Rencana Tiffany 1

996 Words
Tiffany memasukkan satu persatu pakaian yang akan ia bawa untuk bulan madu nanti ke dalam koper. Sesekali senyumannya mengembang, merasa malu dengan semua model pakaian tersebut. "Aw...imut-imut semua. Hah, jadi ga sabar. Hei, pakaian tercintaku bekerja samalah, ayo!Kita rayu Dimas. Dia harus jadi milikku, bagaimana pun caranya." Kali ini, ekspresinya benar-benar serius. "Hah, 2 minggu rasanya udah kayak se-abad," gumam Tiffany. "Hah, yang penting bulan madu." Sedetik kemudian, ia terkekeh merasa bodoh dan malu pada tingkahnya sendiri. Tring! Tiba-tiba notifikasi ponselnya terdengar. Dengan sigap, Tiffany meraih benda persegi tersebut. Wajahnya berubah merah padam ketika kedua matanya tertuju pada judul berita online yang masuk ke ponselnya. Seorang gemblong narkoba berhasil meloloskan diri tepat pada waktu penggerebekan. "Miko." Mendesah panjang. Ada rasa kesal di hati Tiffany, bisa-bisanya laki-laki itu melarikan diri. *** Dimas menyiram wajahnya dengan setengah botol mineral. Deru napasnya terdengar sesak tak beraturan. Tak hanya Dimas, beberapa anggotanya juga merasa kelelahan. "Bos, selanjutnya bagaimana?" tanya Simson, sembari menyodorkan buah jeruk yang baru ia beli semenit yang lalu. Dimas menarik napas pelan, ia mengambil pena dan lalu mencoretnya ke sebuah kertas. "Tim A, silakan masuk ke arah Barat, sedangkan B bergerak cepat ke arah Utara. Dan, C-" "Lapor, apa Pak pemimpin yakin dia ada di rumah?" tanya seorang pria, salah satu anggota bawahan Dimas. Sejujurnya, pria ini memang kurang suka pada Dimas yang masih terbilang bau kencur olehnya. Dan yang lebih tidak ia sukai, ketika Dimas dipilih memimpin misi tersebut. Misi, yang sangat pria itu incar. "Yakin nggak yakin, harus tetap pergi ke tempat tinggalnya kan. Aneh pertanyaan kau!" Kesal Simson. Tora, itulah nama pria itu. Berperawakan sombong, padahal statusnya hanya sebagai Banpol sama seperti Dimas. Hanya saja, pria ini tak kunjung naik jabatan. Lain dengan Dimas, jika misi ini berhasil jabatannya akan jauh dari Tora. Ketentuan dari sang Jendral membuat Tora menyimpan iri dengki pada Dimas yang sangat menghormatinya. Ya, Dimas tidak pernah memiliki penyakit hati pada Tora. Dia lebih memilih diam ketika Tora terang-terangan menyindirnya. Bahkan, ketika Dimas diunjuk jadi pemimpin misi. Sikap sinis Tora semakin menjadi-jadi. "Saran saya, sebelum menjalani misi harusnya sih diselidiki dulu. Bukannya langsung menentukan hari tanpa persiapan. Penyelidikan secara matang itu perlu. Makanya, ada yang namanya intel." Tora semakin menyindir Dimas, berusaha membuat Dimas terpojok.Tujuan pria itu sudah jelas, menyingkirkan Dimas. Wajah Simson memerah, tangannya mengepal. "Kau-" Segera, tangan Dimas menyentuh pundak sang sahabat. "Sudah, Son yang dikatakannya memang benar. Berdoa saja semoga misi ini dilancarkan secepatnya." Wajah teduh Dimas, membuat Simson kesal. Simson menarik napas pelan, lalu mengendusnya. "Semakin kau diam, sikap dia itu semakin menjadi-jadi. Muak aku!" Dimas tertawa kecil, "Pak Tora, terima kasih sarannya. Kalau ada misi lain, saya akan ikuti saran Bapak. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur," jawab Dimas lembut. Tora memasang senyuman sinis. "Kalau tidak bisa dilanjutkan, saya siap menggantikan posisi, Pak Dimas." "Hah! Kau lihatkan sikap dia...Ih sorrr kali aku!" Simson yang hendak bangkit, lagi-lagi ditahan Dimas. "Daripada marah-marah mending beli makanan. Biar yang lain pada semangat," ujar Dimas. "Tapi-" Dimas langsung memberikan dompetnya. "Cukup?" Ketawa Simson, "oke! hai kalian semua! Pada lapar kan, ayo kita cari makan!" seru Simson. Mereka yang kelelahan karena mengejar para gembong narkoba, kompak bangkit. "Hore!" seru mereka secara bersamaan. "Tunggu, biar kuhitung dulu. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, ikut aku sembilan. Makan enak kita ini! Woy!" Simson mengibas-ngibaskan dompet milik Dimas. Seorang pria menunjuk tangan, "kamu salah hitung, Son. Kita semua ada sepuluh orang. Pak Tora, nggak kamu hitung," ujarnya dengan logat Jawa medok. "Oh, Kalau yang itu nggak usah dihitung, Jo," jawab Simson santai. "Nggak boleh begitu, iya kan Pak Dimas." Dimas hanya tersenyum, Simson memasang wajah malas. "Oke lah terserah, udah ayo keluar," ujar Simson sembari jalan ke luar diikuti para anggota lainnya. Tinggallah Dimas dan Tora di sana. "Pak Tora," panggil Dimas begitu ia melihat Tora hendak melangkah ke luar. Dimas mendekati Tora, "manusia memiliki takdir sudah dengan porsinya masing-masing. Jadilah pribadi yang baik, agar jiwa Bapak tenang." Kedua mata Tora memandang tajam, "kamu, menggurui saya!" Menggertak Dimas. Dimas terkekeh, "satu lagi, kurangi teriak dan marah-marah. Bapak kan belum menikah, paling tidak wajah Bapak harus tetap terlihat muda. Nanti dikira sudah beranak lima padahal masih lajang." Napas Tora, sesak darahnya seakan mendidih kemarahannya memuncak. "Kamu boleh tertawa sekarang, tapi tidak dengan nanti." "Melihat sikap Bapak seperti ini, membuat saya bersemangat." Kini suara Dimas terdengar dingin. "Pemimpin tetaplah pemimpin, jika memang dia dilahirkan sebagai pemimpin. Begitu juga sebaliknya." Tora yang sudah sangat kesal, melangkah gusar. "Astagfirullah, Allahu Akbar." Dimas menghembuskan napas pelan. *** Tiffany tampak berpikir keras sekarang. Sedari tadi, pesan Miko memenuhi ponselnya. Ia ingin Miko secepatnya ditangkap, hanya satu yang dipikirkannya. Jika kasus Miko selesai, maka rencana bulan madu tidak akan tertunda. Tapi, bagaimana caranya? Tiffany frustasi sekarang. Kenapa rencana bulan madu yang kini menjadi impiannya harus memiliki rintangan. Kalau saja, dari awal dia jatuh cinta pada Dimas mungkin saat ini rumah tangga mereka sudah jelas bahagia. Akan tetapi, saat ini rumah tangga yang mereka jalani masih abu-abu. Tiffany tidak tahu isi hati Dimas. Malu rasanya, jika ia mengakui perasaannya pada Dimas. Tring! Ponsel Tiffany berbunyi, tampak kontak Dimas di sana. Kamu di mana? Senyum Tiffany mengembang, segera ia membalas pesan tersebut. Memangnya kenapa, kangen ya? "Hahaha...." Tawa Tiffany meledak, begitu pesan terkirim. Tring! Pesan balasan Dimas mendarat. Hari ini aku pulang malam, soalnya ada rapat. Kalau nanti keluar jangan minum alkohol dulu ya. Nanti salah kamar lagi. Wajah Tiffany berubah masam. "Jadi, dia kira yang kemarin itu aku mabuk ya. Ih, ngeselin banget sih. Nggak ada peka nya!" teriak Tiffany. Tring! Sebuah pesan dari nomor tak dikenal tiba-tiba mendarat, dapat ditebak itu nomor siapa. Sudah jelas, Miko sang mantan. "Sayang aku kangen sama kamu." Berharap Dimas yang kangen malah si b******k ini yang bilang. Tiffany sudah pasti sangat kesal. Apalagi sekarang Dimas menunda bulan madu yang menurut Tiffany sangat lama, dua minggu. Tiffany memandang lama isi chat itu. Tiba-tiba senyuman licik menggurat di sela kedua pipinya. Entah apa yang tengah ia pikirkan sekarang. Yang pasti sebuah rencana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD