Rencana Memikat Suami

3292 Words
Tiffany dikejutkan suara motor Dimas yang sudah memasuki halaman rumah. Segera, ia menutupi tubuhnya dengan selimut, menutup mata berpura-pura tidur. Di tengah gelapnya kamar, sebisa mungkin wanita itu untuk melakukan aktingnya. Ya, lingeri pemberian Alena dan Greta kini membaluti tubuhnya. "Baru kali ini aku merasa gugup yang luar biasa," gumam Tiffany, tangan dan hatinya bergetar hebat. "Atau aku keluar saja, kali ya." Tiffany segera bangkit, namun kembali berbaring ketika ia mendengar suara pintu rumah dibuka. Matilah, aku terjebak di sini. Ya, Tiffany sengaja masuk ke kamar Dimas, bertujuan untuk menggoda suaminya itu. Akan tetapi, siapa sangka nyalinya seketika menciut begitu Dimas pulang. "Tiffany," panggil Dimas sembari tangannya mengetuk pintu kamar istrinya tersebut. Dimas merasa heran, biasanya Tiffany takut yang namanya gelap. Kenapa lampu di kamar istrinya itu padam. Bahkan seluruh ruangan yang ada di rumah tersebut padam. "Atau jangan-jangan dia...Tiffany, buka pintunya!" Dengan sedikit kecemasan, Dimas kembali mengetuk pintu kamar Tiffany. Lagi-lagi tak ada jawaban dari Tiffany. Dimas pun masuk ke kamarnya sendiri. Berusaha mencari kunci serep kamar Tiffany. Akan tetapi, ia kesulitan karena kamarnya yang juga gelap. Dimas berusaha meraba saklar listrik. Akhirnya lampu kamarnya yang padam seketika terang kembali. Ia pun melanjutkan aktifitasnya mencari kunci kamar Tiffany. "Ketemu!" Seru Dimas. Saat lelaki itu hendak keluar dari kamar, langkahnya terhenti. Ia merasa ada yang janggal dari tempat tidurnya, lebih tepatnya sepertinya ada seseorang sedang berbaring atau bersembunyi di balik selimutnya. Dengan cepat, Dimas menyingkirkan selimut tersebut dan pemandangan panas terpampang di depannya. Seketika bibirnya kelu ketika ia mendapati sosok di balik selimut tersebut adalah Tiffany, istrinya sendiri. "Ha...hai!" Tiffany yang salah tingkah langsung bangkit. "Kunci kamarku hilang, karena aku capek aku ketiduran di sini. Kuncinya aku ambil ya," ujar Tiffany lalu berlenggang pergi ketika kunci kamar tersebut berhasil ia rebut. Gagal sudah rencana yang ia susun dengan sedemikian rupa tersebut. Malu, sudah pasti. Tiffany merasa seperti seorang jalang yang sedang menggoda pria. Padahal jika diingat-ingat status mereka halal. Dimas menarik panas napasnya. Penampilan Tiffany tadi benar-benar membuat darahnya berdesir hebat ditambah lagi degupan jantunya yang berangsur cepat seperti akan meledak. Malam itu pun berakhir pada penyesalan. Tiffany menyesal memakai lingeri serta Dimas menyesal menyingkap selimut yang menutupi tubuh Tiffany. Keesokan harinya... Tiffany memaksa membuka kedua matanya. Tangannya berusaha mencari keberadaan ponselnya, kemudian ia memaksa membuka kedua matanya untuk melihat jam. Kedua mata Tiffany membulat sempurna ketika ia melihat jam 10 terpampang di ponselnya. "Gila, bisa-bisanya dia pergi begitu saja tanpa pamit padaku." Tiffany segera bangkit, dan benar saja Dimas sudah tak ada di rumah. "Tapi, bagus juga sih dia pergi. Kejadian tadi malam, aku malu banget. Bisa-bosanya aku sebodoh ini. Akh!" Tiffany yang kesal pada dirinya sendiri mengacak rambut panjangnya dengan frustasi. Tok tok tok Seseorang mengetuk pintu membuat Tiffany segera melangkah mendekati pintu. Tak lupa, ia mengintip terlebih dahulu dari jendela. Terlihat sosok Nada berdiri tepat di luar pintu. Tiffany pun semakin kesal, hanya saja ia malas untuk menegur sang mantan kekasih suaminya itu. "Ada apa ya?" tanya Tiffany sembari tersenyum, tentu saja itu senyum palsu. Nada membalas senyuman Tiffany, "ini, tadi aku masak kebanyakan jadi ini untuk kamu. Anggap saja, sebagai tanda perkenalan antar tetangga." Menyodorkan rantangan makanan. Dengan malas, Tiffany menerima rantangan tersebut. Tak lupa ia melemparkan senyuman manisnya, yang jelas-jelas palsu. "Itu kesukaan Dimas," ujar Nada, masih dengan senyumannya. "Hah?" Tiffany terlonjak kaget. "Sup ayam dan perkedel jagung." Tiffany terkekeh, ternyata tetangga yang di depannya ini memberi makanan bukan untuk dirinya melainkan untuk Dimas, suaminya. Cara mainnya boleh juga. secara terang-terangan ingin mencari perhatian Dimas. "Oh ya, benar aku nggak tahu itu. Soalnya, apapun yang aku masak Dimas selalu melahapnya ditambah dengan pujian manisnya. Entahlah, aku baru tahu kalau makanan yang dia suka itu sup ayam dan perkedel. Mungkin, semua masakanku terlalu enak jadi, dia nggak pernah mengatakannya. Terima kasih lho ya, atas informasinya." Tiffany masuk meletakkan makanan tersebut di atas meja. Ia pun berbalik, Nada masih berdiri di depan pintu. "Masuk dulu yuk, mengobrol sebentar. Sudah jadi tetangga nggak pernah ngobrol." Nada mengangguk, ia pun masuk lalu duduk. Matanya menangkap seluruh ruangan. "Tunggu sebentar, aku ambilkan minum dulu ya," ujar Tiffany sembari berjalan menuju dapur. Tak lama kemudian, Tiffany datang dengan nampan serta minuman botolan dan beberapa camilan. "Maaf, ya adanya cuma ini. Kami belum belanja. Akhir-akhir ini Dimas agak sibuk Ditambah lagi mengurus rencana bulan madu," ujar Tiffany meletakkan nampan di atas meja. Nada terlonjak kaget, segera ia atur posisi duduknya agar terlihat normal. "Di mana poto pernikahan kalian?" "Ah, oh itu masih belum selesai soalnya papaku orang yang perfeksionis. Menurutnya, pernikahan sakral itu sayang banget kalau potonya terlihat biasa saja. Jadi, papa pesan bingkai khusus yang dilapisi mutiara. Dan sampai sekarang belum selesai. Kemungkinan 2 minggu lagi," jawab Tiffany. Entahlah, hari ini dia menjelma menjadi pembohong yang handal. Dia tengah bermain-main dengan mantan pacar suaminya tersebut. Nada terpaku mendengar penuturan Tiffany. Jelas saja, istri mantan kekasihnya itu jauh berbeda darinya. Sebenarnya apa yang dia lakukan sekarang? Gagal melupakan sosok Dimas dan tiba-tiba mendekati istrinya menyelidik hubungan pasangan tersebut. Jelas saja, Nada terlihat masih berharap. Namun, yang jadi permasalahannya Dimas bukan lagi sendiri dia pria yang sudah menikah. Apakah Nada sekarang akan menambah predikat lagi. Setelah menjadi janda apakah ia akan menjadi PELAKOR! Tidak! Itu jelas saja terlarang. Dosa besar bagi wanita yang berusaha merebut pasangan wanita lain. Nada meremas jilbabnya, mencoba Istigfar akan tetapi rasa cemburunya lebih besar menyeruak ke seluruh tubuhnya. Harusnya, ia tidak pindah kemari. Ia pikir, ia telah melupakan Dimas yang dulu ia sayangi. Dia memilih pria lain yang lebih mapan dibandingkan Dimas. Alhasil, berujung perceraian. Mencoba move on dari semua kenangan antara mantan pacar dan mantan suami. Ia justru bertemu dengan Dimas yang sedang sakit yang notabenenya mantan kekasihnya dulu. Dan kenangan lama seolah tersiar kembali di depan mata. "Silakan diminum dulu, mumpung masih segar." Perkataan Tiffany memecah lamunan Nada yang sedang meratapi nasibnya. Segera wanita itu menghela napas, "dari kemarin aku kurang fokus, maaf ya," jawab Nada. "Sudah biasa kok, aku juga sering begitu waktu ngumpul sama teman tiba-tiba ngeblank ingat suami," jawab Tiffany sembari terkekeh. Nada tersenyum, ia pun meminum suguhan Tiffany. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah benda di dekat Tiffany. "Itu, apa?" tanya Nada, menunjuk benda tersebut. "Oh, ini pemberian Dimas. Biasa baju dinas, hahaha." Tiffany menunjukkan lingeri berwarna merah. "Ada 7 lingeri untuk dipakai dalam seminggu." Meletakkan kembali lingeri tersebut. Nada tampak salah tingkah, gelagatnya sungguh berubah tak tenang. "Maaf, aku baru ingat kalau ada janji dengan pasien. Aku permisi dulu," ucap Nada. "Oke, besok-besok aku dan Dimas yang bertamu. Oke! Makasih lho makanannya." Nada tersenyum lalu berajak pergi. Senyuman Tiffany seketika memudar seiring perginya Nada. Ia pun masuk lalu kembali menutup pintu. "Ye, di luar anggun ternyata Dajjal juga. Mau coba-coba merebut Dimas, itu belum seberapa. Kesal lihat yang munafik kayak gitu," gumam Tiffany kesal dengan Nada. *** Dimas tampak melamun, makan siang di depannya tidak ia sentuh sama sekali. Berkali-kali ia menghela napas, bayangan Tiffany di kamarnya tadi malam membuatnya berdecak. "Apa selama ini dia tidur dengan pakaian seperti itu? Bagaimana kalau seandainya tadi malam bukan aku yang masuk ke dalam rumah?" Dimas frustasi bila mengingat kejadian tadi malam. Benar-benar jauh dari nalarnya. "Lah, itu si Dimas ngapain pula dia melamun. Semenjak nikah ini anak makin nggak beres!" Simson yang sedari tadi mencari Dimas menghapirinya. Dimas menghela, "tapi kenapa dia pakai lingeri? Jangan-jangan dia mabuk? Kemarin dia marah jadi pergi untuk mencari pelampiasan. Astagfirullah!" "Hei!" Dimas terlonjak kaget. "Kau, dari tadi kucariin juga ternyata kau di sini. Lihat airnya dari tadi ngalir terus tak kau matikan." Simson dengan logat bataknya memarahi Dimas habis-habisan. "Astagfirullah, Son aku nggak sadar," jawab Dimas sembari mengibas-ngibaskan pakaiannya yang terkena tanah karena terlonjak tadi. Simson menggeleng, "Melamun terus gimana mau sadar. Tadi komandan nyuruh kita menghadap. Tapi, dari tadi kau tak kelihatan ternyata kau di sini termenung dan termenung." Dimas terdiam, bisa ia tebak alasan komandan menyuruh menghadap. Sudah jelas tugas baru yang kemarin sempat dibahas. Sebenarnya ia sendiri tidak siap. Akan tetapi, mengingat profesinya yang sebagai polisi meskipun hanya sebatas Banpol mau tidak mau harus. Demi melindungi negara dari kejahatan yang marak sedang beredar, salah satunya 'Narkoba'. *** Kini, Dimas dan Simson sudah berada di ruang komandan Petra. Wajahnya teduh dan memiliki wibawa yang tinggi. Dia juga yang menjadikan Dimas sebagai Banpol. Sedikit awal mula Dimas dan Simson menjadi Banpol. Saat itu, Dimas berjalan menyusuri Kota Jakarta. Dilihat dari penampilannya, dia sedang mencari pekerjaan. Sebuah perusahaan yang lumayan terkenal secara kebetulan sedang membuka lowongan. Perusahaan tersebut, didatangi para pencari pekerjaan, Dimas salah satunya. Akan tetapi, malah berakhir ricuh. Beberapa pria, malah menerobos para pencari kerja lainnya. "Siapa yang berani mendekat, gua tampol." Pria itu bertubuh besar, kepala plontos dan tato di berbagai titik bagian tubuhnya. Awalnya, Dimas cuek saja dan dengan santainya dia mendekati preman tersebut. Pria itu marah, "Lu mau mati, ya?" Dengan amarah yang berapi-api, tangannya mulai melayangkan bogem pada Dimas. Akan tetapi, dibalik kesederhanaannya siapa sangka, Dimas menangkisnya dan dengan kuat pria sangar itu terpental mencium aspal. Tempat tersebut ricuh, terlihat pergerakan mereka yang berlarian dan saling mengoceh kemudian pergi melarikan diri, tak ingin terlibat. Security yang bertugas di perusahaan tersebut mulai turun tangan. Akan tetapi, belum melerai ia malah terkena bogem dari pria sangar tersebut. Jatuhnya security, ia hanya bisa menonton perkelahian antara Dimas dan pria itu. Tak ingin membuat lama keributan yang terjadi, si security pun menghubungi polisi terdekat. Selang 15 menit, mobil patroli polisi sudah berada terparkir di sana. Pandangan pak Polisi mengarah pada kedua pria yang terlibat dalam perkelahian itu pun cukup mengesankan. Tak lama kemudian, mereka pun diboyong ikut ke kantor polisi tak lupa juga dengan security sebagai saksi. Sesampainya, di sana mereka mulai berargumen. Pria bertato itu mulai membela diri, namun sang security membantah berdalih membela Dimas, hanya Dimas yang diam dalam ketenangan. Diamnya Dimas cukup membuat sang polisi terpukau, dilihat dari pakaiannya tak ada yang kotor menunjukkan betapa hebatnya dia berbeda dengan lawannya yang tampak babak belur. Sulit dipercaya, tapi nyata di depan mata. "Baiklah, saya tahu apa yang akan saya lakukan. Apin!" Memanggil seseorang. "Ya, Komandan!" Seorang pria dengan tubuh kekar dan bongsor, menghadap begitu nama dia dipanggil. "Tangkap, dia!" Menunjuk pria yang berlagak preman sayur tersebut. Pria itu memelotot, ia pun mulai meronta-ronta minta maaf. Wajah sangar dan bengisnya hilang bak ditelan bumi. Pria itu benar-benar dibuat menangis tidak karuan. "Pak, Polisi tolong! Saya mengaku salah. saya cuma mau mencari pekerjaan. Saya butuh pekerjaan, Pak!" Pria itu menangis sejadi-jadinya. "Maafkan aku, mamakku lagi sakit di kampung makanya aku pun frustasi tolong aku." Akhirnya, pria itu dibawa oleh polisi yang bernama Apin tadi. Tinggallah Dimas, security dan sang komandan. "Boleh saya lihat?" Sang komandan menunjuk ke arah map merah yang di genggaman Dimas. Segera Dimas memberikannya. "D3, hmmm kenapa tidak dilanjutkan?" tanya si komandan. "Kerja dulu, jika sudah ada biaya baru dilanjutkan," jawab Dimas jelas. "Hmmm...besok datang ke kantor. Bergabung sama kepolisian jadi Banpol, mau nggak?" Seketika perkataan sang komandan membuat security membelalak. Bisa-bisanya sang komandan menyuruh Dimas bergabung di kepolisian sementara dirinya yang sudah S1 saja masih bergelar security. "Bagaimana?" tanya sang komandan. Dimas menatap mata sang komandan dalam-dalam. "Bisa saja, tapi dengan satu syarat," jawab Dimas. Pak security tersadar dari lamunanya, "hei, Nak kamu dikasi jantung malah-" Telunjuk sang komandan mendarat di bibir pak security. "Apa syaratnya?" "Saya mau dia juga diangkat jadi, Banpol." Menunjuk si Pria yang berlagak preman tersebut. Si security mulai naik pitam. Akan tetapi, lagi-lagi sang komandan menghalanginya untuk bicara. "Baiklah, besok pagi jam 10 saya tunggu di pot." Dimas mengangguk, dan lagi-lagi security memberi respon yang heboh. Dan, benar saja Dimas bekerja menjadi Banpol, sedangkan si preman menjadi partner kerjanya dialah, Simson. Ya, Simson yang kini menjadi teman terdekat Dimas. Siapa sangka terjadi hal yang tak terduga diantara mereka. Kembali ke masa sekarang. Dimas dan Simson berdiri tegak, menatap lurus. Di hadapan mereka, tampak pria berbadan tegap. Rambutnya dominan ke putih. Akan tetapi, staminanya masih terjaga. Harsa Gunawan, seorang jendral yang sebentar lagi akan pensiun. Seharusnya, bulan lalu ia sudah pensiun. Akan tetapi, pikirannya tertuju pada gembong narkoba yang meresahkan. "Bagaimana, tugasnya? Masih mau lanjut?" tanya Harsa sang Jendral. "Siap, dilanjut Komandan!" seru Dimas, yang ia sendiri terkejut dengan pernyataannya. Simson menghembuskan napas lega, mengingat biasanya Dimas yang selalu ingin mundur. "Bagus, begitu kalian berhasil. Maka, kenaikan pangkat akan disegerakan. Dan, gaji yang kalian dapatkan akan setara dengan kami." "Eh, benar ini Pak?" Simson dengan wajah semringah, merasa tidak percaya. Sang komandan tersenyum, "Kapan saya pernah bohong, Son?" Simson terkekeh pelan, merasa segan. *** Tiffany menyeruput jus jeruk yang baru diberikan pelayan cafe. Bukan, hanya Tiffany ada Greta dan Alena juga di sana. "Jadi, gimana lancar dong?" Alena membuka pembicaraan yang sedari tadi sepi karena mereka disibukkan mengibaskan tangan. "Panas banget ya, aku kira hujan akan datang. Soalnya tadi lumayan mendung," ujar Gretta sambil merenggut, karena keringat yang bercucuran di keningnya. Alena menyenggol tangan Gretta, kode untuk diam. "Fanny...." Alena menatap tajam Tiffany yang sedari tadi melamun. Mendengar namanya dipanggil, Tiffany menoleh. "Apa?" tanyanya singkat. "Ya elah harus diulang lagi, Loe sama Dimas gimana? Udah begini doang!" Alena menepuk tangannya. Bibir Tiffany mencebik, dan temannya mengerti maksud dari ekspresinya itu. "Kok bisa sih?" Alena mengerut tak percaya. "Apanya yang salah kok bisa-bisanya gagal...." Tiffany mendesah, "aku menunggu Dimas di kamarnya. Tapi, ketika aku bangun dianya sudah pergi dan itu sudah pagi." Rasanya malu untuk mengakui kalau justru dia yang kabur dari Dimas. "What? Dia nggak nyentuh Lo?" Kedua mata Alena membulat tak percaya. Ya. kebohongan Tiffany tentu saja dipercaya oleh kedua temannya. Tiffany mengutuk dirinya sendiri namun rasa malunya lebih besar dari rasa bersalahnya. Maafkan aku teman-teman, aku bodoh. Umpatnya dalam hati. "Wah, kok aku jadi salut sama Dimas. Bisa-bisanya dia mengabaikanmu, kalau laki-laki lain sudah dihantam, Fany." Greta memangku wajah dengan tangannya, senyumnya mengembang. Alena memberikan tatapan tajam pada Greta yang mendukung Dimas."Lo ingat nggak tujuan kita kemarin apaan?" "Hah, iya iya aku ingat kok. Aku kan cuma bilang faktanya nggak lebih." Greta menyentuh tangan Tiffany, berusaha lolos dari amukan Alena yang membara. Tiffany mengerutkan dahi, "tujuan? Tujuan apa?" tanyanya. "Nggak ada hubungannya sama, Lo!" Ketus Alena. Tiffany melipat tangan, memandang Greta dan Alena secara bergantian. "Iya iya, tujuannya yaitu pengin punya keponakan dari Lo," jawab Alena tak tahan dengan tatapan Tiffany. Tiffany terkejut, "keponakan? Dari siapa?" "Aish...dari Lo lah siapa lagi. Yang punya suami kan Lo bukan gue. Sampai sekarang aja gue jomblo," jawab Alena. Drrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrt Tiffany terlihat malas mengangkat telepon setelah melihat nama kontak yang tertera. "Siapa?" tanya Greta. "Nih," jawab Tiffany singkat sembari meletakkan ponselnya ke atas meja untuk diperlihatkan pada Alena dan Greta. Begitu melihat nama kontak tersebut, Alena dan Greta saling berpandangan. "Om Aji? Wei, mau jadi anak durhaka ya Lo!" ujar Alena lantang. "Bukannya gitu, sebenarnya papa dari kemarin minta sesuatu yang susah aku lakukan," jawab Tiffany lirih. "Hah? Memangnya Om Aji minta apa?" tanya Greta keheranan. Tiffany menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "I-itu, papa...pengin kami bulan madu." "Hah, tuh kan bukan hanya kita yang pengin keponakan om Aji itu pengin minta cucu. Nah, Lo kan anak satu-satunya masa tega gitu sama Ayah yang telah membesarkanmu sampai sekarang." Alena berusaha meyakinkan Tiffany. Tiba-tiba Greta terkekeh. "Eh, kenapa Lo? Keserupan ya!" Alena memasang wajah heran pada Greta. "Ye...sewot terus! Ini aku kepikiran, gimana kalau Tiffany dan Dimas beneran ikut saran om Aji," jawab Greta. Tiffany terkejut, "maksud kamu, honeymoon! Tapi...." Alena menggebrak meja dan itu mengundang orang lain melihat ke arah mereka. "Lo suka nggak sih sama Dimas?" tanya Alena. Tiffany terlihat berpikir "iya, tapi aku- Alena meletakkan jari telunjuknya tepat ke bibir Tiffany. "Lo, nggak takut ya kalo suami yang baru lo sukai itu berpaling sama tetangga lo yang notabenenya pernah menjadi pacar Dimas." Tiffany terdiam, membisu, bingung bercampur aduk menjadi satu. "Jangan bodoh Sayang!" Alena dan Tiffany terkejut bukan main. Greta yang biasanya pendiam malah mengatakan hal yang tak terduga. Bisa-bisanya Greta. "Hehe...maaf ya, Fany aku cuma takut kamu merasakan gimana rasanya kehilangan orang yang kita cinta. Ya...meskipun jalannya beda. Aku Tuhan yang ambil, siapa tahu Dimas juga diambil sama mantannya. Aku bukannya mendoakan, justru aku ingin kamu nggak memberi celah pada wanita itu." Raut wajah Greta terlihat begitu serius membungkam mulut Tiffany dan Alena. Greta melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Len, sudah sore nih kita balik yuk," panggilnya. "Tapi, Tiffany-" "Ssst...dia tahu apa yang akan dia lakukan." Dengan gamblang, Tiffany langsung memotong perkataan Alena yang tergantung. Alena menatap Tiffany, wanita itu pun mengangguk setuju. "Ya udah deh kita duluan, hati-hati ya Loe. Ingat! Kita tunggu KEPONAKAN!" Kalimat akhir yang Alena ucapkan penuh penekanan dan lagi-lagi mengundang pandangan orang-orang mengarah pada mereka. Alena tersenyum malu, segera ia berjalan diikuti oleh Greta. Tinggallah Tiffany dengan wajah memelas. *** Dimas membuka pintu, sosok Tiffany tidak ia temukan di dalam rumah. Napasnya berhembus panjang, menunjukkan betapa leganya dia. Ya, lelaki itu tidak tahu harus menjawab apa kalau kalau Tiffany menanyakannya perihal kejadian kemarin. Dimas bimbang apakah kemarin Tiffany mabuk lalu masuk ke kamar Dimas. Namun bagaimana jika wanita itu tidak mabuk. Akan tetapi, rasanya tidak mungkin untuk seorang Tiffany masuk ke kamar Dimas dan bahkan tidur di ranjang lelaki itu. Apalagi, dengan hanya memakai lingerie tembus pandang. Tak ingin berpikir terlalu jauh, Dimas segera bangkit ingin membersihkan tubuhnya yang dibanjiri keringat terlebih dahulu. Namun, langkahnya terhenti ketika kedua maniknya berhasil menangkap sebuah rantangan di atas meja. Rantangan yang terlihat begitu familiar. Ya, tidak salah lagi rantangan tersebut milik sang mantan, Nada. Dimas menatap lama rantangan tersebut. Bayangan sepenggal kalimat muncul di kepalanya. "Semangat ujiannya calon imamku!" Suara Nada terdengar menggema, suara yang sudah tak ingin ia dengar lagi. . "Hei!" Dimas terperanjak jatuh ke belakang begitu pundaknya disentuh dari belakang oleh seseorang. "Hahahahahaha...." Dialah Tiffany yang entah sejak kapan datangnya. "Apa itu lucu?" tanya Dimas dengan wajah memerah dan serius. Segera, Tiffany terdiam. "Bisa marah juga, ternyata," jawabnya setengah mengejek. Dimas tidak menjawab, ia bangkit lalu berjalan ke arah kamar mandi. "Aku tunggu di ruang tengah ya! Ada yang mau aku bicarakan!" teriak Tiffany. Namun tak ada jawaban dari Dimas kecuali guyuran air. Tiffany menatap rantangan tersebut. "Maaf Nada, mantan itu ibarat sebuah benda yang berharga. Disimpan di museum akan tetapi, sebaliknya kalau sudah tidak berharga lebih baik disatukan dengan sampah kemudian dibakar habis." Dengan gamblang, Tiffany membuang rantang tersebut. 1 jam berlalu..... Kini, Dimas dan Tiffany sudah berada di ruang yang sama. Sesekali Dimas terlihat salah tingkah dan jelas Tiffany tahu itu. "Tadi, aku baru bertemu papa. Dia nitip salam tuh sama kamu," ujar Tiffany, sambil mengunyah permen karet. "Waalaikumussalam," jawab Dimas lembut. "Papa nanya kapan honeymoon! Ya, aku jawab saja 2 minggu lagi." Kedua mata Dimas membulat sempurna. Lelaki itu kaget bukan main. "Kenapa mendadak begini?" tanyanya. Tiffany mengangkat bahu. "Kalau nggak bisa, bilang gih sama papa," jawabnya cuek. Dimas terlihat menimang-nimang. "Sebenarnya, aku terlibat misi rahasia. Yaitu misi untuk menangkap bandar narkoba," jawab Dimas pelan. "Katanya rahasia kok malah diumbar," umpat Tiffany. Dimas berdesah, "karena kamu kenal dekat sama orangnya," jawab Dimas. Sejenak, Tiffany terdiam. "Aku tahu kok orangnya. Miko kan?" "Kenapa kamu-" Tiffany terkekeh, "ya tahulah, aku juga sering kok kasih dia uang untuk mengembangkan usaha dia jadi gembong narkoba itu." Dimas geleng-geleng kepala mendengar perkataan Tiffany. "Sebegitu sayangnya kamu sama dia." "Itu dulu, sebelum aku ketemu kamu!" jawab Tiffany sedikit berteriak karena kesal. "Hah!" Dimas keheranan menelaah jawaban Tiffany. Tiffany menutup mulutnya, "pokoknya selesaikan secepatnya misi itu, aku nggak mau jadi anak durhaka karena menentang keinginan papa. Lagipula, aku bosan, butuh healing ini!" Kemudian bangkit lalu beranjak masuk ke dalam kamar. Dimas tak berkutik, wajahnya memerah namun pandangannya terlihat kebingungan. Tiba-tiba perkataan Tiffany menyangkut Miko membuatnya tersenyum hingga menunjukkan lesung pipinya. "Hampir saja aku keceplosan." Tiffany yang sudah berada di atas ranjang menepuk-nepuk mulutnya. Terima kasih sudah baca. Ditunggu hujatannya, jika ada yang kurang berkenan katakan saja ya pemirsa q. Terima kasih sudah setia, maaf updatenya setahun sekali. Love you full untuk kalian semua???.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD