Zeta memandang langit. Menatap salju yang perlahan turun, terjatuh menutupi kota, mengubah semua hal yang ia lihat menjadi serba berwarna putih. Angin malam berhembus, terasa begitu dingin menusuk hingga ke tulang. Akan tetapi hal itu tidak membuatnya beranjak, ia justru mengulurkan tangan menyambut salju turun mengenai telapak tangannya.
“Dingin.” ujarnya perlahan seraya menyunggingkan senyuman.
“Sudah tahu dingin, gunakan pakaianmu dengan benar Zeta.”
Tubuh Zeta terkesiap, seketika menegang ketika mendengar suara bariton yang terdengar begitu asing di telinganya. Ketika ia hendak berbalik sebuah tangan menahannya, kemudian sebuah jas tersampir di bahu, menutupi tubuhnya yang hanya terbalut sebuah pakaian berbahan rajut. Tak lama setelah itu sepasang tangan kekar melingkar di tubuhnya, mengekangnya, membuatnya mau tak mau hanya diam. Tak dapat melakukan apapun.
Zeta membasahi bibirnya, meneguk ludahnya kasar, gugup sekaligus takut. Siapa lelaki ini? Siapa yang berani memeluknya seperti ini?
“Hangat?”
Tanpa sadar Zeta mengangguk jujur, ia memang merasakan tubuhnya mulai menghangat karena jas dan juga pelukan lelaki itu. Tubuhnya kembali terkesiap, mematung di tempat ketika merasakan puncak kepalanya dikecup hangat oleh sebuah benda lunak.
“Sejak pertama aku melihat kalung ini, aku merasa kau akan sangat cocok menggunakannya. Tanpa kuduga, ternyata benar-benar cocok. Kau menyukainya?”
Tunggu ... apakah lelaki ini yang memberikan kalung itu untuknya? Semua perhiasan itu darinya? Ketika ia hendak berbalik untuk melihat paras lelaki itu, pelukan yang ia dapatkan mengerat membuat tubuh Zeta semakin terkurung tak bisa melakukan apapun lagi kecuali hanya diam. Padahal ia sangat ingin melihat lelaki itu, ia ingin melihat parasnya. Ia ingin tahu identitas si pengirim hadiah itu.
“Jangan hanya menyimpannya Zeta, sudah kukatakan aku memberikannya untuk kau gunakan. Kau mengerti?”
Pelukan itu mengendur, kesempatan baginya untuk berbalik menatap lelaki itu. Namun baru saja ia hendak berbalik gerakan lelaki itu lebih cepat. Lelaki itu meraih dagunya lalu mengecup bibirnya, melumatnya, membawanya pada ciuman yang begitu dalam dan sangat intim.
Secara naluri Zeta menutup kedua matanya, ketika ciuman itu mengendur pelahan ia membuka mata, menatap iris mata tajam dengan alis yang menukik tepat didepan matanya.
.
.
.
“Eonni!!! Bangun. Saatnya sarapan Eonni.”
Zeta terkesiap ketika merasakan guncangan pada tubuhnya dan suara nyaring yang berada tepat di depan telinganya. Seketika ia terjaga kemudian mengedarkan pandangannya kesekitar kamar yang ia tempati. Ia menghela nafas panjang, merasa lega ia masih berada di dorm-nya. Bukan di tempat asing yang berada dalam mimpinya itu.
Zeta memejamkan matanya lagi lalu menggelengkan kepalanya sesaat seraya mengurut keningnya yang terasa begitu pening.
Ini gila. Ini benar-benar gila. Bagaimana mungkin ia bermimpi bertemu dengan lelaki itu? Bagaimana mungkin? Padahal identitasnya saja ia tak tahu. Rupanya saja ia tak tahu. Bagaimana mungkin dia bisa memimpikannya begitu saja?
Padahal ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan hadiah. Tapi si pemberi hadiah ini entah mengapa begitu mengganggu pikirannya. Apalagi hingga dia mampir di mimpinya. Tidakkah itu terasa gila?
“Eonni ... kau kenapa?” tanya Nia yang memang membangunkannya. “Apa aku mengganggu tidurmu? Apa kau tak enak badan? Eonni ... maafkan aku. Aku hanya ... .”
Zeta menggelengkan kepalanya pelan kemudian bangkit lalu bersandar pada kepala tempat tidur. “Aku tak apa. Aku hanya bermimpi ... jadi sekarang aku merasa sangat lelah.”
“Mimpimu terasa begitu nyata Eonni? Sampai kau merasa kelelahan begitu?”
Helaan nafas terdengar, ia kemudian mengangguk. “Sebelumnya aku tak pernah sampai seperti ini Nia. Aku bermimpi, bersama seseorang yang bahkan tidak aku ketahui, wajahnya pun aku tak tahu tapi rasanya benar-benar nyata. Apakah menurutmu ini aneh?”
Perempuan yang lebih muda darinya melipat kedua tangan di d**a, terlihat berpikir. “Orang asing ya? Aku tak tahu jika bersama orang asing. Jika orang itu pernah kau temui mungkin sedikit masuk akal. Atau ... mungkin kau terlalu memikirkannya sampai kau memimpikannya?”
Ah! Benar. Mungkin ia terlalu memikirkan lelaki itu, mungkin juga karena ia terlalu penasaran akan sosok dibalik si pengirim hadiah mewah untuknya itu. Sampai-sampai pikirannya terganggu hingga bermimpi yang tidak-tidak.
Clek.
“Kalian sedang apa? Nia aku memintamu membangunkan Zeta tapi kau malah menghilang dan hanya diam di sini.” Itu Juliet. Perempuan itu menyilangkan kedua tangan di d**a.
Nia tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya hingga kedua matanya menyipit layaknya bulan sabit. “Maafkan aku Eonni. Aku hanya sedikit bercerita tadi. Sekarang aku akan sarapan.” Ujar Nia sebelum beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
“Ada apa Zeta? Sesuatu menganggu pikiranmu?”
Zeta tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak Eonni, hanya mimpi aneh. Bukan masalah besar.”
“Oh. Begitu. Kalau begitu segeralah bangun dan bergabung di meja makan. Hana Eonni mengatakan hari ini kita free, sebelum akhir pekan nanti rekaman untuk festival musim panas.”
Zeta mengangguk kecil. Hana menelponnya semalam dan mengatakan hal itu juga padanya. Sehingga ia tak perlu terkejut lagi dengan ucapan Juliet. “Aku akan mencuci wajahku sebentar, kau bisa sarapan lebih dulu Eonni. Nanti piring kotor biar aku yang cucikan.”
Juliet terkekeh kecil. “Kau ini belum apa-apa sudah membahas cucian. Sudahlah cepat ke meja makan.” Ujar Juliet sebelum pergi.
Zeta menghela nafas lalu bangkit dari tempat tidurnya, sebelum beranjak ia membereskan ranjangnya terlebih dahulu, memastikannya rapih kembali sebelum masuk ke kamar mandi.
Zeta menatap pantulan wajahnya di cermin, menatap ke arah kanan wajahnya yang menunjukan sebuah bekas luka di sudut mata bagian kanannya. Senyumannya perlahan tersungging, perasaannya selalu menghangat setiap kali ia melihat bekas luka itu. Bekas luka yang mengingatkannya pada sosok guardian angle yang saat kecil ia miliki.
.
.
.
“Jangan digaruk. Nanti wajahmu terluka.” Sosok anak kecil itu merengut lalu mendengus sesaat. “Lihat, berdarah. Pasti nanti berbekas. Bagaimana jika nanti ada yang mengejek bekas lukanya?”
Bukannya menangis, ia yang saat itu baru berusia lima tahun terkekeh pelan. Merasa bahagia dengan perlakuan yang diberikan oleh anak lelaki yang terpaut lima tahun dengannya itu. “Tidak mungkin Oppa! Tak akan ada yang berani mengejekku. Bukankah kau akan selalu ada untukku saat orang-orang menjahatiku?”
Anak lelaki itu menghela nafas. “Tentu saja! Aku Jung Dohyun. Aku berjanji akan selalu melindungimu, Lee Chaeyong. Aku akan selalu melindungimu, kapanpun, dimanapun dan sampai kapanpun aku akan tetap menjadi pelindung sejatimu.”
“Apakah seperti kesatria berjubah hitam?”
“Hm? Mungkin? Oppa tak tahu. Tapi Oppa ... akan selalu melindungimu Chaeyong-ie.”
.
.
.
Zeta terkekeh pelan ketika ingatan masa kecilnya kembali terngiang dalam benaknya. Sangat menggemaskan.
Sebenarnya ia tak benar-benar yakin dengan ingatan masa kecilnya itu. Sebab saat itu usianya masih sangat kecil, lima tahun dan Dohyun –lelaki dalam ingatannya itu- berusia sepuluh tahun. Mungkin banyak sekali potongan kenangan yang tidak ia ingat, atau mungkin ingatan yang tersisa terlalu berlebihan? yang jelas yang ia ingat secara pasti hanya satu hal. Dohyun. Jung Dohyun. Hanya nama itu yang sangat amat ia ingat dan sangat ia yakini dalam pikirannya.
Dohyun ... lelaki yang terpaut usia lima tahun lebih tua darinya itu entah berada dimana. Dua puluh satu tahun berlalu tapi ia belum mendengar kabar lelaki itu sama sekali. Apakah dia masih hidup? Apakah dia hidup dengan layak? Ia tak tahu.
Apakah terdengar aneh?
Oh ya ... ia dan Dohyun memang besar bersama di sebuah panti asuhan. Tapi ketika Dohyun berusia sepuluh tahun, dia di adopsi oleh pasangan yang berasal dari luar negeri. Tak lama setelah itu ia juga di adopsi oleh keluarga dengan marga yang sama dengannya, Lee. Sayang sekali ia tak ingat kemana Dohyun di bawa. Ia tak tahu dimana lelaki itu.
Ia hanya mengingat janji yang lelaki itu buat dan sampai sekarang ia memegang teguh janji itu.
.
.
.
“Oppa berjanji ketika Oppa sudah dewasa Oppa akan mencarimu dan membawamu bersama Oppa. Kita akan hidup bersama lagi dan ... tentu saja. kita akan menikah.”
“Menikah? Apa itu?”
Dohyun terkekeh kecil. “Nanti ... saat sudah besar kau akan tahu. Ingat satu hal ... kau harus berjanji kau harus tumbuh dengan baik. Kau harus baik-baik saja selama Oppa tak ada. Pegang janji Oppa, Oppa akan kembali. Oppa akan datang lagi untukmu, untuk melindungimu dari apapun. Chaeyong-ie mengerti?”
.
.
.
Sepuluh tahun berlalu setelah hari itu. Saat itu ia tumbuh menjadi perempuan dengan paras yang menawan dan juga bakat bermusik yang tiba-tiba muncul. Sampai ketika ia berusia lima belas tahun orangtuanya menyarankan untuk menjalani pelatihan di sebuah agensi, menjalani hari-harinya menjadi trainee demi menjadi idola terkenal agar Dohyun bisa menemukannya dengan mudah. Agar mereka bisa bertemu lagi.
Namun sayang sekali ... Dulu ... hingga sekarang ... bahkan setelah empat tahun ia menjadi idol ia tak pernah benar-benar mendapatkan informasi terbaru tentang lelaki itu. Seseorang pun tak pernah benar-benar mencarinya dan mengenalinya. Padahal di profil dirinya ia sudah menuliskan semua informasinya dengan jelas dan dengan jujur, ia pun terkadang menceritakan kehidupan kecilnya dengan Dohyun di media. Tapi mengapa Dohyun tak juga datang? Mengapa lelaki itu tak juga menemuinya?
Apakah lelaki itu sudah melupakannya setelah mendapatkan hidup baru?