6. Guncangan

1687 Words
    Hi Zeta. Aku akan sangat senang jika kau mengenakan hadiah yang kuberikan. Tetaplah sehat dan selalu bahagia.   J     . . .   Zeta menggenggam secarik surat yang ia terima bersama dengan hadiah mewah tempo hari. Sebuah surat yang tertulis begitu singkat dan terasa canggung.   Zeta menyunggingkan senyumannya ketika membaca berulang surat tersebut. Mungkin J ini masih baru? Pikirnya.   “Cute.” Ujarnya tanpa sadar.   Tok tok tok!   Zeta mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk. kepala Summer menyembul dari balik pintu. “Zeta aku akan pergi keluar bersama Chloe ya? Aku juga sudah meminta ijin pada Hana Eonni.”   Zeta meletakkan kertas di tangannya di atas nakas lalu mengangguk kecil. Setelahnya menghampiri perempuan itu, mengikuti langkahnya keluar dari kamar.   “Ok. Kalau begitu. Kami pergi sekarang Eonni.” Seru Chloe sebelum meninggalkan dorm bersama dengan Summer. “Bye bye.”   “Berhati-hatilah. Jangan sampai lengah.” Pesan Zeta sesaat sebelum kedua anggota membernya menghilang di balik pintu.   Zeta menghela nafas lalu mendudukkan dirinya di sebuah sofa tepat di ruang tengah menghadap televisi. Sejak pagi beberapa member memang memilih pergi keluar entah untuk berbelanja atau hanya bermain. Sementara di dorm hanya tersisa ia dan juga Lucy.   “Eonni tak pergi kemanapun?” tanya Lucy seraya mendudukkan diri di karpet tepat di bawahnya.   “Tidak, aku sedang malas. Kau sendiri?”   “Aku ingin membuka hadiah-hadiah ulangtahunku.” Lucy tersenyum lebar.   “Baiklah kalau begitu aku temani. Bagaimana?”   Lucy berbalik mengalihkan pandangan ke arahnya. “Eonni! Ada yang lebih penting daripada membuka kadoku.” Seru Lucy seperti baru saja menemukan sesuatu.   Kening Zeta mengerut heran. Tak biasanya Lucy menolak ia temani. “Apa itu?”   “Membuat postingan? Atau melakukan siaran langsung misalnya? Kemarin saat aku solo live ada banyak yang bertanya tentangmu. Mereka mengatakan merindukanmu. Kau tak juga muncul. Mereka sangat khawatir padamu.”   Zeta menarik ujung bibirnya, tersenyum pahit. Dua minggu ini bahkan hampir tiga minggu ia memang tak menyapa penggemarnya. Selama promosi mini album ke tujuhnya ini, ia memang mengurangi frekuensinya bermain di media sosial.   Bukan tak memedulikan penggemar atau tak menghargai mereka. Namun hal ini selain karena larangan Hana, ia juga lakukan demi kesehatan mentalnya sendiri. Sesekali ia memang membukanya, tapi hanya membukanya sesaat seperti yang tempo hari ia lakukan. Ia tak berani memberikan konten apapun, sebab ia belum berani juga melihat hate comment yang selalu ada di bawah postingan-nya.   Ketika tak melakukan promosi bisa saja ia menghadapinya, karena ia memiliki waktu yang cukup banyak untuk mengobati dirinya sendiri. Namun ketika promosi ia tak pernah berani. Sebab ia tak ingin mempengaruhi kinerjanya di atas panggung. Selain itu ... jika ia ketahuan mencuri waktu melihat social media, ponselnya akan di sita oleh Hana.   “Aku akan melakukan mention party.” Ujar Zeta seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Bersiap menyapa para penggemarnya.   . . .   Hi! Zeta di sini. Ayo lakukan mention party selama lima belas menit.   Senyuman Zeta merekah ketika serbuan balasan mulai masuk memenuhi pemberitahuannya. Ia membaca satu persatu balasan di kolom komentar, sesekali membalas komentar yang menurutnya lucu dan unik. Iris matanya kembali bergulir sampai ia menemukan sebuah akun dengan display name bertuliskan huruf J.   Balasan lelaki itu tak ada yang special. Dia hanya mengatakan ‘Hi Baby, Senang melihatmu.’ Namun entah mengapa ia tergerak untuk membalas postingan tersebut lalu membuka profil lelaki itu.   Akun baru. Pikir Zeta.   Zeta terkesiap ketika melihat beberapa cuitan lelaki itu, yang paling mengejutkan adalah cuitan pertama yang membuatnya benar-benar curiga.     Aku harap kau akan senang menerima hadiah dariku.     Tak hanya kalimatnya, namun waktunya pun benar-benar mengejutkannya. Di sana tertera enam hari yang lalu, tepat di hari yang sama dimana ia menerima hadiah itu.   Zeta meneguk ludahnya kasar, entah mengapa mendadak merasa sangat gugup. Apalagi setelah melihat seberapa misterius akun tersebut, membuatnya benar-benar penasaran, siapa yang berada di balik akun itu? Mengapa ia merasa bahwa sosok dibalik akun ini bukan orang biasa? Ataukah ... hanya perasaannya saja yang berlebihan?   Tapi sungguh ia benar-benar merasa aneh ia merasakan sesuatu yang tak biasa dari biasanya ... mungkinkah dia yang mengirimkannya hadiah mewah itu untuknya? Sebab ... tanpa alasan yang jelas perasaannya mengatakan demikian.   “J? Siapa J? Tak biasanya ada yang mengirim hadiah hanya dengan inisial.”   Zeta menoleh ke arah Lucy yang sedang mengamati secarik kertas yang di ambil  dari dalam box sebuah tas mewah, salah satu dari hadiah yang perempuan itu terima. Dari tempatnya duduk ia bisa melihat ada huruf J dibawah note itu. Zeta menghela nafas panjang, merasa kecewa dengan prasangka yang ia bangun sendiri.   J ya? Zeta menatap ponselnya lagi mengamati profil lelaki itu sesaat lalu menghembuskan nafasnya lagi secara perlahan. Rasa kecewanya mulai tumbuh, semakin besar ketika menyadari bahwa mungkin saja maksud dari lelaki itu adalah hadiah untuk Lucy ‘kan? Bukan untuknya.   Zeta menggelengkan kepalanya perlahan. Kau terlalu percaya diri Zeta, kau pikir manusia dengan inisial J di bumi ini hanya satu?     Zeta menghembuskan nafasnya lagi, kembali menggulir kolom balasan. Setelah beberapa saat jemarinya bergulir lambat tepat disebuah balasan yang membuat Zeta meneguk ludahnya kasar, tiba-tiba nafasnya tercekat, matanya bergulir panik, kedua tangannya pun mulai bergetar hebat diiringi dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di sekujur tubuhnya.   Tidak! tidak! jangan sekarang. Jangan sekarang!!! Zeta menggeleng-gelengkan kepalanya, ia segera bangkit, berjalan ke kamarnya dengan langkah terseok. Begitu sampai di kamar tubuhnya terjatuh, ponsel yang ia pegang pun terjatuh, tubuhnya lemas, nafasnya memburu, tersengal dengan air mata yang perlahan keluar, menetes dari kedua matanya.   Sakit. Sakit sekali. Lagi dan lagi. Mengapa orang-orang begitu jahat padanya? Mengapa dia sangat jahat? Mengapa mereka berkata begitu buruk padanya?   Apakah ia memang lebih pantas mati? Apakah ia memang lebih pantas tak ada di dunia ini? Mengapa mereka begitu jahat?!       Aku pikir kau sudah mati.   Kau tak pantas berada di Crown Queen.   Jalang sepertimu tak pantas berada di grup, kau tahu? Yang harus kau lakukan sekarang adalah pergi, keluar dari grup dan jangan pernah kembali.   Kau tak pantas hidup. Mati saja kau!   Aku hanya ingin kau mati! Cukup mati saja! kau sakit jiwa! Tak berguna!   Kau pikir kau cantik? Tubuhmu datar seperti dinding. Tidak menarik! Tak usah sok cantik!   Kau hanya perempuan dengan orangtua tak jelas!       “Eonni! Eonni!!!”   Zeta hanya terus menangis tersedu dengan tangan kanan yang memukuli dadanya yang terasa sesak. Begitu menyakitkan. Semakin banyak ingatan tentang kalimat-kalimat itu semakin sesak dan sakit pula di dadanya.   “Eonni!” Lucy memeluk tubuhnya. “Eonni maafkan aku ... maafkan aku.”   Zeta tak sanggup menjawab, ia hanya terus menangis hingga tubuhnya semakin melemah sampai akhirnya setelah hampir satu jam berlalu ia kehilangan kesadarannya, tertidur dalam dekapan tubuh mungil Lucy.     ***   Alami Gangguan Kecemasan, Kings Entertaiment Mengumumkan Zeta Tak Akan Melanjutkan Kegiatan Promosi     Langkah kaki Jeffrey terhenti di depan pintu masuk ruangan rapat tepat sesaat setelah membaca judul sebuah artikel yang tiba-tiba ia temukan. Rahangnya mengatup, nafasnya tertahan sesaat sebelum mendengus.   “Kenapa ... Oh kau sudah membacanya?” ujar Anton.   Jeffrey menoleh ke arah Anton dengan rahang yang masih mengatup, iris matanya mendelik menatap tajam ke arah sahabatnya itu. “Kau sudah membacanya?”   “Pagi ini.”   “Apa?” Jeffrey menghadap ke arah Anton. “Pagi ini dan kau tidak memberitahukannya padaku?”   Anton tak menjawab, lelaki itu menghembuskan nafas perlahan kemudian menyeret Jeffrey memasuki ruangan kerjanya secara paksa. Tak mungkin mereka membicarakan hal pribadi di depan umum bukan? Mereka membutuhkan privasi.   “Aku tak bisa memberitahumu karena kau ada rapat penting.” Jawab Anton sebelum Jeffrey memarahinya. “Jika kau mengetahui berita ini dari pagi, aku yakin rapat kita akan terganggu. Kau tak akan pernah berkonsentrasi Jeff.”     Bukan tanpa alasan Anton mengatakan hal itu. Ia sengaja melakukannya karena beberapa hari belakangan ini Jeffrey terlalu fokus pada Zeta. Lelaki itu benar-benar gila, bahkan lebih gila darinya yang menyukai grup itu terlebih dulu. Jeffrey tak hentinya mengirimkan hadiah yang dirasa bagus, dia juga selalu saja bermain dengan social media-nya setiap saat hanya untuk melihat berita Zeta. Akhir pekan yang biasanya digunakan bekerjapun sekarang tak lagi. Dia hanya akan mengajaknya bekerja satu sampai dua jam saja setelahnya Jeffrey sibuk dengan dunianya sendiri.   Hal itu memang tak mengganggu pekerjaan mereka, setidaknya ... sampai sejauh ini tak mengganggu. Namun jika Jeffrey mengetahui berita itu sejak pagi ia yakin hari ini akan sangat berantakkan. Ia tahu Jeffrey sangat terobsesi pada Zeta, lelaki itu benar-benar terobsesi. Sehingga ketika terjadi sesuatu pada Zeta ia sangat yakin konsentrasi Jeffrey pasti akan sangat terganggu.   Anton menatap Jeffrey lagi yang kini duduk di sofa tepat di tengah ruangan. “Agensi hanya memberikan kabar hiatus-nya Zeta saja? Mereka tak akan melakukan tindakan hukum pada orang-orang yang melakukan hate comment itu?”   “Percuma, Zeta tetap mendapatkan hate comment.”   Jeffrey kembali mendelik. “Percuma kau bilang? Dengar! Bukan salah pembenci yang terus mengulangi itu. Tapi karena tak ada tindakan yang lebih tegas! Agensi tidak benar-benar menindak tegas mereka!”     Nafas Jeffrey tersengal, menahan luapan emosi yang hampir saja meledak. Ia mengalihkan pandangannya kemudian mendengus.   “Agensi hanya akan menjadi agensi. Mereka akan selalu seperti itu. Melakukan tindakan secukupnya.”   “Maksudmu tak penting?!” Seru Jeffrey. Akhirnya meledakkan amarahnya. “Lihatlah sekarang, jika sudah seperti ini bagaimana?! Lihat! Dia bahkan harus menghentikan aktivitas promosinya sementara waktu karena gangguan kesehatan mental. Kau pikir ini tak berbahaya?! Kau pikir tak penting?!”   “Seharusnya agensi melakukan sesuatu hal yang lebih baik! Seharusnya mereka benar-benar menindak tegas! Tidak hanya dengan janji dan rencana! Mereka harus benar-benar melakukannya! Mereka harus membasmi manusia-manusia tak berguna itu!”     Kenapa jadi ia yang kena marah? Anton mendengus kesal. Beberapa saat ia menghela nafas mencoba memahami Jeffrey yang memang sedang sangat gila. Ia menatap Jeffrey setelah dirasa lebih tenang. “Lalu bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan sebagai penggemar? Kita sudah melakukan yang terbaik dengan berusaha membuat agensi membuka mata Jeffrey.”   Anton menatap Jeffrey lamat, ia bisa melihat rahang sahabatnya itu mengatup kedua tangannya pun mengepal dengan sangat erat. Anton menghembuskan nafasnya lagi ketika merasakan aura negatif yang mulai menguar dari diri Jeffrey.   “Apa yang kau pikirkan Jeff, aku peringatkan kau jangan berbuat nekad! Ingat kau ... hanya penggemar.”   “Aku ... .” Jeffrey menatap nyalang, penuh tekad.     “Akan mengakuisisi agensi itu!”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD