Ini gila! Sangat gila.
Memikirkan perempuan itu membuat Jeffrey merasa menggila. Ia bahkan tak bisa melepaskan bayang-bayang cantik perempuan bersurai keemasan itu. Ia tak bisa melepaskan obsidian indah itu dari ingatannya, ia tak bisa melepaskan apapun yang ada pada perempuan itu. Meski hanya sekilas, tapi perempuan itu berhasil menginvasi seluruh isi pikirannya, membuat matanya enggan terlelap hanya karena pikirannya terus di hantui oleh perempuan itu.
Rasanya ... sangat gila. Sangat gila. Ia yakin ... sebelumnya ia tak pernah merasa sefrustasi ini. Tapi kenapa sekilas tentang perempuan itu sangat mengganggu pikirannya? Mengapa ... dia bisa dengan mudah menerobos pertahanan hatinya?
Jeffrey menatap langit-langit kamarnya, termenung seraya mengatur nafasnya. Menenangkan hatinya yang serasa semakin menggila setiap memikirkan perempuan itu. Ia tak pernah segila ini hanya karena seorang perempuan, satu kalipun ia tidak pernah. Jangankan dalam video, perempuan cantik yang ia lihat secara langsung pun tak pernah tertarik di matanya.
Bukannya ia ingin menyombongkan diri, tapi beberapa kali ia pernah di dekati perempuan cantik, dari mulai model seksi, penyanyi terkenal bahkan banyak dari mereka perempuan dengan intelegensi tinggi pernah berniat menjalin hubungan dengannya. Tapi tak ada satu pun yang membuatnya tertarik, tak ada yang bisa membuat jantungnya bergetar hebat seperti ini.
Hanya dia! Hanya perempuan itu yang mampu melakukannya. Hanya perempuan yang sekilas ia lihat dari cuplikan video singkat.
Jeffrey meneguk ludahnya kasar kemudian meraih iPad yang ia simpan di nakas, lalu mengetikkan sesuatu di sana hingga munculah berbagai artikel profil dan biodata dari grup yang ia cari, Crown Queen.
Jemarinya menggulir tak sabaran mencari sosok perempuan yang ia cari sampai gulirannya terhenti tepat di sebuah foto perempuan yang menatap kamera dengan begitu berani dengan sebuah kacamata hitam bertengger di atas kepalanya dan juga gaun khas musim panas berwarna hijau daun yang mampu menonjolkan kulit putih bersih perempuan itu, hingga di matanya sosok cantik itu terlihat begitu bercahaya, sangat mencolok, memenuhi pandangannya.
“Zeta Lee ... ?” Seulas senyuman terlihat di bibir Jeffrey. “Mawar? Cantik ... sangat cocok untukmu.”
Telunjuk Jeffrey kembali bergulir lalu mengetikkan sesuatu hingga munculah deretan video performance yang di lakukan perempuan itu
Mata Jeffrey melebar, nafasnya serasa tercekat ketika melihat tarian seksi yang dilakukan oleh perempuan itu. Jeffrey meneguk ludahnya kasar lalu membasahi bibirnya yang mendadak terasa begitu kering. Mengapa tubuhnya menjadi panas? Mengapa ia mendadak gugup?
Tangan kanannya terangkat meremat d**a bagian kirinya.
Dadanya menghangat, bersedisir halus memenuhi seluruh bagian dadanya, memenuhi seluruh ruangan dingin yang berada dalam hatinya hingga ia merasakan kupu-kupu tak kasat mata berterbangan di atas permukaan perutnya. Terasa menggelitik, namun terasa begitu menyenangkan. Secara bersamaan Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Apa-apaan ini?
Telunjuknya kembali menggulir layar mencari video lain hingga berhenti pada sebuah video performance lain, sebuah fancam dari video yang ia lihat di ruangan Anton.
Tidak tidak. Aku harus berhenti. Aku harus tidur sekarang sebelum semakin gila.
Jeffrey segera mematikan iPad di tangannya itu lalu melemparnya sembarangan di atas ranjang sebelum ia mematikan lampu kemudian memejamkan matanya. Mencoba menghapuskan bayangan perempuan cantik itu dari pikirannya. Berusaha melupakannya dengan memejamkan mata dan terlelap ke alam mimpi.
.
.
.
Jeffrey menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur dengan sebuah majalah ditangan. Ia membuka-buka majalah itu tanpa ada niat membukanya sama sekali. Ia terus membukanya sampai halaman terakhir kemudian membukanya kembali dari awal. Ketika ia akan benar-benar membacanya sebuah tangan lentik menarik majalah tersebut hingga iris matanya bertemu dengan obsidian indah di balik majalah tersebut.
Jeffrey mematung, menahan nafas sesaat sebelum meneguk ludahnya sendiri. Debaran jantungnya kembali berdetak dua kali lebih cepat, perasaan hangat itu pun kembali menginvasi seluruh hatinya.
“Aku di sini, kau yakin hanya akan menghabiskan malammu dengan majalah Jeff?”
“Hng?”
Jeffrey membesar ketika perempuan dihadapannya itu tiba-tiba naik, duduk di atas pangkuannya. Tangan lentik yang terasa dingin itu pun mulai membelai wajahnya, menyusuri setiap inch wajahnya, lalu jemari tangan kanan perempuan itu turun membelai bahu hingga dadanya, membuat pola abstrak yang membuat dadanya semakin berdesir hingga membuat kupu-kupu tak kasat mata itu kembali berterbangan di atas permukaan perutnya.
“Jeff ... .” Tangan itu kini beralih memeluk lehernya, memainkan rambut bagian belakangnya beberapa saat sebelum wajah mereka semakin berdekatan, semakin dekat lagi hingga bibir tipis itu menyentuh ... .
.
.
.
KRING!!!!
Seketika Jeffrey membuka matanya. Ia kemudian bangkit lalu menatap ke arah selatannya.
“Oh! s**t!”
***
Anton menatap Jeffrey penuh emosi dengan kedua tangan yang berlipat di d**a. Beberapa saat yang lalu ketika hampir saja ia sampai di kantor, boss-nya ini dengan seenak hati memintanya memutar balik arah. Untuk menjemput pemimpin perusahaannya itu di apartemen pribadinya. Menyebalkan? Tentu saja.
Setiap hari tak ada yang membuatnya tidak kesal pada lelaki itu.
“Aku tak ada waktu menanggapi omelanmu. Masuk. Kita berangkat sekarang.” Ujar Jeffrey seraya memasuki pintu penumpang, di sampingnya.
Anton mendengus, ia mendelik sesaat sebelum memasang sabuk pengaman. Ocehannya sudah berada di ujung lidah, hampir saja ia mengeluarkan semuanya. Tapi melihat keadaan sahabatnya itu membuat omelannya tertelan kembali digantikan dengan dengusan sebal.
Anton menyeringai kemudian menghidupkan musik, memutar lagu kesukaannya. Mengganggu Jeffrey agar lelaki itu pun merasakan kesal yang ia rasakan. Akan tetapi yang terjadi tidak berjalan sesuai dengan rencananya. Jangankan mengomelinya, mematikan lagu yang sedang ia putar pun tidak. Padahal jelas sekali, lelaki itu tidak pernah menyukai lagu-lagu yang ia putarkan.
Selama perjalanan Jeffrey tak mengeluarkan sepatah katapun, lelaki itu hanya diam memejamkan mata seraya mengerut keningnya. Terlihat banyak pikiran dan juga tekanan. Lelaki itu tampak berbeda dari biasanya.
.
.
.
“Ada apa dengan wajahmu itu Jeffrey?” tanya Anton setelah keduanya tiba di dalam ruangan Jeffrey. “Kau seperti banyak beban. Apa yang sedang kau pikirkan?”
Anton menghela nafas lalu berjalan mendekati Jeffrey, setelah itu ia menyandarkan punggungnya pada meja, menatap sahabatnya itu dengan intens. “Apa ada pekerjaan yang hasilnya tak sesuai keinginanmu?” tanya Anton lagi.
Selama ia mengenal Jeffrey hanya ada dua faktor yang membuat mood Jeffrey buruk. Pertama ketika dia tidak memiliki ide bagus, kedua ketika pekerjaannya tidak sesuai harapan. Tapi sepertinya kali ini bukan dua hal itu yang mengganggu sahabatnya. Lelaki itu tampak menyembunyikan hal lain yang belum ia mengerti sama sekali.
Hening. Selama beberapa waktu hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Anton menatap Jeffrey, menunggu lelaki itu mengatakan sesuatu. Sementara yang ditatap tampak berpikir dengan begitu serius. Seperti ketika Jeffrey memikirkan strategi bisnis yang akan lelaki itu hadapi.
Anton mendengus lalu menegakkan punggungnya. Lelah menunggu. “Baiklah ... kalau begitu aku akan ke ruanganku. Jika kau memiliki sesuatu yang ingin kau katakan panggil saja. Aku akan berusaha membantumu.”
“Zeta Lee.”
Anton terbelalak setelah mendengar nama itu keluar dari mulut Jeffrey. Apakah ia tak salah dengar? Jeffrey menyebut nama Zeta?
Anton terkekeh kosong, masih tak percaya dengan yang ia dengarkan. Tubuhnya condong, menghadap Jeffrey dengan pandangan menyelidik.
“Zeta Lee? Ada apa? Apa yang harus aku bantu?”
Jeffrey mengangkat wajahnya, lalu menatap Anton dengan tatapan penuh keyakinan.
“Sepertinya aku terobsesi pada perempuan itu Anton. Bantu aku mendapatkannya.”