Suara gemerincik air perlahan berhenti dari sebuah kamar mandi di sebuah unit apartemen mewah di pusat kota New York. Tak lama setelah itu munculah sosok tinggi tegap dengan tubuh atletis yang hanya di balut selembar handuk yang tergantung di pinggang hingga lutut. Tangan kanannya sibuk mengeringkan rambut diiringi tetesan air yang masih turun satu persatu dari rambut hitam legam lelaki itu, mengalir, turun, membelai secara perlahan di setiap inchi tubuh putih bersih yang berbentuk sempurna tanpa cacat itu.
Setiap pergerakan kecil lelaki itu perlahan semakin mempertontonkan otot yang berbentuk sempurna, otot lengan, d**a dan juga otot perut, semuanya terbentuk begitu sempurna. Tidak sebesar binaragawan, tapi sangat menawan untuk di sebut tubuh atletis impian. Tak hanya tubuh sempurna, lelaki itu memiliki paras yang tak kalah sempurnanya. Alis tebal, iris mata hitam tajam, hidung lancip, bibir penuh, dengan dua dimples di pipi. Tampak begitu tampan dan menawan, bak pangeran-pangeran dari Asia.
Setelah cukup kering handuk ditangannya di lemparkan, lelaki itu kemudian memandangi wajahnya di cermin, menyisir kasar rambutnya dengan jemari. Pergerakannya bagaikan video slow motion, terlihat begitu indah. Sayang untuk di lewatkan. Setelah melakukannya dua kali, lelaki itu meraih pengering rambut lalu mengeringkannya beberapa saat sebelum berjalan memasuki walk in closet. Memilih stelan jas dan juga jam tangan yang akan ia gunakan. Tangannya bergerak meraih stelan jas berwarna navy, setelah di kenakan dengan rapih ia meraih sebuah jam limited edition dengan warna senada. Setelah itu ia menatap dirinya kembali di cermin, memastikan penampilannya sudah sempurna.
Benda pipih yang baru saja ia raih berdering kencang. Menunjukkan sebuah panggilan masuk dari asistennya.
“Aku sudah sampai di basement. Cepatlah, jangan membuatku menunggu lebih lama lagi.”
Lelaki itu mendesis. “Kau bisa meninggalkan mobilnya di basement lalu pergi kekantor sendiri Anton. Aku hanya membutuhkan mobilku.”
“Jangan merajuk seperti anak gadis Jeffrey.”
“Siapa yang kau sebut anak gadis?”
“Kau! Sudahlah, cepat turun dan jangan terlalu banyak mengeluh jika tak mau aku memanggilmu anak gadis. Kau paham? Aku tunggu sekarang. Bye.”
Lelaki itu, Jeffrey J. Kendrick. Ia mendesis seraya memandangi ponselnya dengan kesal. Ia memang sudah terbiasa di perlakukan seperti itu oleh asistennya sendiri. Tapi ia tidak menduga kelakuan asistennya itu tidak berubah sama sekali, beruntung asistennya itu adalah sahabatnya sendiri. Jika orang lain, sudah ia pastikan akan memecatnya tanpa pikir dua kali. Tapi sayangnya ini Anton Kim, sahabatnya yang telah menolongnya sejak dulu dan juga asisten terbaik yang pernah ada di bumi ini. Sebab hanya dia yang mampu memahami cara kerjanya dengan baik tanpa banyak mengeluh.
“Selamat pagi tampan.”
Jeffrey terjengit, ia menoleh ke arah pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka lalu tersenyum. “Ma ... Kapan datang?” ujar Jeffrey seraya berjalan mendekat pada sang ibu, setelahnya ia memeluk tubuh sempit itu sesaat sebelum menggiringnya duduk di satu sofa yang ada di kamarnya.
“Baru saja. Sudah mau berangkat?”
Jeffrey mengangguk. “Anton mengatakan sudah menunggu di basement.”
“Benarkah? Mama tidak melihat ada mobilnya.”
“Anton menggunakan mobilku Ma.”
“Mama juga belum melihat mobilmu.”
Jeffrey kemudian mendesis pelan. “Dia pasti berniat menjahiliku lagi.”
Samantha, Ibu Jeffrey terkekeh pelan melihat wajah kesal sang putera. Perempuan itu mengelus wajah tampannya seraya menyunggingkan senyuman. “Kalian menggemaskan sekali. Selalu saja seperti itu.”
“Anton memang menyebalkan.”
“Bukankah kau sama saja? Kau bahkan menyembunyikan semua koleksi album kesukaan Anton.”
“Habisnya, Ma ... Anton itu sangat menyebalkan. Aku hanya membalasnya saja.”
Samantha menggelengkan kepala sesaat seraya mengelus kedua bahu anaknya. Iris mata berwarna coklat itu menatap ke arahnya dengan begitu intens dan juga terlihat sangat lembut. Membuat hati Jeffrey seketika menghangat, merasakan kasih sayang yang melimpah dari tatapan itu.
“Jeff Mama benar-benar tak menyangka, usiamu sudah mau tiga puluh dua.”
Jeffrey menyunggingkan senyumannya lalu menggenggam tangan perempuan paruh baya itu. “Mama mau Jeff segera menikah ya? Jika memang ingin ... Mama bisa pilihkan pasangan untuk Jeff. Siapapun. Jeff pasti akan menerimanya dengan baik.”
“Jeff ... bagaimana mungkin begitu? Kau harus mendapatkan pasanganmu sendiri Jeffrey.”
Jeffrey menggeleng pelan. “Tak sempat Ma ... tak ada waktu. Selain itu Jeff yakin, pilihan Mama pasti pilihan terbaik untuk Jeffrey. Apa lagi yang harus Jeff ragukan bukan?”
Samantha terkekeh pelan, tangan kanannya menangkup kedua tangan sang putera, menepuknya beberapa kali lalu menatap obsidian itu dengan lamat. “Mama ingin kau memiliki pasangan yang kau cintai Jeff. Pasangan yang kau inginkan dan yang kau rasa terbaik menurutmu.”
“Jeffrey percaya. Pilihan Mama dan Papa adalah pilihan terbaik untuk Jeff. Seumur hidup Jeff selalu mendapatkan yang Jeff inginkan tanpa aturan yang mengekang dari kalian. Jeff rasa mungkin ini saatnya kalian memilihkan sesuatu untuk Jeff bukan?”
Samantha menghela nafas, menyerah mendebati sang putera. Ia kemudian menyunggingkan senyumannya setelah beberapa saat. “Baiklah ... jika memang itu yang kau inginkan, akan Mama bicarakan dengan Papa lagi nanti. Sekarang ... ayo kita sarapan.” Ujar Samantha seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Jeffrey! Kau ini benar-benar anak gadis ya? Dandan lama sekali. Aku sudah menunggumu hingga nyaris berakar!” Seru seseorang dengan menggunakan bahasa Korea. Itu Anton. Tentu saja. Siapa lagi yang bisa berbahasa Korea jika bukan Anton?
“Ah Mrs. Kendrick, anda di sini?” tanya Anton seraya tersenyum lebar. Malu dengan kelakuannya sendiri.
“Berakar apanya? Aku tahu kau baru datang Anton. Jangan membual.” Balas Jeffrey juga dengan bahasa Korea. “Duduklah, aku tahu kau pasti lapar ‘kan?”
Samantha melihat dua orang itu secara bergantian lalu mendengus pelan. “Apakah di usia setua ini Mama harus belajar Bahasa Korea? Bisa-bisanya kalian berbicara dengan bahasa yang tidak Mama pahami di depan Mama.”
“Duduklah Anton, jangan bersikap formal begitu.”
“Terimakasih. Maaf Ma ... aku tidak sengaja.”
Kening Samantha mengerut. “Tidak di sengaja?” perempuan itu menatap curiga. “Jangan bilang kalian menyembunyikan sesuatu.”
Kening Jeffrey mengerut. “Sesuatu?”
Samantha menatap putera dan asistennya secara bergantian. “Kalian tidak sedang menjalin hubungankan? Kekasih? Hm?”
Mata Anton membulat. “Kekasih? Dia? Jangan bercanda Ma. Aku hanya tak tahu Mama di sini jadi pakai bahasa Korea. Lagipula mana ada yang mau dengan lelaki berhati dingin seperti Jeff yang dalam pikirannya hanya bekerja dan bekerja?” Anton menghadap ke arah Samantha. “Ma seumur hidupnya dia hanya akan berkencan dengan komputer, tak ada yang lain. Bersenang-senang saja tidak pernah. Sangat membosankan.”
“Jangan bertingkah seolah kau cemburu pada komputerku Anton. Kau hanya akan membuat Mama curiga.”
Anton berdecak. “Dalam mimpimu.”
“Mama tak apa jika kalian ... .”
“Ma. Tidak. Aku masih normal. Aku masih menyukai perempuan.” Sela Anton dengan cepat. Jeffrey yang mendengar hal itu mendesis tajam.
“Memang kau pikir aku mau menjadi kekasihmu? Sekalipun aku menyukai laki-laki, kau tak akan ada dalam daftar tipe ideal-ku.” Balas Jeffrey lagi.
Samantha menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar perdebatan itu. Ia kemudian menghela nafas panjang. Bukan tanpa alasan ia bertanya mengenai pasangan pada Jeffrey, ia juga tidak bercanda mengenai ucapannya tadi. Karena di usianya yang sudah renta ini, ia memang sangat mengharapkan dapat melihat Jeffrey, putera kesayangannya hidup bahagia dengan pasangan impiannya. Sekalipun ia rasa ia tak pernah kurang memberi puteranya itu kasih sayang, tapi ia ingin puteranya itu mendapatkan kasih sayang lebih dari orang lain, dari orang yang dia cintai dan mencintainya. Ia ingin melihat puteranya hidup bahagia dengan pasangannya, ia ingin menyaksikan itu semua.
“Ma ... Mama baik-baik saja?”
Samantha menyunggingkan senyumannya lagi seraya mengelus lengan Jeffrey dengan lembut, lalu mengangguk kecil.
“Lain kali jika kau sedang tak sibuk, pulanglah ke mansion. Rasanya sudah lama kita tidak makan malam bersama ‘kan?”
Jeffrey mengangguk. “Akhir pekan ini aku memang berencana untuk menginap Ma. Maaf ... Jeff sibuk dengan kehidupan Jeff sendiri. Jeff janji setiap akhir pekan, jika Jeff senggang. Jeff akan tinggal di mansion bersama Mama dan Papa.”
***
“Ya! Kenapa kau mematikan musiknya?!” seru Anton sesaat setelah Jeffrey mematikan musik yang mengalun, menghibur perjalanan mereka.
“Berisik.”
“Berisik kau bilang? Dengar Jeff, kau saja yang belum mendengarkan lagu. Lagu mereka ini sangat enak di dengar. Jika kau sudah tahu aku jamin kau akan menjadi fans mereka. Kau akan menjadi b***k cinta mereka.”
“Aku mendengarnya setiap saat tapi tak ada yang spesial untukku. Sudahlah. Aku sedang ingin menyepi.”
Anton tak mendebatinya lagi, lelaki itu terdiam beberapa saat lalu bertanya. “Ibumu mengatakan sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”
Jeffrey tak langsung menjawab. Lelaki itu terdiam, hanya diam selama beberapa saat, menatap kosong ke arah jalan raya.
“Menurutmu ... apakah aku anak yang sangat buruk Anton?” tanya Jeffrey. “Untuk pertama kalinya Mama meminta sesuatu padaku tapi aku bahkan tak yakin bisa memenuhinya atau tidak.”
“Apa?”
“Pasangan.”
“Ah ... pasangan. Aku mengerti mengapa ibumu khawatir Jeff.”
“Kau terlalu fokus pada karirmu. Bahkan waktu untuk bersenang-senang pun tak ada.” Anton meliriknya sesaat. “Aku ingat ... sejak kuliah, kau memang berbeda dari orang lain Jeff, kau terlalu fokus mengejar nilai demi mendapatkan predikat mahasiswa terbaik. Lalu setelah itu kau bekerja tanpa henti, seolah tak ada hari esok. Apa kau tak lelah? Aku saja lelah, aku bahkan sering kabur-kaburan dari pekerjaan di akhir pekan ‘kan? Aku sering menghindarimu di akhir pekan. Kau pikir untuk apa? Untuk bersenang-senang Jeff, karena setiap orang membutuhkannya.”
“Itu karena memang dasarnya saja kau malas Anton. Buktinya kau juga sekarang tidak memiliki pasangan.”
“Bukan tidak. Tapi setidaknya aku tahu cara untuk bersenang-senang dan bergaul. Kau tak akan mendapatkan pasangan jika hanya duduk dibalik layar komputer Jeff. Kau perlu bergaul dengan banyak orang.”
Jeffrey menghembuskan nafasnya. “Kau tahu Anton, aku hanya anak angkat. Mereka sudah berkorban banyak tanpa mendikte hidupku. Aku harus membalas semua kebaikan mereka, setidaknya dengan mendapatkan title terbaik dalam segala bidang, termasuk bisnis. Aku tak ingin membuat mereka malu, sekalipun aku anak angkat tapi aku sudah sah menjadi ahli waris mereka. Tentu saja aku harus belajar banyak dan membuat mereka bangga. Aku harus tumbuh sesuai dengan ekspektasi mereka.”
“Mereka yang memintamu begitu?”
“Tidak. Aku sudah katakan, itu kesadaranku.”
“Itu artinya sekarang saatnya bagimu untuk menikmati hidupmu Jeff. Aku yakin kau sudah memenuhi ekspektasi mereka dari segi karir. Sekarang saatnya kau menikmati hidupmu. Contohlah aku, aku tidak sekaya dirimu tapi aku lebih menikmati uang hasil jerih payahku, menghamburkannya demi kesenanganku.”
“Jadi menurutmu aku harus sepertimu? Menafkahi gadis-gadis yang bahkan belum tentu tahu kau hidup di sini dan menafkahi mereka?”
Anton mendesis. “Sudahlah berhenti menghakimi kebahagiaanku. Kau memang tak tahu cara untuk bahagia Jeff.”
Jeffrey merasa tertohok dengan kalimat itu. Apakah benar ia tak tahu cara untuk bahagia? Bukankah kehidupannya selama ini sudah lebih dari bahagia? Ia sudah merasa cukup dengan semua kebahagiaan yang ia dapatkan dari keluarganya. Kebahagiaan yang ia rasa tidak pernah ada habisnya. Tapi ... mengapa ucapan Anton terdengar tak salah di telinganya? Kenapa terdengar seperti kenyataan yang baru ia temukan? Ya ... kenyataan bahwa ia ... sebenarnya, memang tak tahu cara untuk bahagia.
***
Jeffrey mendengus ketika mendengar lagu yang sama dengan yang diputar di dalam mobil dari ruangan Antoni. Baru saja ia akan berfokus untuk memeriksa laporan yang bertumpuk di mejanya. Namun sudah di ganggu dengan lagu yang sama oleh asistennya sendiri. Ia mendengus pelan, sebal mendengar lagu yang sama setiap saat. Setelah itu ia kemudian berdiri beranjak dari tempat duduknya menuju ruangan sang asisten.
“Anton!”
Jeffrey mendengus lagi ketika tak mendapati Anton di dalam ruangan itu.
Jeffrey mendengus lagi kemudian berjalan ke arah meja kerja Anton. Bisa-bisanya kau memanfaatkan fasilitas kantor untuk hal begini. Kau melakukan penyalah gunaan barang Anton. Awas saja!
Tangan Jeffrey terangkat, menghentikan video itu tanpa berpikir dua kali. Namun ketika ia hendak beranjak setelah mematikan video tersebut, matanya justru terkunci pada sosok cantik yang berada di layar. Sangat cantik dan begitu menawan.
Deg!
Jantung Jeffrey tertegun ketika iris matanya tanpa sengaja bertabrakan dengan iris mata cantik gadis yang ada dalam video itu. Ia terdiam beberapa saat, menikmati debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu dua kali lebih cepat setelah melihat obsidian cantik itu. Ketika ia memutar video itu kembali tak berselang lama ia kemudian menghentikannya lagi. Hanya dengan beberapa detik tapi ia bisa melihat gadis itu berlenggok dengan sempurna, begitu halus dan menggoda. Perut gadis itu bahkan semakin terekspose ketika berlenggok, melakukan tarian yang tampak bagaikan slow motion di matanya, perut itu tampak begitu rata dan tipis. Tampak ... akan sangat pas jika kedua tangannya memeluk gadis itu.
Deg!
Jeffrey kembali tertegun ketika sadar dengan semua yang ia pikirkan. Ia mengerjapkan matanya satu kali kemudian menegakkan tubuhnya di depan komputer itu.
Apa yang kau pikirkan Jeff? Bagaimana bisa jantungku menggila seperti ini hanya karena melihat gadis itu?