Jalanan macet, Dimas menyempatkan diri meneguk mineral yang sedari tadi berada di jok motornya.
"Ssst...ssst."
Dimas menoleh ketika 2 orang gadis berseru di dalam mobil. Ya, berseru padanya.
"Hai...." Seseorang dari mereka melambaikan tangannya.
Dimas meletakkan kembali mineral yang ia teguk barusan. Sesaat kemudian, ia menunjukkan jari manisnya yang tersematkan cincin pernikahannya.
Kedua wanita itu terkejut bukan main, shock. Dimas kembali membuang pandangannya ke arah depan.
Tiffany lagi apa ya, aku merindukannya.
Rambu lalu lintas menunjukkan sinar hijaunya. Para pengendara mulai melajukan kendaraan merrka masing-masing termasuk Dimas.
Sesampainya di rumah, Dimas dikejutkan dengan dua koper terpampang di ruang tengah rumahnya. Sosok Tiffany tak ada di sana.
Merasa gerah, lelaki itu segera menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Hari ini, cuaca memang cukup terbilang panas. Apalagi, Dimas baru saja melakukan tugasnya melawan gembong narkoba.
Klak! Pintu kamar mandi, ia tutup setelah kedua kakinya melangkah masuk. Pria itu pun segera menanggalkan pakaiannya,bersiap-siap untuk mandi.
Namun, tiba-tiba...
"Eh!" Suara yang sangat tidak asing berhasil mengejutkan Dimas.
Ya, tampak Tiffany yang sedang membalurkan sabun di seluruh tubuhnya yang tidak memakai apapun. Wanita itu tengah mandi.
Keduanya saling memandang cukup lama. Dimas, yang mulai tersadar bergegas keluar. Dengan jalan yang tergesa-gesa disertai napas yang tersenggal-senggal.
Ia mengancing bajunya yang sempat ia buja tadi.
"Harusnya dia menutup pintu," gumam Dimas sembari meremas seprai kasur miliknya.
Sementara itu, di dalam kamar mandi dengan santainya, Tiffany melanjutkan membersihkan tubuhnya.
Tiba-tiba senyuman nakal muncul di kedua sisi bibirnya, "rencana A selesai. Terima kasih untuk para bestiku."
Sebelumnya...
Perbincangan lewat grup.
"Fany, sebenarnya Loe bisa aja sih dapetin Dimas nggak harus ke Bali dulu. Kelamaan bagi gue," ujar Alena.
"Maksud loe?" tanya Tiffany penasaran.
"Ya, coba jebak dia apa kek. Masa wanita secantik dan sebohay Loe dia ga mau."
"Apaan sih, Alena! Fany, menurut aku sih mending kamu sabar aja dulu." Greta ikut nimbrung dan sudah jelas tidak akan pernah menyetujui pendapat Alena.
Tiffany berpikir sejenak, tidak bisa dipungkiri perasaannya pada Dimas sudah tak bisa dibendung lagi. Akan tetapi, untuk menyatakannya membuatnya berpikir seribu kali.
Bukan tanpa alasan, Tiffany merasa bersalah mengingat betapa kejamnya dia pada Dimas setelah baru menikah. Memaki dan mencerca Dimas dengan kata kasar membuat nyalinya ciut.
Kembali ke situasi sekarang...
Kini, Dimas dan Tiffany tengah menyantap makan malam. Tak ada sepatah kata pun hanya ada suara denting sendok dan garpu milik Tiffany yang memecah kesepian.
"Tadi Papa menelepon, katanya sih 2 minggu itu kelamaan," ujar Tiffany, membuka suara terlebih dahulu setelah lumayan lama bungkam, lebih tepatnya sejak kejadian tadi sore.
Dimas berdehem, "maaf sebelumnya, apa nggak bisa diundur ya?"
Tiffany menggeleng, "lagian kenapa sih harus diundur segala. Banyak kok para anggota polisi di sana, harus kamu gitu yang menyelesaikannya!"
"Tugas kali ini, sekalian untuk menaikkan jabatanku secara resmi."
Tiffany tertawa terbahak-bahak, "jabatan, hahaha...kalau hanya untuk jabatan papaku juga bisa kali ngasih satu perusahaannya. Kamu lupa ya, kalau papa seorang pengusaha."
"Itu, Papa bukan aku," jawab Dimas
singkat.
Tiffany terdiam, ia tahu maksud Dimas yang tidak ingin merepotkan mertuanya.
"Bukannya kamu pulangnya lama ya?" tanya Tiffany.
"Tadinya, tapi ada masalah. Jadi, kami memutuskan melanjutkannya besok." Dimas bangkit dari duduknya, membawa piring untuk mencucinya.
Tok Tok Tok
Dimas menatap Tiffany, memberi kode untuk membuka pintu. Dengan malas, Tiffany bangkit dari duduknya.
"Siapa sih yang datang malam-malam begini." Tiffany meracau kesal.
Klak!
"Eh, mbak Nada," ujar Tiffany, seraya memasang senyuman manis yang sangat jelas palsu.
Ehm sipelakor ini ngga jera juga ternyata ya...
"Maaf, saya mengganggu apa Dimasnya ada?" tanya Nada.
"Ada, mau ngapain ya Mbak?"
"Lampu kamar mandi saya mati, saya mau minta tolong dipasangin yang baru," jawab Nada antusias.
Tiffany menarik napas pelan, "tunggu sebentar ya, Sayang...." Berjalan masuk menghampiri Dimas.
Sementara, di dapur Dimas, telah selesai membersihkan mwja makan.
"Mantan kamu nyariin tu," ujar Tiffany ketus.
"Nada, ada urusan apa ya?" tanya Dimas heran.
Dengan malas Tiffany menjawab, "lampu kamar mandi mati, dia minta tolong untuk dipasangin. Hah, padahal tinggal pasang kan bisa, manja banget."
"Dia trauma sama listrik," jawab Dimas sembari meninggalkan Tiffany di dapur.
Kedua mata Tiffany membulat, "kok kedengarannya dia kayak membela si Nada sih."
15 menit berlalu, Dimas tak kunjung kembali. Hati Tiffany mulai tidak tenang pikirannya meracau kemana-mana. Ia mulai membayangkan yang aneh-aneh terjadi. Namun, segera ia tepis jauh-jauh.
"Sabar, Fany sebentar lagi." Kedua matanya menatap jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 8.
"Hah, sudahlah aku sudah nggak tahan. Dimas, beraninya kamu-"
"Assalamu Alaikum." Suara Dimas tepat di depan pintu.
Tiffany pun membuka pintu, terkejutnya dia ketika Dimas pulang dengan 2 orang laki-laki.
"Silakan masuk," ucap Dimas diangguki 2 laki-laki tersebut.
Tiffany ikut masuk dengan wajah terheran-heran.
"Saya ambil minum dulu ya," ujar Dimas sambil beranjak ke dapur.
Kedua laki-laki itu tersenyum menatap Tiffany.
"Bukannya tadi Dimas bantuin mbak Nada pasangin lampu kamar mandi ya?" tanya Tiffany.
"Iya, Mbak Fany. Tapi, sebelum itu mas Dimas datang ke rumah menjemput kami. Takut ada fitnah, Mbak. Mas Dimas kan sudah punya istri, ya jaga hatilah Mbak," jawab salah satu dari mereka.
"Mbak beruntung lho punya mas Dimas, orangnya santun dan juga ramah. Suka penolong lagi," jawab laki-laki yang satunya lagi.
"Jangan didengerin, Dean memang begitu orangnya suka bicara berlebihan," ujar Dimas sambil membawa nampan yang di atasnya 4 gelas minuman dan 3 toples camilan.
Kedua laki-laki itu menggaruk-garuk kepala merasa canggung.
"Lho, Mas nggak usah repot-repot."
"Nggak repot-repot kok Dan. Cuma teh tarik doang, gampang itu...." Dimas menyuguhkan 2 gelas teh tarik di hadapan Dean dan Dani. Sementara Tiffany segelas s**u.
Mereka pun berbincang-bincang hingga jarum jam menunjukkan pukul 10 malam.
"Mas, kami mau pamit pulang dulu. Terima kasih teh tariknya, seperti biasa...mantap poll!" ujar Dani sembari mengacungkan jempolnya.
"Biasa aja, nggak usah lebay. Sering-sering mampir ya," jawab Dimas.
"Siap Pak Polisi!" Dean dan Dani serentak memberi hormat pada Dimas.
Tiffany yang sedari tadi di sana tak hentinya tertawa melihat kelakuan 2 remaja tersebut. Dean dan Dani tinggal tak jauh dari rumah Dimas. Mereka baru tamat SMA, dan segera kuliah di universitas yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
"Oh ya, Mbak sebelum menikah mas Dimas sering ceritain tentang Mbak lho," ujar Dean.
Dahi Tiffany mengerut, "ceritain apa ya?" tanyanya seraya menatap Dimas.
Dimas panik, "udah malam pulang dulu ya," ujarnya seraya menyentuh punggung Dean.
"Kata mas Dimas kalau Mbak Tiffany sangat cantik dan juga baik. Kami kira mas Dimas bohong karena banyak teman cewek di sekolahan kami naksir sama mas Dimas. Tau nggak Mbak, Mas Dimas itu terkenal banget lho," jawab Dani.
"Tapi, beneran cantik lho Dan. Mas Dimas nggak bohong ternyata, hahaha...."
"Kami pulang ya Mbak," ujar Dani dan Dean serempak.
Kedua remaja itu pun berlalu pergi ketika melihat wajah Dimas yang memerah. Tiffany menutup pintu, lalu ia pun berbalik. Dimas sudah tidak ada di sana, pria itu dengan sigapnya sudah berada di dapur membersihkan gelas-gelas bekas minuman.
Seperti biasa, Tiffany dengan senyuman liciknya mulai menggoda Dimas. Ia pun menghampiri suaminya itu di dapur.
"Dimas," panggil Tiffany.
"Ya," jawab Dimas singkat. Ia tahu betul, tujuan Tiffany mendekatinya.
"Apa aku sangat cantik?" tanya Tiffany sambil memegangi dagunya.
Dimas terdiam, ia kaku kali ini.
"Dibandingkan Nada siapa yang lebih cantik?" tanya Tiffany gamblang.
Dimas mendesah, "maaf, sudah malam. Sudah waktunya tidur." Berjalan menuju kamar.
Akan tetapi, Tiffany yang tidak mau kalah berlari mengejar Dimas.
"Akh!"
Bugh!
Kaki kanan Tiffany tergilincir membuat wanita itu jatuh. Dimas menoleh dan segera menghampirinya. Tampak betis Tiffany terluka dan mengeluarkan sedikit darah.
"Apa itu sakit?" tanya Dimas cemas.
Tiffany meringis sambil mengangguk.
Dimas menggendong Tiffany menuju kamar. Diam-diam, Tiffany tersenyum akan perhatian kecil Dimas.
"Aw! Sakit!" Desis Tiffany ketika Dimas membalurkan obat merah ke betis Tiffany yang terluka.
"Bisa-bisanya kamu tergelincir," ujar Dimas.
"Siapa suruh melarikan diri?"
Tiffany menatap lama pada Dimas yang sedang membalut luka lututnya.
Sumpah! Kenapa dulu aku nggak menyadarinya ya...dia memang tampan bisa-bisanya aku mengabaikan orang seperti dia.
"Paling lama 2 hari lukanya baru sembuh. Lain kali hati-hati," ujar Dimas seraya berdiri dengan kotak P3K di tangannya.
Saat Dimas hendak pergi, tiba-tiba tangan Tiffany menahan tangannya.
"Terima kasih," ucap Tiffany disertai senyumannya.
Dimas mengangguk, "cepat sembuh, ya," jawabnya lalu beranjak keluar.
Setelah menutup pintu kamar Tiffany, Dimas segera menyentuh dadanya yang sedari tadi bergetar hebat. "Aku hampir tidak bisa menahannya." Menepuk-nepuk d**a seraya menghembuskan napas panjangnya.
Malam itu, Tiffany tidak bisa tidur. Ia menimang-nimang untuk bertemu Miko. Berbagai rencana ia susun untuk menjebak sang mantan. Tapi, apa mungkin sesederhana dan segampang itu?
Miko tidaklah sebodoh itu, ia pasti tahu kalau polisi yang tengah memburunya itu tak lain adalah suami dari Tiffany, mantannya sendiri.
Drrrrrrrt.......... Drrrrrrrrrrt....... Drrrrrrrrt....
"Halo."
Kali ini, Tiffany sudah memantapkan hatinya.