Suara kokok ayam berhasil membangunkan Tiffany. Wanita itu meregangkan tubuhnya yang pegal, segera ia ambil cermin dan melihat pantulan dirinya di sana. Kantung mata yang bengkak membuatnya kesal.
"Harusnya tadi malam langsung tidur sih." Tiffany mengerutkan dahi tidak suka penampilan wajahnya yang terlihat kurang segar.
Ia pun melangkah menuju dapur tetapi sebelum sampai ke tujuan, ia melewati kamar Dimas. Di dalam terdengar lantunan Al qur'an membuat Tiffany berhenti, menikmatinya.
"Shodaqallah Hul Adzim...." Dimas meletakkan kembali Al qur'an tersebut ke atas nakas.
"Ehm...." Tiffany berdehem, membuat Dimas menoleh ke arahnya.
"Sudah bangun? Lapar ya? Tunggu sebentar, " ujar Dimas sembari membuka peci yang ia pakai.
"Nggak kok cuma pengen melihat kamu mengaji aja. Suaranya bagus, Dim, " puji Tiffany.
Diam-diam, Dimas mengembangkan senyumannya, ia malu.
"Dimas, aku mau dong diajarin mengaji," ujar Tiffany.
Dimas menatap Tiffany, "kamu yakin? " tanyanya yang diangguki Tiffany.
"Inshaa Allah ya, Alhamdulillah." Tak henti-hentinya Dimas bersyukur. Ia pun berjalan mendekati Tiffany, dipandanginya lekat-lekat istrinya tersebut.
Kali ini, Tiffany yang salah tingkah kala suaminya itu tengah menatapnya.
"Fany, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dimas dengan tatapan serius.
"Terserah, tanyakan saja," jawab Tiffany, menatap arah lain.
Dimas berdehem, "nggak apa-apa, hari ini aku masak jamur enoki, apa kamu mau?" tanyanya Dimas.
Kirain akan ada adegan yang romantis ternyata aku salah.
"Terserahlah, aku makan apapun yang kamu masak, " jawab Tiffany.
Dimas pun tersipu malu, dengan semangat ia mulai mengeluarkan satu persatu bahan-bahan yang akan ia masak dari dalam kulkas.
Sementara itu, Tiffany memandangi Dimas sambil memangku wajahnya. Terpaku sekaligus terpana pada Dimas.
Ia pun berjalan mendekati suaminya itu. Dipandanginya dengan seksama.
"Dimas, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Tiffany.
"Apa?"
"Ehm, seperti apa tipe perempuan yang kamu suka?"
Sejenak Dimas menghentikan aktifitasnya. "Aku nggak punya tipe yang spesifik kok."
"Apa wanita seperti Nada?"
"Itu hanya masa lalu," jawab Dimas singkat.
Tiffany mendekatkan wajahnya pada Dimas. "Jadi, siapa masa depanmu?"
Keduanya saling berpandsangan lama. Dimas tak bisa berkata-kata. Dirinya seperti terjebak waktu.
Apa dia berniat mau bercerai lagi? Makanya, mengungkit Nada? Dimas bergumam.
Bisa-bisanya dia cuma diam, padahal aku sudah memberinya kode. Fix, aku bukan tipenya.
Drrrrrtttttttt.... Drrrrttttttttt....Drrrrrrrrttt
"Ehm, siapa yang menelepon?" Tiffany menarik wajahnya kembali. Ia pun ke luar dari dapur dengan membawa ponselnya.
Dimas yang sedari tadi menahan napasnya, berdesah panjang. Ia pun minum lalu menepuk dadanya.
"Dimas.... " Suara Tiffany terdengar begitu lembut.
Dimas menoleh, Tiffany tersenyum, dan senyuman itu yang termanis yang belum pernah dilihat Dimas sebelumnya. Tingkah Tiffany terlihat sangat imut dibandingkan biasanya.
"Hari ini aku mau ke luar sebentar ya. Mau bertemu teman lama. Boleh kan?"
Dan yang lebih mengejutkan, Tiffany yang biasanya tidak pernah memerlukan izin dari Dimas. Kali ini, berbeda wanita itu meminta izin dari Dimas.
"Boleh nggak sih?" tanya Tiffany sembari mengelus dagu Dimas. Wanita itu menatap dengan jarak yang sangat dekat membuat suaminya itu kelu.
Tiffany tertawa, lalu menjauhkan wajahnya dari Dimas, "semangat kerjanya ya... aku pasti kangen banget." Berjalan ke luar dapur.
Dan lagi-lagi Dimas mengembuskan napas panjang. "Astagfirullah, aku bisa telat kerjanya." Ia pun berlari masuk ke kamar.
Ketika Dimas masuk ke kamar ia dikejutkan Tiffany yang sedang menyiapkan pakaian dinasnya.
"Ini, sudah disetrika," ujar Tiffany sambil memperlihatkan setrika uap miliknya.
"Terima kasih... Tapi, apa boleh kamu ke luar dulu? Aku mau ganti baju." Dimas tak berani menatap Tiffany.
"Memangnya kenapa kalau aku lihat kita kan sudah suami istri?" Lagi-lagi Tiffany menggoda Dimas.
Dimas kehabisan kata, itu membuat Tiffany terkekeh. "Oke oke aku cuma bercanda kok jangan terlalu serius." Beranjak pergi dari sana.
Dimas mengusap rambutnya, frustasi akan sikap Tiffany yang berubah total. Dan, sialnya itu membuat Dimas semakin menyukainya. Dan bagi Dimas, dia semakin tidak tahu diri karena memiliki perasaan itu.
***
Tiffany melajukan mobilnya yang baru saja diantar supir pribadi, Aji sang papa. Ia mencari alamat seorang diri.
Setelah, memakan waktu setengah jam sampailah Tiffany pada alamat yang ia tuju. Kedua matanya menelusuri lokasi tersebut. Terpencil dan rumah-rumah tua yabmng tak berpenghuni. Bekas perkampungan yang ntah kemana perginya para masyarakat.
Tiffany menghubungi Miko, untuk memastikan lokasi tersebut.
"Beb." Suara khas yang sudah lama tak didengar Tiffany. Wanita itu menoleh.
Kedua mata Tiffany membulat kaget. Bagaimana tidak, penampilan Miko berbeda hampir 100 persen.
Kulit putihnya menghitam, tubuhnya yang ideal kurus hingga membuat kedua matanya mencekung. Ditambah lagi kumis dan jenggot yang tak berurus.
Bibir Tiffany getir, inikah Miko yang ia cintai dulu? Hanya 2 bagian tubuh yang Tiffany kenal. Hidung mancung dan sepadang mata biru yang menjadi kebanggaan Tiffany karena impiannya memiliki keturunan campuran.
Miko melambungkan diri ke dalam pelukan Tiffany. Akan tetapi, segera ditepis Tiffany hingga membuat lelaki itu terlonjak.
"Why?" tanya Miko kebingungan.
Tiffany tak menjawab, pandangannya mengarah pakaian yang dipakai Miko. Pakaian mahal yang ia belikan disaat anniversary mereka yang pertama. Pakaian yang dulunya menurut Tiffany hanya Miko yang pantas memakainya.
Kini berbeda, pakaian nahal itu seolah tak lagi berharga. Warna pakaian itu pun sudah tak sama lagi. Dulu putih bersih sekarang lebih ke warna cokelat.
"Aku tahu sekarang, kamu pasti jijik kan sama penampilanku saat ini," ujar Miko, sambil menyunggingkan senyuman getir.
"Kamu jauh berubah," jawab Tiffany.
Miko terkekeh, "aku begini karena suamimu. Dia menggagalkan semua bisnisku. Dan berhasil menangkap anak buahku, dan aku nggak bisa lagi ke apartemen semua asetku disita dan aku jadi buronan, " jelas Miko.
Tiffany mendesah, dalam hatinya yang terdalam ingin rasanya wanita itu merobek mulut Miko karena berani menyalahkan Dimas, suaminya.
Tapi, untuk saat ini dia harus menahannya demi kelancaran rencananya.
"Jadi, kamu mau aku melakukan apa?" tanya Tiffany.
Miko menatap Tiffany dengan tajam, "Kau sudah berubah ternyata," ucapnya dengan suara dingin.
Tiffany terdiam, terlalu jijik baginya untuk berpura-pura bersikap lembut pada Miko.
"Aku belum makan, kau punya banyak uang kan?" Miko mencecar tas yang Tiffany bawa. Dan benar saja, sejumlah uang ada di dalam tas mini tersebut.
Tiffany berusaha merebut tas tersebut, apalah daya, tenaga Miko jauh lebih kuat hingga membuat wanita itu terpental.
Kini, Miko membuka ponsel Tiffany. Pesan terakhir dari Alena dan Greta membuat kedua mata Miko membulat marah.
"Beraninya kau menjebakku!" Satu tamparan dari Miko mendarat di pipi Tiffany.
Tiffany meringis kesakitan sembari mengelus pipinya yang memerah bekas tamparan Miko.
"Kalian semua! Keluarlah."
Tiffany terkejut, ketika enam pria muncul ketika mendengar arahan Miko.
"Hahaha... kenapa? Apa kau pikir aku sebodoh itu! Hah!" Miko tertawa puas melihat raut wajah Tiffany yang ketakutan.
Miko beranjak pergi diikuti enam pria tersebut yang sebagian dari mereka menggotong Tiffany.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Oh ya, jangan lupa like dan hujatannya ya.... maaf karena jarang update, InshaaAllah mulai hari ini hingga kedepannya saya akan konsisten. Oleh karena itu, jangan lupa dikomen ya readers, karena komenan teman semua adalah semangatku. Terima kasih sudah mampir, SARANGHAE!