Perbedaan Cinta dan Obsesi
Iris mata Jeffrey terus bergulir seiring dengan jemarinya menggulir layar iPad di tangannya. Sejak terjaga dan sadar ia memimpikan tentang perempuan yang belum pernah ia temui itu, ia menjadi terpikirkan dengan dua hal tersebut. Apakah ia mengalami cinta pada pandangan pertama? Ataukah hanya terobsesi pada perempuan itu saja? Hanya tertarik sebatas fisik misalnya?
Namun apakah yang ia dapatkan? Satu hal tentang cinta yang membuatnya sadar bahwa perasaan yang ia rasakan terhadap perempuan itu hanyalah obsesi.
Artikel yang ia baca menyebutkan bahwa cinta yang sesungguhnya membutuhkan waktu untuk tumbuh, tidak datang dengan begitu saja, dengan kata lain tak ada yang benar-benar di sebut dengan cinta pada pandangan pertama.
Jeffrey mendengus sesaat sebelum mematikan layar dari benda pipih itu. Perhatiannya beralih pada Anton yang sudah berdiri dengan melipat kedua tangan di d**a, menatapnya dengan tatapan sarat akan emosi.
“Aku tak ada waktu menanggapi omelanmu. Masuk. Kita berangkat sekarang.”
Sepanjang perjalanan Jeffrey tak mengindahkan apapun. Ia bahkan tak berniat membuka matanya. Kepalanya terasa mulai pening, terasa semakin berputar dengan dua hal yang benar-benar mengganggu pikirannya. Cinta dan obsesi. Jika boleh jujur hatinya masih tak terima jika perasaannya dikatakan sebagai obsesi. Namun pikiran rasionalnya menyangkal jika perasaannya adalah perasaan cinta.
Jeffrey mendesah perlahan dengan mata yang terpejam. Sekarang ... lagu dari grup perempuan itu bahkan serasa tak mengganggunya. Padahal biasanya ia sangat terganggu dengan lagu-lagu mereka. Ada apa sebenarnya dengan dirinya ini? Apa yang salah?
Apakah ia jadi benar-benar terobsesi pada perempuan itu?
“Ada apa dengan wajahmu itu Jeffrey? Kau seperti banyak beban. Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Anton begitu ia mendudukan diri di balik meja kerjanya. “Apa ada pekerjaan yang hasilnya tak sesuai keinginanmu?”
Jeffrey menatap kosong pada layar hitam di hadapannya. Mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu. Ia tak benar-benar bermaksud mengabaikannya. Hanya saja ia masih memerlukan waktu untuk berpikir, ia masih memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan kegundahan hatinya ini.
Agar tidak memanjang dan agar tidak mengganggu kinerjanya.
“Baiklah ... kalau begitu aku akan ke ruanganku. Jika kau memiliki sesuatu yang ingin kau katakan panggil saja. Aku akan berusaha membantumu.”
“Zeta Lee.” Ujarnya tiba-tiba.
“Zeta Lee? Ada apa? Apa yang harus aku bantu?”
Jeffrey mengangkat wajahnya, lalu menatap Anton dengan tatapan penuh keyakinan.
“Sepertinya aku terobsesi pada perempuan itu Anton. Bantu aku mendapatkannya.”
“APA?! Kau gila?!” Anton menggebrak mejanya. Menatapnya dengan tatapan nyalang, terlihat sangat jengkel dengan ucapannya. “Kau ... mau aku membantuku mendapatkannya? Hei! Jeff. Jangan gila. Jika kau memang terobsesi pada perempuan jangan dia. Sadarlah!”
“Kenapa?”
“Kenapa kau bilang? Apa lagi? Tentu saja karena untuk mendapatkannya akan sangat sulit! Bisa saja kau akan single seumur hidupmu jika kau terobsesi ingin bersamanya padanya. Dengarkan aku Jeff. Jika mendapatkan mereka bisa semudah menghadapi sifatmu yang menjengkelkan, mungkin sekarang aku sudah pacaran dengan salah satu member Crown Queen.”
Anton mendengus seraya menegakkan badannya. “So ... jangan berpikir yang tidak-tidak ok? Carilah perempuan yang lebih mudah. Model yang kemarin mendekatimu misalnya? Jangan Zeta. Jangan perempuan yang sulit di dapatkan.”
Jeffrey mendelik, menatap Anton tajam.
“Kau percaya ... terkadang sesuatu yang tampak tak mungkin bisa saja menjadi kenyataan?”
“Aku percaya. Tapi tidak dengan menjalin hubungan dengan Zeta. Demi Tuhan! Dia Idol Jeffrey! Berkencan adalah larangan nomor satu dalam aturan mereka.”
Beberapa saat kemudian ia menyeringai seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Lihat saja ... aku akan mendapatkannya Anton. Bagaimanapun caranya.”
Anton mengusap wajahnya kasar. Stress dengan keinginan lelaki dihadapannya ini. “Jangan terlalu percaya diri. Kau bahkan tak memiliki pengalaman dalam percintaan.”
“Tak memiliki pengalaman bukan berarti aku tak bisa merencanakan.” Jeffrey menaikkan satu alisnya dengan seringaian yang masih terpatri apik di wajahnya. “Sekarang ... bantu aku untuk mengenalnya lebih jauh lagi.”
“Tidak. Aku. Tidak mau.”
“Baiklah.” Jeffrey melipat kedua tangannya di d**a. “Jika kau tak bisa membantuku mendekatinya dengan cara yang halus aku akan mendekatinya secara terang-terangan.”
Anton terkekeh pelan. “Kau tak akan pernah bisa melakukannya Jeff.”
“Siapa bilang? Kau lupa aku memiliki social media? Bisa saja aku mengumumkan pada publik aku menyukainya. Tak ada yang sulit.”
“Kau tak akan pernah berani melakukannya.”
Jeffrey terkekeh pelan, tangan kanannya meraih ponsel yang tergeletak di meja. Mengotak-atiknya sesaat lalu mengetikkan sesuatu di sana.
“Siapa bilang?” Jeffrey menyimpan ibu jarinya di atas tombol kirim. “Aku hitung sampai lima sebelum aku menjadikan cuitan ini sebagai berita menggemparkan.”
“Kau!” Anton mengerang. “Kau benar-benar membuatku gila Jeffrey! Hapus sekarang juga! Jangan macam-macam. Jangan membuat pekerjaanku bertambah!”
“Jadi? Mau membantuku?”
“Ya! Aku akan membantumu. Puas?! Sekarang hapus itu.”
“Hapus tidak ya?” goda Jeffrey membuat sahabatnya semakin berang.
“Hapus sekarang juga Jung Jeffrey!!!”
.
.
.
“Aku sudah membuatkan fake account untukmu. Pakai ini. Jangan gunakan akun centang birumu.” Anton memberikan ponsel lain padanya. “Aku sudah follow beberapa akun yang harus kau ikuti. Ini akun official Crown Queen, ini daftar fansite ... ah maksudku mereka ini fans yang selalu ikut setiap jadwal Zeta, mereka juga selalu membagikan foto off atau on cam. Lalu ... aplikasi ini. kau bisa menggunakannya untuk memberikan semangat pada Zeta. Tak hanya Zeta. Member lainpun ada di sini. Lalu ... ini channel yang akan memberikan konten.” Jelas Anton seraya menggulir layar ponsel di tangannya dengan cepat.
“Kau mengerti?”
Jeffrey mengedikkan bahu lalu meraih ponsel di tangan Anton. Sebenarnya ia tak begitu peduli dengan apapun. Baginya yang terpenting ia bisa berkomunikasi dengan Zeta. Sudah, hanya itu.
“Kau benar-benar bertekad Anton. Sampai membelikanku ponsel baru.”
Anton mendengus. “Lebih baik aku membelikanmu ponsel baru daripada aku harus menanggung resiko kau salah menggunakan akun. Aku tak mau stress dengan gosipmu, aku sudah sangat stress menghadapi semua pekerjaan yang kau berikan.”
“Mengapa mereka memberikan hadiah pada Zeta?” Jeffrey mendengus. “Memang uang mereka banyak sampai membelikan Zeta banyak hadiah mahal?”
“Jangan salah ... Uang mereka banyak, meskipun tak sebanyak uangmu Mr. Kendrick.” Ujar Anton sarkas.
“Aku juga akan mengirim Zeta beberapa hadiah.”
Mendengar hal itu Anton segera menoleh, menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
“Jangan berikan hadiah tak masuk akal.”
Jeffrey terkekeh pelan. “Tentu saja pemberianku normal. Aku memang terobsesi pada perempuan itu. Tapi aku tak segila itu. Aku tak mungkin memberikannya hadiah tak masuk akal.”
“Lalu apa yang akan kau berikan?”
“Kemarin tanpa sengaja aku melihat iklan RF. Jadi aku akan membelikannya.”
“Ah ... RF? Kau pesan perhiasan macam apa pada Rexford? Aku pernah melihat member lain mendapatkan sepasang anting. Meskipun bukan dari Rexford. Jadi aku anggap normal.” Ujar Anton seraya menyandarkan punggungnya lagi pada sofa. Merasa tenang dengan pikiran lurus Jeffrey.
“Satu set perhiasan limited edition yang akan di rilis minggu depan.”
“Jeff!!! Kau ... .” Anton mengerang lagi. Jengkel dengan langkah yang dilakukan Jeffrey. “Demi apapun, itu harganya lima juta dollar! Kau!”
“Kau bilang normal. Yasudah aku pesankan saja. Lihat. Pesananku akan di proses dan langsung di kirim ke agensi.” Jeffrey menunjukan sebuah surat elektronik tanda jual beli yang telah sah pada Anton.
Jeffrey menatap Anton yang kembali mengerang. Lelaki itu sekarang tampak sangat kesal padanya. Dia bahkan menatapnya dengan rahang mengatup dan kedua tangan yang mengepal.
“Aku akan resign hari ini juga!” desisnya. “Aku sudah tak kuat menghadapi kelakuanmu Jeff! Kau ... kau benar-benar tak normal!”
“Karena normalnya aku terus berkencan dengan layar komputer. Bukankah begitu?”
Anton melongos. “Sebaiknya aku pulang saja! Jangan lupa kau harus kirimkan bayaran lemburku malam ini!”
Jeffrey menghela nafas panjang seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Pikirannya kembali berkelana pada mimpi yang ia alami di malam sebelumnya.
“Aku memimpikan Zeta.”
“WHAT?!”
Anton berbalik kembali. Lelaki itu duduk menghadapnya. “Bagaimana bisa kau ... memimpikan Zeta? Kau ... .” Anton mendesah lalu membasahi bibirnya. “Aku saja ... aku tak pernah memimpikan salah satu dari mereka. Bagaimana bisa kau memimpikannya? Kau benar-benar terobsesi padanya Jeff!”
“Mungkin?” Jeffrey menghembuskan nafasnya lagi. “Aku bermimpi dia berada di sini. Di tempatku, bersamaku dan memakai perhiasan yang sama persis dengan design dari RF yang aku pesan untuknya.”
“Jadi ... hanya karena itu kau memberikan hadiah untuknya?”
Jeffrey mengedikkan bahu. “Entahlah.”
Ia juga tak yakin mengapa dengan impulsif ia membelikan hadiah itu untuk Zeta. Ia hanya tergerak saja, ia hanya ingin memberikan sesuatu yang berharga pada perempuan yang belum pernah ia temui itu, yang berkesan dan membuat Zeta tak melupakannya. Lagipula siapa yang tahu bukan akan masa depan seseorang? Bisa saja mimpi itu adalah pertanda masa depan yang baik untuk hubungan mereka.
Atau ... mungkinkah ia memberikannya benar-benar hanya karena terobsesi? Hanya untuk kepuasannya sendiri atas imajinasi yang datang padanya?
“Kau gila. Kau sepertinya benar-benar terobsesi pada Zeta Jeff.
Jeffrey melirik Anton. Apakah ia benar-benar terlihat sangat terobsesi? Jadi ia melakukan semuanya hanya karena obsesi?
“Ingat ... jika kau tak bisa memilikinya jangan menjadi orang gila Jeff.”
Jeffrey terkekeh pelan. “Tak akan.”
“Aku tak yakin. Sekarang saja kau sudah mendekati gila.”
Jeffrey melirik Anton lalu menyeringai. “Aku tak akan pernah menjadi orang gila Anton. Karena ... aku akan memastikan dia benar-benar menjadi milikku. Lihat saja nanti.”
Ya! Ia akan bertekad. Bagaimanapun caranya ia harus memiliki perempuan itu. Entah karena obsesi atau apapun. Ia tak peduli. Sebab yang terpenting baginya adalah memiliki perempuan itu.
Titik.