Chapter 8

1224 Words
Lamia sudah berusaha untuk bertahan, tidak ada yang membuatnya bertahan di sana. Hari ini, seorang wanita tengah membersihkan kamar Lamia. Ia meletakkan sebotol obat pembersih lantai di dekat meja, lalu mulai membersihkan lantai kamar itu. Tanpa berpikir panjang, Lamia berlari dan menenggak cairan itu. Setelah itu, wanita yang ada di sana berteriak karena kondisi Lamia yang mengalami kejang. “Tolong! Tolong!” teriak wanita itu. Seorang perawat datang dengan berlari, masuk ke dalam kamar Lamia dan melihat apa yang terjadi di sana. “Ada apa?” tanya perawat itu. “Dia … dia meminum cairan itu.” Perawat itu memanggil dokter dan langsung melarikan Lamia ke ruang perawatan. Terlihat ada busa yang keluar dari mulut Lamia, hingga akhirnya ia tidak bergerak. Di dalam ruang perawatan, Lamia ditangani dengan cepat. Dokter memastikan jika Lamia masih hidup dan bisa diselamatkan. Ia melakukan pertolongan dengan mencoba mengeluarkan cairan itu dari tubuh Lamia. Setelah melewati masa kritis, Lamia kini berada di kamar perawatan yang dijaga dengan dua perawat. Tubuh Lamia masih terlihat lemah dan pucat, bahkan kesadarannya masih belum kembali. Hari ini adalah hari ulang tahun Lamia, dan ia ingin mati dihari special ini. Hanya saja, Tuhan berkata lain. Lamia berhasil diselamatkan. Hari ini juga tepat lima tahun Lamia berada di rumah sakit jiwa. Sampai saat ini, tidak ada yang menjemputnya maupun menjenguk dirinya. Hingga ada enam orang pria datang dan mengaku sebagai suami Lamia. Mereka masuk ke dalam ruang perawatan dengan membawa surat. Ya, surat itu berisi pernyataan jika mereka adalah suami Lamia, dan mereka juga membawa surat nikah sebagai bukti. Keenam pria itu terlihat menyesal karena datang terlambat. “Maafkan kami, Sayang,” ucap seorang pria bertubuh tinggi dan terlihat tampan. Lamia mulai menggerakkan tangannya, ke dua matanya juga mulai bergerak ingin terbuka. Ke enam pria itu mendekat dan menyentuh Lamia dengan lembut. Mereka berharap kondisi Lamia akan baik-baik saja setelah ini. “Maaf, kalian siapa? Nyonya Penelope menyerahkan wanita ini padaku untuk di kurung.” Dokter Luke datang dan mencegah ke enamnya agar tidak menyentuh maupun membawa pergi Lamia dari rumah sakit itu. “Surat yang aku tunjukkan pada wanita itu cukup jelas, kau bisa bertanya padanya siapa kami ber-enam.” “Tuan, ada prosedur yang harus kalian patuhi. Aku tidak ingin pasienku pergi saat kondisinya masih belum pulih.” “Istriku tidak gila! Kau yang gila karena sudah melecehkannya!” “Kau!” “Kau tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum Tuan Luke. Kami memiliki bukti jika kau bersalah.” Tidak berkutik, Luke kini hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Ia sangat kesal saat ini karena kalah dari bukti yang ada di tangan ke enam pria itu. Akhirnya, seorang pria meraih tubuh Lamia dan membawanya pergi dari sana. Saat itu, Lamia mulai membuka matanya, dan samar … ia melihat siapa yang sedang membawa tubuh lemahnya itu. “Siapa kau?” gumam Lamia. “Kita akan pulang, Sayang.” Ada tiga mobil di depan rumah sakit itu, dan Lamia berada di salah satunya. Mobil itu melaju menuju mansion keluarga Gregory. Kembali ke tempat tinggal, adalah keinginan Lamia selama lima tahun ini. Sampai akhirnya mereka sampai di depan halaman mansion. Di sana sudah berdiri Penelope dengan beberapa orang penjaga. Mereka menghalangi ke enam pria itu untuk masuk ke dalam rumah. Tetapi, saat melihat tubuh Lamia berada di salah satu tangan pria itu, Penelope terlihat terkejut. “Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan pada keponakanku?” tanya Penelope. “Sudahlah … aku katakana pun kau tidak akan peduli.” “Nyonya, sebaiknya kau minggir. Jika tidak, kamu tidak akan segan-segan mengusirmu dari mansion ini.” “Lamia!” seru Penelope. Lamia melirik Penelope dari ekor matanya. “Sebaiknya kau pergi dari hadapanku, karena aku tidak percaya lagi padamu! Kau masih bisa tinggal di mansion timur jika kau mau, tetapi jangan pernah kau hadir di mansion utama.” Penjelasan Lamia cukup membuat Penelope terkejut. “Kau … kau menjadi jalang sekarang!” ujar Penelope yang akhirnya berjalan menjauhi Lamia dan suaminya. “Kita masuk!” Mereka membawa Lamia masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sangat dirindukan oleh wanita itu selama beberapa tahun ini. Kamar yang memiliki banyak kenangan tentang ke dua orang tuanya. Pria itu merebahkan tubuh Lamia di atas ranjang dengan perlahan, lalu ke enam pria itu duduk dan memandang wajah pucat Lamia. Entah kenapa mereka merasa aneh pada Lamia. “Sayang, kenapa kau tersenyum melihat kami?” tanya seorang pria. “Aku yakin, aku sedang bermimpi. Sebentar lagi aku akan terbangun dan berada di dalam kamar itu lagi.” “Sayang, kau tidak sedang bermimpi. Kami nyata, dan kami adalah suamimu.” “Kalian pasti sedang bercanda. Aku bahkan belum menikah.” “Wanita itu pasti sudah membuatmu melupakan kami.” “Apa? Jangan bercanda denganku.” Lamia memejamkan matanya beberapa detik, lalu ia kembali membuka matanya. Sialnya, ke enam pria itu masih berada di hadapannya. “Kenapa kalian masih ada di sini?” tanya Lamia. “Kau masih tidak percaya?” “Sudahlah Eden … istri kita memang sedang kurang sehat, jangan memaksanya lagi,” ucap seorang pria lainnya. “Greyson, jangan membuat Eden marah,” sahut pria lainnya. Lamia terlihat sedikit takut saat mereka mulai memperebutkan dirinya. Dan Lamia mencoba berpikir jika semua itu memang nyata. “Baiklah … jangan bertengkar di sini. Aku akan mulai bertanya pada kalian,” ujar Lamia. Ke enam pria itu menatap senang pada ucapan Lamia. Mereka sudah siap menjawab pertanyaan dari sang istri. “Siapa nama kalian?” tanya Lamia. Mereka mulai memperkenalkan dirinya satu persatu. Di mulai dari pria yang terlihat sejak awal selalu berbicara dengan tegas dan tidak memiliki rasa humor. “Aku Eden, suami tertua dan yang pertama.” “Aku Grayson, suami paling muda dan yang ke enam. Aku yang paling mencintaimu, Sayang.” Dua orang itu melangkah mundur dan mempersilakan pria lainnya untuk memperkenalkan diri. “Sayang, perkenalkan … aku adalah Ronan.” “Aku Zain.” “Aku Regan, pria ceroboh yang sudah mencintaimu.” “Dan aku yang terakhir … namaku adalah Austin.” Setelah perkenalan itu, Lamia mulai mengingat satu persatu nama mereka. Menerima mereka adalah hal yang bisa membuat Lamia terlindungi dari hal jahat, mungkin. “Aku Lamia Gregory … aku minta maaf jika tidak mengingat siapa kalian. Aku bahkan tidak tahu, apa yang sudah aku alami selama lima tahun ini. Sepertinya mereka menyiksaku terlalu keras, hingga aku melupakan semua kenangan itu.” “Sayang, sebaiknya kau beristirahat, kami yang akan melakukan semua pekerjaan. Kau hanya perlu bersikap manis pada kami, dan jadilah seorang istri yang baik,” ujar Eden. “Baiklah, aku akan berusaha menjadi seorang wanita yang sudah bersuami.” “Senang rasanya … akhirnya kita bisa berkumpul dan menjadi satu keluarga.” Greyson melangkah maju dan ingin memeluk Lamia, tetapi dengan cepat Ronan menarik Greyson agar tidak berbuat hal yang membuat Lamia terkejut. “Apa?” “Kita lakukan perlahan, jangan membuat istri kita terkejut dengan sikap kekanakanmu.” “Sudahlah! Kalian selalu saja seperti ini.” “Kalian sangat menghibur, bolehkah aku beristirahat dulu?” tanya Lamia. “Tentu saja, Sayang. Selamat tidur.” Akhirnya ke enam pria itu keluar dari dalam kamar Lamia. Mereka sudah memiliki kamar sendiri di setiap sudut mansion. Sedagkan Lamia, ia kini mencoba berpikir positif, dan mengingat kembali apa yang dulu ayahnya pernah katakan. “Aku harap, apa yang aku ambil kali ini adalah yang terbaik untuk hidupku.”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD