Lamia terbangun di tengah malam, tenggorokannya terasa kering. Ia berjalan menuju dapur mansion untuk mengambil segelas air. Saat sampai di dapur, ia melihat Gill yang masih terjaga di sana.
“Sedang apa kau?” tanya Lamia.
“Nona, kau mengejutkan aku.”
“Apa yang kau lakukan, Gill?” tanya Lamia sekali lagi.
“Aku sedang haus, dan ingin mengambil air untuk minum,” ucapnya beralasan.
Lamia tidak menaruh curiga pada Gill dan melanjutkan niatnya untuk mengambil air di sana. Setelah urusannya selesai, Lamia kembali berjalan menuju kamarnya.
Brak
Baru saja Lamia ingin menutup mata. Ia mendengar suara gaduh dari kamar ibunya. Tentu saja Lamia langsung berlari menuju asal suara.
“MOMMY!” teriak Lamia saat melihat ibunya sudah tergantung.
Tubuh Lamia melemas, ia terduduk melihat pemandangan itu. Tidak lama kemudian, Edward datang dengan napas tersengal. Pria itu langsung menurunkan tubuh Daisy dan membaringkannya di atas ranjang.
“Mom ….”
Lamia terisak, ia berjalan perlahan menghampiri tubuh kaku ibunya.
“Mommy, apa yang kau lakukan?”
Wajah Lamia terlihat kecewa dengan keputusan ibunya. Kenapa ia harus kehilangan dua orang penting itu. Dan akhirnya … Edward mengumumkan kematian Daisy pada semua orang.
Keesokan paginya, acara pemakaman dilakukan dengan cepat. Lamia tidak ingin berlama-lama memandang wajah ibunya. Ia terlalu takut, hingga memutuskan untuk tidak hadir dalam proses pemakaman.
Lamia mengunci diri di dalam kamar, dengan suara tangisan yang terdengar hingga luar kamar. Edward mengetuk pintu berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Akhirnya Edward menggunakan kunci cadangan untuk membuka pintu kamar itu.
“Nona, ada yang ingin bertemu denganmu,” ujar Edward.
“Tuan Edward, apa aku salah? Kenapa Tuhan tidak membiarkan aku hidup bahagia bersama mereka?” gerutu Lamia.
“Nona, jangan bicara seperti itu. Hidup dan mati manusia sudah ada garis takdirnya. Sebaiknya kau menenangkan diri,” jelas Edward.
“Tidak. Aku ingin ikut bersama mereka.”
Lamia mengambil pisau dari atas nakas. Sebuah pisau untuk mengupas buah, ia gesekkan pada pergelangan tangannya hingga mengeluarkan darah. Edward yang melihat hal itu berlari ,lalu menepis tangan Lamia.
“Apa yang kau lakukan, Nona! Kau pikir, dengan kematianmu, semua masalah akan selesai? Tidak! Aku ingin kau menemui orang ini terlebih dahulu, dank au bisa memutuskan untuk mati atau hidup.”
Lamia menatap datar pada Edward. Ia melihat tangannya yang terluka, terasa sakit. Pandangan mata Lamia akhirnya tertuju pada seorang pria di belakang Edward. Pria itu tersenyum saat melihat Lamia menatapnya penuh tanda tanya.
“Siapa orang itu?” tanya Lamia.
“Aku akan mengobati tanganmu terlebih dahulu,” ujar Edward yang kini menuntun Lamia untuk duduk di atas ranjang.
Sementara pria itu duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu. Pria itu masih menatap Lamia yang sedang diobati. Beberapa kali senyumnya mengembang saat kedua pandangan itu bertemu.
“Baiklah, kau bisa duduk di sana dan mendengarkan penjelasan pria itu,” ujar Edward.
Lamia berjalan mendekati pria itu, dan duduk di seberangnya. Lamia sedikit memiringkan kepalanya, lalu bertanya, “siapa kau ini?”
Pria itu menundukkan kepalanya sekilas, dan mulai memperkenalkan diri pada Lamia.
“Sepertinya kau sudah lupa siapa aku, Nona Lamia,” ujarnya.
Lamia masih tidak bisa mengingat wajah itu. Siapa pria yang kini terlihat sangat mengenal dirinya. Lamia masih terus mengingat, hingga pria itu menyebutkan namanya.
“Ronan Scott,” ujarnya memperkenalkan diri.
Lamia melirik pada Edward, lalu ia kembali menatap Ronan.
“Maafkan aku ,Tuan Ronan. Aku sungguh tidak bisa mengingat siapa dirimu,” ujar Lamia.
“Tidak apa-apa, Nona. Kau memang sudah biasa melupakan beberapa hal yang tidak penting.”
Lamia mengerutkan dahinya, kenapa pria itu bisa mengetahui kebiasaannya. Lamia tersenyum lalu mulai mempersilakan Ronan untuk menjelaskan maksud kedatangannya.
“Aku kemari karena ingin memberitahukan sesuatu padamu. Masalah kematian kedua orang tuamu, semua itu adalah rencana seseorang. Mereka di bunuh oleh seorang yang sangat dekat, hanya saja … aku membutuhkan bukti untuk mengungkap pelakunya.”
“Jika yang kau bicarakan mengenai Daddy, aku tahu … ia bahkan ditembak tepat di depan mataku.”
“Nyonya Daisy juga di bunuh, Nona.”
Lamia terlihat menelan ludahnya secara kasar. Bagaimana bisa ia berkata, jika ibunya di bunuh. Jelas terlihat jika Daisy melakukan aksi bunuh diri di dalam kamar.
“Kami menerima laporan saat Edward memberitahukan kematian Nyonya Daisy. Ia mengatakan, ada tanda-tanda keracunan sebelum tubuhnya tergantung di atas.”
“Mommy sudah tenang, sebaiknya kita lupakan saja semua ini.”
Lamia berdiri dari posisinya, ia menyuruh pria itu keluar dari dalam kamarnya.
“Target mereka selanjutnya adalah dirimu, Nona Lamia. Dan kami akan melindungimu,” ujar Ronan.
“Terserah! Aku bahkan tidak peduli lagi dengan hidupku,” ujar Lamia.
Ronan tersenyum, lalu melangkah pergi dari sana. Sementara itu, tubuh Lamia kembali melemah, dan ia kini duduk kembali. Edward melangkah mendekati Lamia dan memberikan segelas air padanya.
“Siapa pria itu? Kenapa ia ingin melindungi aku? Apa karena kini harta keluarga ada di tanganku?” tanya Lamia pada Edward.
“Nona, Ronan adalah pria baik. Kau akan mengingat siapa Ronan pada saatnya.”
“Apa maksudmu? Kenapa kalian selalu memberikan teka-teki padaku?”
“Nona, ingatanmu sedikit bermasalah, kami sebagai orang yang selalu dekat denganmu mengetahui hal itu,” jelas Edward.
“Aku masih tidak mengerti, Edward.”
Edward tersenyum, lalu ia melaporkan jika acara pemakaman selesai dengan lancar. Semua tamu yang datang di sambut oleh Penelope. Entah kenapa, wanita itu terlihat sangat ramah pada orang-orang yang datang.
Setelah mengurus beberapa hal penting, Lamia kini berada di dalam ruangan kerja Ethan. Di sana, ia sering mengganggu sang ayah saat sedang bekerja. Lamia duduk di tempat Ethan biasa bekerja. Ia menyentuh meja itu, dan melihat masih ada beberapa berkas yang masih belum di tandatangani.
“Daddy, kau belum menyelesaikan pekerjaanmu.”
Lamia meletakkan kepalanya di atas meja. Ia merenung di sana, dan mengingat setiap kenangan bersama ayahnya.
“Lamia, apa kau bisa membacakan berkas itu untuk Daddy?”
“Lamia, Daddy sangat lelah. Apa kau mau menggantikan Daddy bekerja?”
Setiap perkataan yang pernah Ethan ucapkan, kini berputar layaknya sebuah rekaman. Lamia kembali menangis, dan saat itu juga sebuah batu memecahkan jendela ruang kerja.
Prank ...
“Argh!” teriak Lamia.
Edward berlari masuk ke dalam ruangan itu dan melihat kondisi Lamia.
“Nona, kau baik-baik saja?” tanya Edward.
“Apa itu? Siapa yang melakukannya, Edward?” tanya Lamia dengan wajah panic.
“Tenanglah … aku akan memeriksanya.”
Edward menyuruh beberapa orang memeriksa keadaan di luar mansion. Lamia melihat batu yang terbungkus kertas itu, lalu mengambilnya dan melihat ada tulisan di sana.
‘MATI KAU.’
Lamia kembali melemparkan batu itu, lalu menatap Edward penuh rasa takut. Edward membawa Lamia untuk kembali ke dalam kamarnya, dan menyuruhnya segera beristirahat saja di sana.