DUA PULUH DUA

1635 Words

Hino menggenggam jemari Tania menuju mobil. Meskipun perasaan Hino saat ini tidak baik, ia memperlakukan Tania dengan lembut. Hino tidak ingin mereka semua cel*ka hanya karena emosinya. Hino membuka pintu mobil untuk Tania begitu mereka tiba di baseman. Lalu Hino masuk ke sisi pengemudi. “Nggak bisa chat atau telepon aku dulu sebelum pergi?” “Maaf. Aku tadi nonton terus—” “Iya. Kamu bisa bilang kan kalau pengen apa itu yang kamu lihat di tv dan minta aku belikan,” sela Hino. “Aku lupa,” bela Tania. “Aku pengen makan itu. Kamu nggak di rumah, kamu nggak bisa langsung datang,” kata Tania. “Kamu kan tahu, aku kuliah,” ucap Hino gusar. “Aku bosan, Hino. Ingin jalan-jalan!” ucap Tania jengkel. “Iya. Kan bisa sama aku. Kalau sendirian, bah*ya buat kalian,” ucap Hino menasihati dengan sa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD