tidak bisa mengingat namamu, kemana kau akan pergi dengan keadaan seperti ini? Apa kau sedang dalam pengejaran seseorang?” tanya pria itu lagi. “Siapa aku? Apa kau tahu siapa aku? Tolong … ada yang ingin membunuhku,” ujar Lamia. ‘Sepertinya dia mengalami depresi,’ batin pria itu. Lamia berdiri dari tempatnya,  ia kembali berjalan menjauh dari café itu. Tentu saja pria itu menahan Lamia agar tidak pergi dari sana. Ia menarik tangan Lamia hingga masuk ke dalam pelukannya. Mata keduanya bertemu, dan Lamia merasa tidak mengenal siapa pria itu. Lamia melepaskan pelukan itu, memaksa untuk pergi dari sana. “Nona, kau bisa tinggal di sini jika kau mau,” ujar Pria itu. “Kau siapa?” tanya Lamia. “Aku Wesker,” jawabnya. “Tuan Wesker, kita baru saja bertemu. Tidak seharusnya kau menawarkan tempat tinggal padaku.” “Aku hanya ingin membantu saja, jika kau keberatan … aku akan membiarkan dirimu pergi sekarang juga,” ujar Wesker. “Sebaiknya aku pergi, Tuan,” ujar Lamia sembari melangkah pergi dari sana. Wesker hanya bisa memandang punggung Lamia yang semakin menjauhinya. Pria itu tidak bisa menahan Lamia lebih lama lagi di sana. Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depan Lamia, dan seorang pria memasukkan Lamia ke dalam mobil itu. “Nona!” seru Wesker yang hanya bisa melihat Lamia di bawa pergi oleh pria berjas hitam. Di dalam mobil, Lamia memberontak dan memukul seorang dari pria itu. “Sialan! Dia memukul wajahku!” gerutu seorang pria. “Lepaskan aku! Siapa kalian?” teriak Lamia. Seorang pria lainnya menutup mulut Lamia dengan kain berwarna hitam. Dan membuat suara Lamia tertahan. Air mata wanita itu mengalir deras, ia tidak tahu kemana mereka akan membawanya. Tangan dan kaki Lamia terikat erat. Mobil itu memasuki kawasan pergudangan di pinggiran kota. Seorang dari mereka menggendong tubuh Lamia, lalu mereka masuk di salah satu gudang. “Letakkan tubuhnya di sana,” ujar seorang pria lainnya. Mata Lamia kini tertutup sebuah kain, dan ia hanya bisa mendengarkan suara dari beberapa pria di sekelilingnya. ‘Tuhan … lindungi aku,’ batin Lamia. Sebuah tangan menyentuh tubuh Lamia, tangan itu menyentuh bagian d**a Lamia, dan meremasnya dengan lembut. Lamia menahan rasa geli pada bagian dadanya. Dan beberapa saat kemudian, ia mendengar suara pakaiannya tengah di robek. Krak ‘Apa yang akan mereka lakukan padaku?’ batin Lamia lagi. “Wanita itu sudah hampir gila, apa kita buat dia semakin gila?” tanya seorang pria. “Kita hanya akan memberikan rasa nikmat, dan aku akan memastikan jika ia tidak akan melupakan rasa nikmat itu,” sahut pria lainnya. Lamia menggelengkan kepalanya dengan cepat, saat itu … sebuah tangan tengah meraba tubuhnya, hingga bermain di bagian sensitif miliknya. “Ehm.” Suara itu cukup membuat para pria itu menyeringai. Dan kini mereka semakin mengoyak pakaian Lamia hingga tubuhnya terlihat jelas. Seorang pria bersiap di hadapan Lamia, ia kini merebahkan Lamia di atas tumpukan kardus. Masih dengan tubuh yang terikat, dan mata dan mulut yang tertutup. Lamia dapat merasakan kakinya terangkat, dan sebuah benda masuk ke dalam bagian intimnya. “Ehm … ehm,” desah Lamia tertahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD