Setelah kehadiran ke enam pria di dalam kehidupannya, Lamia terlihat lebih banyak tersenyum. Bukan karena hal yang besar, melainkan Greyson yang selalu ada di sampingnya dan membuat Lamia selalu tersenyum dengan tingkah lucunya.
Para suami Lamia akan bekerja secara bergantian. Karena Lamia tidak ingin berada di dalam mansion seorang diri. Rasa takutnya terhadap kesendirian sungguh besar, hingga terkadang saat tidak ada yang menemani Lamia di dalam kamar, ia akan berteriak dan merasa gelisah pada malam hari.
Hari ini, Eden dan Ronan memiliki sebuah rencana. Mereka akan pergi ke kota untuk mencari pengobatan yang bisa membuat istri mereka tidak lagi mengalami trauma. Mungkin dengan mendatangkan seorang yang ahli dalam terapi.
Sementara itu, di rumah …
Lamia sedang membaca beberapa koleksi bukunya bersama Greyson dan juga Austin. Hingga ke dua pria itu merasa bosan dan menyuruh istri mereka melakukan hal lainnya.
“Apa tidak ada yang bisa kita kerjakan selain membaca?” tanya Austin.
“Hmm, bagaimana jika kita membuat sesuatu?” cetus Greyson.
Lamia menatap ke dua suaminya secara bergantian. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran para lelaki yang mengaku sebagai suaminya. Apalagi selama ini Lamia tidak pernah tahu, jika ia sudah memiliki pasangan.
“Aku nyaman di sini. Jika kalian ingin melakukan hal lainnya, kalian bisa meninggalkan aku di sini,” ujar Lamia pada ke duanya.
“Tapi … apa kau akan baik-baik saja tanpa kami?” tanya Austin memastikan.
“Ya, aku akan baik-baik saja, Austin,” jawab Lamia.
“Sayang, sebaiknya kau banyak melakukan kegiatan selain membaca. Apa kau tidak bosan?” sahut Greyson.
“Apa kegiatanku ini mengganggu kalian?”
“Tidak,” jawab ke duanya bersamaan.
Lamia tersenyum melihat kekompakan diantara mereka. Dan akhirnya Lamia meletakkan buku yang ada di tangannya ke atas meja. Ia berjalan mendekati ke dua suaminya dan mencium mereka secara bergantian.
“Apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Lamia.
“Sayang … apa kau sadar saat melakukannya?” tanya Greyson.
Ya … selama beberapa hari, mereka tidak berani menyentuh Lamia walau hanya sejengkal. Tetapi, saat ini … wanita itu sendiri yang membuka dirinya untuk bisa semakin dekat dengan para suami.
“Bagaimana jika kita berkebun?” sahut Austin.
Lamia tersenyum mendengar ide yang keluar dari mulut salah satu suaminya itu. Dan Lamia mengiyakan keinginan Austin.
Mereka berjalan ke taman yang ada di samping Mansion. Lalu ke tiganya mulai melakukan kegiatan menanam tanaman yang ada di sana. Memindahkan beberapa bibit bunga ke dalam pot yang akan diletakkan dengan rapi di sekitar Mansion.
“Sayang, bunga apa yang paling kau suka?” tanya Greyson.
“Mawar merah.”
“Hmm, pilihan yang bagus. Apa kau tahu jika di taman ini tidak ada mawar merah?”
“Ya, aku tahu. Karena itu aku menyukainya.”
Austin dan Greyson saling menatap dengan heran. Mereka kembali mengambil beberapa bibit bunga untuk di tanam kembali. Tetapi , saat mereka sibuk di sana, Penelope berjalan mendekati ketiga orang itu.
“Keponakan kesayanganku, apa kini kau menyukai kegiatan baru ini?” tanya Penelope.
“Apa ada masalah dengan kegiatan ini?” Lamia balik bertanya.
“Tidak, aku kira kau tidak pernah menyukai kegiatan semacam ini. berhati-hatilah karena salah satu dari tanaman itu mengandung racun, termasuk yang sedang kau sentuh,” jelas Penelope.
Lamia terlihat menjatuhkan bibit bunga yang Penelope katakana beracun. Tiba-tiba saja kepala Lamia seperti berputar, hingga akhirnya ia jatuh dalam pelukan Austin.
“Bawa istri kita masuk ke dalam.” Greyson menghubungi Ronan untuk mencari penawar racun dari bunga Rhododendron dan azalea.
Sampai di dalam kamar, Lamia terlihat pucat dengan mata yang masih tertutup rapat. Ia tidak pernah tahu mengenai tanaman yang ada di taman samping Mansion. Karena di sana, adalah wilayah milik Penelope untuk bercocok tanam.
“Kau terlihat seperti putri tidur saat ini. Cepatlah sadar, Sayang.” Austin mencium kening Lamia, lalu berjalan ke luar dari kamar untuk menemui Greyson.
“Apa kau sudah menghubungi Ronan?” tanya Austin.
“Ya, ia memberitahu aku mengenai penawarnya. Dan aku sedang membuat penawar itu,” jelas Greyson.
“Mari aku bantu.”
Ke duanya sibuk di dalam sebuah ruangan seperti dapur, di sana terlihat seperti dapur pada masa beberapa puluh tahun lalu. Masih berupa ruangan dengan perapian yang menggunakan kayu, memasak menggunakan sebuah kendi yang besar. Dan tentu saja kompor kayu yang bisa digunakan setiap saat.
“Aku tidak begitu suka dengan wanita itu,” ujar Austin.
“Hah … aku juga.”
Beberapa jam berlalu, dan akhirnya penawar itu selesai ia buat. Greyson berlari masuk ke dalam mansion utama untuk segera memberikan obat itu pada istrinya. Austin membantu Greyson dengan membenarkan posisi Lamia. Dan perlahan, penawar itu masuk ke dalam mulut wanita itu.
“Kita tunggu reaksi dari penawar itu,” ujar Greyson.
Tidak lama setelah itu, Eden datang dengan tergesa-gesa. Ia melihat kondisi tubuh Lamia yang ada di atas ranjang, dan langsung datang menghampiri wanita mungil itu.
“Apa yang terjadi?”
“Tanaman beracun.”
“Jangan biarkan ia melakukannya lagi!” titah Eden.
Ke dua pria yang ada di sana hanya bisa terdiam jika Eden sudah mulai bersuara. Bukan karena hal lain, tetapi karena Eden adalah suami tertua di sana. Eden baru saja selesai dengan pekerjaannya di kota, dan ia langsung kembali ke Mansion saat mendengar kabar dari Ronan.
Eden melihat bibir Lamia bergerak, seperti ingin mengatakan sesuatu. dan saat itu Eden mengerti apa yang dibutuhkan Lamia. Segelas air yang ada di atas nakas, ia ambil dan diberikannya pada Lamia.
Perlahan … wanita itu mulai meminum air mineral. Hingga akhirnya ke dua matanya terbuka kembali. Semua pria yang melihat Lamia membuka mata, merasa lega.
“Akhirnya … kau sadar.”
Eden semakin mempererat pelukannya, dan ia mencium kening Lamia sekilas.
“Eden … apa yang terjadi?” tanya Lamia.
“Tidak ada, kau hanya pingsan karena kelelahan. Sebaiknya kau kembali merebahkan diri, dan biarkan kami semua yang mengurus dirimu.”
“Eden … di mana yang lain?”
“Mereka masih dalam perjalanan. Kau tenang saja,” ujar Eden.
Lamia hanya mengangguk, lalu ia menatap wajah Austin dan Greyson yang terlihat bahagia saat ini. Mereka merasa bersalan karena sudah membuat Lamia merasakan sakit karena racun dari tanaman di taman.
“Kenapa kalian seperti sedang mengkhawatirkan aku?”
“Tidak, kami hanya tidak bisa melihat dirimu tersakiti, Sayang,” jawab Greyson.
Lamia kembali tersenyum karena perkataan Greyson. Ia pun memutuskan untuk mencoba mengerti para pria yang saat ini menjadi suaminya. Lamia juga ingin mencoba agar tidak lagi merasa canggung dengan ke enam pria itu.
“Akh!” keluh Lamia tiba-tiba.